
“ Huweek …. “ merasa perutnya mual saat ia baru saja membuka matanya, Dhara langsung berlari ke kamar mandi. Bahkan ia belum sempat menggeliat.
“ Huwweekk …. “ perutnya seperti di kocok hebat. Tapi setelah beberapa kali berusaha mengeluarkan isi perutnya yang terus bergejolak semenjak tadi, belum juga berhasil ia keluarkan.
“ Abaaangghhh … “ panggilnya lirih di sela – sela rasa tidak enak yang ia rasakan. Julio memang tidak terlihat semenjak ia berlari ke kamar mandi tadi. Entah di mana suaminya berada. Di sofa juga tidak terlihat. Mungkin ia sudah bangun lebih dulu.
“ Ab- Huwwweeekkk …. “ Andhara berusaha memijat – mijat tengkuknya sendiri seperti yang bi Sum lakukan kemarin. Saat bi Sum memijat tengkuknya, ia bisa mengeluarkan isi perutnya yang terus bergejolak dengan mudah.
Ceklek
Pintu kamar di buka dari luar. Samar – samar Julio mendengar suara istrinya dari dalam kamar mandi.
“ Sayang … “ panggilnya sambil pandangan matanya ke arah kamar mandi sedangkan tangannya bergerak menutup pintu kembali.
“ Huwweekkk …. “
Mendengar suara sang istri yang sedang muntah – muntah di kamar mandi, Julio segera berlari menyusul ke dalam kamar mandi. Ia langsung membantu sang isti dengan memijit tengkuknya. Meletakkan barang yang berada di tangannya di atas nakas.
“ Huweeekk …. Huweekkk … “ akhirnya Andhara bisa mengeluarkan isi perut yang membuatnya bergejolak semenjak tadi.
“ Ahh ! “ tubuh Andhara langsung terkulai lemas kala ia selesai mengeluarkan isi perutnya. Untung saja Julio berdiri tepat di belakangnya. Jadi Julio langsung bisa menangkap tubuhnya tanpa ia harus merasakan kerasnya lantai kamar mandi.
Dengan telaten, Julio membersihkan mulut Andhara bekas muntahan tadi. Lalu dengan tangan kanannya, ia menghidupkan kran toilet untuk membersihkan muntahan sang istri tadi. Dengan tangan kirinya menopang tubuh Andhara yang lemas.
Setelah membersihkan semuanya, Julio lalu mengangkat tubuh istrinya yang lemas dan ia bawa ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuh sang istri perlahan di atas ranjang.
“ Mau abang kasih minyak kayu putih perutnya ? “ tawar Julio, dan di jawabi anggukan lemah oleh Andhara.
Julio segera mengambil minyak kayu putih di atas meja rias, lalu menyingkap baju tidur sang istri supaya ia bisa membalur tubuh sang istri dengan minyak kayu putih.
“ Abang ambilin minum dulu sebentar, oke ? “ ucap Julio. Dan kembali Andhara hanya mengangguk dengan mata yang terpejam. Sungguh, ia tidak suka dengan keadaan tubuhnya jika sudah begini.
__ADS_1
Julio segera berlari keluar kamar untuk membuat segelas teh hangat untuk menghilangkan rasa pengar sang istri bekas muntahan tadi. Setelah teh itu jadi, Julio segera kembali ke kamar.
“ Ada apa, Yo ? Kok buru – buru gitu ? “ tanya sang ayah yang sedang membaca berita pagi di ruang depan.
“ Dhara muntah – muntah yah. Lio bikinin teh hangat. “ jawab Julio.
“ Sudah kamu konsultasikan sama dokter kandungan ? “ tanya sang ayah.
“ Sudah, yah. Memang seperti itu. Bawaan hamil katanya. “ jawab Julio setengah berteriak karena ia meneruskan langkahnya menuju dapur.
“ Ohh. “ Pak Siswo nampak – manggut – manggut.
“ Lio ke atas dulu ya yah. “ pamit Julio dan di jawabi anggukan dari sang ayah setelah dirinya selesai membuat teh hangat untuk Andhara.
“ Minum dulu sayang . “ ucap Julio kala ia sudah berada di dalam kamar kembali. Ia lalu membantu istrinya untuk duduk dan menegak minumannya.
