Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Lecet


__ADS_3

“ Ini gimana sih ? “ Andhara kesusahan saat akan menyu sui Orion. Mana si kecil Orion sudah nangis kejer. Memang si ganteng Orion selalu tidak sabaran kala rasa lapar menderanya. Bahkan selalu membuat si ibu kebingungan dan ikutan panik seperti saat ini.


Saat ini, mereka berada di dalam kamar. Mereka hanya berdua. Biasanya di saat – saat seperti ini, sang emak maupun ibu mertuanya selalu menjadi garda terdepan untuk membantunya.


Ceklek


Suara pintu di buka dari luar.


“ Dedek kenapa, Ra ? “ tanya Julio yang baru masuk ke dalam kamar hendak mengganti baju kokonya dengan baju biasa, dan melihat anak serta istrinya sama – sama panik.


Di tambah lagi, anak laki – lakinya menangis dengan sangat kencang. Ia pun segera menghampiri sang istri yang duduk di tepi ranjang.


“ Dia laper bang. “ rengek Andhara. Andhara kembali membolak – balikkan posisi si kecil untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk menyu su. Berulangkali si kecil melepaskan pucuk gunung milik Andhara karena ketidaknyamanan yang ia rasakan.


“ Abang tolongin Dhara. Biasanya, emak kalau nggak bunda yang bantuin Dhara. Dhara masih suka bingung kalau mau nyu suin dedek. Si dedek mah kalau udah laper nggak sabaran. Beda sama kakak. “ Andhara menyerah dengan nada suara bergetar.


Hampir saja ia meneteskan air matanya ikutan menangis seperti Orion jika saja sang suami tidak masuk ke dalam kamar. Di tambah lagi, pucuknya yang terasa perih kala bergesekan dengan bibir ataupun lidah si kecil. Benar apa yang di bilang suaminya beberapa waktu yang lalu.


Julio melipat lengan kemeja kokonya hingga ke siku. Lalu ia mengambil sebuah bantal dan menaruhnya di atas pangkuan istrinya. “ Angkat dulu dedeknya sebentar. “ titahnya.


Andhara mengikuti. Lalu Julio mengangkat tubuh si kecil Orion setelah selesai meletakkan bantal di pangkuan sang istri. Dengan telaten, ia kembali menidurkan si kecil di atas bantal di pangkuan Andhara dan memberikannya posisi yang nyaman. Dengan sabar pula ia menepuk – nepuk pelan pan_tat si kecil saat si kecil terlihat sudah mulai menyedot ASI dengan rakus.


Julio tersenyum melihatnya. Lalu jari jempolnya beralih mengusap sudut mata sang istri yang terlihat basah. Ia salut dengan perjuangan sang istri.


Matanya terlihat sayu dengan lingkaran mata yang terlihat hitam. Memang sudah satu minggu ini, sang istri selalu terbangun di tengah malam untuk menyu sui sang buah hati kembarnya bergantian yang tentu saja memakan waktu cukup lama.


Berkali – kali Julio menawari untuk memberikan susu lewat botol susu saja, tapi Andhara menolak. Ia ingin benar – benar menebus kesalahannya pada si kembar saat pertama kali mengetahui tentang kehamilannya dulu. Padahal susu botol yang akan Julio berikan juga berisi ASI yang berasal darinya.


“ Kamu pasti capek sekali. “ ucap Julio dan membuat Andhara tersenyum. Julio menyelipkan beberapa helai rambut Andhara yang terlepas dari ikatannya ke belakang telinga.

__ADS_1


“ Makasih abang. “ ucap Andhara.


“ Abang yang harusnya bilang terima kasih ke kamu. Karena kamu sudah berjuang untuk anak – anak kita. Buah hati kita. “ sahut Julio sambil berjongkok di hadapan Andhara. Tangannya pun sambil mengusap lengan si kecil lembut.


“ Kamu udah makan ? “ tanyanya.


“ Abang udah makan ? “ bukannya menjawab, Andhara malah memberikannya pertanyaan, membuat Julio terkekeh.


“ Abang pengen makan di temani istri abang yang cantik dan solehah ini. Jadi, kita tungguin si dedek tidur dulu, habis itu temenin abang makan. Mumpung si kakak masih sama emak. “ Andhara mengangguk sambil tersenyum.


“ Itu kamu sakit ya ? “ tanya Julio sambil menunjuk ke pucuk gunung sang istri yang terlihat memerah dan Andhara yang sesekali mendesis.


Andhara mengangguk. “ Lecet kayaknya bang. “ jawab Andhara. Lalu tangan Julio terulur untuk membuka baju Andhara lebih lebar. Hingga memperlihatkan gunung Andhara yang sebelah.


“ Abang, ih!! Ngapain buka baju Dhara ? “ beo Andhara terkejut.


