Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Otw lahiran


__ADS_3

“ Loe kenapa Put ? Perasaan loe nggak bawa motor deh. Kaca mobil juga ke tutup. “ ucap Soni sambil menengok ke arah mobil Julio kala melihat penampilan Putra yang berantakan.


“ Noh, pelakunya. “ jawab Putra sambil menunjuk ke arah Andhara dengan dagunya. “ Bukannya jambakin rambut lakinya sama narikin baju lakinya, malah gue yang jadi sasaran. “ ketusnya.


Bwahahaha ….. Sontak ketiga sahabat lucknutnya tertawa terbahak – bahak.


“ Bang_ke loe pada! “ umpat Putra.


“ Udahlah Put, di syukuri aja. Nggak dapet ena- enanya, tapi udah ngerasain gimana seandainya loe jadi lakinya. “ ujar Soni sambil menahan tawanya. Dan langsung di hadiahi tatapan mematikan oleh Putra.


“ Tunggu bentar bang. “ Andhara menghentikan suaminya yang hendak mendorong kursi roda yang ia tunggangi. Julio mengikuti kemauan sang istri.


“ Eh. Loe berempat ! “ panggil Andhara menoleh ke teman – temannya. “ Loe kesini mau nungguin gue lahiran, apa Cuma mau pada nggosip doang di situ sih ? “ sarkasnya.


Keempat sahabatnyapun langsung datang mendekat ke arahnya. Daripada kena amukan seperti yang di alami Putra oleh bumil yang selalu merasa dirinya paling benar ini.


" Loe bawa apaan tuh Lo? Jangan bilang loe masih laper, terus loe nyuruh mertua gue berentiin mobil, dan loe beli camilan. " Andhara melotot ke arah Lila yang menenteng plastik.


" CK ! Mulut loe tuh ! Ini tuh baju buat si kembar utun. Emang loe mau, mereka Bu gil gitu karena emaknya belum beliin baju? " sarkas Lila.


" Ooo.. " Andhara hanya membulatkan mulutnya.


Setelah semua berkumpul, Julio mendorong kembali kursi roda itu menuju ke UGD.


“ Abang temenin Dhara ya. “ pinta Dhara sambil memegang tangan Julio kala mereka sampai di dekat UGD. Julio mengangguk lalu menghadiahinya dengan sebuah kecupan di kepala.


“ Kalian tunggu di sini dulu. Nanti kalau Dhara sudah akan di bawa ke ruang bersalin, akan aku kasih tahu. Emak, ayah, sama bunda juga tunggu di sini dulu bentar. “ ucap Julio dan mereka semua mengangguk.


Ia lalu kembali mendorong kursi roda Andhara masuk ke UGD. Ketika masuk ke dalam UGD, jiwa patriot Andhara berubah menjadi tipis. Setipis kertas buram. Di kiri kanan jalan yang ia lewati, ia melihat para pasien dengan berbagai macam bentuk. Bahkan ada seorang pasien yang di tubuhnya di pasangi alat – alat hingga monitor yang berada di sampingnya berbunyi tit … tit … tit.


“ Abang, kok Dhara jadi takut ya. “ lirihnya sambil memegang tangan suaminya dan melirik ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


“ Kita hanya sebentar di sini. Cuma formalitas saja. “ bisik Julio sambil tetap mendorong kursi roda.


“ Pagi, dokter Julio. “ sapa seorang perawat UGD.


“ Pagi, sus. “ jawab Julio. “ Maaf, dokter jaga siapa ya ? “


“ Ada dokter Edmund, ada dokter Cristy. “ jawab suster.


“ Tolong panggilkan salah satunya, sus. “ pinta Julio.


Suster itu mengangguk dan segera berlalu memanggil salah satu dokter jaga yang ada di sana. Sedangkan Julio mengangkat tubuh Andhara dari kursi roda dan ia rebahkan di salah satu ranjang kosong yang ada di sana.


“ Pagi dok. “


“ Oh, dokter Edmund. Pagi. Maaf, saya mengganggu sebentar. “ ucap Julio.


“ Ck. Kayak sama siapa aja dok. “ sahut dokter Edmund. “ Ada apa ? “ tanyanya sambil menoleh ke arah Andhara.


“ Yes, of course. Oke, kita cek dulu. “ ucap dokter Edmund. Lalu ia mengecek suhu badan Andhara dengan termogun. “ Normal. 36 derajad. “ ucapnya. Lalu ia mengeluarkan stetoskop dan mengambil tensi meter dari tangan suster yang sedari tadi mendampinginya.


