Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Pertemuan


__ADS_3

Spesial buat menyambut malam tahun baru, othor kasih dobel up deh... gimana??? oke kan????


So, jangan lupa klik like, subscribe buat kalian yang belum subscribe... Hadiah nya juga jangan lupa... biar othor semangat nulisnya....


___________________________


Sore harinya, Julio dan Andhara harus kembali ke kampung Bojong Burut karena masa cuti Julio yang sudah habis. Seperti biasa, drama keluarga kecil pasti terjadi.


Sang bunda yang cemberut, lalu tiba – tiba ngomel – ngomel, dan lalu tiba – tiba menangis sesenggukan karena sang putra semata wayangnya harus pergi dari rumah. Di tambah lagi sekarang, ada menantu kesayangannya yang juga di bawa putranya pergi dari rumah.


“ Jadi sedih deh bang, inget bunda. “ Ujar Andhara sendu sambil menundukkan kepalanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan kembali. Julio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“ Sudah, bunda emang kayak gitu. Bentar kemudian juga udah baikan. “ jawab Julio sambil tetap fokus ke jalanan.


“ Abang sih, suka pergi – pergi ninggalin bunda. “ omel Andhara. “ Kalau abang stay di rumah, ambil kerjaan yang deket – deket, kan bunda bisa ketemu sama ayah sama abang tiap hari. Bunda jadi nggak sedih. “ Julio mengangkat sebelah alisnya sambil menoleh ke arah Dhara sebentar.


“ Bunda kemarin cerita ke Dhara, katanya, abang sebelum dapet tugas ke kampungnya Dhara, dapet tawaran di rumah sakit Harapan Santosa. Kenapa nggak abang ambil itu aja ? Bukankah gaji dokter dari pemerin_tah lebih sedikit daripada gaji dokter di rumah sakit swasta ? “ tanyanya.


“ Menjadi seorang dokter, bukan masalah uang saja yang abang pikirkan. Tapi abang lebih mikirin sosialnya. Bagaimana abang bisa membantu dan menolong orang sakit, tapi yang tidak punya biaya. Dengan menjadi pegawai pemerin_tah, maka abang bisa ketemu dengan orang – orang yang benar – benar membutuhkan pertolongan. “ jelas Julio. “ Itu alasan pertama abang lebih memilih menjadi pegawai pemerin_tah. “


“ Emang masih ada alasan keduanya ya bang ? “ tanya Andhara. Kini ia memiringkan posisi duduknya hingga menyerong menghadap ke Julio.


Julio mengangguk. “ Alasan kedua, jika abang menerima tawaran dari rumah sakit Harapan Santosa, maka abang akan tiap hari ketemu dengan Karen. “


“ What ?? Jadi, tante – tante gatel itu praktek di sana ? “


“ Hem. “ jawab Julio.


“ Nggak … Nggak … Nggak … Nggak boleh. Abang nggak boleh kerja di sana. Dhara nggak ridho abang ketemu tuh tante – tante yang mengidap penyakit pa_nu, ka_das dan ku_rap. “ tolak Dhara. Julio menyunggingkan senyuman gelinya.


“ Lagian, kalau abang kerja di kota, bukan di kampung kamu, abang mana bisa ketemu kamu ? Jodoh sejatinya abang. Hem ? “ Julio membelai puncak kepala Dhara lembut dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap pada kemudi.


“ Iya juga sih. Dhara jadi nggak punya suami ciptaan Allah yang sekeren abang. “ Dhara tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


Hari berganti. Kehidupan Julio dan Dhara sudah kembali seperti sedia kala. Mereka sudah sibuk dengan rutinitas mereka. Cuma Dharanya yang sekarang sudah tidak di sibukkan dengan kegiatan sekolah. Ia hanya tinggal menunggu ijasah di keluarkan oleh dinas pendidikan.


Hari – harinya di penuhi oleh kesibukan berlatih sepakbola bersama tim kabupaten juga tim Bojong Burutnya. Dengan di selingi kegiatan melatih voli tim sekolahnya.


Sore itu, Dhara keluar dari gerbang sekolah setelah melatih tim voli sekolahnya. Tiba – tiba seseorang mendekatinya kala ia masih berbincang asyik dengan pak satpam.


“ Bisa kita bicara ? “ nada suara bergenre perempuan tapi angkuh, terdengar di telinga Andhara. Ia sontak menoleh.


“ Maaf, tante bicara sama saya ? “ tunjuknya dengan jari telunjuknya ke wajahnya.


Perempuan itu mengangguk.


“ Oh, saya ingat sama tante. “ ucap Dhara sambil tersenyum. “ Ada perlu apa ya ? “ tanyanya.


“ Bisa kita cari tempat yang lebih enak buat ngobrol ? Di café mungkin. “ tanyanya sambil melihat ke sekeliling.


“ Maaf tante, di sini tidak ada café. Kalau tante mau, di sini ada warung kopi, kalau tante Cuma mau ngopi aja. “ jawab Dhara sambil tersenyum. Dan perempuan itu hanya memutar bola matanya malas.


Sampai di taman, Dhara menyetandartkan motornya, lalu turun dari atas motor dan berjalan menuju taman, yang ternyata diikuti oleh perempuan itu.


Karen. Dialah perempuan itu. Entah mendapat informasi darimana ia bisa tahu mengenai sosok Andhara. Yah, namanya juga kaum borjuis kan ya. Apapun pasti bisa di lakukan.


Karen memindai Andhara dari mulai ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dhara mengernyit sambil memperhatikan penampilannya.


