
Sudah hampir jam delapan malam, Dhara masih tidak ada pulang ke rumah dinas. Julio yang tadi ketiduran kala menunggunya, di buat khawatir.
Ia segera keluar dan mengunci pintu rumah. Mengeluarkan motornya dari garasi yang telah terisi oleh mobilnya. Ia segera melajukan motornya menuju rumah si emak. Julio yakin, Andhara pasti pulang ke rumahnya. Karena setahu dia, Andhara bukanlah gadis yang suka keluyuran.
“ Assalamu’alaikum… “ sapa Julio sambil membuka pintu rumah yang tertutup. Masih jam delapan lebih sedikit, tapi rumah sudah terlihat sepi. Seperti biasa, emak Komsah sudah berada di dalam kamarnya untuk beristirahat jika jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Julio segera menutup kembali pintu rumah dan menguncinya. Karena ia pikir sudah tidak akan ada yang keluar rumah lagi.
Ia berjalan menuju kamar Andhara. Membuka pintunya perlahan, dan melongokkan kepalanya ke dalam. Pandangannya berkeliling mencari pemilik kamar. Tapi kamar itu kosong. Ia juga yakin, kalau kamar mandinya juga kosong karena pintunya terbuka.
Ia menjadi was – was memikirkan jika ternyata sang istri tidak pulang ke rumah. Tapi rasa was – was itu berubah menjadi senyum tipis, kala melihat seragam batik yang tadi pagi di kenakan ssng istri teronggok di atas ranjang, berikut dengan tas sekolahnya.
Ia menutup pintu itu kembali. Ia berjalan keluar, menuju dapur. Itulah yang Julio pikirkan saat ini. Sang istri pasti sedang berada di dapur.
Hatinya terasa lega kala ia melihat sosok gadis yang mampu menggetarkan hatinya sedang berdiri menghadap meja yang ada kompornya. Gadis itu mengenakan celana hot pants dan kaos yang terlihat longgar menutupi tubuhnya hingga terkesan ia tidak mengenakan bawahannya.
Julio bersandar di daun pintu, bersedekap sambil memperhatikan gadis kesayangannya seperti sedang memasak sesuatu.
Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Iapun mendengar sayup – sayup sang istri sedang bersenandung. Tapi lagu yang istrinya senandungkan tidak seperti lagu yang dulu ia dengar, dan ia lihat istrinya sambil bergoyang. Saat ini Dhara sedang bersenandung lagu sendu.
“ Masak apa ? “ suara Julio mengejutkan Andhara. Ia sampai menjatuhkan centong sayur yang di pegangnya.
“ Eh !! “ beonya.
“ Lagi masak apa ? kayaknya asyik banget sambil bernyanyi. “ Julio berjalan mendekat ke dapur, dan melihat apa yang sedang Dhara masak.
“ Pak dokter ngangetin Dhara aja. Kapan datangnya ? Kok nggak kedengeran. Udah kayak jailangkung aja. “ Dhara menjawab dengan pertanyaan. Ia kembali menghadap kompor.
Apa yang terjadi sama pak dokter ? kenapa dia jadi berubah lagi sok akrab gini ? Bukannya udah bagus ya, kemarin nggak ngajakin gue ngobrol ? Jadi gue teh bakalan gampang move on. Kalau gini, gue jadi baper lagi dong. Gerutu andhara dalam hati.
“ Kamunya aja yang terlalu asyik menyanyi, jadi nggak denger abang datang. “ Julio makin mendekatkan tubuhnya ke Dhara. Bahkan kini tubuhnya menempel pada tubuh Andhara bagian belakang.
Dag Dig Dug … Seperti itulah suara jantung Andhara saat ini. Tubuhnya bahkan seakan – akan membeku. Untuk bernafas saja ia takut.
“ Sepertinya enak mi instannya. Abang juga mau kalau Dhara bikinin. “ Hembusan nafas Julio terasa menggelikan di ceruk leher Andhara.
Ia bahkan sampai memejamkan matanya menahan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Aroma mint yang menguar dari rongga mulut Julio ketika ia berucap, terasa memabukkan bagi Andhara. Aroma parfum yang melekat pada tubuh Julio terasa membuat tubuhnya menggila.
__ADS_1
“ Abang juga belum makan malam. “ lanjutnya.
“ Ab – pak dokter bisa nggak jauhan dikit ? “ pinta Dhara dengan suara gugup. Julio tersenyum.
“ Kenapa kalau abang berdiri di sini ? Abang mau lihat Dhara masak. “ godanya.
“ Yang ada masakan Dhara nggak mateng – mateng kalau pak dokter kayak gini. “ keluh Andhara.
“ Abang nggak gangguin kamu kok. Cuman ngelihatin kamu masak. Asalkan kompornya nggak mati, mi nya juga akan matang. “ Julio malah meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Andhara. Membuat jantung Dhara semakin terpacu kencang. Tubuh Andhara sedikit ke depan karena ia tidak berusaha menjauh dari julio.
