Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Berpikir


__ADS_3

Berulang kali Andhara mematutkan diri di depan cermin. Setelah mandi ketika sang suami sudah pergi, ia langsung beranjak ke kamar mandi dan membersihkan dirinya supaya terasa lebih segar.


“ Huft !! “ ia menghela nafas kasar kala melihat keadaan perutnya sambil menarik kaosnya bagian perut ke belakang. Tetap belum terlihat meskipun Andhara berulang kali bercermin. Apa ia berharap melihat perutnya sebesar balon ? Oh, tentu belum Andhara. Usia kandungannya saja baru 4 minggu. Janin di perutnya masih sebesar kacang hijau.


“ Ck ! “ ia berdecak kala mengingat suaminya. Ada rasa kesal karena suaminya yang tadi pagi mengatakan akan menemaninya seharian, ternyata urung ia lakukan. Selain itu, hatinya juga di dominasi rasa kecewa karena mengingat kondisinya saat ini.


Ia harus menelan pil pahit dalam hidupnya. Bagaimana dengan masa depannya ? Bagaimana ia menata masa depannya sekarang ? Air mata kembali menggenang. Padahal mata sembabnya saja belum hilang akibat tangisannya kemarin.


“ Apa yang harus gue lakuin sekarang ? Apa benar gue harus cari tukang urut ? Atau dokter ? “ monolognya sambil menyeka air matanya.


Kriuk … Kriuk …


Perut Andhara berbunyi nyaring. Ia memang merasa lapar semenjak ia membuka matanya tadi. Ia lalu mengelus perutnya yang masih rata.


“ Laper gue. “ ujarnya. “ Kesempatan mumpung abang nggak ada. Gue keluar aja sekarang. “ lanjutnya.


Ia lalu meraih jaketnya, lalu keluar dari kamar. Untung saja di lantai satu tidak ada orang. Ia bisa dengan bebas keluar dari rumah. Jika saja bunda atau bi Sum ada di luar, sudah pasti ia tidak akan bisa keluar.


Andhara berjalan menghampiri pak Sofyan, satpam rumah yang sedang bertugas hari itu.


“ Pak, Dhara boleh pinjam motornya ? “ tanyanya.


“ Mau kemana neng ? “ tanya pak Sofyan. Bukannya pak Sofyan kepo, tapi ia tidak ingin melakukan kesalahan.


“ Mau ke depan aja pak. Pengen makan di pinggir jalan. “ jawab Andhara. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia akan sekalian mencari tukang urut.


“ Oh. Boleh deh neng. “ jawab pak sofyan. “ Ini neng kuncinya. “ Pak Sofyan menyerahkan kunci motornya ke Andhara. “ Sudah bawa helm neng ? Jangan lupa pakai helm. Biarpun perginya Cuma deket – deket, tapi helm itu penting. “


“ Sudah kok pak. Nih, bawa helmnya abang. “ Andhara menunjukkan helm milik suaminya yang sudah ia tenteng. Ia lalu mengambil kunci motor pak Sofyan.


“ Pak, pinjam motornya dulu ya. “ Andhara berjalan menjauh menuju ke motor Pak Sofyan berada.


Andhara mengendarai motor matic milik Pak Sofyan keluar dari pekarangan rumah dengan perlahan. Di sepanjang jalan yang ia lewati, pandangannya mengedar ke kiri dan ke kanan.


Bukan tukang urut ataupun dokter yang membuat Andhara menghentikan motor matic milik Pak Sofyan setelah ia mengendarai motor itu berkeliling selama hampir satu jam lamanya. Andhara memarkirkan motor itu di dekat gerobak kang siomay.


“ Mang, ada batagornya ? “ Andhara menghampiri kang siomay yang sedang sibuk melayani pelanggan yang lain.


“ Ada neng. Tunggu bentar ya. “ jawab kang siomay ramah.

__ADS_1


Andhara mengangguk, lalu ia mencari tempat duduk yang kosong. Dan kebetulan, ia mendapatkan tempat duduk tepat di bawah pohon yang rindang. Ia melepas jaketnya, lalu menggunakan lengan jaketnya untuk mengipasi mukanya.


Setelah hawa panas agak berkurang, Andhara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya. Ia membuka aplikasi mbah Go_gle mencari tukang urut ataupun dokter yang mau abor_**.


“ Hah ! “ ia menghela nafas kasar kala tak menemukan apa yang ia cari. Ia meletakkan ponselnya ke pangkuan dengan kasar.


Lalu pandangannya mengedar. Tak jauh dari tempat duduknya, ia melihat sebuah keluarga kecil yang berisi suami, istri dan seorang bayi mungil yang lucu. Keluarga itu nampak bahagia. Sesekali mereka menggoda sang bayi mungil yang membuat bayi itu tertawa.


Tanpa sengaja, kedua sudut bibir Andhara terangkat melihat pemandangan itu. Tanpa ia sengaja juga, tangan kanannya berlabuh di atas perutnya mengelus perut yang masih rata itu. Ada rasa hangat menjalar di hatinya.


