Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Harapan Julio


__ADS_3

BUGGGHHHH !!!!


Satu bogeman mentah bersarang di wajah tampan Julio. Hingga tubuh atletis itu tersungkur dan menubruk motornya yang terparkir di pinggir jalan dari Putra yang tadi menyalip dan memotong laju motor Julio.


“ Gue udah bilang sama pak Julio sejak awal kan ? Jangan pernah menyakiti Andhara ! “ Putra masih tersulut emosi.


Ia bersungut – sungut melampiaskan amarahnya. Jelas saja ia marah karena gadis yang ia sukai sejak lama telah di nikahi secara dadakan oleh laki – laki yang sekarang berdiri sempoyongan sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia sudah mengikhlaskan jantung hatinya di miliki oleh laki – laki lain. Tapi laki – laki itu sekarang malah membuat gadis yang ia sukai bersedih.


“ Kenapa kamu tiba – tiba menyerang saya tanpa alasan yang jelas ? “ tanya Julio. “ Dan kapan saya pernah menyakiti Andhara. Dia adalah istri saya. Tidak mungkin saya menyakitinya. “ lanjutnya.


Putra tersenyum miring seolah mengejek apa yang Julio katakan. “ Kalau pak Julio mencintai perempuan lain, sebaiknya lepaskan saja Dhara. Jangan membuatnya bersedih dengan selalu bertemu dengan perempuan lain. “


Julio menautkan kedua alisnya dalam. “ Perempuan lain ? Perempuan mana maksud kamu ? “


“ Sudahlah. Maling mana yang mau ngaku. Kalau semua maling mengaku, penjara penuh, pak ! “ sahut Putra masih dengan emosi dan tersenyum sinis.


“ Andhara adalah istri saya. Jadi kamu tidak usah ikut repot memikirkan dia. “ jawab Julio tegas.


Kembali Putra tersenyum sinis. “ Bapak mengatakan jika Andhara istri bapak ? “ tanya Putra. “ Lalu kenapa anda masih menemui perempuan lain ??!! “ teriak Putra dengan nada suara tinggi.


“ Kapan saya menemui perempuan lain ?? “ Juliopun tidak mau kalah. Ia pun meninggikan suaranya.


“ Anda masih tidak mengakuinya ? Bahkan saat anda pulangpun, anda meminta perempuan itu datang ke rumah anda. “ jawab Putra. “ Silahkan anda pikirkan sendiri. Yang pasti, Andhara mengetahuinya. “ sahut Putra sambil menaiki motor N_max nya kembali.


“ Lebih baik anda lepaskan Andhara. Biarkan saya yang menggantikan posisi pak dokter. “ lanjutnya lalu ia melajukan motornya dengan kencang.

__ADS_1


Jangan di tanya bagaimana Putra bisa keluar dari sekolah padahal jam sekolah belum usai. Bukan Putra namanya kalau dirinya tidak bisa merayu satpam supaya di ijinkan untuk keluar.


Sepeninggal Putra, Julio berpikir dengan keras. Kenapa Andhara dan kini Putra membicarakan tentang perempuan lain ? Siapa perempuan itu ? Perempuan mana yang mereka maksud ? Seingat Julio, ia hanya bertemu perempuan – perempuan yang berobat kepadanya.


Kini ingatan Julio mengedar kembali ke dua hari yang lalu, kala ia dan Dhara pulang ke rumahnya. Satu – satunya orang luar yang datang ke rumahnya adalah Karen. Tapi seingatnya, ia sama sekali tidak menyapa Karen. Apalagi sampai memberitahu kedatangannya.


Ahh !! S_hit !! umpatnya dalam hati. Ia lalu buru – buru menaiki motornya dan melajukannya menuju Puskesmas dengan kecepatan tinggi.


“ Mbak Muni “ panggil Julio dengan nafas sedikit ngos – ngosan.


“ Lho, pak dokter ? Kok kembali lagi ? Katanya tadi mau ke rumah pak Kades ? “ tanya asisten sekaligus resepsionis di Puskesmas. “ Lho, itu bibirnya kenapa berdarah ? Kayak habis di tonjok orang deh. “ lanjutnya tidak memberi kesempatan Julio untuk bicara.


