Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Jungkir balik


__ADS_3

Sampai di dalam kamar, Andhara di buat bingung sendiri harus ngapain. Mau naik ke atas ranjang, takut tidak diijinkan oleh si pemilik. Mau tidur di mana coba dirinya malam ini.


Kamar itu hanya memilki kursi single dan sebuah meja di depannya. Tidak mungkin kan dia tidur di kursi sambil duduk ? Bisa – bisa kena tengeng ( sakit kaku pada leher ) dia. Tapi akhirnya ia ingat akan sesuatu.


“ Mmmm, Dhara ambilkan bajunya boleh ? “ tanya ke Julio yang masih di belakangnya. Ia teringat akan kata – kata emak dan bu RT tadi. Tugas seorang istri adalah melayani semua kebutuhan suami. Bukankah saat ini suaminya butuh baju untuk ia pakai ?


Julio mengangguk sambil tersenyum. Duh, abang…. Tolong simpan lah dulu senyumanmu itu bang. Dhara takut nggak kuat. Dhara takut khilaf. Pekik hati Dhara.


Andhara segera berjalan dengan cepat menuju almari yang ada di kamar itu. Ia yakin, pasti di sanalah baju – baju Julio berada. Ia lalu membuka salah satu pintunya. “ Mau pakai baju yang mana, pak dokter ? “ tanyanya tanpa menoleh ke arah Julio. Begitu banyak baju yang ada di sana, membuatnya bingung.


“ Terserah Dhara mau nyuruh abang pakai baju yang mana. Apapun pilihan Dhara, pasti abang pakai. Yang penting nyaman buat tidur. “ jawab Julio yang mampu membuat Dhara merasa di atas awan. So sweet…. Boleh nggak kalau Dhara baper saat ini ? tanya Dhara dalam hati.


Andhara mengangguk, lalu menarik salah satu kaos dan celana pendek dengan penuh kehati – hatian takut merusak susunan baju yang terlihat sangat rapi.


“ Sekalian ce_lana dalamnya ya. “ pinta Julio saat ia melihat Andhara menutup pintu almari tadi kembali. Andhara tercekat.


WHAT ? Ce_lana dalam ? Yang benar saja ? Tangan gue, jadi nggak perawan dong. Kalau malam ini gue udah pegang sangkarnya, bisa – bisa besok gue di minta pegang …… pikiran Andhara sudah mulai hilling kembali. Ia lalu menggeleng – gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran mesumnya.


“ Ce_lana dalam abang ada di pintu yang sebelah. Nanti kamu kalau mau menaruh ce_lana dalam milik kamu, taruh aja di sana juga. “ Julio makin memperpanas suasana saja. Bukannya langsung mengambilkan, Andhara malah langsung menoleh dan menatap laki – laki yang baru berstatus suaminya beberapa jam yang lalu ini.


“ Cepetan ambilnya. Abang udah kedinginan ini. “ pinta Julio kembali. Lalu dengan tangan gemetar, Andhara membuka pintu sebelah. Terlihatlah di sana warna merah, kuning, hijau, tapi bukan pelangi tersusun di dalam almari. Dih, komplit semua warna ada. Eh, tapi tunggu…. Kenapa nggak ada yang warna pink? Andhara terkikik dalam hati.


Lucu kali ya kalau pak dokter pakai ce_lana dalam warna pink menyala. Apalagi ada rendanya. Hua… ha… ha… Andhara tertawa dalam hati.


“ Dhar ? “ panggil Julio karena Dhara malah bengong di depan almari.


“ Eh, iya pak dokter… Mau yang warna apa ? “


“ Terserah kamu. Kamu pilihin aja warna kesukaan kamu. “ goda Julio.


Cleguk

__ADS_1


Kenapa pak dokter malah bilang kayak gitu sih. Kan jadi malu guenya. Pekik Andhara dalam hati.


Dengan ragu – ragu, Andhara mengambil secara asal ce_lana dalam milik Julio, lalu segera menutup pintunya kembali. Ia berjalan mendekat ke arah Julio, dan segera memberikan baju yang ia ambilkan tadi.


“ Jadi, kamu suka warna merah ya . “ goda Julio.


“ Siapa bilang ? “


“ Nih, abang tadi nyuruh kamu ambilin ce_lana dalam abang dengan warna kesukaan kamu. Dan kamu ambil yang warna merah menyala ini. Warna yang menantang ya. “ goda Julio.


“ Apaan sih pak dokter. “ wajah Dhara jadi bersemu. “ Udah, cepetan pakai baju. Tadi katanya kedinginan. “


“ Kamu mau lihat abang pakai baju ? “


“ Nggak. “ jawab Andhara sambil menggeleng.


“ Kalau kamu nggak mau lihat, malah berdiri di situ, gimana abang mau pakai baju ? Abang harus lepas handuknya dulu loh. “ jawab Julio sambil menunjuk ke arah handuk yang masih melilit di pinggangnya menutupi aset berharganya.


Julio hendak melepas handuk itu karena Andhara masih tidak bergeming. “ Eh, pak dokter mau ngapain ? “ tanya Andhara.


