
Pagi menjelang. Pagi itu, matahari sudah menerpa masuk ke dalam kamar Julio, tapi Andhara masih asyik bergelung dengan selimutnya. Bahkan matanya masih tetap terpejam.
Sang suami yang sudah terbangun lebih dulu, lebih memilih membiarkan istrinya itu tetap tidur. Istrinya itu butuh istirahat lebih. Hari ini, ia juga mengajukan cuti dari rumah sakit. Ia ingin menjaga sang istri seharian ini. Mungkin ia ingin mencegah hal – hal yang seharusnya tidak terjadi.
Andhara menggeliat pelan saat ia mulai merasa udara terasa agak panas. Karena bagaimanapun juga, meskipun AC di kamar itu tidak di matikan, tapi sinar matahari yang masuk membuat udara menjadi lebih panas. Apalagi perut yang sudah berdendang dangdut minta diisi.
“ Laper . “ ucapnya sambil mengusap perutnya. Ia lalu bangun dari tidurnya. Duduk sambil mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan.
“ Sarapan dulu. Nih, abang udah bawain sarapan buat kamu. Abang tahu, kamu pasti lapar ketika bangun tidur. “ ucap Julio dengan menampilkan senyuman terbaiknya. Senyuman yang mampu meruntuhkan pertahanan Andhara kemarin – kemarin.
Tapi berbeda untuk hari ini. Senyuman itu tidak mampu mencairkan Andhara yang membeku. Mendengar suaranya saja, membuat Andhara langsung teringat kejadian kemarin. Mimpi buruk menurut Andhara.
Andhara melirik Julio dengan lirikan sinisnya tanpa mau menjawab omongan suaminya itu. Ia malah bangkit dari atas tempat tidur, lalu hendak keluar dari kamar. Tapi Julio langsung mencekal lengannya.
“ Mau kemana ? “ tanya Julio.
Masih enggan menjawab, Dhara menepis tangan Julio.
“ Sayang, kamu boleh marah sama abang. Tapi setidaknya, makan dulu. Isi perut kamu. Kata bibi, dari kemarin siang kamu nggak makan. “ ucap Julio.
“ Sayang … Sayang … Eneg Dhara dengernya. “ ketus Dhara.
“ Maaf. Nggak di ulangi lagi. “ sahut Julio mengalah.
“ Kenapa jam segini masih di rumah sih ? “ gerutu andhara lirih.
“ Hari ini abang cuti. Mau jagain kamu. Mau merawat kamu. “ jawab Julio yang masih mendengar gerutuan Andhara meski lirih.
__ADS_1
“ Dhara nggak sakit ! Nggak perlu di rawat segala ! “ masih dengan suara ketus.
“ Iya. Kamu nggak sakit. Tapi makan dulu. “ rayu Julio.
“ Nggak laper !! “ sarkas Andhara.
Kryuuk … Kryuuk ..
Duh, lain di mulut, lain di perut. Mulut bilang tidak lapar, tapi ternyata perut punya pendapat sendiri.
“ Ya sudah, abang keluar dulu bentar. “ ucap Julio lalu menaruh nampan yang berisi sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar iris kesukaan Dhara dan segelas susu hamil rasa coklat di atas nakas.
Julio sengaja meninggalkan Andhara sendirian, karena Julio yakin, jika istrinya itu pasti mau makan kalau dirinya tidak di sana.
Setelah melihat sang suami menutup pintu kamar, Andhara segera duduk di tepi ranjang, dan meraih sepiring nasi goreng yang sebenarnya semenjak tadi sudah membuat salivanya hendak menetes. Dari aromanya saja, Dhara sudah ileran. Gimana jika sudah mencicipi rasanya.
“ Uh, kenyangnya … “ ucapnya sambil mengusap – usap perutnya. Ia mengambil remote AC, dan menurunkan suhunya. Perut kenyang, dan terpaan sinar mentari membuat udara makin terasa panas. Bahkan Andhara sedikit berkeringat.
“ Ahh … Nikmat mana yang engkau dustakan jika sudah begini, Ya Allah … “ ucapnya sembari tersenyum menyibak rambutnya ke belakang, merasai sejuknya AC dan sinar mentari secara bersamaan.
“ Astagfirullahaladzim !! Gue belum gosok gigi. Pantesan aja dari tadi gigi gue berasa tebel. “ pekik Andhara.
“ Cuci muka juga belum. Udah ngabisin sepiring nasi goreng. Jadinya nasi goreng rasa iler. Hehehe … “ kekehnya sambil turun dari atas ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi.
“ Huweek … “ baru juga ia menggosok giginya sebentar, tiba – tiba perutnya berasa di aduk – aduk. Ia lalu melempar gosok giginya sembarangan dan segera membuka tutup kloset.
“ Huweek …. Huweekk … “ seseorang tiba – tiba memijit tengkuknya. Andhara sudah hafal tangan siapa itu. Julio yang memang sedari tadi masih menunggu di depan pintu, ketika mendengar suara istrinya yang sepertinya muntah – muntah, langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“ Huweek … Huweekk … “ keluarlah semua nasi goreng yang ia makan tadi berserta susu coklatnya juga.
Kali ini Andhara tidak bisa meneruskan aksi marahnya terhadap sang suami, karena ia lebih fokus dengan apa yang ia rasakan sekarang. Gado – gado. Semuanya ada. Mulai dari perut mual, eneg, kepala gliyengan, tubuh gemetar, keringat yang mengucur, dan mulut yang pahit.
Julio segera menyiram kloset yang penuh dengan muntahan istrinya. Lalu ia mengambil air dengan tangannya dan ia gunakan untuk membersihkan bibir Andhara. Sedangkan Andhara, ia sudah menyandarkan punggung dan kepalanya di tubuh Julio.
“ Mau berkumur dulu ? “ tanya Julio. Andhara hanya mengangguk dengan mata terpejam dan nafas terengah.
Julio segera mengambilkan segelas air dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh Andhara yang gemetar.
“ Ini airnya. “ Andhara membuka matanya, lalu memasukkan air yang Julio kasih dan berkumur.
Dengan telaten dan lembut, Julio menyeka bibir basah Andhara, lalu mengangkat tubuh lemas Andhara untuk ia gendong dan ia bawa ke kamar. Andharapun tak menolak karena memang ia tidak bertenaga saat ini.
“ Nasi goreng gue terbuang sia – sia. “ gumamnya.
“ Mau abang ambilin lagi nasi gorengnya ? Di bawah masih ada. “ tawar Julio setelah ia merebahkan tubuh Andhara di atas tempat tidur.
Andhara menggeleng. “ Nggak. Mulut Dhara pahit. Perut Dhara masih mual. “ lirihnya. Ia lalu memiringkan tubuhnya. Julio mengulurkan tangannya, lalu ia memijit perlahan punggung, bahu, pundak, juga tengkuk Andhara.
Saat Julio masih sibuk memijit, tiba – tiba tangannya di tarik oleh Andhara.
“ Elusin perutnya biar nggak mual lagi. “ Dhara membawa tangan Julio masuk ke dalam kaosnya yang kebesaran. Julio tersenyum. Dan iapun dengan senang hati mengelus perut rata sang istri.
“ Dhara mau tidur lagi bentar. “ lirihnya.
“ Iya. Tidurlah dulu. Abang bakalan jagain kamu. “ sahut Julio, lalu mengecup pundak Andhara.
__ADS_1
Bersambung