
Update pagi - pagi ... takutnya nanti kelupaan atau nggak sempat update... soalnya hari ini jadwal othor padat ππ
Happy reading ππ
_____________________________________
Rencana yang sudah di susun oleh Julio semuanya gagal total karena rasa bad mood dan rasa kesalnya.
Setelah obrolan yang menguras emosinya dengan Andhara, seharian Julio menghilang dari rumah. Ia baru pulang pada malam harinya di saat Andhara sudah terlelap.
Sebenarnya Andhara berniat untuk menunggu suaminya pulang, tapi apalah daya jika rasa capek dan mata mengantuk tidak bisa di ajak untuk bekerjasama. Meskipun awalnya tidak mengambil pusing dengan sikap suaminya, tapi dia tetap berniat menunggu suami pulang sebagai kewajiban seorang istri.
Keesokan harinya, Julio mengajak Andhara kembali ke kampung karena weekend telah berakhir dan masa cuti Andhara juga sudah habis.
Tidak ada obrolan berarti selama perjalanan mereka. Julio sengaja membawa mobil sendiri untuk kembali ke kampung Bojong Burut. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing β masing. Dan Andhara memilih menghabiskan waktu untuk mendengarkan musik dengan headsetnya tanpa mau ambil pusing dengan sikap diam suaminya.
Sedangkan Julio, ia terus berpikir semenjak kemarin sore. Bagaimana bisa istri yang baru ia nikahi dalam kurun waktu kurang dari dua bulan itu malah membicarakan tentang perceraian. Dan siapa yang istrinya maksud dengan β dia β. Julio masih meruntutkan beberapa kejadian yang mungkin menyebabkan istri kecilnya berpikiran yang tidak β tidak.
.
.
.
β Loe kenapa sih sistah ? Pulang β pulang dari tanding dan berhasil menyabet juara runner up kok mukanya BT gitu ? β tanya Lila sambil menyomot tempe mendoan yang berada di atas meja kantin sekolah.
Andhara hanya mengendikkan bahunya seolah enggan untuk menjawab.
__ADS_1
β Masalahnya masih sama ? Kalian belum bicara baik β baik ? β kini Putra yang menimpali. Dialah yang paling tahu semua tentang Andhara. Bahkan mungkin Julio saja belum bisa menyamainya.
Andhara menunduk sebentar, lalu menarik nafas kasar sambil mendongakkan kepalanya kembali. Ia menyeruput es jeruk di gelasnya hingga meninggalkan separuhnya saja.
β Sepertinya kecurigaan gue bener deh. Pak dokter emang udah punya pacar. Dan yang gue lihat beberapa kali di Puskesmas itu emang ceweknya. β Andhara menghela nafas kasar.
Sedangkan Lila mengernyitkan dahinya dalam karena belum mengerti pembicaraan Putra dan Dhara.
β Entah masalah apa yang membuat mereka pisah atau malah enggak. Terus pak dokter nikahin gue. β lanjutnya sambil tersenyum miris akan nasibnya.
β Loe tahu dari mana ? β tanya Putra.
β Kemarin habis dari stadion, pak dokter jemput gue, terus di ajakin ke rumahnya. Pas sore harinya, tuh tante β tante datang ke rumahnya. Kalau bukan ceweknya, mana mungkin bisa deket gitu sama bunda ? Terus bisa tahu juga kalau pak dokter lagi pulang kampung ? Iya kan ? β lirih Andhara.
Kerutan di dahi Lila memudar sekarang. Ia sudah mengerti alur pembicaraan antara Putra dan Andhara.
β Cantik Lil ceweknya. Di bandingin gue yang dekil ini . Bar β bar lagi. Apalah gue ini. β lirihnya tiba β tiba nyalinya menciut seciut rumput ilalang membandingkan dirinya dengan Karen.
β Gue emang suka sama pak dokter. Tapi gue nggak minta di nikahin sama dia kan Lil, Put ? Kok kesininya gue ngerasa jadi pelakor. β iapun menundukkan kepalanya. Hatinya terasa terhimpit.
