Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Pagi bersama duo bocil


__ADS_3

“ Duhh, cantik banget sihhh ??? Anak ciapa cih iniii ? Gumush banget deh… jadi pengen nyubit pipi gembilnya.. “ goda Andhara ke Arisa sambil menggendong Arisa dan menciumi perut Arisa membuat si kecil tertawa riang kegelian.


“ Sisiran dulu, oke ? Biar makin cakep. Biar besok kalau udah gede, cowoknya banyak. “ lanjutnya.


Duh, si emak satu ini . Bukannya mendoakan biar anaknya jadi manuasia yang setia, eh malah ini nyuruh anaknya banyak cowok. Setiap tikungan ada berarti kan ya ?


Andhara memangku si kecil di depan meja rias dengan kaca rias besar di depannya. Ia mengambil sebuah sisir yang ia khususkan untuk si kecil. Dengan lembut, ia menyisir rambut Arisa sambil mengajaknya ngobrol apa aja.


“ Kakak, besok kalau udah gede, mau jadi apa ? Mau jadi pilot nggak ? Eh, jangan ding. Entar ibu sedih kalau di tinggal kakak terbang. “ ucapnya seraya terus menyisir rambut Arisa. Sedangkan si kecil sibuk memainkan alat – alat make up sang ibu yang berada di atas meja rias.


“ Oh, ibu tahu. Besok kakak cari suami yang kayak ayah aja. Udah ganteng, pinter, pekerja keras, sayang sama keluarga. Kakak nggak usah kerja juga semuanya tercukupi. “ celotehnya.


Kini ia mulai menguncir dua rambut si kecil. Sambil sesekali pandangannya ke arah kaca besar yang ada di hadapannya guna melihat si adik yang berada di atas ranjang menunggu giliran di dandani oleh sang ibu.


“ Adik, diem yang cakep ya. Jangan ke pinggir – pinggir. Jangan gangguin ayah juga. “ ucap Andhara sambil menoleh ke belakang ke arah si Orion karena Orion hendak bergeser ke pinggir.


Mendengar suara si ibu berbicara dengannya, membuat Orion kembali diam. Sifat Orion memang lebih mirip ayahnya. Lebih kalem. Berbeda dengan si kakak yang lebih ramai.


Andhara menyunggingkan senyumannya kala melihat si adik mau menuruti ucapannya. Sungguh ia di buat gemas oleh anak – anaknya. Terkadang, jika ia mengingat sikapnya yang dulu hendak menghilangkan mereka, membuat Andhara menjadi sedih. Tapi ia juga bersyukur, untung saja ia masih waras hingga tidak melakukan hal bodoh itu.


Pandangan Andhara kembali ke depan. Ia kembali menguncir rambut Arisa baguan kanan. Dan, beberapa saat kemudian, rambut Arisa sudah tertata rapi.


“ Duh, makin cantik aja. Besok jodohnya CEO ya sayang. Biar ibu ikut terkenal. “ candanya lagi ke sang anak sambil menata rambut si kecil bagian depan.


“ Coba sekarang ibu lihat. “ Andhara memutar si Arisa menjadi menghadap kepadanya. “ Bedak udah, rambut juga udah, minyak telon udah, parfum juga udah. Fix ini mah siap godain cowok – cowok. “ kekehnya, lalu ia mendaratkan kecupannya kecil di pipi Arisa.


“ Sekarang, kakak duduk di ranjang dulu, gantian adik deh di dandanin. Biar cakep juga. Biar banyak cewek – cewek yang klepek – klepek. “ ia mengangkat si Arisa dan di bawanya menuju ke ranjang.

__ADS_1


“ Kakak duduk sini dulu, oke ? “ ucapnya sambil meletakkan Arisa di tengah ranjang king size nya. Setelah meletakkan Arisa, ia kini mengangkat tubuh si kecil Orion.


“ Kakak nggak boleh rese, oke ? Yang cantik, diem. Jangan berulah. “ titahnya karena ia tahu bagaimana Arisa. Si kecil itu berbeda dengan sang adik yang kalem dan lebih nurut. “ Jangan gangguin ayah. Ayah biar istirahat dulu ya. “ lanjutnya dengan suara pelan.


Arisa nampak tersenyum sambil terus memandanginya. Entah si Arisa itu mengerti ucapan ibunya atau tidak. Yang penting ia tersenyum dan tertawa – tawa kecil.


Andhara menggeleng – gelengkan kepalanya sambil menggendong Orion berjalan menuju ke meja rias. Ia mendudukkan Orion di pangkuannya seperti Arisa tadi. Lalu ia mengambil bedak dan memakaikannya ke wajah Orion.


Orion nampak enggan di pakaikan bedak oleh ibunya. Terlihat ia menggeleng – gelengkan kepalanya membuat Andhara kesusahan mengaplikasikan bedaknya.


“ Sayang, diem dulu dong. Pakai bedak dulu, biar makin cakep, oke. “ ucapnya sambi memegang kepala Orion supaya Orion mau diam.