Kenapa sih liatin gue segitunya ? Mau ngejek ? Emang dia se spesial itu hingga ia harus mandangin gue segitunya ? Biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Masih istimewaan gue kemana – mana lah. Liat nih, baju olahraga dengan bau parfum alami tubuh campur keringat. Batin Andhara sambil terkekeh geli melihat penampilannya sendiri.


Sekelebat, senyum penuh ledekan terbit dari kedua sudut bibir Karen, berikut tatapan menghinanya. Andhara mengambil ponselnya dari dalam tas selempangnya, lalu mengetikkan pesan ke suaminya jika ia mungkin akan pulang agak terlambat karena ada tamu spesial.


“ Gini nih kalau hidup di kampung. Mau bicara aja mesti berdiri. Nggak ada suguhannya lagi. “ ledek Karen.


“ Oh, tante aus ? Bilang dong tante. Bentar, Dhara cariin kang cendol dulu. Lumayan bisa ngilangin seret di tenggorokan. “ sahut Dhara masih dengan sikap lembutnya. Elah, Dhara lembut ? Jarang – jarang loh.


“ Nggak usah, makasih. Saya nggak terbiasa mengkonsumsi makanan maupun minuman yang nggak higienis. “ sengak Karen.


“ Oh, tante dokter jangan salah. Makanan di sini semuanya lulus BPOM dan bersertifikat halal loh. Abang aja … Eh, maksud Dhara pak dokter Julio aja suka sama makanan di sini. “ sahut Dhara.

__ADS_1


Karen medelikkan matanya mendengar Dhara memanggil Julio dengan sebutan abang. “ Kita bicara ajalah langsung. Nggak usah bertele – tele. “


“ Loh, bukannya sedari tadi kita juga bicara ya ? Kita nggak lagi tadarusan loh. “ sahut Dhara.


Karen memutar bola matanya malas. Ia cukup malas sebenarnya menghadapi gadis kecil macam Andhara yang ternyata omongannya nyebelin.


“ Saya tahu, kamu adalah istri Julio. “ Dhara mengangguk tanpa berusaha menjawab. “ Dan kamu apa tahu, siapa saya ? “ tanyanya.


“ Tahu. “ Dhara mengangguk. “ Orang kan ? “ jawabnya.


Karen mengepalkan kedua tangannya mendengar jawaban gadis songong di hadapannya ini. Itulah menurut penilaian Karen. “ Kamu tahu, sejarah Julio sama saya ? “


“ Kayaknya nggak deh, tan. Soalnya mulai dari Dhara masih SD sampai lulus SMA, nggak ada tuh nama tante di buku mata pelajaran sejarah. Seinget Dhara sih tan. Nggak tahu juga kalau Dhara lupa sih. “ ucap Dhara.


Bukan hanya mengepalkan tangannya. Kini Karen menggertakkan giginya. “ DIAM !! “ bentaknya.


“ Wow ! Santuy cuyy … Nggak usah ngegas dong tan. Tante nih aneh, tadi bertanya, giliran Dhara jawab, malah marah – marah. “ bukannya takut atau jiper, ia sudah terbiasa mendengar teriakan. Teriakan Karen masih belum seberapa di bandingkan dengan suara emas emaknya.


“ Saya mau kamu tinggalkan Julio. Karena kamu tidak pantas buatnya !! “ sarkas Karen.


Andhara tersenyum miring. “ Tante salah orang kalau minta saya buat ninggalin abang. Karena saya tidak pernah meminta abang buat halalin saya. Harusnya tante bilang lah sama abang langsung. Mau nggak abang ninggalin Dhara ? Secara … Maaf nih ya tan, sebelumnya. Dhara lebih imut dari tante dokter. Dhara masih muda. Masih seger – segernya. Kalau ibarat bunga tuh lagi enak – enaknya di pandang. Apalagi di cium. Beuhhh … bisa bikin ketagihan. “


“ Julio pasti akan ninggalin kamu hanya cukup dengan satu ucapan dari saya. Karena dia hanya menyukai saya. “ sengak Karen.


“ Masak ? Tante jangan bikin saya tertawa deh. Sebaiknya, tante tuh terima kehendak dari Yang Di Atas. Jangan suka terlalu ketinggian kalau punya cita – cita. Jangan suka berkhayal juga ketinggian. Kalau jatuh, sakit tan. Kalau memang abang milih tante dokter, abang nggak akan nikahin Dhara. “ ucap Dhara dalam mode serius.


Dhara beranjak dari tempatnya berdiri semenjak tadi. Ia sudah mulai jengah dengan tante – tante yang ada di hadapannya itu. Ia berniat meninggalkan taman. Ia berjalan menuju tempat motornya terparkir.


“ Saya pastikan akan mengambil kembali Julio. Camkan itu !! Karena kebahagiaan Julio bukanlah di tanganmu. “ ancam Karen dengan suara tinggi.


Andhara berhenti. “ Tante mending beli bedak Sali_cyil deh. Atau Hero_xyn. Atau mungkin salep Kanas_ten. Biar gatel – gatel tante sembuh. Nggak ngerecokin rumah tangga orang lain. “ ucap Dhara dengan nada santainya.


“ Dan satu hal lagi, tante nggak usah repot – repot mikirin kebahagiaan abang. Biarlah itu jadi urusan Dhara. Dhara masih sanggup buat abang bahagia. Cukup simpel, kalau tante mau tahu. Cukup dengan Dhara suguhi tubuh Dhara tiap malam saja, abang sudah sangat bahagia. “ lanjutnya masih dengan santai.


“ Tapi kalau gatel – gatel tante masih belum sembuh, Dhara siap nyembuhin. “ Lanjutnya sambil tersenyum miring. “ Dhara tunggu !! “ Dhara lalu meninggalkan Karen sendirian di taman itu dengan hawa hati yang panas membara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2