“ Abang pengen lihat, lecetnya seberapa. Yang itu kan nggak kelihatan, lagi di keny ot sama dedek. “ jawab Julio tanpa mengalihkan pandangannya dari gunung sang istri.


“ Auww …. Sakit bang. “ pekik Andhara karena pucuknya terasa perih saat sang suami mengusapnya.


Julio berdiri, lalu berjalan menuju ke meja. Ia lalu mengambil sebotol minyak zaitun di sana, dan kembali menghampiri sang istri setelahnya.


“ Abang olesin ini, biar nggak kering. Jadi nggak makin parah lukanya. “ ujar Julio sambil menunjukkan botol yang ada di tangannya.


“ Dhara bisa sendiri bang. “ tolak Andhara.


“ Abang bantuin olesin. “ ingin membantu, tapi bahasanya setengah memaksa. Dasar suami, udah kangen aja. Nggak mau ngalah sama anaknya.


“ Kalau abang yang olesin, jadinya lama. Nanti dedek udah tidur, tapi abang yang bringas. “ Dhara menutup pucuk gunungnya dengan telapak tangannya yang bebas tidak memegangi si kecil.

__ADS_1


“ Ck ! Nggak bakalan lama ini. Paling sebentar doang. Awas, tangan kamu. “ sahut Julio sambil berusaha menjauhkan tangan Andhara. " Kalau Abang pengen, kan bisa minjem tangan kamu. " lanjutnya terkekeh.


“ Abang ih ! Enggak ah. Dhara suka geli kalau suruh ngocok obatnya. Megang aja suka geli. “ Andhara malah bergidik. Untung si kecil belum mengerti pembicaraan tak berakhlak kedua orang tuanya ini.


“ Geli apa geli, neng . “ Julio semakin menggoda Andhara sambil mengoleskan minyak zaitun ke pucuk gunung Andhara. Dan Andhara malah tidak menyadarinya karena ia masih sibuk beradu argumen mes um dengan sang suami.


Julio mengusap lembut pucuk gunung sang istri setelah mengoleskan minyak zaitun tadi.


“ Abang habis punya anak 2 kenapa jadi makin me sum sih ? Nggak malu sama anak bang ? “ sewot Andhara.


“ Mumpung mereka belum ngerti, sayang. Kalau mereka udah ngerti, bisa repot jelasinnya kalau mereka nanya. “ seloroh Julio. “ Dedek sama kakak nyu sunya kuat banget ya ? Sama kayak ayahnya. Jadi bikin ibunya kesakitan kayak gini. “


Dhara memelototkan matanya sambil menunduk melihat ke arah da danya yang tiba – tiba baru ia sadari jika ada jari jemari besar sedang mengusap – usapnya. Sontak Andhara menghadiahi Julio pukulan telak.


“ Abang, me sum ih ! Pele cehan ini mah namanya ! Dhara kan bilang mau olesin sendiri. “ kesalnya.


“ Duh, galaknya istrinya abang. Udah terlanjur juga kali. Udah terlanjur megang. Kangen juga, biasanya dua – duanya punya abang semua. Mau megang, nye dot kapan aja bisa. Tapi sekarang udah di monopoli si kembar. Ayahnya nggak kebagian. “ ujar Julio makin mature aja.


Andhara menggelengkan kepalanya. “ Abang ternyata. Masak nggak mau ngalah sama anaknya ? Gantian dong bang. Ayahnya udah menikmati satu tahun lebih. Anaknya baru juga seminggu. Udah di kata memonopoli. “


“ Hehehe … Yang, dedek udah tidur tuh. Sini abang bantuin nidurin dia di ranjang. “ ucap Julio sambil mengangkat tubuh si kecil Orion dari atas pangkuan Andhara.


“ Kamu lihat nih yang. Samurainya siap buat di asah lagi. Kamu nggak kasihan sama abang? Udah satu minggu abang bersolo karier terus loh. “ rengeknya sambil menunjuk ke bagian bawahnya yang memang sudah terlihat menonjol di bagian tengahnya. Bagaimana tidak terlihat menonjol, jika dirinya hanya mengenakan celana boxer dan sarung ?


“ Kan Dhara belum boleh asah mengasah bang. 40 hari bang. Bukan satu minggu. “ keluh Andhara saat melihat bagian bawah sang suami.


“ Pakai tangan kamu lah yang. “ rayu Julio setelah menidurkan si kecil di tengah ranjang. “ Bentar doang, sayang. Atau pakai mulut juga boleh. “ rengeknya mirip anak kecil jika ingin makan permen. Ia sudah menarik – narik tangan istrinya.


Andhara mendesah kasar. Kini saatnya ia harus menuruti kemauan bayi besarnya setelah tadi ia menuruti keinginan bayi mungilnya. Menimbun pahala, batin Andhara. Akhirnya Andhara mengikuti langkah kaki sang suami menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2