Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Terlambat lagi


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga di adakannya ospek untuk mahasiswa baru di kampus ternama di kota Bandung. Sama seperti di hari pertama, hari ini Andhara harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk ia pakai berlari menuju ke aula tempat di adakannya ospek.


“ Gara – gara abang ini !! “ pekik Andhara sambil terus berlari. “ Bisa di pastikan telat gueeee !!! “ membuat orang – orang yang ia lewati menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.


Gila ya ? Mungkin seperti itulah pertanyaan dan ungkapan yang ingin mereka ungkapkan.


Setelah sholat Subuh tadi, suaminya merayunya untuk mengajaknya naik – naik ke puncak gunung. Gunung kenikmatan pastinya. Hingga pukul tujuh sang suami baru melepasnya. Julio mengatakan, ia harus mendapatkan amunisi sebagai pengganti amunisi yang seharusnya Andhara berikan tadi malam, tapi gagal karena si duo kembar agak rewel semalaman.


Dan benar saja. Ia sampai di depan pintu aula saat pintu sudah tertutup rapat. Andhara mendongak dengan nafas tersengal untuk melohat jam dinding raksasa yang menempel di atas pintu. Jam 8.05. Ia terlambat selama 5 menit.


Damn!! Rutuk Andhara dalam hati. Ia harus menunggu upacara pagi baru bisa masuk ke dalam ruangan dan mengikuti ospek kembali.


“ Masih sekitar setengah jam lagi. “ Andhara melihat ke pergelangan tangannya. “ Lumayanlah, buat rehat dulu. Ngos – ngosan gini. Cepek guyss !!! “ gumamnya bermonolog. Ia lalu menghenyakkan pan_tatnya di atas lantai di depan aula.


Ia mengeluarkan botol minumannya yang berisi susu untuk ibu menyu sui yang belum sempat ia minum pagi tadi karena ia harus cepat - cepat berangkat. Menenggak susu itu hingga kandas tak bersisa.


Andhara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Nge-game kayaknya asyik menurut Andhara. Saat ia membuka kunci ponselnya, di layar itu nampak sebuah chat dari suaminya.


📩 Terlambat, nggak ? tulis sang suami


📩 Menurut abang ????????


Dhara nggak bisa masuk nih. Di kunciin di luar ! ketik Andhara kesal.


📩 Maafin abang ya …. Please ….. Habisnya, tubuh kamu bikin nagih. Abang jadi suka khilaf.


📩 Bukan suka aja bang. Tapi abang emang tiap hari khilaf mulu.


📩 Terus sekarang, kamu di mana ? Mau abang jemput aja ? Nggak usah ikutan ospek – ospekan segala. Entar abang mintain ijin deh ke dekan kamu. Kan temen abang.


📩 Dih, abang. Nepotisme itu namanya. Dhara nggak suka ya bang. Dhara ini lagi nungguin di depan aula. Nunggu upacaranya selesai, habis itu baru bisa masuk.

__ADS_1


📩 Beneran, nggak mau abang jemput aja ?


📩 Nggak, abang… Dhara ni mau jadi anak rajin, abang jangan ajakin yang nggak bener ya. Mendingan abang kerja aja. Cari duit yang banyak biar si kembar sama ibunya bisa jajan sepuasnya.


📩 Sekarang aja, kamu mau jajan sepuasnya juga ayok. Abang beliin semuanya.


📩 Dih, abang. Suka sombong. Ya udah ah, abang kerja gih. Kasihan pasiennya pada nungguin. Nggak enak loh nungguin dokter kelamaan. Yang sakit bisa makin sakit.


📩 Ya udah, abang kerja dulu. Kalau udah mau pulang, jangan lupa kasih tahu abang. Abang jemput.


📩 Siappppp


Ceklek


Pintu aula terbuka setelah beberapa saat. Andhara segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu. Dari luar, terlihat beberapa kating berdiri berjejer, sedangkan para mahasiswa baru sudah berkerumun berkelompok entah membahas apa. Ada tugas apakah kira – kira ? tanya Andhara dalam hati.


