
Hai genksss⦠masih area 18+ yah⦠bocil masih di larang ngintip !! Malam ini, kalian juga pasti nyari suami lagi ⦠Upss
Tapi sayangnya, othor update kepagian lagi π€π€
.
.
β Bang ,.. awashh β¦ Dhara pengen pipis ! β ucapnya kepayahan menahan sensasi gelenyar aneh tapi memabukkan.
β Keluarin aja . β
β Abang ihh, masak Dhara pipis di kasur, malu lah ! β
Julio tersenyum tapi tak membuatnya beranjak dari posisi terenaknya. Ia tetap memberikan serangan bertubi β tubi pada tubuh Andhara.
Ini benar β benar gila. Itβs so crazyy β¦
Andhara di buat gila oleh sentuhan yang Julio berikan. Dan entah sejak kapan, tubuh Julio juga sudah shirtless menampilkan tahu kotak sumedangnya. Membuat Andhara mupeng. Itβs so hot. Batinnya. Pikirannya pun melayang ke negeri awan.
Tapi tiba β tiba rasa takut menyerangnya. Melihat raut wajah yang berubah dari Andhara, Julio kembali menyentuhnya di daerah sensitif Andhara, dan seketika raut wajah takut itu menghilang bak di bawa arus sungai nil. Julio sepertinya tidak mau menyia β nyiakan kesempatan emas ini. Andhara hanya bisa pasrah. Tubuhnya melemas dengan sentuhan ajaib suaminya.
Sudah tak ada jalan lain untuk mundur bagi keduanya. Khilaf berjamaah, mungkin itulah yang sedang mereka lakukan sekarang. Meskipun masih ada rasa takut yang nyempil layaknya upil di hati Dhara, tak dapat di pungkiri jika ia pun menginginkannya.
Pertahanan Julio yang sedari tadi ia tanamkan dalam hati untuk tidak menuntut lebih karena ia masih ingat dengan janjinya sesaat setelah ijab yang ia ucapkan. Bahwa dirinya tidak akan menyentuh dan meminta haknya sebelum Dhara lulus SMA, kini kandas sudah.
Ternyata imannya memang cetek. Ia sedikit menarik diri untuk melepas satu β satunya kain yang masih menempel di tubuh Andhara yang membuat gadis yang sebentar lagi sudah harus memwisuda status gadisnya menautkan kedua kakinya untuk menutupi daerah terlarangnya.
Sedangkan Julio, entah apa yang ia lakukan setelah melepas kain segitiga yang menutupi pedang milik Kenshin, karena Dhara memejamkan matanya merasa malu untuk melihat kondisi dirinya dan sang suami yang sudah sama toples.
Tiba β tiba Andhara mendengar bisikan sebuah ayat dari mulut sang suami di telinganya. Ia semakin merapatkan kedua matanya sambil menyelami ayat yang menyejukkan itu. Membuatnya tenang.
Andhara tersentak keget kala sesuatu menggedor β gedor di bawah sana untuk segera masuk. Hanya satu yang ia tahu, jika dirinya kini sudah menanggalkan status gadisnya. Kini statusnya sudah resmi menjadi seorang wanita. Menjadi istri seutuhnya dari seorang laki β laki bernama Julio Enggar Prasetya.
__ADS_1
β Sakit ? β tanya Julio saat senjatanya sudah berhasil menerobos masuk.
Andhara mengangguk pelan. Tapi rasa sakit yang ia rasakan tak sampai membuatnya berteriak dan menjerit, lalu memukul β mukul suaminya atau bahkan mencakarnya. Mungkin jika di tanya, Andhara akan mengatakan jika rasa sakitnya masih lebih sakit saat Julio membenarkan posisi tulangnya yang bergeser dulu.
Andhara memejamkan matanya merasai rasa sakit itu. Ia ingin menyimpannya dalam hati. Menjadikannya kenangan terindah dalam hidupnya.
Julio mengecup kedua matanya yang terpejam, lalu mendaratkan ciu_mannya di bibir Andhara sambil memulai gerakan hentakan di bawah sana. Pengalaman pertama bagi keduanya yang akan selalu mereka ingat.
Julio menghentak β hentakkan pinggulnya naik turun. Ada rasa asyik dan enak yang membuncah antara keduanya untuk saling memuaskan. Tapi di tengah β tengah perjalanan menuju angkasa ke tujuh, Julio menghentikan kegiatannya. Ia beranjak menuju almari, dan mengambil sesuatu di sana.
β Abang ngapain ? β seperti ada rasa tak rela dalam hati Andhara kala Julio menghentikan kegiatannya.
