
Upacara pemandian dalam rentetan acara tujuh bulanan Andhara sudah di lakukan tadi di saat tamu undangan belum pada datang. Andhara sudah menjalani ritual berganti kain batik tujuh rupa, juga di guyur dengan air kembang sebanyak tujuh kali guyuran.
Dan jangan lupakan ritual menjatuhkan belut dari atas ke bawah melewati perut buncitnya. Ia yang sudah terbiasa memegang belut begitu santai kala sang suami menjatuhkan belut itu ke dalam kain sampingnya melewati perut buncitnya.
Justru orang – orang yang melihat yang merasa geli. Bahkan sang suami juga bergidik kala memegang hewan melata licin itu.
Flash back on
“ Itu belutnya mau di goreng ya bund ? “ tanya Andhara kala melihat seekor belut di dalam ember kala ia sudah duduk di bangku yang telah di siapkan untuk ritual pemandian.
“ Ck. Ini teh buat ritual atuh neng. “ bukan suara bunda yang menjawab, tapi emak Komsah. “ Jangan bilang, kamu mau makan belut itu. “ ucapnya sambil memicing.
“ Pengen mak. Dah lama juga kan Dhara nggak makan belut bakar. “ sahut Andhara sambil menelan salivanya kasar dan menatap penuh minat ke arah belut.
“ Neng, berdiri yuk. Emak bantu. “ ucap paraji yang memandu acara pemandian. Acara guyur mengguyur dengan bunga setaman sudah selesai.
“ Biar saya saja, mak. “ sahut Julio yang memang sedari tadi berada di sana. Lalu ia memasukkan kedua tangannya ke bawah ketiak Andhara, dan membantu Andhara untuk berdiri.
“ Mak, mau ngapain ? “ tanya Andhara sambil memegang samping di bagian dadanya saat paraji hendak melonggarkan kain samping itu.
“ Mau di longgarin dikit, neng. Biar suaminya bisa meluncurkan belutnya ngelewati perut eneng. “ jawab paraji.
“ Tapi malu, mak. “ cicit Andhara.
“ Malu sama siapa ? Orang di sini juga semuanya perempuan. Cuma suami kamu doang yang laki. Kalau dia mah udah biasa kali lihat badan kamu. “ sahut si emak Komsah membantu paraji mengendorkan kain samping Andhara. Mendengar omongan emak, Dhara hanya bisa memanyunkan bibirnya.
“ Den, ambil belutnya. Terus masukin sini lewat dalam samping istrinya. “ tunjuk paraji.
“ Ha ? “ beo Julio, lalu ia menelan salivanya kelat. “ Pakai tangan, gitu mak ? “ tanyanya.
__ADS_1
“ Iya atuh, bang. Masak megang pakai kaki. “ bukan emak paraji yang menjawab, melainkan Andhara.
“ Ck. “ Julio berdecak. “ Geli banget ! “ gumamnya. “ Mak, boleh pakai sarung tangan nggak ? “ tanyanya ke paraji.
Paraji tersenyum. “ Meluncurkan belut dari tangan suami itu ada maksudnya den. Supaya ibu hamilnya teh, di beri kemudahan saat melahirkan nanti. “ jelasnya.
“ Abang kalau takut, udah angkat aja embernya, masukin sini sekalian sama aernya. “ sarkas Andhara sambil menunjuk ke kain samping yang sudah longgar itu.
Ia kesal dengan sikap suaminya saat ini. Bukannya buru – buru ambilin tuh belut terus masukin. Udah dingin ini, wooyyy !!! pekik Andhara dalam hati.
“ Bunda angkatin embernya ya, biar Julio gampang ambil belutnya. “ ucap Julio pada akhirnya karena memang ia harus melakukan ini.
Bunda Lestari mengangguk dan mengangkat ember berisi belut ke dekat menantunya.
“ Bismillahirrohmanirrohim. “ gumam Julio, lalu ia memasukkan tangannya ke dalam ember dan mengambil belut dengan gerakan cepat, dan segera menjatuhkannya ke dalam kain samping sang istri dan melewati perut buncit sang istri.
Bukannya takut atau geli, Andhara justru tertawa renyah sambil melihat belut dari dalam kain sampingnya. Begitu lucu menurutnya kala belut itu melewati perutnya.
