
“ Ko … Kok u-udah pulang, Ra … dok ?? “ tanya Putra gugup.
“ Mampus!!! “ pekik Soni menghadap Putra tanpa suara.
“ Iya. Dhara tiba – tiba aja pusing. “ sahut Julio sambil berputar mengitari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Andhara keluar dari dalam mobil dan berjalan ke teras rumah dengan di rangkul oleh sang suami. Kepalanya terasa pening berdenyut.
“ Anak – anak gue mana ? “ tanya Andhara sambil berhenti sesaat. Ia nampak sesekali meringis dan memijat pelipisnya.
Cleguk
Dengan susah payah, Putra dan Soni menelan salivanya yang terasa kelat. Mereka lalu saling berpandangan. “ Oh, me mereka ada di … mmm … “ Putra bingung harus melanjutkan kata – katanya.
“ Mereka ada di belakang main sama Via sama sabil. “ sahut Soni cepat. Sedangkan Putra sudah menyenggol lengannya seolah bertanya kenapa harus berbohong. Tapi Soni hanya memelototkan matanya, sebagai isyarat supaya Putra lebih baik diam dulu.
“ Oh. “ ujar Dhara.
“ Saya titip anak – anak dulu, ya. Saya bawa Dhara ke atas dulu. Biar dia istirahat. “ pinta Julio.
“ Siap, pak dokter. “ jawab Soni bersemangat sambil cengengesan. “ Pak dokter langsung menemani Dhara di kamar juga nggak pa – pa. si kembar biar sama kita. “ lanjutnya.
Julio mengangguk, lalu kembali menuntun sang istri dan di bawa ke kamar.
“ Gila ! Gimana ini ? Arisa kemanaaa ??? “ pekik Putra tertahan.
“ Mana gue tahu ?? Kan kita sama – sama ketiduran di sini. “ sahut Soni sambil menunjuk ke tikar yang mereka gelar di lantai teras. Udara yang terasa sejuk, membuat mata mereka mengantuk hingga tertidur. Dan setelah mereka bangun, Arisa sudah tidak ada di sana.
Mereka sudah mencari mengelilingi rumah Julio juga rumah Pak Siswo, bertanya ke semua pembantu rumah itu, juga ke Via dan Sabil. Tapi jawaban mereka sama. Tidak tahu.
“ Harus cari kemana kita, Put ? Bisa di cincang kita sama bapaknya kalau sampai Arisa bener – bener hilang. “ keluh Soni dengan raut wajah panik.
“ Bukan Cuma bapaknya yang cincang kita. Emaknya juga bakalan mutilasi kita. “ Putra berkacak pinggang, lalu tangannya yang satu mengacak rambutnya frustasi.
“ Duh, si kecil itu titisan Anggoro banget. Suka bikin kita bingung. “ timpal Soni.
__ADS_1
“ Coba kita cari ke halaman rumah deh. Kita puterin lagi nih rumah. Kita harus nemuin Arisa sebelum bapak sama emaknya menyadari anaknya hilang di tangan kita. “ ujar Putra.
“ Oke. Gue lewat sono, loe lewat sebelah sono. “ tunjuk Soni ke sisi kanan dan kiri mereka. Putra mengangguk, lalu mereka berpencar, kembali mencari si kecil Arisa.
Mereka terus mencari dan mencari Arisa. Memanggil manggil nama Arisa di semua tempat. Bahkan semak semak pohon – pohon tak terlewatkan sedikitpun. Mungkin saja si kecil Arisa mengajak mereka main petak umpet dengan bersembunyi di semak semak.
Nihil. Arisa tetap tidak mereka temukan. Hosh … Hosh …. Nafas Putra dan Soni terengah engah. Mereka kembali bertemu di teras rumah Julio.
“ Bagaimana ? “ tanya Putra dan Soni bersamaan, lalu mereka sama sama menggelengkan kepala mereka.
“ Bagaimana ini ? Kita cari kemana lagi ? Kita sudah memutari pekarangan rumah ini dua kali. Dan kita tetap tidak menemukannya. “ Putra sudah hampir menyerah. “ Apa kita bilang aja ke pak dokter ? Kita lapor polisi aja. “
“ Jangan nyerah dulu. Kita cari lagi aja dulu. “ sahut Soni.
“ Tapi kita mau cari di mana ? Jangan – jangan Arisa di culik ? “ Putra membulatkan matanya kala pemikiran itu menghampirinya.
“ Gimana kalau Arisa di culik Son ?? Kasihan… kalau dia di jahatin gimana ? Kalau nggak di kasih makan gimana ? Kalau organ tubuhnya terus di jual gimana ? Sekarang kan lagi rame penculikan anak terus di jual organ tubuhnya. “ makin buruk saja pikiran Putra.