“ Mau abang buatin susu ? Biar tubuh kamu nggak lemes kayak gini. “ tawar Julio setelah Andhara meminum seperuh gelas teh tadi.
“ Iya, abang taruh gelasnya dulu di meja. “ jawab Julio. Setelah menaruh gelas tadi di atas meja, Julio kembali duduk di sebelah Andhara.
“ Pengen di pelukin abang. “ pinta Dhara dengan mata yang terpejam, tapi tangannya menarik tangan suaminya.
“ Abang mandi dulu kalau gitu. Oke ? “ pinta Julio dan langsung di jawabi gelengan dari Dhara. “ Tapi abang keringetan loh ini. Abang juga masih bau asem. Abang baru beres nge-gym. “
“ Nggak mau abang mandi. Abang kayak gini aja. Pelukin Dhara. Biar lemesnya Dhara cepet hilang. “ pinta Dhara dengan tatapan sendunya.
“ Oke, tapi paling tidak, abang ganti baju dulu. “ tawar Julio.
“ Nggak usah. Dhara lebih seneng abang kayak gini. “ kekeh Dhara.
Akhirnya Julio mengalah sama bumilnya ini. Ia naik ke atas kasur, lalu masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya, dan membawa sang istri ke dalam dekapannya.
__ADS_1
“ Abang wangi. “ ucap Dhara yang langsung menempel bak cicak – cicak di dinding ke tubuh suaminya.
Julio terkekeh. Bau asem gini di bilang wangi ? Terus apa kabar semalam saat ia baru selesai mandi, malah ia di suruh jauh – jauh. Giliran ia yang keringatan malah di tempelin kayak cicak gini. Apa sebaiknya ia tidak usah mandi terus biar istrinya terus menempel ? Sekelebat ide aneh muncul di otak cerdas Julio.
“ Abang jangan kemana – mana ya. “ pinta Andhara sambil menyungsepkan wajahnya di bawah ketiak Julio.
“ Iya. Abang berangkat kerjanya masih entar agak siangan. “ jawab Julio sambil mengelus punggung istrinya. Suasana hening sebentar.
“ Abang, Dhara mau kuliah. Boleh ? “ lirihnya membuat julio tersenyum.
“ Tentu saja boleh. “ jawab Julio.
“ Paling tidak, dengan kuliah, Dhara masih bisa menuhin cita – cita bapak yang lain. “ lanjut Dhara.
“ Iya sayang. Abang akan mendukung apapun cita – cita kamu. “ sahut Julio sambil mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.
Hati Andhara menghangat. Terbersit rasa sesal di sudut hatinya kala mengingat sikapnya kemarin. Ia memang terlalu kekanak – kanakan.
Hanya karena mengetahui jika dirinya hamil, ia harus loncat – loncat heboh hanya untuk menghilangkan kehamilannya. Seharusnya ia bersyukur. Ia di berikan kepercayaan oleh yang Di Atas untuk mempunyai keturunan di saat usianya masih sangat muda.
Bahkan banyak di luaran sana pasangan suami istri yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun tapi masih belum di berikan keturunan.
Andhara lupa kapan terakhir kali ia bersyukur. Andhara makin menyeruakkan kepalanya di pelukan suaminya.
Ia harusnya sangat bersyukur, di kelilingi oleh orang – orang yang sangat menyayanginya. Mertua yang hebat, teman – teman yang terlalu care dengan nya. Seorang ibu yang sangat menyayanginya. Bahkan kini ia mempunyai seorang suami yang begitu dan begitu mencintainya.
Andhara jadi teringat masa – masa putih abu – abunya yang selalu ia lukis dengan gambar abstrak. Ia yang selalu berbuat keonaran, mulai dari telat datang ke sekolah, manjat pagar, tidak mengerjakan tugas, lebih suka tidur di UKS ketimbang mendengar pelajaran Sejarah.
Apa nantinya ia akan memiliki anak dengan tingkat kegokilan dan kebar – baran layaknya dirinya ? Apakah Tuhan akan memberikan balasan cash atas sikapnya dulu ? Atau akan lebih parah dari itu? Hanya untuk memberitahu dirinya, bagaimana rasanya menjadi emak Komsah dulu.
Bersambung
__ADS_1