“ Kira – kira dong pak dokter. Jangan pernah pak dokter menodai mata suci Dhara ya. “ sungutnya.


“ Oh my to the God. Jantung gue. Nggak nyangka, gue akhirnya punya sendiri yang kayak gini. “ batin Andhara.


Ia melirik – lirik kotak – kotak seperti tahu, tapi bukan tahu meskipun warnanya juga putih di bagian perut Julio. Biasanya ia hanya nontonin yang modelin begitu di layar box office aktor – aktor kesayangannya seperti pemilik gada THOR Chris Hemsworth. Tapi kali ini, ia punya sendiri.


“ Boleh nggak sih kalau gue pegangin. Gemes deh pengen nyubit. Ups, bisa kecubit nggak sih itu. “ Pikiran liar berkeliaran di otak minimalis Andhara.


“ Lama – lama iman gue bisa terkikis kalau mesti lihat yang beginian tiap hari.Bukan Cuma dalam khayalan loh ini mas bruhhh !!! This is real. Sekssehhh abiss !! Gue kayaknya nggak jamin, gue nggak bakalan khilaf ! Huft ! “ gumam Andhara.


“Kamu bicara apa ? “ tanya Julio yang seperti mendengar gumaman Andhara.

__ADS_1


“ Eh… Nggak… Nggak kok pak dokter. “ Lalu Andhara meloncat ke atas ranjang, membuka selimut lebar – lebar, kemudian ia masuk kedalam selimut dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala.


Mata ia tutup pakai selimut supaya tidak melihat secara langsung pemandangan yang menyilaukan mata, hati, juga otak. Tapi otaknya tetap berkeliaran membayangkan roti sobek tapi lebih mirip tahu kotak. Kalau perutnya aja liat kayak gitu, gimana sama singkongnya ? Apa mungkin malah mirip talas Bogor ? pikir otak mesum Andhara.


Tiba – tiba ranjang kosong di sebelahnya bergerak. Menyadarkan Andhara dari otaknya yang sedang hilling. Cepat – cepat ia mengintip ada apakah gerangan dengan menurunkan sedikit selimutnya. Melihat Julio yang masuk ke dalam selimut yang sama dengannya, matanya membola.


“ Pak dokter mau ngapain ? “ beonya.


“ Tidur. “ jawab Julio sambil mematikan lampu yang saklarnya berada di dekat tempat tidur. Ia menggantinya dengan lampu yang lebih redup.


“ Tapi kok – “


“ Nggak mau tidur satu ranjang sama abang ? Kita ini suami istri. Jadi sudah wajar kalau tidur satu ranjang begini. “ sahut Julio memejamkan matanya. Padahal pikirannya selalu bertanya, apakah dirinya bisa tidur malam ini. Malam dimana dirinya pertama kali tidur dengan seorang perempuan selain sang bunda.


“ Yaa… tapi kan … “


“ Kamar tidur di rumah ini Cuma ada dua. Yang satu sudah di tempati bunda sama ayah. Jadi mau tidak mau, malam ini kita berbagi ranjang. “ potong Julio.


Tiba – tiba Julio merasakan kasur di sebelahnya bergerak. Ia membuka matanya. “ Mau kemana kamu ? “ tanyanya.


“ Dhara tidur di bawah aja. “ sungutnya.


Julio memegang lengan Andhara. “ Abang nggak punya alas tidur di rumah ini. Tikarpun abang nggak punya. Kamu mau tidur di lantai beralaskan apa ? Mau masuk angin kamu kalau tidur di lantai langsung ? “ ucapnya dengan tatapan tajamnya.


“ Sudah, tidur. Besok kamu harus sekolah. Harus bangun pagi. “ titah Julio sambil pandangan matanya menunjuk ke arah kasur yang di tempati Andhara tadi.


“ Kamu nggak usah khawatir. Abang nggak akan ngapa – ngapain. Kamu bisa pegang janji abang tadi. Abang akan memintanya setelah kamu selesai sekolah. “ melihat Andhara yang masih tidak bergeming, Julio meletakkan sebuah guling di tengah.


“ Guling ini akan jadi pembatas kita kalau kamu tidak percaya sama omongan abang. Sekarang, ayo tidur. Sudah malam. “ lanjutnya sambil merebahkan tubuhnya kembali.


Dengan ragu – ragu, Andhara kembali ke posisinya. Ia merebahkan tubuhnya kembali dengan perlahan sambil sesekali melirik ke arah Julio yang sudah memejamkan matanya.

__ADS_1


“ Kalau gue yang khilaf gimana ? Gue kalau tidur kan udah kayak pesawat tempur. Jungkir balik. “ gumam Andhara miris. Bukannya tak mendengar gumaman Andhara, Julio memang lebih memilih diam sambil tersenyum tipis daripada harus melalui malam dengan saling beradu argumen dengan gadis yang sepertinya enggan mengalah jika bicara ini. Gadis yang kini telah resmi ia nikahi.


Bersambung


__ADS_2