Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Makasih


__ADS_3

" Sayang, udah malam. Istirahat di dalam gih. “ ucap bunda Lestari yang di jawabi anggukan oleh Andhara.


Ia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga, yang selanjutnya ia nenaiki anak tangga menuju ke kamarnya dengan perlahan karena bagian bawahnya terkadang masih terasa nyeri.


Ceklek


Dari dalam, seulas senyum terukir dari kedua sudut bibir laki – laki yang merupakan cinta kedua dari seorang Andhara, setelah bapaknya tentu saja. Julio berjalan menghampiri sang istri dan memapahnya.


“ Kenapa nggak panggil abang kalau mau ke kamar ? “ tanya Julio di sela – sela kegiatannya memapah sang istri.


“ Kenapa harus panggil abang ? “ Bukannya menjawab, tapi Andhara malah memberikan pertanyaan untuk suaminya.


“ Abang bisa bantu kamu naik tangga, Dhara. “


“ Dhara ini normal loh bang. Dhara bukan lagi ngidap darah tinggi, terus terkena stroke. Nggak perlu di gandeng – gandeng kayak truck gandengan kayak gini juga. Dhara masih bisa jalan sendiri. “ ujar Dhara.


“ Iya, abang tau. Dhara gadis yang kuat. Ta- “


“ Dhara sudah nggak gadis loh bang. Tuh, buktinya orok dua. “ potong Dhara sambil menunjuk si kembar dengan dagunya.


“ Iya. Abang juga tahu kalau kamu udah nggak gadis. Kan abang, yang ambil kegadisan kamu. “ ujar Julio. Kenapa istriku masih aja sensitif gini ? Padahal si kembar juga udah lahir. Batin Julio.


Lalu Julio membantu Andhara dengan menaikkan kedua kaki Andhara ke atas ranjang kala Andhara sudah duduk di atas ranjang.

__ADS_1


“ Makasih, abang tersayang. “ ucap Andhara sambil tersenyum. Cup. Julio mengecup keningnya, lalu ia berjalan memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya di sisi sebelah kiri.


Sedangkan Andhara tidur di sisi sebelah kanan. Dan si kembar berada di tengah – tengah mereka. Ranjang king size yang kemarin – kemarin terasa sangat luas untuk Andhara, kini terasa sempit karena bertambahnya penghuni.


Andhara memiringkan tubuhnya menhadap ke si kembar. Begitu juga dengan Julio. Ia mengelus pipi si gadis mungil dengan punggung jarinya, bergantian dengan si laki – laki yang masih mungil juga.


“ Bang, kok wajah mereka mirip abang semua sih ? Dhara nggak kebagian apa – apa. Cuma kebagian hidungnya si adek. Dhara ini ibunya loh. Yang ngelahirin mereka. “ ucap Dhara karena tiba – tiba merasa khawatir jika kelak tidak di akui oleh si kembar. Dasar, perempuan labil.


“ Kan abang ayahnya. Abang yang banyak nyumbangin spe*_ma. Sedangkan in_dung telur kamu Cuma satu dua nyumbanginnya. “ jawab Julio dengan jawaban yang malah justru membuat Andhara memberengut kesal. Lalu Julio terkekeh melihat mimik wajah sang istri.


“ Abang jahat ih ! “


Julio kembali terkekeh dan mengusap puncak kepala istrinya. “ Mau si kembar mirip abang, atau mirip kamu, tetap tidak akan merubah kenyataan jika mereka adalah anak kita. Darah daging kita. Hem ? Bukankah malah bagus jika mereka lebih mirip abang ? jadi orang – orang yang melihat, akan yakin dan percaya kalau mereka adalah anak – anak abang. Kalau kamu, jelas mereka yakin kalau mereka anak – anak kamu, karena kamu yang melahirkannya. “


“ Ra, untuk saat ini, kamu nggak usah mikirin apapun. Kecuali ngurusin anak – anak kita, sama diri kamu sendiri. Untuk urusan nyuci baju sama masak kan udah ada bibi. “


“ Tapi Dhara pengennya baju – baju si kembar, Dhara sendiri yang nyuciin. Pasti lucu deh nyuci baju mungil – mungil. “ potong Dhara sambil pandangannya kembali ke si kembar.


