
Update sesi kedua di tiap weekend ya sudah meluncur ya guysss.....
_________________________
Julio masuk ke dalam rumah tukung urut itu setelah beberapa kali melakukan panggilan ke Pak Sofyan dan tidak mendapat jawaban. Saking tergesanya, ia sampai lupa melepas helm full facenya. Di dalam ruangan, ia melihat beberapa perempuan yang mungkin sedang menunggu antrian.
Para perempuan itu melihatnya dengan pandangan aneh dan sambil berbisik – bisik.
“ Maaf, nona eh bu… “ sapanya ke salah satu pengantri yang sepertinya memang masih muda, tapi terlihat perutnya agak membuncit.
“ Kenapa om ? Eh mas ? Eh kak ? “ sapa perempuan itu balik.
“ Boleh saya bertanya ? “ tanya Julio.
“ Maaf, kak . Bisa di lepas dulu helmnya ? Saya tidak dengar kakaknya ngomong apa. “ sahut perempuan itu.
Sedangkan di sisi yang lain perempuan lain pada berbisik bahkan ada yang menyeletuk.
“ Mungkin masnya malu makanya nggak lepas helm. Cari pacarnya ya mas ? Hamil, pacarnya? “ ucap perempuan yang ada di sisi yang lain dari yang di tanya Julio tadi.
“ Pasti pacarnya juga hamil dan mau melakukan abor_si. Dasar laki – laki nggak tanggung jawab. “ celetuk perempuan yang lainnya lagi.
“ Semua laki – laki tuh sama. Cuma mau enaknya doang. Kalau udah hasilnya kayak gini, main tinggalin begitu aja. “ sahut yang lainnya lagi sambil menunjuk ke perutnya yang masih rata.
Ah, apa mereka semua berniat menggugurkan kandungannya semua ? Jahat sekali mereka. Tega mereka membunuh hasil karya mereka sendiri. Padahal anak mereka tidak berdosa sama sekali. Orang tuanyalah yang berdosa. Kenapa harus anak yang menjadi korban. Batin Julio setelah melepas helmya.
__ADS_1
“ Ganteng. Makanya nggak mau tanggung jawab. Pasti mau cari korban yang lain lagi. “ sarkas perempuan itu.
Julio mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ia lantas melenggang mendekati salah satu pintu sebuah kamar yang tertutup karena ia tidak melihat istrinya di sana. Pikiran Julio sudah semakin kacau. Ia takut jika sang istri benar – benar ingin melakukan abor_si. Ia takut jika pasien yang berada di dalam ruangan itu adalah istrinya.
Julio menarik nafas dalam – dalam, lalu meraih handle pintu dengan tangan yang gemetar. Matanyapun sudah berkaca – kaca. Tapi tiba – tiba seorang perempuan datang menghampiri.
“ Maaf, tuan mau apa ? Tuan tidak bisa masuk ke ruangan itu begitu saja. “ ucap perempuan itu menghalangi Julio.
“ Saya … “ kembali Julio menarik nafasnya dalam – dalam. “ Saya mencari istri saya. Apa dia ada di dalam ? “ tanyanya.
“ Maaf tuan. Kami tidak tahu siapa istri tuan. “ jawab perempuan itu.
“ Tolong, nyonya. Katakan apakah istri saya berada di dalam sana ? Jika memang iya, ijinkan saya masuk. “ ucap Julio penuh harap.
Tapi bagaimanapun juga, perempuan itu tidak akan mengatakan apapun. Selain memang ia tidak tahu siapa istri dari laki – laki yang ada di hadapannya ini, bosnya juga memiliki peraturan. Siapapun yang bertanya tentang pasien, ia tidak boleh memberitahukan identitasnya.
“ Ya, Pak Sofyan . “ ucapnya kala menerima panggilan itu.
