
Drrt…. Drrt …
“ Siapa sih malam – malam gini telepon ? Pasti biang – biang rese nggak ada akhlak deh. Siapa lagi kalau bukan mereka. “ umpat Dhara sambil tangannya menggerayang ke samping mencari ponselnya. Sebenarnya ia belum lah tidur. Tapi ia hanya memejamkan matanya berharap ia bisa tertidur.
“ Hmm. “ ucapnya setelah ia menggeser layar ponselnya.
“ Assalamualaikum.. “ sapa orang di seberang.
Terkejut, sudah pasti. Dhara langsung membuka matanya lebar – lebar lalu menjauhkan ponselnya dari telinganya guna melihat apakah pendengarannya masih normal atau ia hanya sedang berhalusinasi. Segera ia bangun dari rebahannya ke posisi duduk setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Pucuk di cinta ulampun tiba. Apa ini yang namanya jodoh ? Baru saja Andhara di buat galau karena merindukan sosok ini, dan sekarang laki – laki itu meneleponnya.
Baru saja Andhara hendak mendekatkan kembali ponselnya ke telinga, si penelepon malah mengubah panggilan itu ke panggilan video. Mau tidak mau, Andhara mengusap layar ponselnya dan mengijinkan si penelepon melihat wajah kusutnya karena belum tidur sama sekali.
“ Jam segini, kenapa belum tidur ? “ tanyanya setelah panggilan itu berubah jadi video call.
“ Udah tidur kok. Ke bangun aja karena ab … Eh, pak dokter telepon. “ jawab Andhara tanpa mau memperlihatkan mukanya.
Julio tersenyum. “ Aku video call kamu bukan untuk melihat atap kamar mess kamu, Dhara. “
“ Ck ! “ Andhara berdecak kesal, tapi hanya di mulut saja. Sebenarnya sedari tadi, ia ingin menatap layar ponselnya hingga ia bisa nelihat wajah yang sangat ia rindukan.
Setelah merapikan rambutnya dengan jari – jarinya, Andhara mengangkat ponselnya, hingga terlihatlah wajah laki – laki yang membuatnya sedari tadi galau. Dan wajahnya pun kini terlihat dari layar ponsel Julio.
“ Yakin udah tidur ? Kok masih seger gitu mukanya. “ goda Julio.
“ Beneran udah tidur. “
“ Kalau kamu udah tidur, lalu siapa yang kirim pesan ke abang tadi ? Terus telepon juga. “ Julio masih ingin menggoda Andhara.
“ Siapa ? Pak dokter salah lihat kali. “
__ADS_1
“ Nggak. “ Julio menggelengkan kepalanya. “ Dari nomor kamu. Dan itu baru sepuluh menit yang lalu. Kalau kamu udah tidur, terus siapa yang tadi kirim pesan pakai ponsel kamu, terus bilang rindu ? Hem ? “
Mampus ! Gimana dia bisa tahu kalau tadi yang gue tulis itu kata – kata rindu ? umpat Andhara dalam hati. Andhara kini lebih memilih mengendikkan bahunya untuk menjawab.
“ Abang juga rindu sama Dhara. Banget malah. Sampai – sampai abang tidur sambil melukin baju kamu. “ ucap Julio sambil mengangkat baju Dhara yang ia pegang.
Blushh… Merona dong pipi Dhara sekarang. So sweet banget sih abang dokter gue …. Ea …. Ea ….Ea …. Coba kalau nggak lagi tengah malam kayak gini, pasti gue jabanin deh pulang ke rumah buat peluk abang dokter… pekik Andhara dalam hati.
Andhara menoleh ke samping untuk menyembunyikan mukanya yang memerah.
“ Boleh nggak abang malam ini susulin Dhara ke mess ? “ tanya Julio yang membuat Dhara kembali menatap layar ponselnya tercekat. Apa ?? Pak dokter mau kesini ? Bisa di gorok gue sama manager.