Plak
“ Mungkin nggak sih, Arisa keluar dari gerbang ? Terus dia tersesat, lupa jalan pulang ? kalau dia nangis, gimana ? Siapa yang gendong ? “ kini ganti Soni yang terlihat begitu was – was.
Bagaimanapun juga, Arisa dan Orion adalah kesayangan mereka. Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada keduanya.
“ Kita coba cari keluar yuk. “ ajak Putra dan di jawabi anggukan oleh Soni. Mereka lalu segera keluar. Pintu pagar terlihat terbuka sedikit dan pos satpam terlihat sepi karena tadi pak Sofyan sempat pamit ke mereka untuk membeli sesuatu ke warung yang ada di depan komplek.
Soni dan Putra berkeliling di sekitaran perumahan Julio sambil terus memanggil manggil Arisa. Peluh dan keringat yang membanjiri tubuh tak mereka rasakan. Bahkan perut yanag sudah mulai keroncongan pun tak mereka indahkan. Di hati dan pikiran mereka saat ini adalah Arisa dan Arisa.
“ Lho, mas Putra… mas Soni pada lagi ngapain ini, panas panasan di sini ? “ tanya pak Sofyan saat kembali dari warung dan mendapati Putra dan Soni sedang berjalan seperti orang kebingungan.
“ Pak Sofyan? “ ujar Putra.
“ Pak Sofyan lihat Arisa nggak ? “ tanya Soni.
“ Loh, bukannya tadi neng Arisa teh sama mas Putra sama mas Soni main di teras ya ? “ Pak Sofyan ikut kebingungan.
__ADS_1
“ Pak Sofyan darimana aja, ke warung lama banget ? “ tanya Putra.
“ Hehehe … “ Pak Sofyan malah tertawa cengengesan. “ Maaf mas. Tadi habis dari warung, saya ketemu cem ceman saya baru pulang dari pasar bawa belanjaan banyak. Karena tidak tega, saya antar dia pulang dulu. Eh, di rumahnya, pakai di bikinin kopi dulu. “ pak Sofyan menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Hah! Karena pak Sofyan ngapel nih, Arisa ilang. “ ketus Soni.
“ APA ??? Neng Arisa ilang ??? “ pekik Pak Sofyan. “ Kok bisa ? Waduh, bisa kena SP sama tuan camat ini. “ ia kebingungan sendiri. “ Tadi kan neng Arisa main sama mas berdua. “ kini pak Sofyan bertanya kepada mereka.
“ Kami ketiduran tadi pak. Kami pikir Pak Sofyan udah balik. Pas kami bangun, Arisa udah nggak ada di rumah. Kami udah cari muterin rumah dua kali, tetep nggak ketemu. “ ucap Putra pasrah.
“ Ah, kita lihat cctv aja. Di pos ada servernya. “ Pak Sofyan berkata lalu tanpa mengajak Putra dan Soni, ia berjalan meninggalkan mereka. Membuat Soni dan Putra saling berpandangan, lalu sama – sama mengendikkan bahunya, berjalan mengikuti Pak Sofyan kembali ke rumah.
Sedangkan di rumah, lebih tepatnya di sebuah kamar, terjadi drama keluarga.
“ Abang …. Pala Dhara kok pusing gini sih ? “ keluh Andhara.
“ Kamu tiduran aja. Abang ambilin obat dulu. “ sahut Julio sambil menyelimuti tubuh Andhara.
“ Belum ganti baju… Nggak enak tidur pakai gaun begini. “ rengeknya.
“ Ya udah, abang ambilin piyama dulu biar nyaman tidurnya. “ Julio beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju almari dan mengambil sebuah piyama untuk istri tercinta.
“ Gantiin. “ rengek Andhara kembali saat sang suami memberikannya sebuah piyama.
“ Manja banget sih. Tumben. “ ujar Julio, tapi ia tetap mengikuti kemauan sang istri. Dengan telaten, ia membuka gaun sang istri dan di gantikannya dengan piyama.
“ Abang jangan kemana – mana. “ pinta Andhara manja.
Julio mengerut. “ Abang mau ambilin kamu obat bentar, sekalian lihatin anak – anak. “ jawab Julio.
Andhara menggeleng. “ Nggak usah obat. Abang peluk Dhara aja. Dhara pengen di peluk sama abang. “ ia merentangkan kedua tangannya meminta untuk di peluk. “ Anak – anak biar di jagain dulu sama onta sama onty nya dulu. “ lanjutnya.
Julio tersenyum, dan kembali ia tidak bisa menolak keinginan sang istri. Ia naik ke atas ranjang, lalu berbaring di sebelah Dhara, menelusupkan tangan kirinya di bawah leher Andhara, dan memeluk tubuh Andhara dengan tangan kanannya.
Bersambung
__ADS_1