
Suara sesenggukan terdengar dari mulut Andhara. Pembukaan semakin bertambah, maka rasa sakit yang Dhara rasakan juga semakin terasa yahud.
Beberapa saat yang lalu, dokter Lulu kembali memeriksa Andhara dan beliau mengatakan jika jalan lahir sudah dalam pembukaan 9. Dokter Lulu pun kemudian menyuruh asistennya untuk menyiapkan segala sesuatunya.
“ Sayang, kamu boleh marah – marah sama abang. Kamu boleh mukul abang, cakar abang, jambak aja rambut abang. Jangan takut dosa sayang. Karena abang mengijinkannya. Biarkan abang ikut merasakan sakit yang kamu rasakan. Jangan hanya merasainya sendiri seperti ini. “ sedari tadi Julio tidak tega melihat sang istri yang terus mendesis dengan air mata yang bercucuran.
Tapi istri yang biasanya bar – barnya naudzubillah, di saat menghadapi kondisi seperti ini malah diam saja. Seolah sedang menikmati apa yang ia rasakan saat ini.
“ Maafin Dhara ya bang. Dhara udah sering bikin abang kesel. Bikin abang jadi punya darah tinggi. Dhara banyak nuntut sama abang. Banyak ngerepotin abang. Dhara juga ngeselin, galak, suka seenaknya sendiri, suka bikin abang khawatir juga. “ air mata Andhara semakin menganak pinak saja.
Entah pertanda apa, tapi kata – kata yang terlontar dari mulut istrinya membuat Julio semakin larut dalam kekhawatiran dan ketakutannya. Apalagi sesekali sang istri selalu mengucap istighfar dan menyebut nama Allah dalam tangisnya.
Julio menggeleng sambil mengusap puncak kepala Andhara yang basah karena keringat. Lalu usapannya kembali ke pinggang Dhara kala sang istri kembali mendesis sambil memejamkan matanya erat. Yang berarti jika rasa sakit itu datang kembali.
“ Dhara belum bisa jadi istri yang baik buat abang. Dhara belum bisa masakin makanan kesukaan abang. Dhara Cuma baru bisa muasin abang di ranjang. Itupun terkadang masih salah posisi. “ entah ingin tergelak atau ingin menangis mendengar ucapan Dhara yang barusan.
“ Abang … “ Dhara meraih tangan kanan Julio dan di kecuplah punggung tangannya. “ Maafin semua kesalahan Dhara ya bang. “ ucapnya lirih.
Tenggorokan Julio tiba – tiba terasa sangat kering hingga untuk menelan salivanya saja terasa sangat susah. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada istrinya. Ketakutannya semakin menjadi. Ilmu dasar sebagai seorang dokter yang sering ia terapkan selama ini, menguar begitu saja. Jiwa tangguhnya tiba – tiba meluncur ke dasar bumi. Setetes air mata meluncur begitu saja di atas pipinya.
Ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup lama kening sang istri. “ Abang sayang sama kamu. Abang cinta sama kamu. “ ucapnya.
Julio meraih tubuh Andhara ke dalam dekapannya dengan tangan kanannya yang senantiasa mengusap pinggang Andhara. Andhara mencengkeram kuat kaos yang Julio kenakan saat rasa mulas itu terasa semakin menjadi.
“ Dhara istri terbaik buat abang. Dhara adalah perempuan teristimewa bagi abang. Kita berjuang sama – sama ya. Maafin abang yang udah buat kamu gagal meraih cita – cita kamu. Abang buat semua yang sudah kamu rancang, gagal. Maafin abang yang sudah merebut masa – masa muda kamu yang seharusnya sedang asyik – asyiknya. Abang merenggut masa remaja kamu. Sampai kamu harus merasakan susahnya ibu hamil, dan sakitnya melahirkan seperti ini, untuk anak – anak abang. “ Dhara menggeleng kala mendengar ucapan suaminya.
Ceklek
“ Ruangan sudah siap, dok. Kami akan membawa ibu ke ruang bersalin. “ Julio dan Andhara menoleh ke arah pintu yang ternyata seorang perawat datang menghampiri mereka.
Benar kata banyak orang jika melahirkan itu mempertaruhkan nyawa. Dan Andhara merasakannya saat ini. Rasa mulas yang ia rasakan sedari tadi belum seberapa kala ia merasa kedua anaknya semakin getol untuk segera menghirup udara luar. Ia merasa seperti seseorang yang tinggal menunggu panggilan dari Ilahi.
Tidak ada aksi berteriak – teriak, memukul atau menjambaki rambut sang suami selama Andhara berada di ruang bersalin seperti kebanyakan di cerita novel – novel yang sering Dhara baca ketika ia sudah hamil besar.
__ADS_1
“ Bang, Dhara pengen pipis. Tapi maunya ke kamar mandi. Nggak mau di pispot. Jorok. Dhara udah nggak tahan bang. “ ucapnya lirih ke Julio yang senantiasa selalu berada di sampingnya.
Julio mengangguk, lalu segera mengangkat tubuh sang istri dan di bawa ke kamar mandi. Ia juga segera membantu mengangkat baju pasien untuk ibu melahirkan, dengan baju yang menelangkup tubuh bagian depan, sedangkan bagian belakang hanya di beri beberapa tali. Andhara juga sudah melepas semua da lamannya. Jadi Julio lebih mudah membantu Andhara di situasi seperti ini.
