
“ Maaf, kenalkan. “ ucap Julio sambil mengulurkan tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk merengkuh pinggan istrinya.
Fadli mengernyit.
“ Saya Julio Enggar Prasetya, suami dari Andhara Nurmalia. “ lanjutnya setelah Fadli menerima uluran tangannya, tapi dengan pandangan yang belum mengerti dengan apa yang ada di depannya.
Semua yang ada di saat ikut terkejut dengan ucapan Julio. Bahkan beberapa guru pun mengalihkan atensinya.
Fadli tersenyum hambar sambil mengusap wajahnya kasar. “ Pak dokter jangan mengaku – ngaku. Kita saingan secara sehat aja jika pak dokter juga menyukai Andhara. “
“ Buat apa saya saingan sama kamu, jika saya sudah memilikinya ? “ ucap Julio dengan suara dinginnya. Julio kembali merengkuh pinggang Andhara. Lidah Andhara masih lumayan kelu untuk ikut bersuara.
Beberapa guru nampak mendekat ke arah mereka. Terutama Bu Indri. Guru Andhara yang memang sedari awal menyukai Julio. Bahkan beliau dengan terang – terangan memperlihatkannya di depan umum.
“ Pak dokter, jangan membuat alasan aneh – aneh kalau Cuma mau menghindar dari Bu Indri deh. “ ujar Rosada yang malah menyebutkan sebuah nama di mana sang pemilik nama sudah memanas sedari tadi. Di kambing hitamkan ? Oh, no. Tidak bisa di biarkan.
“ Harusnya, pak dokter bisa kok pakai Sada kalau Cuma mau menghindar dari Bu Indri. “ ucapnya kembali sambil melirik ke arah gurunya. Mungkin karena merasa beliau sudah bukan lagi gurunya, jadi dia tanpa sungkan menyindir gurunya itu.
“ Kenapa harus si perempuan mura_han itu ? “ tuding Sada ke Andhara.
“ Eh, kalau punya mulut tuh di jaga. “ potong Andhara sebelum bu Indri membuka suara. “ Siapa yang mu_rahan ? Maling jangan teriak maling. Kalau ketangkep polisi, malu loe ! “ lanjutnya.
Ia lalu mengangkat tangan kanan Julio dan tangan kanannya sendiri. “ Loe lihat nih pakai mata loe. Kalau belum jelas, pakai kacamata kuda sana. Loe lihat, ini cincin kawin gue sama pak dokter. “
“ Cih ! “ Rosada berdecih sambil tersenyum meremehkan Andhara.
“ Kalau loe nggak percaya, ayo ikut ke rumah gue. Gue tunjukin tuh buku nikah gue ! “ lanjut Andhara karena kesal melihat Rosada yang sepertinya tidak mempercayai ucapannya. Nafasnya terengah – engah karena emosi.
Julio mengusap punggungnya lembut naik turun untuk menenangkannya. Lalu mengecup puncak kepalanya. Dan hal itu sontak membuat atensi semua yang masih berada di depan aula itu terkejut. Lalu mereka saling mengeluarkan pendapatnya sendiri – sendiri.
Fadli langsung meninggalkan tempat kala mendengar Andhara juga mengatakan hal yang sama seperti yang Julio katakan. Hatinya sakit. Dan ia tidak ingin semakin sakit dengan melihat dua orang manusia itu.
__ADS_1
“ Kita pulang. “ bisik Julio dan di jawabi anggukan oleh Andhara.
“ Guys, gue pulang dulu ya. Laki gue udah ngajakin pulang. “ pamitnya ke sahabat – sahabatnya tanpa menghiraukan yang lain.
“ Oke. Hati – hati loe di jalan. “ jawab yang lain.
Julio mengalihkan tangannya yang tadi melingkar di pinggang sang istri ke jemari tangan sang istri. Ia menautkan jari – jarinya ke sela- sela jari jemari Andhara. Kemudian mereka saling tersenyum dan bertatapan. Duh, bikin ngiri yang lain.
.
.
.
“ Sayang …. Bangun ! “ Julio mengelus bahu sang istri yang terekspos karena Andhara saat ini memakai kaos tanpa lengannya.