β Pakai pengaman dulu. β sebenarnya Julio merasa tidak rela membuang β buang bibit unggulnya begitu saja. Terbersit juga rasa bersalah ke sang istri. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Hanya pengaman inilah satu β satunya biar sang istri bisa tetap melanjutkan sekolahnya tanpa hambatan.
Julio lembali menyatukan tubuh mereka. Memacu adrenalin yang mungkin melebihi saat kita bermain roller coster. Suara nikmat duniawi saling bersahutan memenuhi kamar berukuran 4 x 5 milik Andhara.
Setelah beberapa saat saling berpacu peluh, bibit unggul Julio sudah memenuhi balon abu β abu, Julio menyudahi kegiatannya.
β Done, Nyonya Julio. Tugas negara sudah terlaksana dengan baik. β ucapnya. Andhara mendelikkan matanya mendengar ucapan sang suami.
β Capek ? β Andhara mengangguk.
β Harus mandi malam β malam ? β gerutu andhara.
Julio tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut Andhara yang berantakan di pipinya. β Nanti saja sebentar lagi. Istirahat dulu saja. β ucapnya lembut. Lalu ia beranjak dari rebahannya.
β Abang mau kemana ? β
Julio menoleh ke belakang. β Abang masakin air buat kamu mandi. Biar nggak kedinginan. β
β Ikut β¦ β rengek Andhara manja.
Julio tersenyum, β Emang kamu bisa jalan, sekarang ? β tanyanya.
__ADS_1
β Bisa lah. β dengan PD nya Andhara bangkit dari tidurnya. Saat ia hendak menurunkan kakinya, ia merasa bagian bawahnya terasa ngilu dan tebal β Auuu β pekiknya.
β Kok sakit bang ? β tanya Dhara sambil membuka selimut dari bagian da danya untuk melihat apa yang terjadi dengan bagian bawahnya. β Bengkak ih kayaknya. β dumelnya.
Julio tersenyum, lalu membalikkan badannya menghadap Andhara. Lalu meraih tangan Andhara dan mengecupnya. Andhara menegakkan kepalanya menghadap Julio. Pipinya bersemu merah kala mendapatkan perlakuan teruwu dari suaminya. Apalagi saat tak sengaja matanya melihat senjata milik suaminya yang tidak tertutup apapun.
β Bang, itu di tutupi napa ? Mau, kalau Dhara khilaf lagi ? β omelnya.
β Emang kamu masih sanggup untuk khilaf lagi malam ini ? Kalau abang sih hayuk aja. Mumpung belum mandi juga. β goda Julio dengan matanya yang menggoda.
β Abang ihh β¦ Maunya !! β Andhara mengalihkan pandangannya dan menarik tangannya yang di pegang Julio. Julio terkekeh kecil.
Sepertinya setelah ini, tubuh ramping sang istri akan menjadi her_in untuknya. Baru memikirkannya saja, senjatanya sudah kembali bergejolak. Segera saja Julio meraih pakaiannya yang bercecer di lantai. Lalu ia mengenakan segitiga bermudanya sebelum senjatanya lepas kendali.
β Abang, kapan beli sarung pengaman itu ? Kok tiba β tiba aja udah ada di almari. β tanya Andhara sambil menaikkan selimutnya.
β Waktu abang pulang ke rumah. Waktu abang ninggalin kamu sendirian di kamar, abang ke apotik buat beli. β
β Ngapain beli begituan ? Hayo β¦ Abang mau macem β macem gara β gara marah sama Dhara ya ? β Andhara memicingkan matanya sarat dengan ancaman.
β Enak aja. β jawab Julio sambil mengenakan celana pendeknya.
β Abang sengaja beli. Buat persediaan. Jaga β jaga aja. Karena tidak menutup kemungkinan kejadian seperti ini akan terjadi secara mendadak. Bagaimanapun, kita adalah suami istri yang sah dan saling mencintai. Jadi abang sengaja membelinya. Satu kotak abang taruh di rumah dinas, satu kotaknya lagi abang bawa kesini. β jelasnya. β Dan ternyata berguna kan ? β candanya sambil tersenyum.
β Banget lah !! Kalau tadi abang nggak pake pengaman, bisa β bisa Dhara nggak jadi ikut ujian. Karena ngalamin morning sick. β celotehnya yang membuat Julio tersenyum.
Sebenarnya ada kelegaan dalam hati Julio saat mendapati ternyata istrinya tidak marah dan kecewa terhadap dirinya yang sudah ingkar janji.
β Ya sudah, kamu tunggu di sini. Abang masakin air dulu. β Andhara mengangguk.
Julio beranjak dari ranjang sambil mengenakan kaosnya dan pergi keluar dari kamar menginggalkan Andhara yang sedang tersenyum β senyum sendiri membayangkan kejadian yang beberapa waktu tadi terjadi.
Bersambung
__ADS_1