Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Berpisah


__ADS_3

Julio kembali lagi dan memeluk erat tubuh Andhara. " Abang, kok malah balik lagi ? " tanya Andhara.


" Beneran, nggak mau balik sekarang? " tanya Julio balik dengan mimik wajah penuh harap.


" Ish, abang... Udah dong merajuknya. Dhara mau di sini dulu abang... " jelas Andhara


" Mendingan abang berangkat sekarang. Nanti terlambat sampai rumah sakitnya. "


Julio balik badan dan kembali berjalan menuju ke mobilnya setelah kembali menghujani sang istri dengan banyak kecupan dan pelukan erat.


" Laki loe kenapa jadi lebay gitu sih Ra? " tanya Eka.


" Bukan lebay. Tapi bucin. Hahaha..." sahut Andhara.


“ My hunny … Bunny … Sweetyyy …. “ pekik Lila dan hendak memeluk Andhara kembali. Tapi tubuhnya langsung di tarik oleh Putra. Ia yang sedari tadi hanya diam saja, setelah kepergian suami Andhara barulah ia beraksi.


Plak


Lila setengah berbalik dan memukul tangan Putra dengan keras. “ Loe apaan sih ? Syirik loe ? pengen meluk juga ? “ ketus Lila tapi Putra malah memelototkan matanya. Jika di tanya pengen meluk, so pasti jawabannya iya lah. Tapi ia masih cukup waras untuk tidak menyentuh tubuh seorang perempuan yang platnya hitam. Bukan plat kuning lagi yang masih milik bersama.


“ Awas, minggirin tangan loe. Gue kangen tahu sama bontot. “ kekeh Lila.


“ Kangen sih kangen. Loe nggak liat tuh, perut si Anggoro buncit gitu loe teken ? “ sahut Eka.


Sontak mata belor Lila memandang ke arah perut Andhara. “ Ups !! “ Lila menutup mulutnya seakan tak percaya melihat perut buncit Andhara.


“ Jadi beneran, loe hamil Ra ? Seriusan, di sini ada seorang baby ? “ tanya Lila sambil mencoba menyentuh perut Andhara dengan rasa takut. Takut melukai calon bayi yang masih di dalam perut sahabatnya itu.


“ Dua, Lo. Bukan Cuma satu. Calon anak gue ada dua. “ Andhara membenarkan. “ Loe nggak lihat postingan foto calon debay gue. Kacang hijaunya ada dua, Lilo…. “ lanjutnya kesal.


“ Seriously ? Calon ponakan gue ada dua ? Di sini ? “ tanya Lila sambil kembali mengelus perut buncit Andhara. “ Oh my God !!! Pak dokter pinter banget sih nyetaknya. Sekali cetak langsung jadi dua gini. “ lanjutnya masih dengan tatapan tak percaya.


“ Selamat ya my hunny …. “ ucap Lila sambil memeluk kembali tubuh Andhara. Tapi kini, ia memeluk dengan perlahan.


“ Kalian nggak mau kasih gue selamat gitu ? “ tanya Andhara setelah pelukan Lila lepas.


“ Selamat, bontot gue. “ kini Eka yang menghambur memeluk Andhara. Dengan perlahan tentunya. Sebenarnya sudah sejak tadi ia sangat ingin memeluk Andhara. Tapi melihat perut Andhara yang sudah agak membuncit, ia jadi takut jika anak Andhara kegencet.


“ Gue kangen sama loe, Ka. Pengen latihan bareng lagi. Loe pasti udah naik tingkat lagi. “ uceh Andhara.


“ Gue juga kangen sama loe. Tapi sekarang gue udah berenti dari tempat bang Jodi. Gue lagi persiapan mau masuk tentara. “ jawab Eka setelah melepas pelukan mereka. Andhara mengangguk.

__ADS_1


“ Hei, kalian !! Kenapa kalian Cuma diem aja ? Nggak kangen loe berdua sama gue ? Jahat banget ! Hiks .. “ ucap Andhara sambil menunjuk Soni dan Putra.


“ Kita bukan miss drama kayak si Lilo ya. Kita orangnya kalem. Lagian, kalau tiba – tiba gue meluk loe, yang ada muka ganteng gue di gampar sama laki loe. “ sarkas Putra menjawab Andhara.


“ Kalau gue ketekin aja, mau nggak loe ? “ canda Soni.


“ Hisss … Loe mah nggak sohib. “ ketus Andhara.


“ Eh, ngomong – ngomong, mang Ojo buka nggak ? Gue traktirin makan bakso sepuasnya yuk. Tadi laki gue ngasih uang jajan banyak gila. “ cengir Andhara.


“ Common let’s go. “ Lila langsung merangkul pundak Andhara dan di ajaknya berjalan.


“ Yang bener aja loe ngajakin gue jalan sampai warungnya mang Ojo ? yang ada kembar debay gue brojol sebelum waktunya !! “ sarkas Andhara yang memang letak warung mang Ojo lumayan jauh dari rumahnya.


“ Oh, iya gue lupa. “ Lila menepuk jidatnya sendiri. “ Ya udah, yuk kita naik motor. “ putus Lila berbalik.


“ Put, loe boncengin tuh si calon emak. Kalau gue yang boncengin pakai bebeknya si Eka, takut kenceng goncangannya. Motor loe kan gede, Jadi kalau jalannya jelek , perut si emak nggak kegoncang kenceng – kenceng. “ titah si Lila yang bagai emak – emak.


