
...Maafkeun othor ya wahai para reader yang cantek cantek nan manis manis juga Sholehah.......
...Biasanya othor up pagi... Tapi hari ini jam segini baru sempat update.......
...Tapi tetap update ya yang pentingnya...😊😊😘😘🙏🙏...
__________________________
“ ABANG !!! “ teriak Andhara dari luar kamar mandi. “ Dhara pergi dulu sama duo bocil ya. “ tambahnya.
“ KEMANA ?? “ teriak Julio dari dalam kamar mandi. Ini adalah hari ketiga Julio berada di desa Nganjuk. Dan hari keempat untuk Andhara.
“ DHARA MAU KE BALAI DESA. “ jawab Andhara.
“ MAU NGAPAIN ?? “ tanya Julio.
“ DHARA MAU DONOR DARAH. “ pekik Andhara. “ UDAH YA BANG … DUO BOCIL UDAH PADA NUNGGUIN. “ lanjutnya.
“ HEM. “ Julio menjawab dengan deheman.
Lalu Andhara pergi ke balai desa bersama dengan duo bocil, Dadang dan Yusuf. Terlihat di sana, kegiatan donor darah yang di adakan oleh para pemuda desa itu, sudah di mulai. Meskipun di desa, tapi antusiasme masyarakat sangat bagus.
“ Wuihhh …. Ramai banget . “ decak kagum Andhara.
“ Kalian, tunggu di sini. Jangan pada ikut. Aku mau daftar dulu. “ ujarnya ke duo bocil yang di jawab dengan anggukan dari keduanya.
“ Misi …. Misi …. Anak emak Komsah yang cantiknya melebihi artis Lu_na Maya numpang lewat … “ ujar Andhara sambil melewati gerombolan ibu – ibu yang ternyata tidak mendaftar untuk donor darah, tapi mereka sepertinya hanya mau mencari teman dan tempat ghibah yang baru.
“ Mas , mau daftar, boleh kagak ? “ tanya Andhara ke seorang pemuda yang bertugas di bagian pendaftaran.
Pemuda itu mengangkat kepalanya melihat siapakah gerangan yang berbicara kok pakai bahasa Indonesia segala.
“ Loh, ini Dhara kan ya ? “ tanya pemuda itu.
“ Mas Iqbal, bukan ? “ tanya Andhara sambil menunjuk laki – laki itu.
Laki – laki yang Dhara panggil Iqbal itu berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Andhara.
“ Apa kabar ? Lama nggak main kesini. “ ucap Iqbal.
“ Alhamdulillah, Dhara baik mas. Mas Iqbal gimana kabarnya ? “ tanya Andhara dengan nada agak canggung.
Ia kembali teringat, sosok Iqbal. Iqbal adalah pemuda baik hati dari desa itu dengan tampang yang lumayan keren jika di bandingkan dengan pemuda lainnya di desa itu. Dan tentu saja kalian ingat kan, bagaimana seorang Dhara.
Dhara, gadis yang suka membuat baper lawan jenisnya dengan gombalan recehnya. Dan Iqbal, adalah salah satu korbannya. Untung saja Iqbal termasuk laki – laki yang hendak dewasa. Jadi ia cukup mengerti dengan sikap bocah si Dhara.
__ADS_1
Laki – laki itu dulu sempat menyatakan cintanya ke Dhara. Tapi langsung di tolak mentah – mentah oleh si Dhara, dengan alasan karena ia masih terlalu kecil untuk berpacaran.
“ Kapan datang, Dhar ? “ tanya Iqbal.
“ Empat harian yang lalu. Waktu pakdhe meninggal. “ jawab Dhara seadanya.
“ Bal, antrian sih dowo iki. Temu kangene mengko wae. Di pending sek. “ celetuk salah satu teman Iqbal.
Igbal menoleh sambil tersenyum dan mengangguk. Merasa tak enak hati, Iqbal kembali duduk di bangkunya. Antrian memang masih banyak. Sedangkan di sudut ruangan itu, ada sepasang mata yang juga sendang mengawasi Andhara sambil tersenyum lebar.
“ Kamu mau daftar, Dhar ? “ tanya Iqbal.
“ Iya dong. Kalau ada yang butuhin, Dhara harus nolongin. Dhara mau bagiin darah Dhara. Biar ada orang yang ikut punya darah biru kayak Dhara. “ ucapnya.
‘ Masih seperti dulu kalau ngomong. ‘ batin Iqbal sambil tersenyum.
Ia lalu menulis nama Andhara dalam daftar. “ Kamu ikut antri di sebelah sana. “ tunjuk Iqbal. “ Nanti akan ada yang manggil nama kamu untuk di cek tekanan darah kamu. “ lanjutnya.
“ Wokeh. “ jawab Andhara. Ia lalu duduk di deretan orang – orang yang sedang mengantri. Dhara duduk di bangku yang kosong, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Dan tiba – tiba matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedari tadi memandangnya. Dhara mengernyit.
‘ Dih, tuh dokter siapa sih ? Kok lihatin gue dari tadi ? Emang, ada yang aneh ya sama gue ? ‘ batin Dhara. ‘ Ih, mana pakai senyum – senyum segala. ‘ batinnya kembali.