“ Bang, kok Dhara ngompol lagi ? Mana rasanya pengen ngeden gini. “ keluhnya.
Julio segera melihat cairan yang Dhara keluarkan dan Dhara bilang ngompol tadi. “ Jangan ngeden dulu, sayang. “ ucapnya.
“ Kita kembali ke kamar. “ lanjutnya kala ia melihat cairan itu. Sepertinya istrinya sudah siap melahirkan. Ia segera mengangkat kembali tubuh istrinya dan di bawa kembali ke kamar.
“ Sepertinya sudah sempurna, dok. “ ucapnya ke dokter Lulu. Dokter Lulu mengangguk, lalu memeriksa kembali jalan lahir Dhara.
“ Wah iya, sudah sempurna. Dokter Julio, bantu doa, dan beri semangat ke istrinya ya. “ ucap dokter Lulu yang lalu segera memposisikan dirinya di bawah Andhara. “ Calon ibu, di buka kakinya yang lebar, dan di angkat lututnya ya. “
Andhara mengikuti instruksi dokter Lulu.
“ Kalau saya bilang mengejan, baru mengejan ya. Ingat, saat mengejan, pan_tatnya jangan sampai di angkat, jangan berteriak terlalu kencang juga, dan matanya jangan sampai melotot, jangan juga menutup mata, oke. “ Dhara mengangguk. Julio menggenggam tangan kanannya sambil memeluk kepalanya.
“ Mules ? Pengen ngeden seperti kalau pup ? “ Dhara mengangguk. “ Oke, tarik nafas dalam – dalam, dan hembuskan perlahan. “ Dhara kembali mengikuti instruksi dokter. “ Tarik nafas lagi dalam – dalam, …… mengejan sekarang, bunda. “ pinta dokter.
“ Mmmmnggghhh …. “ percobaan pertama gagal. Baru terlihat kepala salah bayinya saja.
“ Kita coba lagi ya. Kepala baby nya udah terlihat loh. “ pinta dokter Lulu sambil tersenyum. Dhara mengangguk, lalu mengikuti instruksi dokter kembali.
“ Mmmmnnnggghhhh ….. “ percobaan kedua masih gagal.
“ Bang, Dhara capek. “ lirihnya sambil memejamkan matanya.
“ Kamu kuat sayang. Kamu istri Abang yang paling kuat. Bukankah kamu ingin membantu anak – anak kita untuk melihat indahnya dunia ? Ayo sayang, kamu pasti bisa. “ Julio memberikan kekuatan untuk sang istri.
“ Sekali lagi ya bu. Kita coba sekali lagi. “ kembali Andhara mengangguk. Dan mengikuti instruksi dokter.
“ Nnngggghhhh ….. “
__ADS_1
“ Oek … oek … oek … “
“ Alhamdulillah. Anak pertama dokter Julio dan istri, perempuan. “ ucap dokter Lulu kala seorang bayi berhasil keluar dari perut Andhara dengan selamat. Beliau segera membawa bayi yang masih berwarna merah itu ke dada Andhara setelah ia memutus tali pusatnya.
Andhara tersenyum sambil meneteskan air mata kala melihat buah hatinya. Begitu pun dengan Julio. Ia lalu mengecup kening sang istri. “ Terima kasih sayang. “
“ Abang, dia cantik banget. Hidungnya mancung kayak abang. “ ucap Andhara bahagia.
“ Dia cantik seperti kamu, sayang. “ ucap Julio sambil terus memberi kecupan di pipi dan kening istrinya.
“ Dokter … Auu … perut Dhara kenapa sakit lagi … “ pekiknya terkejut.
“ Anak kita dua sayang. Dan baru keluar satu. Mungkin si kecil mau segera menyusul kakaknya. “ ucap Julio.
Dokter Lulu segera menyerahkan bayi perempuan itu ke salah satu perawat untuk di bersihkan. Dan beliau kembali ke posisi di bawah Andhara untuk kembali membantu persalinan Andhara.
“ Sama seperti tadi ya bun. “ Dhara mengangguk. “ Dorong ayo. “
“ Nnngghhh …. “
“ oek … oek … “ dalam sekali dorong, bayi kedua Julio dan Andhara akhirnya melihat dunia.
“ Alhamdulillah. Selamat ya dokter dan istri. Sekali hamil, kalian langsung mendapatkan sepasang bayi yang cantik dan tampan. “
“ Alhamdulillah … “ ucap Julio dan Andhara bersamaan. “ Bang, kenapa hidungnya malah kayak hidung Dhara ? “ tanya Dhara mengernyit menatap bayi laki – lakinya.
Julio tersenyum. “ Tuhan maha Adil, sayang. Mereka anak kita berdua. Sudah wajar jika mereka meniru kita. “
“ Tapi nggak hidungnya juga kali bang. “ protes Dhara yang masih belum terima karena hidung anak laki – lakinya mancung ke dalam seperti hidungnya. “ Harusnya hdungnya kayak abang semua aja. Biar Dhara kebagian bibirnya aja. “
Julio kembali tersenyum dan mengecup kening Dhara lama. “ Terima kasih atas semuanya, sayang. “ ucapnya.
Bersambung
__ADS_1