
“ Hai my bestieeee ….. “ teriak Andhara yang tengah menggandeng lengan suaminya saat melihat para sahabat senasibnya. Bagaimana tidak senasib, jika mereka selalu saja mendapatkan hukuman barengan ? Hah !!
“ Hai my hunny bunny sweety gue ….. “ pekik Lila. Yang langsung menyerbu ke arah Andhara.
Ia bahkan mendorong tubuh Julio sedikit menjauh karena ia akan memeluk sahabat gesreknya ini. Membuat Julio hanya menggelengkan kepalanya. Lalu di susul oleh Eka. Mereka langsung meninggalkan para orang tua mereka saat melihat sahabatnya ini datang.
“ Apa kabar loe ? Kangen tahu nggak kita – kita sama loe. “ ucap Eka.
“ Gue always baik lah. Sehat selalu. Husband gue kan dokter. Dia nggak bakalan biarin istrinya yang cantik jelita ini sakit lah. “ sahut Andhara.
“ Dih, najis !! “ sahut Eka dan Lila bersamaan.
“ Eh, loe berdua kagak kangen sama gue ya ? Sini, gue peluk kalau kangen !! “ pekiknya ke Soni dan Putra yang nampak malas dengan ke alay an sahabatnya itu.
“ Gue masih cukup sadar diri. Gue nggak mau di suntik bius sama noh !! “ sahut Soni sambil menunjuk Julio dengan dagunya. Laki – laki itu dari tadi menatap dan melihat interaksi istrinya dengan sahabat – sahabatnya itu.
Hahaha … ketiga cewek itu tertawa bersamaan.
“ Loe tenang aja. Laki gue udah jinak. “ seloroh Andhara.
Ctak. Julio menjitak kepala Andhara.
“ Awss… Sakit tahu bang. “ protes Andhara.
“ Eh, kemana si emak kesayangan gue ? “ tanya Soni.
“ Iya ih. Kok emak nggak kelihatan. “ sahut Eka sambil celingak celinguk.
“ Emak masih kerasan di Jawa Timur. “ jawab Andhara.
“ Jadi loe bawa laki loe gantiin emak ? “ tanya Lila.
Dhara mengangguk.
“ Yakin loe ? Nggak takut teman – teman sama pihak sekolah pada curiga ? “ tanya Lila kembali.
“ Doi bilang mau kasih pengumuman sekalian kalau kita udah nikah. Cuman sayangnya kita tadi lupa nyiapin bannernya. “ jawab Dhara santauy sambil cengengesan.
Eka dan Lila menggelengkan kepalanya takjub. “ Laki loe bener – bener laki. “ ucap Lila.
“ Iyalah laki. Loe kira bengkok ?? Hahaha … “
__ADS_1
“ Sayang, abang masuk dulu. “ pamit Julio saat terdengar pengumuman yang mengatakan para wali di persilahkan memasuki aula dan menempatkan diri di bangku belakang.
Dhara mengangguk sambil tersenyum. “ Awas loh, abang jangan genit – genit sama ibu – ibu di dalam. “ Dhara mengingatkan.
“ Ck ! “ keempat sahabatnya berdecak bersamaan sambil memutar bola matanya malas.
Julio tersenyum, lalu mengelus pipi Andhara sebentar sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Andhara bersama teman – teman satu frekuensinya.
“ So sweetttt …. “ pekik Lila. “ Mau dong punya suami kayak gitu .. “ lanjutnya.
Sebuah dorongan di kepala Lila dapatkan dari Putra. “ Sekolah dulu yang bener. “ ketusnya.
.
.
.
“ Selamat kak Dhara …. “ ucap salah satu adik kelas Dhara sambil memberikan setangkai bunga. Sayangnya bukan bunga bank. Dan itu membuat Andhara merasa kecewa.
“ Selamat kan Lila … Kak Eka … “ ucapnya ganti ke para sahabat Andhara. “ Kami pasti akan sangat merindukan kehadiran kalian di sekolah ini. “
“ Sekolah pasti bakalan sepi kalau tidak ada kalian. “ sahut yang lain.
“ Kami siap menggantikan kalian untuk menemani sang tiang bendera. Karena kami juga sangat menyayangi negara kita tercinta. Hormat sama bendera merah putih itu, wajib hukumnya. “ sahut anak yang lain yang sepertinya anak – anak itu akan menjadi penerus Andhara dan sahabat gesreknya.
Dhara dan sahabatnya menepuk jidatnya sendiri – sendiri.
“ Tidak. Kalian tidak boleh begitu. Jangan kalian meniru kami. Plagiat itu namanya. “ jawab Eka.
