
Di kediaman Prasetyo
Julio yang baru pulang dari rumah sakit langsung bergegas naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya. Ia yakin, istrinya pasti ada di sana.
Ceklek
“ Assalamu’alaikum “ sapanya setelah pintu kamar terbuka.
Tanpa menutup pintu kamar, ia langsung masuk ke dalam kamar. Sofa dan tempat tidur tujuan utamanya. Tapi setelah melihat ke kedua tempat itu, ia tak menemukan istrinya.
“ Sayang … “ panggilnya.
“ Sayang ……. “ panggilnya lagi, dan masih tidak ada sahutan. “ Sayang, apa kamu di kamar mandi ? “ tanpa berpikir panjang, Julio membuka pintu kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar mandi tidak terkunci. Dan setelah melongokkan setengah badannya ke dalam kamar mandi, ternyata kamar mandinya kosong. Andhara tak ia temukan disana. Ah, di mana istriku. Tanyanya dalam hati.
Julio lalu keluar dari dalam kamar dan sedikit berlari menuruni tangga.
“ Bi Sum… “ panggilnya ke bi Sumi yang hendak keluar dari rumah.
“ Eh, iya mas. “
“ Andhara di mana ya bi ? Apa bibi tahu ? Apa bibi melihatnya? “ tanya Julio.
“ Maaf, mas. Saya kok ndak tahu ya. Saya baru pulang dari pasar. “ jawab bibi sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kalau bunda, bibi tahu di mana bunda ? “
“ Kalau ibu teh ada di dapur mas. “ jawab bibi.
“ Ya udah, makasih ya bi. “ sahut Julio, lalu ia berlari ke dapur menghampiri sang bunda.
“ Bund … “ panggilnya setelah ia sampai di depan pintu dapur.
“ Waalaikum salam. “ jawab bunda.
“ Ah, maaf, Lio sampai lupa salam. Assalamu’alaikum, bund. “ Julio menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
“ Kebiasaan kamu. Lagi panik kenapa ? Kamu kalau nggak lagi panik, nggak mungkin lupa salam. “ tanya bunda Lestari sambil memasukkan sayuran ke dalam lemari es.
“ Bunda lihat istri Lio ? “ Julio bertanya tanpa basa – basi karena memang pikirannya sudah kemana – mana memikirkan istri kecilnya yang sedang membawa janin kecil di perutnya.
“ Andhara ? “ bunda Lestari menghentikan kegiatannya. “ Bukannya dia tidak keluar kamar sedari pagi ? Kamu bilang tadi dia tidak enak badan dan dia lagi tidur. “ jawab bunda.
Julio meremas rambutnya kasar. “ Di kamar tidak ada, bund. “
Bunda Lestari langsung berubah panik. “ Astagfirullah … Kemana dia ? “ beliau langsung berhambur keluar lalu mengitari rumahnya.
“ Andhara ….. Nak …. Dhara …. “ panggilnya sambil mencari.
“ Duh, kemana istri kamu Yo ? Bunda dari tadi pagi belum ketemu. “ ujar Bunda Lestari berbicara sambil keluar masuk ruangan mencari keberadaan menantunya. Bukannya membuat Julio tenang, beliau malah membuat Julio semakin panik.
“ Sudah coba kamu telpon ? “ tanyanya ke Julio.
“ Belum bund. Belum kepikiran sampai situ. “ jawab Julio yang langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
“ Haduh, kamu gimana sih. Cepetan kamu telpon. “ Bunda Lestari memukul lengan Julio.
“ Nggak di angkat bund. “ setelah mencoba menghubungi sang istri dan ternyata tidak di angkat.
“ Masih tetap tidak di angkat bund. “ ujar Julio setelah ia mencoba beberapa kali.
“ Pergi kemana dia ? “ gumam bunda Lestari.
“ Ahh!! “ Julio semakin frustasi. Ia meremas rambut cepaknya. Bebagai pikiran buruk hinggap di otaknya kala ia teringat bagaimana histerisnya sang istri saat tahu tentang kehamilannya kemarin. Sang istri bahkan hendak menggugurkannya.
