
Andhara masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai dan wajah lesunya. Sudah hampir satu minggu Andhara tinggal di rumah keluarga Julio. Saat ini, ia baru saja pulang dari jalan – jalan. Tadi sang ibu mertua menawarinya untuk menemani, tapi Andhara bersikeras ingin mencoba mengenal kota kelahiran suaminya sendiri.
“ Assalamualaikum. “
“ Waalaikum salam. “ jawab bibi Sumilah, pembantu di rumah Julio. “ Kok udah balik, neng ? “ tanyanya.
“ Iya, bi. Badan Dhara rasanya agak nggak enak. Makanya jalan – jalannya tadi di cut dulu. “ jawab Andhara.
“ Mukanya neng pucat loh. “ ujar bibi sembari menghampiri Andhara dan berniat membantu menopang tubuhnya.
“ Masak sih bi ? Dhara Cuma ngerasa capek aja loh. Sama ngantuk, terus sedikit lemes aja. “ jawab Andhara sambil memegangi wajahnya. Mencoba mengecek suhu tubuhnya.
“ Nggak demam juga kok bi. Palingan ini entar habis rebahan bentar, pasti langsung mendingan. “ lanjutnya.
“ Mau bibi buatin teh hangat neng ? “ tawar bibi.
Dhara menggeleng lemah. “ Makasih bi. Nggak usah. Dhara mau tiduran aja. “ jawab Andhara sambil berlalu dari hadapan bi Sumi. Ia berjalan menuju tangga yang menuju kamarnya dan Julio.
“ Bunda kemana bi ? “ tanya Andhara menoleh sebentar ke arah bi Sumi yang sedang melanjutkan kegiatan menyapunya setelah tadi sempat terpending.
“ Ibu tadi katanya mau ke rumah temannya sebentar. Beliau bilang, kesepian di rumah sendirian. “ jawab bi Sumi sambil tersenyum dan memegangi ujung gagang sepatunya.
Dhara mengangguk, lalu berlalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya. Sampai di kamar, Dhara langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk sang suami.
Kini kepalanya terasa berat. Rasanya klieyengan seperti orang mabuk perjalanan. Dunia terasa berputar. Dhara mencoba memejamkan matanya supaya ia bisa menghilangkan pandangan matanya yang berputar.
Tapi tiba – tiba, perutnya terasa seperti di aduk – aduk. Makanan yang tadi sempat masuk ke dalam perutnya seolah mengobrak – abrik minta untuk segera di keluarkan kembali.
“ Huwweekk !! “ Dhara langsung lari ke kamar mandi saat rasa di perutnya sudah tidak bisa ia tahan.
Bi Sumilah yang sedang menyapu di dekat tangga, langsung menghentikan kegiatannya dan menengok ke atas kala mendengar suara Dhara seperti mau muntah. Ia langsung segera meletakkan sapunya, menjinjing roknya dan berlari menaiki tangga. Untung saja pintu kamar tidak Dhara tutup seutuhnya. Jadi bibi bisa mendengar suaranya tadi.
__ADS_1
“ Huwweekk !! “ suara Dhara berasal dari dalam kamar mandi.
“ Bi … “ ujar Dhara saat ia merasakan tengkuknya di pijat oleh seseorang dan ia langsung menoleh ke samping.
“ Huwwekk !! “
Byur
Isi perut Dhara kini keluar semua. Makanan dan minuman yang tadi di santapnya, kini kembali melihat dunia luar. Setelah bibi memijat tengkuknya, ia bisa lebih mudah mengeluarkan makanan dan minuman dari dalam perutnya.
“ Keluarin aja neng, biar lega. “ ucap bi Sum sambil tetap memijit tengkuk Andhara.
“ Udah bi. Perut Dhara udah kosong. “ lirih Andhara sambil membersihkan toilet dengan menyentorkan air ke dalam kloset.
Lalu ia menegakkan tubuh lemahnya sambil berpegangan pada meja wastafel dengan di bantu bi Sumi. Lalu ia menyalakan wastafel untuk berkumur dan membersihkan sekitar bibirnya.