“ Nggak ! “ jawab Julio spontan sambil bergidik. “ Abang mau mecahin kelapa. “ elaknya sambil mengambil parang yang sudah di siapkan dan berjalan mendekat ke dua buah kelapa yang ada di atas meja, mengambilnya untuk ia taruh di lantai.
“ Abang, megang kelapanya jangan kayak gitu. “ pekik Andhara sambil tertawa.
Julio menoleh sambil mengernyit ke arah sang istri yang sedang tertawa.
“ Dhara geli lihatnya. Jadi keinget kalau abang lagi megang da danya Dhara. Ha … ha … ha … Ukurannya sama ya bang ??? “ pekiknya lagi sambil tertawa.
“ Mulut !!! “ emak Komsah meremas mulut tak berakhlak milik anaknya. Sedangkan Julio sudah di buat memerah mukanya. Untung saja sohib – sohib gesreknya sedang tidak ada di sana karena mereka sedang bantuin mendekor halaman serta menata makanan.
Flash back off
__ADS_1
Acara selanjutnya setelah pembacaan ayat – ayat suci Al_Quran serta mauidhoh hasanah adalah berjualan rujak juga dawet oleh Andhara dan Julio.
Suasana menjadi semakin ramai kala bunda membawa kendi yang berisikan permen, uang logam juga kertas berwarna biru dan merah, lalu beberapa lintingan kertas yang entah apa isinya. Sedangkan Andhara sudah di dudukkan di bangku agak jauh dari keramaian.
“ Pasti ini yang di tunggu – tunggu oleh para tamu undangan. Di persilahkan untuk para hadirin yang mau ikut saweran. Tapi ingat, jangan rusuh dan harus tertib ya. “ bukan hanya anak muda yang segera menghampiri tempat saweran. Tapi juga para orang tua dan juga anak – anak. Dan jangan lupakan geng rusuh Andhara yang sudah stay di paling depan.
“ Abang, Dhara mau ikut kesana. “ rengek Andhara ke Julio. Seharusnya acara saweran itu di lakukan oleh Julio. Tapi karena semenjak tadi istrinya memberengut kekeh ingin ikut acara saweran jika Julio juga di sana, maka Julio menyerahkan acara saweran ke bunda juga emak Komsah.
“ Mau ngapain ? “
“ Ikut ambil sawerannya lah. “ jawab Andhara.
“ Mau desak – desakan di sana ? “ Julio medesah. “ Tinggalin dulu perut kamu di sini kalau mau ikut saweran. Biar abang yang jagain si kembar. “ lanjutnya.
“ Dih, abang kalau pengen ngelawak tuh di panggung sana. Jangan di sini. Kesannya garing kayak ikan asin. “ gerutu Andhara. “ Mana bisa Dhara ninggalin perut di sini. Abang kenapa otaknya jadi beku sih ? “ ketusnya.
“ Makanya, kamu diem, duduk di sini. “ Julio menatap tajam ke arahnya.
“ Abang nggak asik ih ! “ keluh Andhara sambil memalingkan wajahnya dari sang suami.
“ Sayang, dengerin abang. Tanpa kamu ikut berdesak – desakan di sana, abang bisa kasih seperti yang ada di dalam kendi itu ke kamu. Semua isinya abang kasih. Nggak ada yang kelewat. “ Julio mengambil tangan Andhara dan di genggamnya erat.
“ Dhara bukan mau isinya tapi bang. “ rengek Andhara. “ Andhara pengen alurnya. Keramaiannya. Keasyikannya. “ lanjutnya. “ Entar kalau doble D ngeces gimana ? Kalau keinginannya nggak di turutin ? “
“ Jangan suka mengkambing hitamkan anak – anak, sayang. “ ucap Julio yang tidak termakan rayuan sang istri, membuat Andhara berdecak.
“ PUTRAAA !!! Ambilin buat calon ponakan loe !! “ teriaknya ke Putra sambil berdiri. Sengaja dirinya memanggil nama Putra untuk membuat suaminya kesal. Ia ingin jika dirinya sekarang kesal, suaminya juga ikut kesal.
Boleh jitak kepala istri nggak sih ! dengus Julio kesal tapi hanya ia ucapkan dalam hati.
__ADS_1
Bersambung