“ Pagi, kak. “ sapa Andhara penuh kehati – hatian ke kating yang berjejer.


“ Maaf, kak. Maaf banget. Tadi jalanan macet. “ Andhara membungkukkan tubuhnya beberapa kali pada kating – katingnya itu.


Beberapa dari mereka melirik ke arah tas kotak yang di tenteng oleh Andhara dengan tanda tanya besar. Apakah isi tas itu ? tanya hati mereka. Sedangkan ada sepasang mata yang justru menatapnya dengan lekat.


“ Alasan ! “ sarkas salah seorang kating. “ Bilang aja kalau loe tuh pemalas. Dari hari pertama aja udah telat. “ imbuhnya.


Andhara melirik sekilas wajah siapa yang bersuara. Karena Andhara sepertinya tidak asing dengan suara melengkingnya.


“ Maaf, kak. “ hanya itu yang Andhara ucapkan. Ia malas untuk berdebat.


“ Mau jadi apa masa depan negara kita, kalau anak mudanya aja macam dia. Tidak bisa menghargai waktu. Sibuk apa sih loe, kalau malem ? Oh, jangan – jangan loe nyabe ya kalau malam ? “ Sungguh ungkapan yang membuat telinga Andhara terasa pedas. Ia langsung mendongakkan kepalanya.


“ Kalau kakak nggak bisa nerima keterlambatan saya, ya udah, tinggal bilang aja mau hukum saya apaan ? “ sengak Andhara.

__ADS_1


“ Percuma punya otak di sekolahin tinggi – tinggi, tapi mulutnya nggak lulus PAUD. “ imbuhnya membuat katingnya itu mengepalkan tangannya dan hendak maju. Tapi segera di tahan oleh laki – laki yang sedari tadi memperhatikan Andhara.


“ Udah Kai. Ingat, kita ini anak BEM. Kakak tingkat dia juga. Nggak seharusnya kita kasih contoh yang tidak baik. “ ucapnya.


Perempuan bernama Kaila itu mendengus kesal, lalu kembali mundur ke belakang setelah ia tadi maju selangkah.


“ Kamu terlambat. Jadi kami tetap akan kasih kamu hukuman. “ ucapnya sambil menatap intens ke Andhara.


Andhara yang merasa di ajak berbicara, ia lalu menoleh. Laki – laki tersenyum tipis saat pandangan mata mereka bertemu. Sangat tipis, hingga tak ada seorangpun yang melihatnya.


“ Iya kak. Saya siap mendapat hukuman. “ sahut Andhara lantang.


“ Jar, kamu bawa gitar ? “ tanya laki – laki itu ke temannya yang bernama Fajar.


“ Bawa dong. Kan entar kita ada sesi pengenalan organisasi. “ jawab Fajar.


Laki – laki itu mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “ Dia akan ikut isi acara nanti. “ sambil tersenyum menyeringai.


“ Acara apa ? saya di suruh ngapain ? “ tanya Andhara. Kaila menanggapinya dengan senyuman menghina. Sepertinya ia sudah mengerti hukuman apa yang akan di berikan oleh temannya itu.


“ Menyanyi. “ sahutnya.


“ What ? Menyanyi ?? “ beo Andhara sambil mengerutkan dahinya.


“ Kalau nggak bisa nyanyi, nyanyi aja bintang kecil. Bisa kan ? “ ledek Kaila.


“ Oke. Hanya menyanyi kan kak ? No problem. Saya jabanin itu mah. Nggak sekalian aja suruh saya manjat wall climbing ? “ tantang Andhara.


“ Masuk. Nanti setelah tugas pertama selesai, segera ke depan. “ titah laki – laki kating itu.


Andhara mengangguk. “ Makasih banyak, kak. “ ucap Andhara.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2