Tak menunggu lama, Andhara langsung duduk di motor Putra. Bahkan si Putra belum mengatakan jika dirinya setuju memboncengkan Andhara. Sebenarnya Putra ragu untuk memboncengkan Andhara. Dia belum pernah memboncengkan seorang wanita hamil. Takut kenapa – napa pikirnya.


“ Ayo Put. Buruan. Anak – anak gue udah ngeces nih pengen baksonya mang Ojo. “ ucap Andhara sambil menepuk bahu Putra.


“ Ra, loe yakin, mau bonceng gue ? “ tanya Putra sambil menengok ke belakang.


“ Tapi kan beda, Ra. Loe sekarang lagi hamil. “ ujar Putra.


“ Dih ! Udah deh, jangan banyak drama. Gue yakin sama loe, Put. “ kesal Andhara.


“ Pada mau kemana ? “ teriak si emak dari depan pintu rumah.


“ Astagfirullah … Gue lupa belum pamit sama emak. “ gumam Andhara. Ia bahkan langsung lompat turun dari atas motor Putra dan sedkit berlari menghampiri emak dan membuat sohib – sohibnya berteriak bersamaan.


“ ANGGOROOO !!! “ pekik mereka bersamaan.


“ Inget perut buncit loe Ra !! “ tambah Putra.


Sontak Andhara menghentikan langkahnya, lalu mengelus perut buncitnya. “ Hehehe … Lupa . “ cengir Andhara sambil menoleh ke arah teman – temannya. Sontak keempat sohibnya memutar bola mata mereka malas.


.


.

__ADS_1


.


Kini mereka berlima sudah berada di warung mang Ojo. Bahkan Andhara sedang menikmati mangkuk kedua dari baksonya, dan gelas ketiga untuk minumannya.


“ Ra, beneran loe makan segitu ? “ tanya Eka memastikan. Karena setahu dia, Andhara bukanlah gadis yang makannya banyak.


“ Beneran lah. Masih laper gue . “ jawab Andhara enteng, lalu menyeruput kuah baksonya. “ Gue ini makan buat tiga orang ya. Kalau loe lupa. “ lanjutnya.


Teman – temannya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya. Sejak tadi, mereka tidak diam. Mulut mereka selalu bekerja. Jika tidak mengunyah, maka akan mereka gunakan untuk bercanda, mengobrol dari mulai A sampai Z.


“ Guys, gue sebenernya mau nyampein sesuatu sama kalian. “ ucap Andhara dalam mode serius. Ia telah menghabiskan bakso di mangkuk keduanya.


“ Ada apa ? “ tanya Putra dan Lila bersamaan. Setelah mengatakan hal itu, mereka berdua saling memberikan tatapan mematikan.


“ Laki gue di pindah tugas ke rumah sakit di Ban_dung. Jadi, gue juga harus ikut dia. Kan gue istri yang solikhah. “ terang Andhara.


“ Lo mau menetap di sana ? Nggak balik lagi kesini ? “ tanya Eka.


“ Ya balik lah. Kan emak masih di sini. Cuma bisanya kadang – kadang aja.” Jawab Andhara. “ Gue pasti kangen sama kalian. Sama kegilaan kalian. “ lirihnya.


Lila dan Eka langsung memeluk Andhara dari sisi kanan dan sisi kiri. “ Kita juga pasti kangen banget sama loe, Ra. “ ucap mereka.


“ Gue juga bakalan ikut pendidikan di Batu_jajar. Minggu depan gue berangkat. “ ucap Eka tak kalah membuat teman – temannya terkejut.


“ Minggu depan ? Kok loe nggak pernah bilang ke gue Ka ?? “ tanya Lila tak terima.


“ Sorry. Gue juga baru dapet panggilan kemarin. “ jawab Eka.


“ Yah, kalian berdua masih satu kota. Gue sendirian dong. “ ucap Lila lesu.


“ Satu kota juga kita nggak bisa ketemu La. Loe tahu kan, pendidikan kayak gitu? Gue nggak bakalan bisa keluar gitu aja. “ jawab Eka.


“ Loe gimana La? Jadi, loe kuliah di ibukota ? “ tanya Andhara.


“ Insyaallah, jadi. Gue udah daftar. Tinggal nunggu pengumuman di terima atau nggak. “ jawab Lila. “ Loe Son ? Rencana loe gimana ? “ tanyanya ke Soni.


“ Gue mau ikut sodara gue. Gue mau kuliah di Jogja. “ jawab Soni.


“ Yah, kita misah semua dong. “ lirih Andhara. “ Loe er ? Juragan munjaer, loe mau nerusin kuliah di mana ? Jangan bilang, loe mau kuliah di papua. “ tanyanya ke Putra.


“ Ngapain ke Papua. Entar gue di kejar – kejar sama cewek – cewek di sana. Dih, ogah. “ jawab Putra dengan santainya. “ Gue mau kuliah di Ban_dung. “ lanjutnya yang berhasil membuat Andhara berbinar ketika mendengarnya.

__ADS_1


“ Loe serius ? Loe mau kuliah di Ban_dung? Asyiiikkk …. Gue masih punya temen. “ sahut Andhara gembira.


Bersambung


__ADS_2