Masih belum ada tanda – tanda sang istri akan terbangun.
“ Sayang …. “ panggilnya lagi. Tapi tetap belum ada pergerakan. Sang istri masih asyik dengan mimpinya.
Karena masih belum ada tanda – tanda sang istri akan bangun, kini Julio mencoba membangunkan sang istri dengan cara yang lain. Ia ikut naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri, dan mengecupi seluruh bagian wajah sang istri.
Rasa geli kini Andhara rasakan. Ia menggeliat. Mencoba menyingkirkan wajahnya dari si pengganggu. “ Abang … “ rengeknya masih dengan mata terpejam dan suara seraknya.
“ Udah sore loh ini. Kamu belum sholat asar. “ bujuk Julio.
“ Bentaran lagi. Sepuluh menit. Matanya masih lengket. Berat banget. “ rengek Dhara.
“ Sayang … Kamu belum mandi juga. Jangan suka mandi terlalu sore. “ bujuk Julio kembali.
Andhara membuka matanya perlahan. Rasanya sangat berat untuk hanya sekedar membuka mata.
__ADS_1
“ Abang ganteng deh kalau biarin Dhara tidur lagi. “ rayunya sambil mengelus pipi suaminya sebentar.
“ Ck ! Udah dari dulu kalau abang tuh ganteng. “ sahut Julio. “ Sayang, apa kamu nggak enak badan ? Kenapa kamu jadi males – malesan gini ? Nggak biasanya juga kamu tidur siang. “ tanyanya sambil kembali mengelus pipi istrinya yang hendak memejamkan matanya kembali.
Andhara menggeleng kecil. “ Dhara nggak pa – pa bang. Dhara Cuma agak lemes. Terus ngantuk, pengen tidur. “ ucapnya.
“ He em. Badan kamu normal. “ ucap Julio sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Andhara. Andhara menarik tangan Julio, lalu menaruhnya di atas pipinya.
“ Di usap aja pipinya. Dhara nggak pa – pa kok. “ pintanya.
“ Tumben, manja banget istri abang. “ kekeh Julio. Tapi tak urung, diapun mengelus pipi Andhara lembut. “ Mandi yuk. Biar seger badannya. Abang juga udah rebusin air hangat buat kamu mandi. “ ajaknya.
“ Gendong … “ rengek Andhara sambil mengulurkan kedua tangannya.
“ Cuma gendong doang, apa mau sekalian abang mandiin ? “ goda Julio.
“ Mandiin sekalian juga boleh. Tapi Cuma mandi aja. Jangan sama yang lain. Dhara bener – bener kayak nggak punya tenaga deh bang. “ sahut Andhara.
“ Emang abang bilang gimana tadi ? Mandi kan ? “ kekeh Julio. Lalu dia segera turun dari ranjang, dan menggendong tubuh istrinya ala bridal style.
“ Kamu nggak ke kabupaten hari ini ? Biasanya tiap Senin kamu ada latihan. “ tanya Julio seraya membawa Andhara menuju kamar mandi yang ada di luar kamar. Karena kamar mandi di luar lebih luas. Jadi akan lebih mudah baginya untuk membantu istrinya mandi.
“ Males bang. “ jawab Andhara sambil mengeratkan pelukannya di leher suaminya. “ Tadi Dhara udah minta ijin sama pelatih sama bang Ben juga. “ lanjutnya.
Mandi, dan hanya sekedar memandikan. Itulah yang Julio lakukan. Meskipun ia harus dengan susah payah menahan pusakanya supaya tidak mengeluarkan kekuatannya.
“ Bang, akhir – akhir ini, tubuh Dhara kok jadi gampang capek ya ? Mana mau ngapa – ngapain males lagi. Gampang ngantuk juga. “ keluh Dhara kala mereka sudah duduk di kursi tengah.
Ia juga sudah meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya. Dan Julio membelai rambutnya dengan sayang.
“ Mungkin karena kamu kecapekan. Seminggu yang lalu, kita baru pulang dari Jawa Timur. Terus kamu harus persiapan acara kelulusan kamu. “ jawab Julio.
__ADS_1
“ Iya kali ya bang. “ sahut Andhara sambil menduselkan mukanya di perut suaminya.
Bersambung