
“ Ish, abang kenapa pakai nggak bisa jemput segala sih. “ gerutu Andhara di luar café.
Tadi, Julio mengiriminya pesan, jika dirinya tidak bisa menjemput sang istri karena terjadi kecelakaan beruntun hingga dirinya harus menangani para korban yang di bawa ke rumah sakit itu.
Andhara melirik jam di tangannya. “ Mana udah malem lagi. “ lanjutnya.
“ Andhara … “ panggil seseorang dari arah belakang. Andhara menoleh ke belakang, lalu tersenyum dan memutar tubuhnya.
“ Eh, kak Aldi. “ sapa Andhara balik. “ Udah mau pulang ? Katanya tadi masih nanti pulangnya. Mau nongki – nongki dulu. “ lanjutnya sambil melongokkan kepalanya ke arah dalam café.
“ Oh, aku mau pulang dulu. Anak – anak lain yang masih mau pada nongkrong. Kasihan, nenek di rumah sendirian. “ jawab Aldi. “ Kamu lagi nunggu jemputan ? “ tanyanya.
“ Iya sih, harusnya. Tapi abang malah kasih kabar kalau nggak bisa jemput. “ gerutu Andhara cemberut. “ Mana udah malem gini. Cari taksi online belum dapet. “
“ Aku antar. “ tawar Aldi, tapi dengan nada tegas tanpa mau menerima penolakan. Karena tadi ia sengaja meninggalkan teman – temannya karena ia ingin mengantarkan Andhara pulang.
“ Ah, nggak usah kak. Entar malah ngerepotin kak Aldi. “ sahut Andhara tidak enak hati.
“ Ini sudah larut malam. Tidak baik seorang gadis sendirian. Mana belum tentu kamu bisa dengan mudah dapet taksi online. “ timpal Aldi.
“ Mungkin saja rumah kita nggak searah, kak. Jadi …”
“ Sudahlah, ayo aku antar pulang. “ potong Aldi. Ia bahkan sudah beranjak, melangkah menuju ke parkiran.
Akhirnya, Andhara mengikuti langkah Aldi. Benar apa yang di bilang Aldi. Dirinya harus segera sampai di rumah. Si kembar pasti sebentar lagi akan terbangun karena lapar.
Sedangkan ia hanya menyediakan ASI cadangan untuk si kembar 4 botol. Pasti ASI itu sudah habis sekarang. Mana dirinya semenjak tadi di café tidak sempat pumping ASI. Jadi kini da danya terasa penuh dan sesak.
Sambil berjalan mengikuti Aldi. Andhara mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke sang suami jika dirinya pulang di antar oleh teman band nya. Bagaimanapun Andhara tidak mau ada kesalahpahaman di antara mereka karena dirinya di antar oleh seorang laki – laki.
__ADS_1
“ Kapan kamu mau main ke rumah ? Nenek selalu menanyakanmu. “ tanya Aldi membuka pembicaraan ketika mereka sudah sama – sama di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah Andhara.
Untung saja Aldi bawa mobil. Entah bagaimana jadinya jika Aldi mengantarnya pulang membawa motor. Bisa – bisa sang suami kebakaran jenggot.
“ Ha ? “ beo Andhara. Ia menoleh ke arah Aldi yang ternyata sedang menatapnya. “ Entahlah kak. “ jawabnya mengendikkan bahu sambil kembali menatap ke depan ke arah jalanan.
Sebenarnya ia juga ingin bertemu dengan nenek Irish. Tapi tidak mungkin dirinya meninggalkan si kembar.
“ Kalau ada waktu, mainlah kesana. Kamu telpon aja. Aku akan menjemputmu. Aku juga sudah tahu dimana rumahmu. “ ujar Aldi.
“ Oh ya ? “ Andhara melirik ke arah Aldi.
Aldi mengangguk sambil menjawab , “ Iya. Bukankah sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang ? Berarti aku akan tahu di mana rumahmu. “
“ Oh, ya … ya … ya … “ jawab Andhara sambil manggut – manggut.
