
...Update pagi - pagi biar syegerrrr.... rrrrrrr ......
π§
Keringat meluncur bebas membasahi wajah dan baju Andhara setelah ia melakukan pemanasan dengan berlari keliling lapangan sebanyak empat kali. Ia menenggak minumannya hingga tinggal separuh.
β Ayo !!!! β
Plokβ¦. Plok β¦. Plok β¦.. Sang pelatih memanggil seraya bertepuk tangan. β Time!! β teriaknya sambil menunjuk jam tangannya yang membuat semua anggota tim termasuk Dhara memasuki lapangan.
Latihan di mulai. Bola di tendang kesana dan kemari. Semua bergantian menendang bola ke dalam gawang dalam posisi pinalti. Kemudian menggiring bola, dan mengopernya seketika ke teman satu tim. Saling berlatih mengoper dengan jarak sentuhan yang pendek sehingga lawan kelak tidak punya kesempatan untuk mencuri bola.
Seperti posisinya di tim Bojong Burut, di tim kabupaten, Andhara juga memegang posisi sebagai striker. Ia berlatih untuk menyundul bola ke gawang, lalu berlatih menerima operan bola daro teman satu tim.
Tapi sayang, latihan Dhara kali ini tidak sebagus dan sememuaskan biasanya. Beberapa kali ia mendapat teguran dari sang pelatih. Sangat terlihat dengan jelas kalau Dhara sedang tidak fokus.
β Andhara!! β teriak pelatih memanggilnya. Dhara menunduk lesu sambil berlari ke pinggir lapangan mendekati pelatih.
β Ya, bang. β
β Loe kenapa ? Gue lihat dari semenjak pertama tadi loe main, terlihat sangat jelas tidak seperti biasanya. Loe nggak fokus sama sekali. β hardik sang pelatih.
β Maaf bang. β Malas untuk menjawabi, itulah yang Dhara rasakan saat ini. Ia hanya pasrah. Tidak seperti biasanya yang selalu punya jawaban yang wow tiap ia kena omelan.
Sang pelatih memejamkan matanya sambil mengirup udara sebanyak β banyaknya. β Kalau ada masalah, please, jangan di bawa ke lapangan. Tinggalin lah buat sementara. Lupain dulu sebentar. β ujarnya.
β Mana bisa di lupain atau di tinggalin. Emangnya bakwan ? Yang bisa di tinggalin gitu aja kalau minyaknya udah memenuhi mulut !! β gerutu Dhara dalam hati.
β Kasihan teman β teman loe kalau loe kayak gini. Karena loe yang nggak fokus, semua anggota tim jadi kena imbasnya. Loe tahu kan, posisi loe tuh penentu tim kita! β lanjutnya.
β Maaf, bang. β lirih Andhara.
__ADS_1
β Untung hari ini baru latihan hari pertama kita. Hah!! β sang pelatih kembali menghela nafas kasar.
β Loe pulang aja sekarang. Tapi gue minta banget sama loe, besok β besok, jangan kayak gini lagi. β titahnya.
β Tapi bang, gue beneran nggak pa β pa kok. Gue masih bisa nerusin latihan sama yang lain. β kekeh Dhara.
β Andhara, loe tuh lagi nggak bisa fokus. Percuma juga loe di sini. Mending loe pulang, loe freshing dulu kepala loe, jadi besok loe bisa kembali fokus, oke ? β pinta sang pelatih dengan nada suara rendah, tapi juga tegas.
Andhara menoleh ke belakang. Ia melihat teman -temannya yang sedang berlatih. Mungkin benar apa yang di bilang si pelatih. Ia butuh merefresh isi kepalanya juga hatinya. Ia menghela nafa kasar.
β Iya deh bang. Dhara balik sekarang. Sekali lagi, gue minta maaf ya bang . β ucapnya tulus setulus nama penyanyi guyss. Sang pelatih mengangguk.
.
.
.
Sebenarnya Andhara sangat enggan untuk pulang. Di persimpangan jalan, ia menghentikan laju motornya. Ia bingung, apakah ia akan mengambil jalan ke arah kiri atau lurus. Lurus, berarti ia akan pulang. Dan ke kiri, maka ia akan ke rumah Eka atau Lila.
Bagaimanapun juga, ia tetap mengingat statusnya sebagai seorang istri berikut tugas β tugasnya. ISTRI. Andhara tertawa miring mengingat statusnya.