β Loe udah ngomong sama pak dokter baik β baik ? β tanya Putra.
Andhara mengangguk pelan. β Gue bilang juga, kalau gue siap kok kalau di ceraiβin. Gue juga bilang, gue udah nyimpen dikit gombalan receh gue buat ngerayu gantinya dia besok kalau kita udah cerai. β
Putra dan Lila di buat melongo dengan ucapan Andhara. β Loe minta cerai dari pak dokter ? β beo Lila. Andhara mengangguk lemah.
β Terus, pak Julio bilang apa ? β tanya Putra.
__ADS_1
β Dia bilang, dia Cuma mau mengucap ijab kabul sekali seumur hidup dan hanya untuk satu nama, dan sayangnya nama yang dia ikrarkan itu nama gue. Sedih nggak sih ?? β ujr Andhara.
Tangan Putra mengepal mendengar cerita Andhara. Tanpa berkata β kata lagi, ia segera berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Andhara dan Lila yang menatap tidak mengerti perubahan raut wajah Putra.
β Maksud loe, pak dokter nyesel gitu udah ngijabin nama loe buat jadi istrinya ? β tanya Lila setelah Putra tak terlihat.
β Ihhhβ¦ Nggak gitu maksudnya. Pak dokter bilang nggak bakalan nyeraiβin gue, karena dia Cuma mau nikah sekali seumur hidup. β
β Terus ? Loe bilang tadi pak dokter nyesel udah ngikrarkan nama loe ? β Lila di buat tidak mengerti dengan ucapan Dhara. β Loe kalau ngomong, jangan bikin orang berasumsi salah. β
β Auβlah. Intinya, pak dokter nggak mau nyeraiβin gue. Dan sepertinya dia juga marah. Soalnya habis bilang itu, dia terus pergi dari rumah. Ninggalin gue sendiri di kamar. β sahut Andhara.
β Tapi gue juga nggak mau egois, Lil. Bagaimanapun, pak dokter berhak bahagia bersama gadis yang dia sukai. Lagian, kita juga belum pernah ngapa β ngapain kok β¦ Gue yang yang jadinya nggak enak hati β¦ Tiba β tiba hadir dalam hidupnya, dan di nikahi. β Andhara kembali tersenyum miring ke dirinya sendiri.
β Mulai sekarang, sepertinya gue harus kubur dalam β dalam perasaan gue sama dia sampai ke dasar laut yang paling dalam. Gue harus ngerelaβin cinta pertama gue bahagia bersama yang lain. β
β Ya udah lah Ra. Sekarang loe mendingan rileksβin diri loe. Pikiran loe. Sama hati loe dulu. Pasrah sama Yang Di Atas. Beliau pasti lebih tahu mana yang terbaik buat loe. Sekarang loe mendingin mikirin sekolah. Ujian tinggal sebulan lagi. Fokus sama ujian, biar dapet nilai bagus, terus loe bisa raih cita β cita loe dan jadi orang sukses. Fokus juga sama karir loe di dunia sepakbola. Lapangan luas kan cita β cita loe. Sekarang loe udah bisa masuk kabupaten, udah bisa bawa nama kabupaten kita ke dunia luar sana. Nggak menutup kemungkinan, loe bisa di minta ke tim nasional juga kan ? β Lila memberi masukan panjang lebar.
Andhara meraih tubuh Lila dan ia peluk. β Makasih ya support loe Lil. β
β Udah, jangan melow kayak gini. Melow gini bukan style Andhara banget tahu nggak ? β Lila mengusap punggung Andhara sambil menepuknya perlahan.
Andhara tersenyum sambil melepas pelukannya. β Ngomong β ngomong, kemana si Putra ? Kok wajahnya berubah nyeremin gitu ? β
Lila mengendikkan bahunya. Jangan β jangan dia nyari pak dokter karena salah paham sama cerita Andhara tadi, kayak gue ? tanya Lila dalam hati.
Bersambung
__ADS_1