
" Yo, sebenarnya istri kamu tuh kenapa sih ? " tanya bunda malam itu. Mereka sedang duduk di ruang tengah rumah Julio. Ada emak Komsah juga di sana.
" Iya loh Yo. Emak juga bingung sama anak emak. Akhir - akhir ini dia kok berubah banget. Jadi gampang marah. Jadi manjanya ngelebihin si kembar. Meleng dikit, ngambek. Kakinya kejatuhan sendok aja nangis loh dia. Padahal dia itu anak emak yang paling strong loh. " cerocos emak.
Julio hanya diam. Ia masih berkutat dengan pikirannya. Menimang dan menimbang apa yang di katakan bunda juga emak Komsah. Apa mungkin??? tebak Julio dalam hati.
Akhir - akhir ini, ia juga sering kepikiran dengan perubahan sang istri. Istrinya yang jadi moodi an, sebentar marah, sebentar nangis, sebentar manja.
Istrinya juga sekarang jauh lebih dan lebih agresif soal ranjang. Tiap hari Andhara selalu mengajak nya melakukan kegiatan yang berpeluh. Dan bahkan, Andhara tidak memikirkan masalah waktu. Mau itu pagi, siang, sore, bahkan tengah malam pun jadi.
Sebenarnya Julio seneng seneng aja mendapati hal ini. Karena dirinya tidak perlu bersusah payah merayu dan membujuk. Sang istri selalu siap kapanpun. Tapi hal ini juga membuat Julio bingung dan bertanya tanya.
" Di tanya kok malah diem, Yo ? " tanya bunda membuyarkan lamunannya.
" Oh.. Itu ... Mmm ... " Julio bingung harus menjawab apa. Ia juga tidak mungkin mengatakan kecurigaannya. Bisa bisa di bawakan pisau dapur oleh bunda juga emak jika dirinya mengatakan.
" Julio juga tidak tahu. " jawabnya pada akhirnya. Ia mengusap tengkuknya karena salah tingkah.
" Bund, Mak. Lio ke kamar dulu. Takutnya Dhara kebangun terus nyariin Lio. Bisa kena omel lagi nanti. " pamit Julio segera bangkit sebelum mendapat pertanyaan lagi dari bunda juga emak.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua ibunya, Julio segera naik tangga menuju ke kamarnya. Pastinya untuk memastikan sesuatu.
Sampai di kamar, Julio segera mengambil stetoskop dari dalam tas kerjanya. Lalu dengan perlahan, ia memeriksa sang istri yang masih tertidur pulas.
Julio meletakkan gagang stetoskop dengan perlahan ke perut rata Andhara setelah ia menyibak sedikit piyama tidur Andhara. Julio mendengarkan dengan seksama suara yang keluar dari dalam perut sang istri.
" Tidak terdengar apapun selain bunyi dari usus - ususnya yang meminta di isi. " gumamnya. " Mungkin saja dugaanku salah. " lanjutnya. Lalu ia melepas stetoskop yang menutupi kedua telinganya.
Tapi Julio masih merasa penasaran. Ia lalu sedikit memutar tubuhnya hingga menghadap tubuh Andhara bagian atas. Ia memencet dan memegang kedua gunung kembar milik sang istri. Andhara sedikit menggeliat dalam tidurnya kala Julio memegang da danya.
Julio sedikit terjingkat kaget kala merasakan sesuatu yang berbeda. " Si kembar udah nggak nyu su kan? Kenapa da danya terasa lebih kencang? " gumamnya.
" Ah, kenapa selama ini aku tidak memperhatikan. Bukankah tiap hari aku selalu memegangnya? " pertanyaan absurb yang muncul di otak pintar Julio.
" Tapi ini juga belum bisa untuk memastikan. Apa yang harus aku lakukan? " gumamnya bermonolog.
__ADS_1
" Tidak mungkin aku membelikannya test pack dan menyuruhnya mengetes kan? " Julio berusaha memutar otak cerdasnya mencari cara memastikan kondisi sang istri tanpa harus membuat sang istri curiga.