“ Bagus tekanan darahnya. Sus, 120/80. Di catat ya. “ ucapnya kembali. “ Mau di pasang infus sekalian atau gimana ? “


Julio memandang ke arah Andhara seolah meminta jawaban. Dan sudah pasti Andhara menggeleng.


“ Sepertinya nanti saja dok. Istri saya tenaganya masih banyak sepertinya. “ jawab Julio sembari bercanda. “ Kalau begitu, saya bawa istri saya ke ruang bersalin. Dokter Lulu pasti sudah menunggu. “ pamitnya.


“ Baiklah. “ dokter Edmund mempersilahkan. Dan Julio segera membantu Andhara turun dari ranjang dan kembali duduk di kursi roda. Karena Andhara menolak untuk di angkat olehnya.


Setelah berjalan sekitar beberapa menit, kini sampailah mereka di ruang bersalin. Nampak di sana dokter Lulu sudah menunggu dengan seorang perawat.


“ Halo, nyonya muda. “ sapa dokter Lulu sembari tersenyum.

__ADS_1


“ Ck. Dokter selalu memanggil Dhara seperti itu. Dhara nggak suka ih. Dhara kan masih muda. Masak di panggil nyonya. “ sungut Andhara.


“ Hahaha … “ dokter Lulu menimpalinya dengan tawa. Sungguh asyik baginya memiliki pasien ajaib seperti Andhara. Selalu membuatnya tersenyum. “ Naik ranjang dulu. “ titahnya.


Julio dengan cekatan mengangkat tubuh sang istri ke atas ranjang pasien.


“ Ada keluar da rah atau len dir ? Selain ketuban yang bocor ? “ tanya dokter Lulu sambil duduk di sebelah Dhara dan mengambil alat USG.


“ Ada dok. “ bukan Andhara yang menjawab, tapi Julio.


“ Oke. Kita lihat, apakah ketubannya masih bersisa atau tidak. “ ucap dokter Lulu sambil menggerakkan transducer di atas perut buncit Andhara. Dan Andhara juga masih setia dengan desisannya menahan rasa mulas di perutnya.


“ Ketubannya masih cukup ini untuk membantu kelahiran normal. Dan posisi baby kembarnya sudah di bawah juga. “ jelasnya.


“ Sekarang tinggal kita lihat pintu lahirnya baby kembarnya sudah sampai mana. “ lanjutnya sambil meletakkan kembali alat USG ke tempatnya. Ia juga mengambil sarung tangan latek dan memakainya.


“ Di lepas dulu celana da lamnya. “ ucapnya.


Andhara melotot ke arah Julio yang ada di sampingnya. Sumpah demi apa, dokter kandungan itu malah nyuruh gue lepas celana da lam gue ? batin Andhara.


“ Biar saya saja yang membantunya sus. “ jawab Julio mengalihkan perhatian. Dengan cekatan Julio menurunkan celana da lam Andhara hingga kini tubuh bagian bawah Andhara dalam keadaan toples.


Andhara masih senantiasa melotot tajam ke arah Julio. Tapi yang di tatap berpura – pura seolah – olah tidak tahu. Ia juga berusaha menutupi bagian bawahnya dengan tangannya.


“ Nggak usah malu mama muda. Kita akan melakukan pemeriksaan dalam ya. Kakinya di buka dulu, yang lebar ya … lalu di tekuk lututnya. “ dokter Lulu memberikan arahannya. “ ya, seperti itu. “


Andhara hanya mengikuti apa yang di katakan dokter Lulu. “ Tarik nafas ya … Mungkin ini sedikit sakit. “ ucap dokter Lulu.


“ Bang. “ ujar Dhara spontan sambil mencengkeram pergelangan tangan Julio saat jari jemari dokter Lulu memasukinya. Oh, kenapa rasanya seperti ini ? Kenapa rasanya tidak sefantastis kala samurai abang yang masuk ? Padahal dokter Lulu Cuma masukin jarinya ? Bukankah lebih gede punya abang ? gejolak batin Andhara.


“ Sudah pembukaan 5 ini. “ ucap dokter Lulu setelah mengecek jalan lahir si bayi. “ Insyaallah sepertinya bisa lahiran normal ini. Panggulnya besar. Jalan lahir juga terbuka dengan prospek yang bagus. Paling tidak tunggu sekitar jam … 1 siang kita sudah bisa melihat si kembar. “ lanjutnya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2