Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Masih syok


__ADS_3

Andhara berdiri di dekat jendela. Ia menatap hampa keluar, ke taman belakang rumah. Pikiran dan hatinya terasa kacau. Ia juga merasa malas melihat suaminya, apalagi berbicara dengan suaminya. Tangan Julio yang hendak melingkar di perutnya, langsung ia tepis.


“ Udah Dhara bilang, jangan sentuh Andhara ! Bisa kan ? “ sarkasnya.


“ Kamu istri abang. Nggak mungkin abang nggak nyentuh kamu. “ sahut Julio dengan nada tegasnya. “ Abang tahu apa yang ada dalam pikiran kamu. Jangan pernah berbuat macam – macam. “ ucapnya.


“ Kenapa emangnya kalau Dhara macam – macam ? “ ketus Dhara sambil berbalik badan menghadap suaminya dengan bersidekap. Dan pandangan kesalnya.


“ Dhara … “ ucap Julio yang lebih ke peringatan.


“ Kenapa ? Dhara males dengerin abang. Abang tukang boong. Bilangnya dulu nggak bakalan sentuh Dhara sebelum Dhara lulus, nyatanya apa ? Belum juga ujian, abang udah gre_pe gre_pe. “ sarkas Andhara.


Berbicara kasar sama suami, jelas saja itu berdosa. Hilang sudah sepetak ladang pahala buat Andhara. Tapi Andhara seakan tak peduli. Hatinya masih tersulut emosi dan rasa kecewa.


Aku gre_pe gre_pe, kamu juga mau kan, sayang ? Kamu juga sering minta lebih. Itulah jawaban yang ingin Julio ucapkan. Tapi jawaban itu seakan tertelan kembali ke dalam tenggorokannya.


“ Iya, maaf abang salah. Abang udah nggak tepatin janji. “ Mengalah, adalah salah satu solusi yang ada dalam otak cerdas Julio saat ini. “ Tapi please, jangan berbuat suatu hal yang membahayakan anak kita. Hem ? “ pintanya.


“ Emang kenapa ? Terserah Dhara dong mau ngapain. Dia ada di tubuh Andhara. Bebas mau Dhara apain juga. “ ketus Andhara menggebu – gebu.


“ Mau Dhara ajakin main sepakbola. Puas ? “ lanjutnya berapi – api.


Julio menghela nafas dalam – dalam sambil memejamkan matanya. Ia harus memproses banyak – banyak kesabaran untuk menghadapi istri ajaibnya ini.


“ Awas saja kalau kamu sampai macam – macam. Abang nggak akan ijinin. “ sebuah ancaman keluar dari mulut Julio.


“ Dari tadi abang bilang macam – macam, Dhara jadi beneran pengen macem – macem. “ tantang Andhara.


Julio mengusap wajahnya kasar. “ Abang tahu abang salah, Dhara. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak bersalah. Jangan pernah kamu sakiti dia. “ ucapnya.


“ Manusia hanya bisa berencana. Tapi tetap Tuhan yang memutuskan. Anak itu adalah rejeki yang Allah titipkan buat kita. Jadi abang mohon, jangan pernah kamu sakiti atau sia – siakan rejeki yang Allah titipkan. “ lanjutnya mencoba memberi pandangan kepada istrinya.

__ADS_1


Kali ini Andhara tidak menjawab. Ia lebih memilih naik ke atas tempat tidur, lalu menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut.


“ Istirahatlah. Abang akan turun sebentar. “ Julio memutuskan untuk berbicara dengan kedua orang tuanya tentang kehamilan Andhara. Sebelum turun ke lantai bawah, ia sempatkan mengecup kepala istrinya yang tertutup selimut.


.


.


.


Julio menemui kedua orang tuanya yang sedang duduk bersantai di ruang tengah. Mereka tengah asyik menonton televisi.


“ Bunda … Ayah … “ kedua orang tua itu langsung menoleh bersamaan ke sang putra.


“ Eh, Yo … Ayo duduk sini. Mana istrimu ? “ ujar bunda Lestari.


Julio menghenyakkan pan_tatnya tepat di sebelah sang bunda. “ Dhara lagi istirahat di kamar, bund. “


Julio menunduk sambil menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “ Andhara hamil, bund. “ lirihnya.


Sontak kedua orang tua itu langsung menampilkan wajah berbinar. “ Benarkah ? “ tanya keduanya memastikan.


Julio mengangguk lesu.