Julio meremas rambut dan mengusap wajahnya kasar kala mengingat ucapan sang istri kemarin. “ Harusnya tadi Lio tetap di rumah bund. Jagain dia. “ ucapnya dengan suara bergetar.
“ Jangan berpikiran buruk dulu, nak. Percayalah, istri dan calon anakmu pasti baik – baik saja. Bunda yakin, Andhara gadis yang baik. “ Bunda Lestari berusaha menenangkan sambil mengusap pundak Julio. “ Jangan panik, biar kamu bisa berpikir dengan jernih. “ lanjut Julio.
Julio menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Hal itu ia lakukan beberapa kali untuk menenangkan hati dan pikirannya.
“ Bund, Lio coba tanya sama Pak Sofyan. Barangkali beliau tahu. “ ujar Julio dan di jawabi anggukan oleh bunda Lestari.
“ Pak Sofyan .. “
“ Iya den. “ Pak Sofyan lekas keluar dari dalam pos depan rumah.
__ADS_1
“ Pak Sofyan lihat istri saya ? “ tanya Julio to the point.
“ Oh, neng Dhara tadi keluar den bawa motor saya. “ jawab Pak Sofyan sambil tersenyum ramah.
“ Kemana pak ? Dia ada bilang mau kemana ? “ tanya Julio tak sabar.
Pak Sofyan mencoba mengingat. “ Tadi neng Dhara teh cuma bilang mau keluar sebentar. Pas saya tanya mau keluar kamana, neng Dhara teh nggak bilang mau kamana den. “
“ Sejak kapan dia keluar pak ? “
“ Mmmm …. Ada kalau dua jaman yang lalu den. “ jawab pak Sofyan sambil melihat jam tangannya.
Tanpa berkata apa – apa, Julio langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ia segera mengambil kunci motornya. Motor yang tidak ia gunakan lagi setelah ia mempunyai istri.
“ Pak Sofyan, saya bisa minta tolong ? “ tanyanya seraya menuntun motor gedenya keluar dari garasi.
“ Iya den. “ Pak Sofyan berlari menghampiri Julio.
“ Bantu saya cari Andhara ya pak. Dia masih asing dengan kota ini. Kita berpencar. Kalau pak Sofyan lebih dulu menemukannya, tolong hubungi saya. “ pinta Julio sambil mengenakan helm full facenya.
“ Iya den. Saya mau mengajak si Dirga. Biar nanti kalau menemukan neng Dhara, dia bisa bawa motor saya balik. “ sahut Pak Sofyan.
“ Iya pak. Makasih sebelumnya. “
“ sama – sama den. “
Brummm
Julio menghidupkan motornya, dan tanpa menunggu untuk pemanasan, ia langsung memutar stang gas motor gedenya keluar dari pekarangan rumahnya.
Tanpa tujuan, itulah yang Julio rasakan sekarang. Ia bahkan tidak punya clue, di mana sang istrinya berada. Tapi tak lupa, ia mengenakan headset bluetoothnya supaya ponselnya bisa ia gunakan untuk mengubungi nomer sang istri.
Kini Julio mengikuti instingnya. Ia mengendarai motornya ke tempat – tempat tukang urut yang ia tahu mau melakukan abor_si. Satu demi satu tempat itu ia datangi. Tapi tak jua ia temukan.
Sampai di tempat terakhir yang ia datangi, ia segera turun dari atas motornya dengan tergesa gesa karena ia melihat motor yang sangat mirip dengan motor Pak Sofyan terparkir di antara motor – motor yang mungkin juga pasien tukang urut itu.
Bersambung
...Nah loh, gimana nih kelanjutannya??? Apakah Julio bakalan nemuin Andhara di tempat itu??...
__ADS_1
...Othor paling jago kalau di suruh menggantung kayak jemuran... Habis gimana lagi dong yah, othor mah emang suka gantungin jemuran🤭🤭...