
Julio membawa berjalan – jalan memutar kota Bandung seperti yang diinginkan sang istri. Sebenarnya dia enggan, karena menurut ilmu kedokteran yang ia pelajari selama ini, perempuan yang sedang mengandung itu tidak baik jika harus naik motor lama – lama. Apalagi usia kandungan yang baru beberapa minggu. Masih terlalu rentan dengan goyangan dan goncangan.
Tapi demi mendapatkan senyum dan tawa sang istri kembali, Julio berusaha menentang ilmu yang ia pelajari itu. Sambil terus berdoa di dalam hati semoga tidak terjadi hal buruk dengan istri maupun calon bayinya, Julio menjalankan motornya dalam kecepatan sedang.
“ Habis ini kita pulang ya ? “ teriak Julio karena suaranya tertahan di dalam helm full facenya dan angin yang bertiup. Meskipun ia sudah membuka kaca helmya, tetap saja jika ia tidak berteriak, sang istri pasti tidak bisa menangkap apa yang ia katakan dengan jelas.
“ Yaaaahhh …. Kok pulang sih !! “ sahut Dhara sambil teriak pula.
“ Udah malem. Nggak baik udara malam buat ibu hamil … “ jawab Julio. “ Besok – besok, kita jalan – jalan lagi. Oke ?? “ tambahnya.
Andhara mengangguk, dan Julio melihatnya dari kaca spion. Iapun tersenyum bahagia. Paling tidak sang istri mau mendengar ucapannya. Julio lalu meyalakan lampu sein kanan untuk berjalan ke arah tempat tinggalnya.
Setelah menempuh perjalan hampir setengah jam lamanya karena jalanan sedikit macet, akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat. Julio menurunkan Andhara tepat di depan pintu rumah, sedangkan ia memasukkan motor gedenya ke dalam garasi.
“ Assalamu’alaikum. “ Andhara mengusap salam kala kakinya memasuki rumah.
“ Waalaikum salam. “ jawab pak Siswo dan bu Lestari juga bi Sum bebarengan. Sepertinya mereka sengaja menunggu Andhara dan Julio kembali.
Bunda Lestari segera bangkit dari duduknya dan menghampiri menantu kesayangannya. Sampai di dekat Andhara, bunda Lestari langsung memeluk tubuh Andhara.
“ Syukur alhamdulillah, sayang. Kamu baik – baik saja. Bunda khawatir banget. “ ucap Bunda Lestari sambil tetap memeluk tubuh Andhara.
Andhara lalu membalas pelukan bunda mertuanya. Ada rasa tidak enak hati nyempil di sudut hati Andhara karena sudah membuat seluruh penghuni rumah mengkhawatirkannya.
“ Maafin Dhara ya Bund. Dhara udah bikin semuanya khawatir. Dhara pergi, main pergi aja. Nggak pamit dulu. “ lirih Andhara.
Bunda Lestari melepas pelukannya, lalu memandang dalam wajah sang menantu. Ia menangkup kedua pipi menantunya itu.
“ Jangan di ulangi lagi. Besok – besok, kalau mau pergi, bilang dulu sama bunda, oke ? Bunda takut terjadi apa – apa sama kamu, sayang. “ tutur Bunda Lestari.
“ Iya, bund. “ jawab Andhara sambil mengangguk.
__ADS_1
“ Ayo kita masuk. “ ajak beliau, lalu merangkul bahu Andhara dan di ajaknya masuk ke ruang keluarga.
Sampai di dalam kala melihat ayah mertuanya, Andhara segera menyalami beliau. “ Maafin Dhara, ayah. “ lirihnya.
Pak Siswo mengangguk sambil tersenyum dan menepuk – nepuk punggung tangan Andhara yang masih dalam genggamannya.
“ Sini, sayang. Duduk di samping bunda. “ ajak bunda Lestari. “ Bi, tolong buatin teh hangat buat Andhara sama Julio sekalian. “ pintanya ke bi Sum.
Andhara duduk di samping bunda Lestari. Bunda Lestari menggenggam tangan Andhara.
“ Bunda …. Sama ayah seneng banget waktu denger kamu lagi hamil. “ Bunda Lestari memulai pembicaraan dengan sangat hati – hati. Andhara mengangguk sambil tersenyum kaku.
“ Bunda tidak menyangka jika kalian akan di beri amanah dan kepercayaan secepat ini. “ lanjut beliau. Andhara hanya menunduk sambil memilin – milin ujung bajunya dengan tangan kirinya.
“ Bunda tahu. Ini pasti berat buat kamu. Bunda juga minta maaf sama kamu sebagai orang tua Julio. Karena anak bunda yang nggak sabaran, kamu jadi hamil secepat ini dan harus memupus cita – cita kamu. “ lanjut beliau kembali.
“ Bunda nggak salah. Kenapa mesti minta maaf sama Dhara? “ sahut Andhara merasa tidak enak.