“ Bibi bantuin ke kamar ya neng ? “ tawar bi sumi setelah Andhara selesai membersihkan mukanya.
“ Bi, buatin teh panas ya bi. Mulut Dhara pahit rasanya. “ pinta Andhara lirih.
“ Iya neng. Sebentar ya neng, bibi ke dapur dulu. “ jawab bibi masih sambil membenarkan selimut Andhara.
Bibi lalu segera pergi ke dapur dan membuatkan Andhara teh panas.
“ Neng, ini tehnya. “ ucap bibi setelah ia sudah kembali ke kamar Andhara.
Andhara bangun dari rebahannya, dan dengan di bantu bi Sumi, ia meminum teh itu sedikit demi sedikit.
“ Apa tidak sebaiknya neng telpon mas Julio aja ? “ tanya bi sumi sembari memegangi gelas Andhara.
Andhara menggeleng. “ Nggak usah bi. Abang lagi kerja. Entar dia malah panik kalau denger Dhara nggak enak badan. “ jawab Andhara sambil kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
“ Bibi tolongin balurin punggung Dhara pakai minyak kayu putih aja. Mungkin Dhara masuk angin ini bi. “ pinta Dhara.
“ Iya neng. “ bi Sumi menaruh gelas minum Andhara di nakas dekat ranjang sementara. Lalu ia mengambil minyak kayu putih yang selalu berada di dekat Andhara dan membantu Andhara mengoleskan ke punggungnya sambil memijitnya perlahan.
“ Apa bibi antarin neng Dhara ke rumah sakit mas Julio aja ? Kita periksa aja neng. “ tawar bi Sumi.
Andhara kembali menggeleng. “ Nggak usah bi. Dhara males bau etanol. Dhara juga nggak suka minum obat. “
“ Dhara mau tidur aja ya bi. Moga aja entar habis tidur, tubuh Dhara enakan. “ lanjutnya.
“ Iya deh neng. Kalau gitu, bibi keluar dulu. Nanti kalau butuh apa – apa, neng teriak aja. “ ujar bibi sambil kembali membenarkan letak selimut Andhara.
Andhara mengangguk, lalu mengubah posisi tidurnya miring membelakangi bibi.
“ Neng, pintunya nggak bibi tutup ya. Jadi kalau neng manggil bibi. Bibi dengar. “ ucap bibi.
“ Iya bi. “ jawab Dhara sambil memejamkan matanya. Berharap rasa mual dan kliyengannya akan segera hilang saat ia bangun nanti.
Sembari dengan mata yang terpejam, pikiran Andhara berkelana. Ia memikirkan kondisi tubuhnya yang tiba – tiba cemen akhir – akhir ini.
Tiba – tiba saja tubuhnya gampang lemas, lebih sering mengantuk, kepala sering terasa berat, perut yang tiba – tiba terasa mual, bahkan muntah seperti tadi.
“ Ga mungkin. “ gumamnya sambil masih memejamkan matanya. Kini pikirannya melintas ruang dan waktu. Mencoba mencari – cari kapan dirinya dan suaminya kecolongan, melakukan itu tanpa menggunakan pengaman.
Andhara bukanlah seorang gadis kampung yang polos dan bo_doh. Jika hanya sekedar tanda – tanda perempuan hamil, ia juga tahu. Dan jika di pikir – pikir, semua tanda itu ia alami belakangan ini.
“ Seingat gue Cuma sekali. Mana mungkin sekali aja langsung jadi. “ gumamnya kembali sambil meremas selimut di bagian perutnya. Ia ingat kejadian saat berada di Nganjuk dulu.
Siang yang menggelora di dalam kamar mandi. Gara – gara lumpur, masa depannya akan berubah dari apa yang ia inginkan selama ini. Yang ia cita – citakan semenjak kematian sang bapak. Tanpa terasa, air mata mengalir dari ujung matanya.
Bersambung
__ADS_1