“ Alhamdulillah … “ ucap keduanya kembali.


“ Kita akan punya cucu, yah. “ ucap Bunda Lestari girang sambil menoleh ke arah suaminya. Ayah Juliopun mengangguk tak kalah bahagia. Tapi binar kebahagian itu langsung berubah menjadi kerutan kala Pak Siswo melihat raut wajah putranya.


“ Kamu tidak bahagia ? “ pertanyaan itu keluar dari mulut pak Siswo. Sebuah pertanyaan yang membuat bu Lestari langsung menoleh ke arah Julio dengan pandangan menyelidik.


Julio menegakkan kepalanya. “ Mana mungkin Julio tidak bahagia, Yah ? Kabar kehamilan Andhara adalah hal yang paling membahagiakan buat Julio. “ jawabnya.

__ADS_1


“ Lalu kenapa muka kamu murung begitu ? Udah kayak kain pel aja. Lecek. “ ujar pak Siswo.


Lagi – lagi Julio menarik nafas panjang. “ Dhara syok, yah, bund. Dia … Dia belum siap untuk hamil. Dia ketakutan. Dan dia belum bisa menerima kehamilannya ini. “ jelas Julio.


Pak Siswo ikut menghela nafas kasar. Beliau menyadari, hal ini pasti terjadi. Mengingat menantunya itu masih terlalu muda untuk hamil.


“ Kamu kan dokter, Yo. Kenapa kamu nggak kasih dia penjelasan ke dia mengenai kehamilan ini. “ sahut bunda Lestari.


“ Semua ketakutan Andhara sebenarnya berawal dari Julio, bund. “ jawaban yang membuat bunda Lestari mengernyit. “ Waktu masih sekolah, Julio pernah kasih pemaparan ke semua siswa siswi di sekolah Dhara. Dan itu tentang kehamilan di luar nikah, juga bahayanya hamil di usia yang masih sangat muda. “


“ Oh, Ya Salam. “ bunda Lestari memijat pelipisnya. “ Jadi karena penjelasan kamu dia jadi takut dengan kehamilannya ? “ tanyanya.


“ Kita harus kasih dia support kalau gitu. Kita harus buat dia bahagia. Kebahagian akan mempengaruhi tumbuh kembang janin, juga proses melahirkannya kelak. “ lanjutnya.


“ Bukankah, kamu tadi sudah membawanya ke dokter ? kenapa tidak minta tolong dokter kandungan yang menjelaskan jika sebenarnya kehamilan itu bukan suatu hal yang menyeramkan. “


“ Sudah, bund. Tadi dokter kandungan sudah menjelaskan. “ jawab Julio. “ Tapi bukan hanya karena takut hamil dia tidak siap dengan kehamilannya. Masih ada masalah lain."


“ Apa ? “ kali ini, pak siswo yang melontarkan pertanyaan.


“ Dia marah dan kecewa sama Julio. Karena Julio tidak menepati janji. Harusnya Julio tidak menyentuhnya dulu sebelum dia lulus dari sekolah. Dan Julio juga pernah berjanji jika Julio tidak akan membuatnya hamil dulu sebelum dia meraih cita – citanya. “ terang Julio. “ Tapi sekarang cita – citanya sudah tidak akan mungkin bisa ia raih karena kehamilannya ini. “


“ Memang apa cita – cita Andhara itu ? “


“ Dia ingin mewujudkan keinginan almarhum bapaknya untuk menjadi pemain bola nasional. Dan karena ia hamil sekarang, ia tidak akan mungkin bisa mewujudkannya. Bahkan, untuk menjadi pemain di tim kabupaten saja, ia sudah tidak bisa lagi. Ia juga harus mengundurkan diri dari timnya. “ papar Julio.


“ Ya Tuhan. Pantas saja dia syok dengan berita kehamilannya. “ ucap bunda Lestari.


“ Kita akan membantu memberikan pengertian ke dia, nak. Kita akan membantu mengarahkan dia untuk menggapai cita – citanya yang lain. Kuliah, mungkin. Mungkin saja dia punya bakat lain selain main sepakbola. “


“ Bunda kamu benar. Kita akan memberikannya pengertian secara perlahan. Dan menurut ayah, mintalah tolong sama mertua kamu. Bagaimanapun juga, beliau yang melahirkan dan merawat Andhara dari kecil. Beliau pasti akan lebih tahu bagaimana menjinakkan istri kamu. “ sahut Pak siswo.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2