Dhara menitikkan air mata karena penyesalannya.
“ Ssst !! Jangan menangis. “ ujar Bunda sambil menyeka air mata Andhara. “ Kalau Dhara menangis, nanti dedeknya ikutan sedih jadinya. “ lanjut beliau sambil tersenyum dengan senyuman yang menenangkan.
“ Dhara udah nggak mikirin cita – cita Dhara lagi kok bunda. Dhara sekarang udah ikhlas untuk gantung sepatu. Dhara mau jagain dedek. “ ucap Dhara sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“ Alhamdulillah … “ ucap Bunda dan ayah bebarengan. Mereka lalu saling pandang.
“ Dhara cuman takut aja, bund. “ ujar Andhara sambil tertunduk.
Bunda Lestari tersenyum, lalu ia membelai rambut Andhara. “ Kehamilan memang bukan sesuatu yang mudah untuk di jalani, nak. Bunda akui itu. Butuh perjuangan demi memiliki seorang keturunan. Mulai dari mengalami morning sickness, badan yang tiba – tiba terasa lemas, porsi makan yang meningkat yang tentunya membuat tubuh menjadi lebih gendut, terus jika kandungan sudah semakin membesar, kita akan merasa sangat berat dan susah melakukan aktivitas. Belum lagi di saat melahirkan. “ Bunda menjeda omongannya sebentar.
“ Apalagi di usia kamu yang masih sangat muda. Bunda akui jika hal – hal itu tak terelakkan bagi semua perempuan. Tapi bunda yakin. Dhara adalah perempuan yang kuat. Jadi, jangan takut. Kami semua ada di sini. Buat kamu. Selalu mendampingi kamu saat kehamilan, juga saat kamu melahirkan nanti. Meskipun suami kamu bukan dokter kandungan, tapi dia tetaplah seorang dokter. Dia juga pasti sangat bisa menjaga kamu dengan baik. “ lanjut Bunda Lestari.
__ADS_1
Andhara mengangguk dan tersenyum. Lalu ia meyeruakkan tubuhnya ke dalam pelukan bunda Lestari. Dan ia menemukan ketenangan di sana.
“ Terima kasih. Sudah mau menjadi pendamping anak bunda sama ayah. Sudah mau menerima Julio dengan segala kekakuan dan kekurangannya. Dhara mau mengerti, dan mau berkorban juga untuknya. Makanya, Allah menitipkan dedek di perut Dhara. Karena pasti Allah percaya, kalau Dhara mampu menjaganya dan merawatnya. Jadi, bunda minta, di jaga baik – baik ya nak, titipan Allah. “ ujar Pak Siswo.
Andhara hanya bisa mengangguk, tanpa mampu berkata – kata. Ucapan dari ayah mertuanya mampu membuat tenggorakannya tercekat.
“ Sekarang, udahan sedih – sedihannya. Bunda pengen denger cerita, Dhara tadi kemana aja, terus ngapain aja. Bunda kepo nih. Soalnya Dhara nggak ajak – ajak bunda. “ Bunda Lestari berusaha mencairkan suasana.
“ Tapi Dhara malu mau cerita. “ cicit Dhara.
“ Sok atuh carita neng. “ pinta sang bunda. Dan akhirnya, Andhara menceritakan semuanya dari mulai bagaimana dia bisa keluar rumah tanpa ijin, sampai kembali ke rumah malam ini.
“ Jadi, kamu kesasar tadi ? “ tanya ayah.
Andhara mengangguk sambil cengar – cengir. “ Habisnya Dhara lupa alamat rumah ini. Nama perumahannya aja Dhara nggak tahu. Ya udah, akhirnya Dhara asal jalan aja. Eh, sampai deh di deket penjual cakue sama odading yang lagi viral itu. “
“ Haduh naaak !!! Kalau tadi Julio nggak nemuin kamu gimana ? “ tanya bunda Lestari.
“ Gampang, bunda. Dhara tinggal ke kantor polisi. Bilang kalau Dhara teh hilang. Lagian ayah kan mantan camat. Mereka juga pasti tahu. “ Dhara menjawab dengan penuh percaya diri. Bunda, ayah, dan bi Sumi hanya menggelengkan kepalanya mendengar cerita Andhara.
“ Lalu ponsel kamu ? Katanya Julio hubungin kamu berkali – kali nggak di angkat. “ tanya bunda.
“ Mungkin waktu abang telepon, Dhara masih di jalan. Jadi nggak denger kalau ada telepon. Habis itu, ponsel Dhara low bath. Sampai mati, bund. “
“ Hahahaha …. Ada – ada aja kamu, nak. Besok – besok, kalau mau jalan – jalan, minta di anter Pak Sofyan apa Dirga aja. Atau pak Mahdi
“ gelak Pak Siswo.
“ Siap, komandan. “
Bersambung
__ADS_1