Benarkah ia seorang istri ? Atau malah justru ia adalah perebut pacar orang ? Mengambil kebahagian sepasang kekasih ? Tapi ia tidak pernah meminta Julio atau memaksa Julio untuk menikahinya. Justru Julio sendiri kan yang berinisiatif menikahinya ? Dia saja tidak di beri tahu.
Ah, breng_sek loe Dhar!!!! Mending loe tenggelamin deh diri loe ke laut sana!! Maki Andhara kepada dirinya sendiri.
Melihat ekspresi wajah gadis yang berstatus kekasihnya Julio dulu, dan bagaimana suara tangisannya, membuatnya menjadi manusia paling breng_sek dan paling bersalah di muka bumi ini.
Tapi kembali lagi dengan statusnya sebagai seorang istri yang tidak bisa di pungkiri oleh siapapun, bahkan dirinya sendiri. Ia mengemban tugas berat tentunya. Ia tidak boleh menelantarkan suami, harus melayaninya.
Bahkan hari ini ia telah berbuat dosa karena ia nekat pergi tanpa meminta ijin dari suami. Tapi bukankah itu tidak seratus persen kesalahannya ? Ia sudah berniat untuk meminta ijin. Tapi salah siapa di sana ia malah di suguhkan pemandangan yang menyesakkan dada.
__ADS_1
Dan tiba β tiba ia teringat, tadi saat hendak menjalankan motornya, ia sempat membuka ponselnya. Di sana ada sepuluh panggilan tek terjawab yang berasal dari sang suami.
Ia kembali menghela nafas kasar. Dia harus pulang. Dan meskipun ia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ia akan menjaga jarak dengan suaminya.
Bagaimanapun, ia hanya pemilik raga, bukan hati dari seorang dokter bernama Julio. Ia bahkan tidak tahu, kapan Julio akan tersadar dan mengakhiri hubungan mereka dan kembali kepada kekasihnya tentu saja.
Andhara mengggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruk di otaknya. Ia lalu menjalankan kembali motor matic kesayangannya dan mengambil jalur lurus menuju ke rumah si emak. Entah kenapa, ia merasa yakin jika sang suami sudah berada di rumahnya saat ini. Berkacak pinggang sambil mondar mandir nggak jelas, mungkin.
Brum
Tak berselang lama, motor matic yang ia kendarai sudah tiba di depan rumah si emak. Dan benar adanya, motor Julio sudah terparkir di atas lantai depan rumahnya. Di mana biasanya ia menaruh motornya juga motor Julio saat menginap di sini.
β Assalamualaikumβ¦ β sapa Andhara.
β Waalaikum salam. β jawab si emak dari dalam. β Tumben, udah pulang ? Biasanya sampai malam pulangnya. β
Andhara menjabat tanga si emak takdzim sambil mencium punggung tangannya. β Iya mak. Latihannya Cuma bentar. β
Andhara menaruh tas selempangnya di atas kursi, lalu berjalan menuju dapur, kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya tandas.
β Kamu tadi nggak pamit sama suami kamu ? Dia bingung tuh nyariin istrinya. Katanya takut istrinya ilang, nyempil di mana gitu. β
β Emang Dhara Cuma segede upil ? Kok bisa nyempil. β sahut Dhara.
β Tadi Dhara buru β buru mak. Nggak sempat minta ijin. Soalnya pelatihnya ngabarinnya dadakan. β hanya itu alasan yang terpikirkan di otak kecil Dhara. Emak malah terkekeh.
β Dia ada di kamar tuh. Katanya mau istirahat bentar. Dari tadi Cuma mondar β mandir sambil nentengin hp di depan rumah. Jadi kecapekan kali dia. β
Andhara tersenyum miring. β Dhara mau mandi dulu mak. Gerah. Bau asyem juga. β Dhara mengangkat tangan kanannya dan mencium keteknya. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
β Nggak mandi di kamar mandi kamar kamu ? sekalian panggilin suami kamu ajakin makan. Dia belum makan. Katanya mau nungguin kamu pulang. β emak setengah berteriak.
__ADS_1
β Dhara mandi di sini aja. Lebih luas kamar mandinya. Jadi mandinya bisa lebih seger. β sahut Dhara.
bersambung