.
.
.
Di pagi hari yang masih gelap, Julio terbangun karena terkejut mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
" Sayang, kamu mau ngapain? " tanyanya karena melihat Andhara hendak masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengucek kedua matanya karena merasa berat. Bayangkan saja, Julio baru bisa memejamkan matanya ketika jam di dinding menunjukkan pukul 3 pagi.
Hampir semalama dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan yang mungkin terjadi pada istrinya.
" Mau pi pis. Masak iya ke kamar mandi mau makan atau mau belanja. Abang pertanyaannya aneh deh. " sahut Andhara sambil tergelak.
" Tunggu dulu, sayang. " Julio beranjak dari tempat tidur dengan cepat.
" Kenapa sih bang? Abang kalau masih ngantuk tidur aja lagi. " ucap Andhara karena terkejut, suaminya itu karena tergesa-gesa turun dari tempat tidur dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya, terjatuh di atas lantai.
" Sayang, tunggu abang sebentar kalau mau Pi pis. " pinta Julio yang melihat istrinya hendak kembali ke kamar mandi.
" Dhara masih bisa pi pis sendiri loh bang. Nggak perlu di bantuin. " jawab Andhara. Tapi Julio tidak menjawab. Ia segera menyusul Andhara yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
" Sebentar sayang. Jangan di keluarin dulu pi pisnya. " suara Julio mengagetkan Andhara yang sudah duduk di atas toilet untuk membuang air kecilnya.
" Ih!! Abang ngagetin aja. Ngapain abang ikutan masuk ke kamar mandi. " tanya Andhara.
" Pi pisnya taruh di sini, Ra. " Julio menyerahkan botol kecil ke Andhara.
Andhara mengernyit. " Buat apa, abang? " tanyanya.
" Itu ... Abang ada permintaan dari rumah sakit. Jadi gini, pihak rumah sakit mau mengadakan pemeriksaan masal untuk semua dokter juga perawat dan keluarganya. Maksud abang, suami atau istrinya. Daripada kamu ikut ke rumah sakit terus harus mengantri panjang, mending Abang bawa aja sampel urin kamu. " jelas Julio.
" Oh, gitu ? Ya udah, bawa sini botolnya. " pinta Andhara mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Dikit aja nih bang? " tanyanya. Dan Julio mengangguk. " Udah kayak mau tes kehamilan aja. " gumam Andhara.
Deg
Jantung Julio mencelos mendengar gumaman Andhara. Ia bahkan menelan salivanya dengan susah payah.
" Abang, ngapain masih di sini? " tanya Andhara.
" Oh.. i-iya. Ini abang juga mau keluar. " jawab Julio gugup. " Nanti, taruh aja botolnya di atas wastafel. Biar abang yang nyiapin. " Andhara mengangguk.
Setelah beberapa saat, Andhara keluar dari dalam kamar mandi. Julio yang semenjak tadi hanya mondar-mandir di dalam kamar, buru buru masuk ke dalam kamar mandi menggantikan Andhara.
" Abang, ngapain sih buru buru banget? Kebelet juga? " tanya Andhara sembari menoleh.
" Iya. " jawab Julio asal lalu segera menutup pintu kamar mandi.
Julio lalu menghampiri wastafel, membuka tutup botol yang berisi urin Andhara. Lalu ia mengambil sebuah mangkuk bersih yang sudah ia siapkan. Menuang dua sendok makan pasta gigi, dan mencampurnya dengan satu sendok makan urine sang istri. Ia diamkan beberapa saat.
Jeng
Jeng
Jeng
Mau tahu hasilnya, tunggu di episode selanjutnya.......
Reader : Sialan loe thorrr... Sukanya bikin penasaran aja ๐ก๐ก
othor : He he he ๐๐๐
Kesel ya ????
Reader : Banget !!!! Pengen gue getok pakai ๐๐ terus gue ๐งจ๐งจ
othor : Ishhh.... Takut... Kaboooorrrr ๐๐๐๐
__ADS_1