“ Tuh, kan. Jadinya cemang – cemong. “ keluh Andhara sambil memperlihatkan wajah Orion di kaca besar yang ada di hadapan mereka.


“ Cakepnya anak ibu ilang kan. “ Andhara terlihat cemberut. Tapi Orion malah justru tertawa lucu melihat wajahnya yang cemang – cemong karena bedak yang tidak merata.


“ Kakak …” seru Andhara tertahan karena tidak ingin suaranya membangunkan sang suami yang masih terlelap karena baru pulang habis Subuh tadi. Andhara menoleh ke belakang dengan tangan kanan memegang tubuh Orion.


“ Sssttt !!! “ Andhara menaruh telunjuk kirinya di depan bibirnya. “ No, kakak. Jangan usil tangannya. “ titahnya dan membuat Arisa menghentikan tangannya di udara yang hendak menyentuh wajah sang ayah yang sedang terlelap.


Lalu si kecil Arisa kembali memainkan bonekanya. Andhara kembali fokus mendandani Orion. Ia merapikan bedak Orion yang cemang cemong.


Lalu ia mengambil minyak rambut dan mengusapkannya ke telapak tangan, lalu mengusapkannya ke rambut Orion. Kemudian ia mengambil sisir dan menyisir rambut Orion. Menatanya hingga si kecil Orion terlihat begitu ganteng.


“ Meskipun hidung dedek nggak semancung kakak, tapi dedek tetep cakep melebihi semua cowok di seantero jagad raya. “ pujinya sambil menatap wajah si kecil Orion yang memang terlihat sangat tampan. Wajah perpaduan dirinya dan sang suami. Membuat Andhara merasa berbangga hati.


“ Buuuu …. “ celoteh Orion.

__ADS_1


“ Dih, pinternya anak ibu. Bisa manggil ibu. Senengnya…. “ Andhara berbinar menatap Orion. Lalu ia mengecupi perut Orion sambil mengangkat tubuh Orion membuat Orion tergelak.


Melihat Orion yang sepertinya sedang bermain dengan sang ibu, membuat Arisa juga ingin bermain. Ia menoleh ke sang ayah yang masih menutup kedua matanya.


Ia lalu merangkak mendekati ayahnya, dan hap .. si kecil Arisa menaiki perut ayahnya hingga membuat sang ayah terjingkat karena terkejut. Julio membuka kedua matanya, dan langsung mendapati sang putri kecilnya sedang tertawa sambil bertepuk tangan di atas perutnya.


Julio yang semula terkejut, kini sudah bisa menetralkan degub jantungnya. Ia tersenyum seraya mengulurkan kedua tangannya guna memegangi tubuh si kecil supaya tidak jatuh.


“ Ya Allah, kakak !! “ pekik Andhara kala ia berdiri sambil menggendong Orion dan berbalik badan. Ia sungguh di buat darah tinggi dengan ul;ah si kakak. Sudah diingatkan berkali – kali supaya tidak membangunkan ayahnya, malah ia bermain di atas perut ayahnya. Andhara menggeleng – gelengkan kepalanya dan berjalan menuju ke tempat tidur.


“ Kakak ih. Suka nggak mau dengerin ibu. “ Andhara terlihat cemberut. “ Kan ayah masih capek, sayang. Kenapa di bangunin ? “ keluhnya.


Si kecil bukannya takut karena si ibu marah, tapi ia justru tertawa sambil bertepuk tangan. Sedangkan Orion, ia bergelayut di pundak sang ibu sambil tangan kanannya memainkan rambut panjang Andhara.


“ Nggak pa – pa , sayang. Anaknya jangan di marahin. Melihat mereka dan kamu, semua rasa capek, dan ngantukku hilang. “ ujar Julio sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di headboard ranjang. Ia memangku si kecil Arisa yang lalu meletakkan kepala kecilnya di dada sang ayah. Arisa memang lebih dekat ke ayahnya. Dan Orion lebih dekat dengan ibunya.


Julio memeluk tubuh mungil itu seraya mengecup puncak kepala si kecil. “ Wanginya, anak ayah. “ pujinya.


“ Ayo sayang, kita ke bawah dulu. Nenek sama oma pasti udah nungguin di bawah. Kita mamam dulu yuk. “ Andhara memutar ranjang, dan menghampiri sisi Julio tertidur tadi. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya untuk menggendong Arisa di sebelah kanan.


“ Bisa kamu, gendong mereka dua – duanya ? “ tanya Julio sebelum menyerahkan Arisa.


“ Bisa dong. Andhara gitu loh. Udah biasa kali bang. Resiko punya anak kembar ini mah. “ ucapnya sambil mengangkat tubuh mungil Arisa dengan tangan kanannya. “ Bisa kan ya ? Ya nggak sayang ? “ ucapnya ke si kembar. Lalu ia menjatuhkan kecupannya di pipi Arisa juga Orion bergantian.


“ Abang tidur aja lagi. Dhara bawa mereka ke bawah dulu. Mau kasih sarapan buat mereka. “ ucap Andhara seraya melangkah meningggalkan kamarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2