Lalu saat ia menoleh ke samping kanannya, kembali matanya mendapatkan pemandangan yang lain lagi. Sebuah keluarga dengan dua orang anak yang berumur sekitar 2 tahun dan 4 tahun. Mereka terlihat sangat lucu. Mulutnya berceloteh tanpa henti.


Kini bukan hanya hatinya yang menghangat, tapi pikirannya juga menerawang ke depan. Bagaimana jika seandainya anak yang dalam kandungannya itu lahir di dunia ini. Jika ia seorang perempuan, maka anaknya pasti lucu dan menggemaskan. Ia akan menguncir anaknya. Pasti akan semakin menggemaskan.


Sudut hatinya kembali menghangat. Kedua sudut bibirnyapun terangkat semakin tinggi.


“ Halo, ate. “ sapa anak kecil yang berusia 4 tahun itu. Si anak berniat menyapa karena gadis itu ternyata menyadari jika Dhara memandangnya sambil tersenyum.


“ Halo, cantik. “ sapa Andhara balik sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


“ Ate cendilian ? “ tanya si kecil dengan bahasa cadelnya.


“ Diska ate. “ ( Namanya Giska ya guys… Tapi karena masih cadel, bilangnya Diska … )


“ Diska ? “


Gadis kecil itu menggeleng sambil cemberut. “ Diska ateeee … “ ulangnya.


Andhara nampak berpikir keras mengartikan kata – kata si kecil.


“ Mmmm … Dista ? “ sebut Andhara.


Kembali si kecil menggeleng. Si kecil bahkan semakin memanyunkan bibirnya.


“ Ohhh… tante tahu. Giska ya ? “ ucap Andhara sambil tersenyum cerah.


Si kecil pun sumringah karena Andhara menyebutkan namanya dengan benar kali ini.


“ Dedeknya mana ate ? “ tanya Giska kembali.

__ADS_1


“ Dedek ? “ tanya Andhara mengernyit.


Si kecil mengangguk. “ Mama ajak dedek tama Diska. Ate ajak ciapa ? “


“ OOhh … “ Andhara tersenyum sambil membelai rambut Giska. “ Dedeknya masih di perut cantik. Masih di sini. “ ucapnya sambil mengelus lembut perut ratanya.


“ Giska … “ panggil mama Giska.


Si kecil dan Andhara menoleh bersamaan ke sumber suara.


“ Yes, ma . “


“ Udah habis nak siomaynya ? “ tanya sang mama.


“ Udah ma. Diska lagi ngoblol tama ate tantik. “ tunjuk Giska.


“ Oh ya ? “ sahut sang mama.


“ Hai, kak. “ sapa Andhara ke mama Giska. Iapun mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “ Andhara, kak. “


“ Amelia. “ sapa mama Giska sambil tersenyum.


“ Mereka anak – anak kakak ? “ tanya Andhara.


Amelia tersenyum dan mengangguk. “ Iya. Nikah muda. Jadi mungkin saya masih terlihat muda tapi sudah punya dua orang anak ya. “ kekehnya.


Andharapun ikut tersenyum. “ Iya kak. Kak Amel masih terlihat sangat muda. Tapi anaknya udah dua. “


“ Saya nikah di usia 18 tahun. Dan Giska, lahir saat saya berusia 19 tahun. “ cerita Amelia.


“ Wah, masih sangat muda ya kak. Emang waktu hamil Giska, kakak tidak takut ? Yang pernah Dhara dengar, melahirkan di usia yang masih terlalu muda itu berbahaya. “ ujar Andhara.


“ Ah, tidak juga. Justru saya malah sangat bahagia. Jika di tanya soal rasa takut, bohong jika saya mengatakan tidak. Bagaimanapun wanita melahirkan itu cukup menakutkan. Tapi … dengan membayangkan kehadiran si kecil di tengah – tengah keluarga kecil saya, saya bisa melupakan rasa takut itu. Apalagi jika mengingat jika si kecil ini adalah buah cinta pertama saya dan suami. Rasanya benar – benar spektakuler. “ Amelia memberikan penjelasan. Sangat terlihat di wajah Amelia sebuah kebahagiaan yang sangat.


Berpikir, sudah pasti Andhara lakukan saat ini. Sambil terus mendengarkan cerita Amelia, Andhara mengelus perutnya yang masih rata. Tiba – tiba saja keinginan untuk mencari tukang urut maupun dokter, hilang dari pikiran Andhara.


Setelah cukup lama bercakap – cakap dengan Amelia, bahkan Andhara juga sudah menghabiskan dua porsi batagor dan satu porsi siomay, berikut 4 gelas es jeruk, Amelia berpamitan. Sepeninggal Amelia, Andhara merenung dan berpikir. Apakah rasa kecewa dan marah itu masih ada di dalam hatinya atau tidak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2