“ Maaf, mbak Muni. Saya kembali karena ada yang mau saya tanyakan. “


“ Mmmm… Apa pada saat teman saya, yang perempuan waktu itu datang kesini, Dhara juga ada datang ke sini ? “ tanya Julio hati – hati.


Mbak Muni mengernyitkan dahinya, lalu mengetuk – ngetuk dagunya sambil mengingat – ingat. “ Perempuan yang cantik, rambutnya di gerai sebahu terus agak ke emas – emasan itu bukan, pak dokter ? “


“ Iya, mbak Muni. Yang itu. “ jawab Julio sedikit lega, paling tidak mbak Muni mengingat sosok Karen.


“ Yang selalu pakai gaun pendek tanpa lengan itu kan pak ? “ Julio mengangguk. “ Kalau seingat saya, ada dua kali dia datang kesini. “ lanjutnya.


“ Iya, betul. “ jawab Julio sudah tidak sabar mendengar keterangan dari asistennya itu.


“ Kalau pas teman pak dokter itu di sini, memang Andhara juga datang kesini kan ? Memangnya pak dokter nggak tahu ? Kan, neng Dhara nyusulin pak dokter ke ruangan. “ jelas mbak Muni.

__ADS_1


“ Benarkah ?? Kok saya nggak tahu kalau Dhara kesini ? Dia nggak ada nemuin saya loh mbak. “ Julio masih tidak yakin dengan keterangan asistennya. Ia semakin penasaran. Ia meletakkan kedua tangannya bersedekap di atas meja resepsionis yang tingginya sedadanya.


“ Iya kok pak. Saya mah ingat banget. Cuma anehnya nih pak, dua kali itu, Dhara keluarnya buru – buru. Bahkan saya tanya ke dia kenapa aja, nggak sempat dia jawab. “ jelas Mbak muni melanjutkan ceritanya.


Julio mengepalkan tangannya erat. Kini dia sudah mendapatkan alasan kenapa sikap Andhara berubah terhadapnya. Bahkan sudah satu minggu lebih ini, Andhara seperti sengaja menjauhinya. Sesuai dengan kedatangan Karen yang terakhir di Puskesmas.


“ Terima kasih banyak, Mbak Muni. “ ucap Julio lalu kembali meninggalkan Puskesmas untuk segera pulang ke rumah dinasnya. Ia berharap, saat ini Dhara sudah pulang dari sekolahnya. Karena jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang.


Ceklek


Julio membuka pintu rumahnya yang ternyata masih terkunci dari luar. Itu artinya Dhara belum pulang dari sekolahnya. Julio memasuki rumah dengan langkah lesu.


Hatinya terasa mencelos ketika mendengar cerita mbak Muni tadi. Dhara melihatnya ? Apa Dhara melihat juga ketika Karen tiba – tiba memeluknya ? Oh, tidak … tidak … Kalau sampai Dhara melihatnya, mampuslah aku. Pekik Julio dalam hati.


Ia menghenyakkan pan_tatnya di sofa ruamg depan. Ia memejamkan kedua matanya sambil memijit pangkal hidungnya. Kepalanya sedikit berdenyut.


Bukan karena tonjokan dari Putra, tapi karena ia memikirkan istri kecilnya. Julio memutuskan untuk menunggu Andhara pulang untuk menjelaskan semuanya. Meluruskan kesalah pahaman yang terjadi. Ia yakin, Dhara pasti akan pulang ke rumah itu karena pagi tadi, Dhara berangkat sekolah dari sana.


Kacau … Itulah yang Julio rasakan sekarang. Dua hari mereka jalani hari – hari, siang maupun malam seperti dua orang asing yang tidak saling kenal meskipun dalam satu atap, bahkan satu ranjang. Semua itu karena dirinya.


Sikap Dhara yang berubah cuek terhadapnya itu karena dirinya. Ucapan cerai yang keluar dari mulut gadis yang ia sukai semenjak pandangan pertama itu juga karena dirinya. Tapi dengan tidak tahu dirinya, ia malah sibuk dengan rasa cemburu yang tidak jelas.


AHH !!! Semoga saja semuanya masih bisa di perbaiki. Semoga saja sang istri mau mendengar penjelasannya dan mau memaafkannya. Hanya itulah harapan Julio saat ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2