“ Jangan deket – deket panci. Nanti tubuh kamu kena panas, melepuh. “ Julio memeluk perut dhara dengan tangan kirinya menghalangi supaya Dhara tidak makin mencondongkan tubuhnya ke depan.
“ Makanya pak dokter jangan deket – deket kayak gini. “ pinta Dhara sambil melepas tangan kiri Julio yang melingkar di perutnya.
“ Dhara pernah bilang kan sama pak dokter ?? Jangan sampai Dhara khilaf. Dhara ini manusia biasa, normal. Jadi bisa aja Dhara tidak bisa menahan naf_su duniawi untuk tidak menerkam pak dokter. “ lanjutnya.
Julio tersenyum lebar mendengar celotehan Andhara. “ Abang ikhlas kok kalau Dhara khilaf. “
“ Tidak semudah itu masalahnya pak dokter. Kalau Dhara khilaf, Dhara bakalan ikat pak dokter pakai tambang yang gede. Biar pak dokter nggak bisa pergi kemana – mana. Dan pak dokter bakalan nggak bisa ngejar cinta pak dokter. “ jawab Andhara masih berusaha menjauh dari Julio.
“ Panggil abang dulu. Baru aku lepas. “ pinta Julio sambil mengeratkan dekapannya.
“ Ihh,, cepetan… Nggak enak nanti kalau mi nya melar. “ rengek Dhara yang malah makin membuat Julio gemas.
“ Yang melar buat abang aja. Nggak masalah. Kamu bikin yang baru lagi setelah kamu manggil ABANG. A – B – A – N – G !! “ Julio mengeja kata abang untuk Andhara.
“ Apaan sih ? “ gerutunya sambil memanyunkan bibirnya.
Julio tersenyum. “ Atau kamu lebih suka abang peluk kayak gini ? “
“ Dih, GRRR… !!! “ sahut Dhara sambil memiringkan tubuhnya dan menoleh ke belakang ke arah Julio.
“ Makanya, kalau nggak mau abang GR, buruan panggil abang dengan sebutan abang. Bukan pak dokter lagi. “
“ Ck ! “ decak Dhara. “ Abang. “ panggil Dhara cepat.
“ Apa ? “ Julio pura – pura tidak mendengar.
__ADS_1
“ Abang. “ panggil Dhara lagi masih dengan cepat. Wajahnya sudah mulai bersemu.
“ Nggak ikhlas gitu manggilnya. Sampai – sampai kayak orang di kejar an_jing. “ goda julio.
“ Ikhlas !! Abbangg…. Puas ??? “
Cup
Sebelum melepas dekapannya dan menjauh dari Andhara, Julio menyarangkan bibirnya ke pipi kanan Andhara dan makin membuat Andhara malu. Julio berjalan menuju kursi makan dan menghenyakkan pan_tatnya di sana. Menopangkan kedua tangannya di atas meja.
“ Katanya takut mi nya melar ? Kok malah Cuma di lihatin ? Nggak cepet – cepet di angkat taruh di mangkok ? “ Julio makin menggoda Dhara kala mendapati Dhara masih membekukan tubuhnya di depan kompor. Pipi Dhara juga terlihat memerah.
Andhara menoleh ke arah Julio sesaat sebelum akhirnya ia mengangkat mi nya dan memindahkannya ke mangkok.
“ Sini ! Biar itu, abang yang makan. Kamu bikin yang baru lagi. “ pinta Julio sambil melambaikan tangan kanannya.
“ Kok gitu ? “ Dhara membawa mangkok berisi mi rebus ke meja.
“ kan mi nya udah melar itu. Kamu katanya nggak suka sama mi yang udah melar. “
“ Kalau nggak enak, Dhara buang aja. Nanti buat pak – “
“ Abang Dhara… Susah banget sih tinggal manggil abang doang ? “ potong Julio.
“ Iya. Nanti Dhara bikinin abang mi yang baru. “ jawab Dhara sambil sedikit menunduk malu.
“ Itu aja buat abang. Kamu bikin yang baru. “ Julio mengambil mangkok yang berada di tangan Dhara.
“ Ih, jangan abang. Dhara bikinin yang baru aja. Ini mi nya udah melar. Nggak enak. “ kekeh Dhara sambil menahan mangkok itu tetap berada di tangannya.
“ Nggak pa – pa. Daripada mubadzir. Abang bukan pemilih makanan. Apa aja bisa masuk di perut abang. “ Julio kembali meraih mangkok yang ada di tangan Dhara. “ Mending sekarang kamu cepetan bikin mi lagi buat kamu. Abang tungguin. Kita makan bareng. “
Akhirnya Andhara mengalah, melepas mangkok mi itu untuk Julio. “ Pak – eh, abang makan aja dulu. Kalau nunggu Dhara, nanti mi nya malah makin melar. Makin nggak enak rasanya. “
“ Nggak pa – pa. Abang tunggu. “ Julio membalikkan badan Dhara dan mendorongnya supaya Dhara berjalan ke arah kompor kembali.
Bersambung
__ADS_1