“ Iya, boleh. Tapi pesen abang, jangan sampai kamu kecapekan. Anak – anak, kita urus sama – sama. Kalau siang abang kerja, kamu bisa urus anak – anak di bantuin sama bunda sama emak. Nanti malamnya, biar abang yang urusin mereka. “ Kini pandangan mata Julio beralih ke kedua bayi mungil yang sedang terlelap.


“ Jangan sampai kamu merasa kecapekan sendirian, menanggung beban sendirian. Kalau kamu sudah lelah, maka istirahatlah. Biar si kembar di tangani sama emak juga bunda. “ kini tangan Julio kembali mengusap puncak kepala Andhara.


“ Iya abang. Dhara seneng deh bang, emak mau tinggal di sini bareng sama kita. “ ucap Andhara.

__ADS_1


Memang setelah kelahiran si kembar, emak Komsah memutuskan untuk mau tinggal bersama mereka. Beliau tidak tega jika membiarkan putrinya yang masih terlalu muda dan juga besannya mengasuh si kembar. Bagaimanapun juga, ia harus ikut andil karena si kembar adalah cucu pertamanya.


Julio mengangguk sambil dengan seulas senyum. “ Kamu nggak usah mikir macem – macem. Kalau ada yang kamu pengen, bilang aja sama abang. Jangan sungkan. “ Kini tangan Julio beranjak mengelus pipi mulus Andhara.


Bukannya apa – apa, Julio hanya tidak mau istrinya mengalami baby blues yang akan membuatnya stress. Atau si kembar tidak terpenuhi kebutuhan gizinya karena si ibu stress dan mengakibatkan berkurangnya produksi ASI.


“ Apalagi, tahun ajaran depan, kamu kuliah. Jadi kamu harus tetap menyempatkan diri untuk belajar. Biar besok kalau mau daftar kuliah, gampang ketrima. “ lanjut Julio.


“ Makasih, abang. Abang juga harus jaga kondisi juga. Buat dampingin Dhara, bantuin Dhara ngurus anak – anak. Pasti butuh tenaga ekstra. Apalagi abang juga harus kerja buat nafkahin dhara sama anak – anak. “ Dhara ikut mengusap dan mengelus pipi dan rahang kokoh sang suami.


Senyum Andhara merekah bak bunga mawar yang sedang merekah. Ia kembali mengulurkan tangannya, memeluk si kembar lembut. Arah matanya juga terarah ke mereka.


Begitupun Julio. Mereka merasa Allah begitu sayang kepada mereka dengan menghadirkan si kembar di antara mereka. Mempercayakan makhluk keil itu untuk mereka rawat dan mereka didik sehingga menjadi makhluk yang berguna kelak.


Si kakak terlihat sedikit menggeliat. Lalu Andhara menepuk – nepuk tubuhnya perlahan hingga si kecil itu kembali terlelap. Dhara masih tidak habis pikir jika ia telah melahirkan si kembar melalui persalinan normal.


Bahkan di usianya yang masih begitu muda. Seolah hal itu mematahkan pendapat jika melahirkan di usia yang masih sangat muda itu berbahaya. Nyatanya, Allah memberikan taksir yang indah untuknya.


Andhara menoleh ke arah sang suami yang telah memejamkan matanya. Lalu kembali memandang si kembar. Rambut hitam legam, alis mata yang tebal, hidung yang lumayan mancung, mirip rambut, alis, juga hidung orang yang tengah memeluk mereka juga yang berada di sebelah yang juga sudah terlelap sepertinya.


Andhara kembali tersenyum sambil mengucap rasa syukur yang tiada henti untuk Sang Khalik. Lalu ia ikut terlelap dalam peraduan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2