“ Maaf, den. Aden tadi menelpon, tapi saya tidak dengar. Ada apa ya den ? Maaf, saya belum mengetahui keberadaan neng Dhara. “ sahut Pak Sofyan di seberang.
Julio menghela nafas panjang kala mendengar jika Pak Sofyanpun belum mendapatkan petunjuk tentang keberadaan sang istri.
“ Pak, saya mau tanya tentang nomor polisi motor bapak. Bisa Pak Sofyan sebutkan ? “ pinta Julio penuh harap, jika motor di luar tadi bukanlah motor satpam rumahnya yang di bawa Andhara.
“ Oh, nomernya D XXXX AZ den. “ jawab pak Sofyan.
__ADS_1
Mendengar nomor polisi motor yang di sebutkan Pak Sofyan, Julio langsung memejamkan matanya erat beberapa saat. Ia bahkan lupa jika Pak Sofyan masih dalam panggilan.
“ Halo den ? Memang aden melihat motor saya ? “ tanya pak Sofyan menyadarkan Julio.
“ Oh, maaf pak. Sebaiknya Pak Sofyan kembali mencari istri saya lagi. Saya juga akan mencarinya lagi. “ jawab Julio. Setidaknya ia sekarang sedikit lega, karena motor yang di luar ternyata bukan milik Pak Sofyan.
Tanpa berpamitan dengan perempuan yang menghalanginya tadi, ia segera meninggalkan tempat itu untuk mencari kembali keberadaan sang istri.
Julio kembali berputar dan memutari hampir separuh kota kelahirannya. Hari hampir petang. Jam Ale_xander Cris_ty yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Julio semakin cemas. Pak Sofyan juga belum memberi kabar.
Akhirnya dia menepi, sambil masih di atas motor gedenya, ia merogoh ponselnya untuk menelepon sang bunda. Bertanya mungkin saja sang istri sudah kembali ke rumah.
Ternyata hasilnya nol besar. Andhara belum kembali ke rumah. Lalu Julio mencoba mendial nomer sang istri. Siapa tahu kali ini ia beruntung dan istrinya mengangkat panggilannya.
Tapi justru hal ini membuat Julio semakin cemas dan panik. Nomer ponsel sang istri tidak aktif. Hanya si lembut operator yang menjawab. Tanpa menunggu lama, ia kembali melajukan motornya. Berharap keajaiban terjadi yang tiba – tiba sang istri berada di depannya. Selama hampir setengah jam ia kembali mengendarai motornya.
Dan keajaiban yang di harapkan di kabulkan oleh Yang Di Atas. Ia melihat motor milik Pak Sofyan terparkir di pinggir jalan. Ia langsung menyalakan lampu sein kanannya untuk menyeberang dan menyusul kemungkinan sang istri berada.
Dengan buru – buru Julio menstandarkan motor gedenya, lalu melepas helm full facenya dan turun dari atas motor. Matanya memicing melihat seseorang yang perawakannya mirip sang istri sedang mengantri untuk membeli sesuatu.
Julio berjalan cepat untuk menghampiri seseorang itu. Ketika sampai di dekat orang itu, Julio menarik tangannya hingga orang itu berbalik badan. Betapa lega dan plong hati Julio saat ia melihat orang yang sedari tadi ia cari – cari sampai memutari kota Bandung. Julio sontak menarik Andhara ke dalam pelukannya. Ia dekap sang istri dengan erat dan lama sambil bergumam mengucap syukur.
Sedangkan Andhara, si pelaku hanya terdiam karena keterkejutannya. Hampir saja ia menonjok dan menendang laki – laki itu karena Andhara ia adalah laki – laki kurang ajar yang mempergunakan kesempatan dalam kesempitan.
Tapi saat tubuhnya menempel ke tubuh Julio, dan merasai hangatnya dekapan serta bau badan bercampur parfum milik sang suami, Andhara langsung mengenali jika laki – laki itu adalah suami yang sangat ia cintai.
__ADS_1
Bersambung