“ Kalian harus belajar dan sekolah yang bener. Jangan suka bolos sekolah. Kasihan bu Handari jika kalian sering bolos sekolah. Beliau sudah semakin tua. Jangan kalian tambah beban hidupnya. Karena beban tubuhnya saja sudah semakin berat. “ lanjut Soni.
“ Ha … ha … ha …. “ para adik kelas yang mungkin satu frekuensi dengan mereka itu malah tergelak bersamaan.
“ Pak dokter ? Pak dokter kok ikut acara wisuda kita hari ini ? “ Andhara dan gerombolannya langsung menoleh ke sumber suara yang tidak jauh dari mereka. Dan Andhara langsung menyipitkan matanya sambil menggigiti kuku – kuku jarinya karena kesal dengan tingkah temannya itu.
Ups. Bukan teman baik tentunya. Tapi teman berantem. Yah, dia adalah Rosada.
“ Undangan khusus dari sekolah ya ? Atau … pak dokter sengaja datang karena ada seseorang yaaaang …. “ lanjut Rosada sambil menampilkan mata genitnya.
“ Saya … “
__ADS_1
“ Duh, pak dokter. Sada jadi tersanjung. “ dengan kepedean tingkat dewa, Sada langsung menelusupkan kedua tangannya di lengan kiri Julio dan membuat Julio tersentak kaget.
“ Maaf, bisa lepas tangannya ? “ ucap Julio dengan suara dingin dan berusaha menarik lengannya yang di gelayuti cabe – cabean menurut Andhara.
Julio berusaha melepas tangannya sambil dengan mata yang sesekali mengedar untuk mencari sosok sang istri.
Saking begitu banyaknya cewek – cewek berkebaya dengan usia yang seumuran, dan wajah yang bermake up, Julio jadi kesulitan untuk menemukan sosok sang istri.
Lain halnya dengan Andhara. Ia bisa begitu dengan mudah menemukan keberadaan suaminya, karena suaminya itu memang terlihat paling mencolok. Karena penampilannya, dan karena ia sepertinya paling muda di antara para wali yang lain.
Jika saja Dhara tidak mengingat hari ini ia sedang tampil anggun, mungkin ia sudah menjambak rambut Rosada dan di tariknya ke tengah lapangan, lalu ia injak perempuan itu.
“ Pengen gue makan hidup – hidup tuh anak !! “ Lila mengepalkan kedua tangannya.
Andhara menarik nafas dalam – dalam menenangkan gemuruh di hatinya.
“ Andhara …. “ panggil seorang laki – laki.
Karena panggilan itu lumayan kencang, membuat Andhara dan beberapa orang yang di sana menoleh. Berikut dengan Julio. Ia langsung mengedarkan pandangannya ke sumber suara yang sepertinya memanggil nama sang istri.
“ Hai Dhar … “ sapa laki – laki itu setelah ia berada di dekat Andhara.
“ Oh, hai Fad. “ sapa Andhara balik sambil menampilkan senyum kakunya.
“ Selamat Andhara. Atas kelulusan kamu. “ ucap Fadli sambil memberikan serangkai bunga mawar.
“ Selamat untukmu juga Fad. “ sahut Andhara sambil menerima bunga itu. “ Maaf, gue nggak kasih loe apa – apa. Karena emang gue nggak bawa apa – apa. “ tambahnya sambil terkekeh untuk menghilangkan rasa canggungnya.
“ Aku nggak butuh barang apapun dari kamu kok. Yang aku butuhin Cuma hati kamu. “ ucap Fadli sambil menampilkan senyuman manisnya. Membuat Putra memutar bola matanya malas.
“ Aku masih menunggu kamu. Seperti ucapanku waktu itu, saat kita lulus, aku akan bertanya kembali kepadamu. “ lanjutnya.
Sedangkan Andhara sudah menelan salivanya dengan susah payah. Ini yang namanya senjata makan tuan.
“ Dhar, aku benar – benar jatuh cinta sama kamu. Sekarang kita sudah menyelesaikan masa putih abu – abu kita. Jadi, apakah sekarang kamu menerima cintaku ? “ ucap Fadli dengan pandangan penuh permohonan.
“ Fa … “
“ Dia tidak akan pernah bisa menerima cinta kamu. “ ucap Julio yang datang dengan tiba – tiba, memotong ucapan Dhara, dan meraih pinggang Andhara ke dalam pelukannya.
“ Karena dia, sudah mempunyai cinta yang paling indah. “ lanjutnya sambil menatap lembut sang istri yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Fadli memandang Julio dan Andhara bergantian. “ Andhara … Ini … “
Bersambung