Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Kayak siput


__ADS_3

“ Sayang … sepertinya double D sudah nggak sabar pengen lihat dunia. Pengen ketemu sama semua orang yang ada di sini. Terutama pengen ketemu sama ibu juga ayahnya. “ Andhara makin mengernyit dalam mencerna omongan sang suami.


“ Sepertinya mereka tidak mau menunggu dua bulan lagi untuk melihat dunia. Kamu,,,, mau melahirkan, sayang. “ lanjutnya.


Tik Tok Tik Tok …..


Suasana hening. Tidak ada yang berani bersuara setelah Julio menjelaskan ke Andhara. Dan juga tidak ada raut wajah panik atau terkejut yang tercipta di wajah Andhara. Tiba – tiba Andhara mengangguk.


“ Sarapan yuk. “ ajaknya seraya hendak berdiri. Julio lekas menahan tubuh Andhara dengan menggenggam erat tangannya.


“ Sayang … Kamu paham dengan yang ku katakan ? “ tanya Julio memastikan sambil menatap dalam ke arah istrinya.


Andhara mengangguk. “ Tahu lah bang. Abang tadi bilang, Dhara mau melahirkan kan ? “


Julio mengangguk dengan hati – hati tanpa mengalihkan pandangannya.


“ Ya udah ayok, sarapan dulu. Dhara kan belum sarapan. Nanti kalau nggak sarapan dulu, mana punya tenaga Dhara buat brojolin double D. “ lanjut Andhara yang lalu berdiri dengan perlahan dari tepian ranjang.


Keempat genk rusuh sohib Andhara juga Julio di buat melongo sambil menelan salivanya dengan susah payah dengan sikap Andhara tentang kondisinya saat ini. Mereka benar – benar tidak habis pikir dengan cara Andhara menyikapi kondisinya.


“ Kok malah bengong sih ? Ayo bang, makan. Dhara laper loh ini. Mumpung perut Dhara belum terlalu mules melilit. “ ucapan Dhara mampu menyadarkan Julio dari keterkejutannya.


Akhirnya Julio mengangguk, lalu memapah Andhara berjalan keluar melewati keempat genk rusuh lainnya yang terlihat masih bengong.


“ Mau ke rumah sakit sekarang, nak ? Semuanya udah bunda siapin. Untuk baju si dedeknya, nanti biar bunda beli dulu. Kan kalian belum sempat belanja buat keperluan bayi. “ ucap Bunda Lestari yang terlihat sangat panik. Begitupun ayah dan emak.


“ Kok pada panik gitu sih mukanya. Dhara aja yang mau lahiran masih baik – baik aja kok. “ sahut Andhara. “ Bi, Dhara laper. Mau makan. “ ucapnya ke bi Sum yang juga terlihat panik.


“ Makan ? “ beo emak. “ Bukannya kita harus segera ke rumah sakit ? Nanti kalau cucu emak pada brojol di rumah gimana ? “


“ Duh, emak. Dhara teh laper. Mana bisa Dhara ngeden kalau laper. “ sungut Andhara yang malah menarik kursi untuk ia duduki di meja makan.


Julio menganggukkan kepalanya ke bunda, emak, juga ayah, yang mengatakan jika semuanya baik – baik saja. Juliopun meminta bi Sum segera menghidangkan menu sarapannya. Bi Sum mengangguk, lalu segera ke belakang untuk mengambil hasil masakannya bersama emak Komsah tadi.

__ADS_1


“ Guyss, ayo kita makan. “ ajaknya ke keempat sahabatnya yang sedari tadi mengikutinya tapi masih dengan tatapan bengongnya. “ Abang, duduk sini sebelah Dhara. Dhara mau di suapin. “ ia menepuk kursi kosong di sebelahnya.


“ Ayah, bunda, emak, kok malah pada bengong sih ? Ayo makan. Bukan Cuma Dhara loh ini yang butuh makanan buat tenaga. Tapi kalian juga. Menunggui orang ngelahirin, dengan perasaan panik, harap – harap cemas, juga butuh asupan makanan. “ lanjutnya lagi.


Dan membuat semua orang mengikuti arahannya. Mereka mengambil duduk di tempat masing – masing. Sarapan ramai yang Dhara rasakan. Semua kursi berpenghuni. Tidak seperti biasa, yang hanya ada dirinya, Julio, bunda, juga ayah mertua. Dhara tersenyum melihat pemandangan itu.


“ Sayang, apa perutmu tidak sakit ? “ pertanyaan yang muncul dari mulut bunda. Membuat semua orang memandang ke arah Andhara. Mereka menghentikan sendok yang telah terisi nasi goreng di udara hanya untuk mendengarkan jawaban Andhara.


Andhara tersenyum, lalu menggeleng. “ Cuma sedikit bunda. Kayak mau pup aja. “ jawabnya dan membuat semuanya mengangguk – anggukkan kepalanya, lalu melanjutkan aktivitas sarapan mereka sambil sesekali melirik ke arah Andhara. Bumil ajaib menurut mereka.


Tapi tidak dengan Julio. Sedari tadi, arah pandangnya tidak lekang dari sang istri. Ia juga tahu, jika sang istri tengah menahan desisannya, menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan. Tapi ia memilih diam, dan tetap menyuapi sang istri makan. Dan sesekali ia juga memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“ Aahhh …. “ pekik Andhara tiba – tiba. Semua orang langsung menoleh ke arahnya. “ Sakit bang. Ke rumah sakit yuk. “ ajaknya.