Ia lalu mengalihkan pandangannya dari sosok tersebut. Mempunyai suami, sepertinya membuat Dhara agak berubah. Batinnya selalu saja menolak jika mulutnya ingin bersosialisasi dengan mahluk ciptaan Tuhan yang bergenre laki – laki.
“ Saudari Andhara Nurmalia !! “ seorang perempuan yang sepertinya juga warga desa itu, memanggil nama Dhara.
“ Iya, gu … Eh, aku kak. “ jawab Andhara sambil mengacungkan tangannya.
“ Cek tekanan darah dulu mbak Andhara. “ ujar perempuan tadi sambil tersenyum ramah.
Dhara lalu berjalan menuju tempat yang sudah tersedia. Merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah di sediakan. Lalu seorang perempuan berbaju putih, menghampiri Dhara sambil membawa alat tensimeter.
“ Di cek dulu tekanan darahnya ya mbak. “ ujar seorang suster ke Dhara sambil tersenyum. Dhara membalas senyuman itu dan mengangguk. Sang bidan lalu mengecek tekanan darah Andhara.
“ Tekanan darahnya normal. Bagus. “ ucap suster itu. “ Apa mbak Andhara ada mengkonsumsi obat tiga hari belakangan ini ? “
“ Nggak sus. “ jawab Andhara sambil menggeleng.
Suster itu kembali tersenyum. “ Bagus. Berarti, mbak Andhara bisa mendonorkan darahnya. “ ucapnya. “ Mbak tunggu di sini dulu sebentar, ya. Nanti akan ada dokter kami kesini untuk mengambil darah mbak. “ lanjutnya.
Dhara mengangguk, lalu suster itu pergi meninggalkannya. Dhara menunggu sambil membuka ponselnya. Kali aja sang suami mengiriminya pesan. Kangen, mungkin. Dhara menipiskan bibirnya mendapati pikiran itu.
“ Halo. “ sapa seorang laki – laki berjas putih. Mirip jas yang biasa di pakai suami Dhara.
__ADS_1
Mendengar seseorang menyapanya, Andhara mengalihkan pandangannya dari ponselnya. ‘ Kok dia ? Mau ngapain ? ‘ tanya Dhara dalam hati.
“ Ada perlu apa ya ? “ tanya Dhara.
Laki – laki berjas putih itu mengernyit. “ Kamu mau ikutan donor kan ? “ tanyanya.
“ Ya iyalah. Masak saya udah tiduran di sini tapi Cuma nau numpang rebahan doang. “ jawab Dhara dengan nada asalnya.
“ Lalu, kenapa kamu bertanya ada perlu apa saya di sini . “ sahut pria berjas putih itu. “ Apa kamu tidak tahu, kalau saya memakai baju putih ini ? “
“ Tahu lah. Kan saya punya mata. “ jawab Andhara sesuai fakta.
“ Berarti kamu tahu kan, profesi saya apa ? “
Dhara mengendikkan bahunya acuh. “ Tetangga saya, kalau mau ikut pertemuan haji, juga sering pakai baju putih kayak gitu. Dan profesi tetangga saya itu seorang mandor bangunan. “ jawabnya.
Pria itu menipiskan bibirnya. ‘ Lucu juga. Menarik. ‘ batinnya.
“ Saya mau ambil darah kamu. “ ucap pria itu pada akhirnya.
Andhara menjauhkan tubuhnya dari pria itu. “ Kenapa kamu mau ambil darah saya ? Jangan bilang, kamu ini sebangsa vampire. “
“ Bukan. Saya Cuma mau ambil darah kamu buat kasih minum peliharaan saya. “ jawab laki – laki itu sambil mengambil jarum dan memasangnya pada selang dan kantung darah.
“ Sini tangannya. “ pria itu hendak menarik tangan Dhara, tapi Dhara segera menjauhkan tangannya. “ Jadi di donorin nggak darahnya ? “ tanyanya.
“ Jadi lah. “ sarkas Dhara.
“ Ya udah, siniin tangannya. Biar saya pasang jarumnya. “ pria itu mengulurkan tangannya.
Dhara masih terlihat enggan. “ Ada petugas lainnya nggak sih ? Kalau ada, gue mau sama yang lainnya aja deh. “ gerutunya.
“ Ada. Tapi mereka tidak seprofesional saya. Kamu mau, di ambil darahnya sama petugas yang bisanya asal – asalan ? “ ucap pria itu.
Akhirnya, mau tidak mau, Dhara mengulurkan tangannya dan membiarkan pria itu memasang jarum di tangannya dan mengambil darahnya.
“ Kamu sepertinya melupakan saya. “ ujar pria itu ketika jarum sudah terpasang dengan apik.
“ Pernah ketemu aja nggak. Gimana bisa ingat ? “
“ Jadi benar. “ pria itu tersenyum. “ Kita pernah bertemu. Di kampung Bojong Burut. “
Andhara mengernyit. “ Dari mana anda tahu nama kampung saya ? “
“ Tahu lah. Saya punya keluarga yang tinggal di sana. Makanya, saya tadi bilang, kalau kita pernah bertemu. Tapi sayangnya, kamu melupakan pertemuan pertama kita. Saya harap, kamu tidak akan melupakan pertemuan kita yang kedua ini. “ ujar pria itu.
__ADS_1
Bersambung