Suasana kembali hening. Tidak biasanya seorang Andhara tidak heboh. Tapi khusus malam ini, ketika sedang bersama Aldi ia akan jaga sikap. Bukannya sok jaim untuk membuat Aldi terpesona. Ia lebih milih untuk menjaga hati sang suami.
“ Ini rumah kamu ? “ tanya Aldi sambil melihat keluar jendela melihat pekarangan rumah Pak Siswo.
Andhara mengangguk. Ia lalu membuka pintu mobil. “ Maaf ya kak. Dhara nggak bisa ngajakin kak Aldi mampir. Udah malem soalnya. “ ucapnya.
Aldi menoleh ke arah Andhara seraya tersenyum dan mengangguk. “ Iya. Seharusnya aku yang minta maaf. Karena sudah membuatmu pulang sampai larut begini. “
“ Iya kak. Namanya juga kerja kan ya. Wajar kalau pulangnya sampai malam. “ jawab Andhara.
“ Dhara masuk dulu ya kak Aldi. Terima kasih banyak udah kasih tumpangan ke Dhara. “
“ Sama – sama Ra. Jangan lupa, kalau ada waktu, main ke rumah nenek. “ ujar Aldi.
__ADS_1
“ Insyaa allah kak. “ sahut Andhara sembari tersenyum dan mengangguk. Ia lalu segera turun dari dalam mobil Aldi.
Jebles
Pintu mobil kembali Andhara tutup. Ia berjalan mengitari mobil untuk mencapai gerbang rumah yang sudah di buka oleh Pak Sofyan, yang malam itu sedang berjaga.
“ Kamu masuk aja dulu. Aku akan pergi kalau kamu sudah masuk. “ ucap Aldi yang sudah menurunkan kaca jendela mobilnya. Ia tadi melihat jika Andhara hendak menunggunya di luar sampai ia pergi.
“ Beneran nggak pa – pa nih Dhara masuk duluan ? “ tanya Andhara. Sebenarnya Andharapun ingin segera masuk dan melihat si kembar. Tapi ia merasa tidak enak kepada Aldi.
“ Masuklah. “ ujar Aldi sambil tersenyum. Andhara lalu memutar badannya dan berjalan masuk melewati pintu gerbang sambil menyapa Pak Sofyan. “ Malam, pak Sofyan. “
“ Malam neng. “ sapa Pak Sofyan balik.
Sedangkan dari dalam mobilnya, Aldi terlihat sedang memperhatikan Andhara, lalu beralih memperhatikan rumah megah di depannya itu.
“ Beneran ini rumahnya Andhara ? Seingatku, rumah ini adalah rumah mantan camat XXX. Dan seingatku juga, Pak Siswo hanya memiliki seorang anak laki – laki. Lalu, siapakah Andhara ? “ gumam Aldi.
Ia mengusap dagunya, lalu setelah Andhara tidak terlihat dan pintu gerbang sudah tertutup kembali, Aldi kembali menjalankan mobilnya.
Pulang ke rumah dengan hati berbunga. Itulah yang di rasakan seorang Aldi. Ia akhirnya bisa tahu di mana Andhara tinggal. Gadis yang telah berhasil mencuri hatinya semenjak pertemuan pertama mereka yang tidak di sengaja dulu itu.
Bersambung
Pada bosen nggak sih baca ceritaku ini ?
Udah episode 135 juga loh ini. Kalau misal kalian udah pada bosen, othor bisa kasih cepet tamat nih cerita.
Tapi kalau kalian masih mau baca cerita Andhara sama dokter ganteng Julio, othor lanjut lagi deh ceritanya sampai beberapa episode lagi. Mungkin sekitar 10 episode lagi kali ya….
__ADS_1
Othor lagi otw bikin cerita baru lagi nih. Doa in bisa cepet launching ya cerita baru othor abal – abal ini…..