Klunting …. Klunting … Suara sendok bertabrakan dengan piring kaca. Semua orang langsung meletakkan sendok mereka meskipun nasi dalam piring mereka belum habis. Keempat rusuh squad bahkan sudah mendorong kursi mereka sampai kursinya terpelanting ke belakang karena saking kerasnya mereka mendorong.


Julio mengangguk, lalu mengangkat tubuh gempal sang istri ke dalam gendongannya dan di bawanya keluar. Di luar, nampak pak Mahdi, sopir Pak Siswo, sudah menyiapkan dua mobil untuk persiapan ke rumah sakit. Pak Siswo tadi sudah memberitahunya.


“ Biar saya yang nyetir. Pak dokter nemenin Dhara aja di belakang. “ ucap Putra tiba – tiba menahan bahu Julio yang hendak menutup pintu penumpang setelah mendudukkan sang istri di jok belakang dengan di temani emak Komsah. Sedangkan bunda, sudah duduk di samping pengemudi.


“ Ck. Pak dokter jangan meremehkan saya. “ sahut Putra lalu membuka pintu kemudi dan segera masuk ke dalam. Julio akhirnya menurut, dan masuk ke jok belakang di samping Andhara.


“ Kita – kita gimana ? “ tanya Lila kebingungan.


“ Kalian cepetan ikut saya. “ sahut Pak Siswo yang membawa mobilnya sendiri.


Lila, Eka, Soni mengangguk dan langsung masuk ke mobil pak Siswo.


" Oh iya om, Pak Dokter sama Dhara kan belum sempat beli keperluan si kembar. Gimana kalau nanti kita mampir dulu di baby shop? Kita beli seadanya dulu beberapa potong baju bayi. " usul Eka.


" Iya, boleh tuh. " sahut Pak Siswo. Dan merekapun segera berangkat, keluar dari pekarangan rumah pak Siswo yang masih tertutup dekorasi karena memang belum sempat di bereskan setelah acara kemarin.


“ Maaak …. Sakit maaakkkk …. “ keluh Andhara.

__ADS_1


“ Iya. Teriak aja kalau sakit. “ Emak Komsah memberikan saran sambil mengusap pinggang anaknya.


“ Sssshhh …. Abanghhhh …. Auuwwsss …. “ Andhara mengeratkan genggamannya di tangan Julio. Sedari tadi, Julio memeluk tubuhnya, merebahkan kepalanya di dada bidangnya. Satu tangannya ia gunakan untuk mengelus rambut Andhara, dan tangan yang lain menggenggam tangan Andhara.


“ Sabar sayang. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit. “ ucap Julio berusaha memberikan kekuatan sambil mengecup puncak kepala Andhara.


“ AOWW!!! “ pekik seseorang dari arah kemudi. “ Gue lagi nyetir ini woyyy !!! “ pekiknya lagi sambil menahan sakit di kepalanya. Andhara menjambak rambutnya dari belakang.


“ Loe bisa nyetir nggak sih !! Perut gue sakit, kampv_reett !! Nyetir udah kayak siput !! “ teriak Andhara dari belakang.


“ Ini gue juga udah cepet jalannya. Loe nggak lihat, jalanan penuh ? Banyak mobil sama motor ? “


“ Iyalah banyak mobil sama motor. Orang mereka juga bayar pajak. Loe tuh Oo_n apa gimana sih !! “ sarkas Andhara masih sambil mencengkeram rambut Putra bagian belakang, seolah ia butuh pelampiasan untuk rasa sakitnya.


“ Sayang …. “ Julio berusaha melepas jambakan tangan Andhara di rambut Putra. Tapi bukannya terlepas, Andhara justru semakin mengencangkan jambakannya.


“ ANJR_**!!! Ase_mm !! Sakit b3_go !! “ segala umpatan keluar dari mulut Putra.


“ Yang sakit tuh gue !! Gue yang mau lahiran . Bukan loe ! “ sahut Andhara ketus.


“ Sayang. Putra lagi nyetir. Kalau dia kesakitan kayak gitu, yang ada kita nggak cepet sampai rumah sakit. Bisa – bisa kita malah celaka. “ bujuk Julio. Dan akhirnya, Dhara melepas jambakannya. Ia menghirup udara sebanyak – banyaknya lalu menghembuskannya lewat mulut.


“ Yang bikin dia sakit siapa, yang dapet enak siapa, yang di sakitin siapa. “ gerutu Putra saat tangan Andhara terlepas dari rambutnya. Ia yakin, rambutnya pasti banyak yang rontok.


“ Iyalah gue bikin loe yang sakit. Kan nggak mungkin gue jambak rambut laki gue. Bisa kualat gue kalau jambak rambut orang yang lebih tua. “ sarkas Andhara. Kini rasa sakit di perutnya sudah menghilang. Ia sudah bisa kembali berekspresi.


“ Loe ikhlas nggak sih, nganterin gue ke rumah sakit buat lahiran ? “


“ ikhlas Ra, ikhlas. “ jawab Putra.


“ Kalau ikhlas, nggak gini juga loe nyetirnya. Loe mau nganterin gue ke kuburan ? “ sarkas Andhara.


“ Ya salam …. Apa dosa gue Ya Allah …. Tadi nyetir pelan, di kata kayak siput. Lama sampai rumah sakitnya. Giliran di kencengin mobilnya, di kata mau nganter ke kuburan. “ keluh Putra sambil mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Sedangkan bunda Lestari sudah menahan senyumnya semenjak tadi melihat interaksi sang menantu dan sahabatnya. Kalau emak, sudah hafal pastinya bagaimana kelakuan ajaib mereka.


Bersambung


__ADS_2