Andhara langsung menggeleng. “ Jangan !! Pak dokter nggak boleh kesini. Bisa – bisa Dhara langsung di keluarin dari tim. "
“ Habisnya kamu susah banget di hubungi. Besok kamu sekolah ? “ tanya Julio.
Andhara menggeleng. “ Mulai besok Dhara udah minta dispensasi sama pihak sekolah untuk nggak masuk selama tiga hari. Besok Dhara udah berangkat ke kota B buat persiapan tanding. Babak penyisihan. “
“ Maaf, sedari siang, Dhara sibuk latihan terus. Jadi kelupaan bilang sama pak dokter. “ jawab Andhara.
“ Jam berapa besok berangkat ? “ tanya Julio dengan nada suara datar. Ada kekecewaan dalam hati Julio. Lagi – lagi ia merasa tidak di anggap oleh istrinya sendiri. Istrinya itu masih bersikap seolah – olah ia bukanlah siapa – siapa.
“ Pagi. Sepertinya jam delapanan . “
Julio menghembuskan nafas kasar. “ Tidurlah sekarang. Jangan sampai terlambat bangun untuk besok. Abang tutup teleponnya sekarang. Hati – hati, jaga diri dengan baik, Jangan sampai terluka saat pulang. “ Andhara mengangguk.
“ Assalamua’alaikum. “
Tanpa menunggu jawaban dari Andhara, Julio sudah mematikan teleponnya. “ Waalaikum salam, a – bang. “ ucap Dhara sambil memandang sendu ke arah ponselnya.
Apa yang kamu harapkan, Dhara ? Dia tidak mematikan teleponnya sampai kamu tertidur ? Itu hanya ada dalam dunia sinetron juga dunia novel, Dhara. Ucap Dhara dalam hati sambil menatap layar teleponnya yang sudah gelap.
__ADS_1
“ Ah, mending tidur aja . Ngapain mikirin laki – laki yang nggak mikirin gue sama sekali. Sa bodo teing !! “ ujarnya sambil kembali merebahkan tubuhnya dan segera terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
“ Beneran kamu pulang ? Kok mendadak ?? “ tanya Cakra.
Julio mengangguk. “ Mau mengejar cinta. “ jawabnya enteng sambil memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam tas ranselnya.
“ Ck ! Serius ini. “
“ Aku juga serius. Istriku hari ini berangkat ke kota B. Sekalian aku nengokin ayah sama bunda. Lagian selama empat bulan aku di sini, aku belum pernah pulang sama sekali. Jadi kan, anter aku ke terminal ? “
“ Iya elah. Lagian kamu kayak orang susah aja. Kenapa nggak bawa mobil aja kesini ? “
“ Iya, nanti aku bawa mobil deh kesini. “
“ Sekarang ? “ tanya Cakra saat melihat Julio sudah memanggul tas ranselnya di pundak.
“ Bulan depan. ! “ sahut Julio. “ Ya sekarang lah. “ lanjutnya sambil berjalan keluar dari dalam rumah dan Cakra mengekorinya dari belakang.
“ Jadi benar – benar penasaran sama gadis itu. “ gumam Cakra.
“ Besok kalau aku udah balik ke sini, aku kenalin. “ sahut Julio yang mendengar gumaman Cakra.
Julio mengunci pintu rumah dinasnya, sedangkan Cakra sudah berada di atas motor milik Soni dan mengenakan helmnya. “ Sampai kapan kamu di sini ? “ tanyanya sambil mengenakan helm Cakra yang lain.
“ Besok aku harus udah balik ke Nganjuk. Ada beberapa berkas yang harus aku selesaikan. Mungkin setelah itu, aku akan kesini lagi sebelum balik ke kota. Menunggu surat penempatan yang baru lagi. “ jawab Cakra sambil mulai menjalankan motornya.
__ADS_1
Bersambung