Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Marah


__ADS_3

“ Abang mau ngapain buka baju ? Katanya nggak mau mandi ? “ tanya Dhara sambil mengernyit.


“ Takut baju abang basah aja kalau mandiin kamu. Abang Cuma bawa baju ganti dikit. Takutnya kalau yang ini basah, abang kehabisan baju ganti. “ jawab Julio asal.


Dhara mengalah. Ia membiarkan suaminya membuka kaos dan celana jeansnya. Tubuh kekar nan putih dan bersih, tak urung membuat Dhara juga menelan salivanya dengan susah payah.


“ Jangan bengong aja. Cepat buka baju kamu semuanya. Masak iya, yang lain di sabunin, yang itu nggak ? “ ucapan Julio yang mampu menyadarkan Dhara yang sedang sibuk mengagumi tubuh indah sang suami.


“ Ya …. “ Dhara nampak ragu untuk membuka dua kain yang masih menempel di tubuhnya.


Tapi dengan sekali hentakan, kacamata Dhara sudah terlepas pengaitnya. Siapa lagi jika bukan Julio pelakunya.


“ Abang !! “ pekik Dhara.


“ Kelamaan ! “ sahut Julio. Tapi Dhara segera menghentikan tangan Julio kala suaminya itu hendak meraih segitiga bermudanya.


“ Dhara bisa sendiri. “ ketusnya, lalu ia melepas segitiga bermudanya dengan tangannya sendiri meski harus dengan menahan malu. Sering polos di bawah kungkungan sang suami, tidak membuat seorang Andhara melupakan rasa malunya.


“ Abang ngapain ikutan buka boxer segala ? “ tanyanya kala melihat sang suami juga membuka sarung pedang Samurai X nya.


“ Abang juga Cuma bawa daleman dikit. Kalau nggak di lepas, takut basah juga. “ sahut Julio.


“ Awas abang macem – macem !! “ ancam Andhara.


“ Hem “ Julio berdehem.


Mata indah Andhara melotot sempurna kala suaminya berbalik. “ Masya Allah !! Gimana nggak macem – macem kalau itu udah gede gitu. “ gumam Andhara.


“ Udah, ayo cepetan mandi. “ Julio memutar tubuh Dhara menghadap ke bak mandi. Lalu ia mulai mengambil air di gayung dan menyiram tubuh polos Andhara.


Setelah tubuh itu basah sempurna, Julio menuang shampo di atas telapak tangannya, mengusapnya, lalu mengusapkannya ke rambut Andhara. Menggosok – gosok kecil rambut Andhara yang tadi tertempel lumpur, lalu memberikan pijatan ringan pada kulit kepala Andhara. Andhara tersenyum menikmati perlakuan suaminya.


Selesai dengan rambut, Julio menuang sabun cair di atas telapak tangannya. Lalu mulai menyabuni tubuh sang istri bagian belakang. Belakang selesai, kini tangannya mulai mengangsur ke depan.

__ADS_1


Pijatan kecil nan memabukkan Dhara rasakan saat tangan suaminya yang berbalur sabun berada di atas da_danya. Lenguhan kecil keluar dari bibir mungil Andhara. Tubuhnya sudah menegang mulai saat tangan suaminya mengusapkan sabun di punggungnya tadi.


Seringai kecil terukir dari mulut Julio. Mendengar sang istri yang mele_nguh, ia merapatkan tubuhnya hingga tubuh bagian depannya menempel sempurna di punggung sang istri. Bahkan pedang samurai X nya terasa menusuk di atas pan_tat Andhara.


“ Ab-banghh .. ahh .. tangannya jangan nak-khal … “ ucap andhara sambil menggigit bibir bawahnya karena sensasi yang ia rasakan begitu dahsyat, bagai tersengat listrik.


“ Kita lagi di rumahhh oranghhh … “ lanjutnya.


“ Mumpung rumahnya sepi. Abang kangen sama kamu. “ bisik Julio sambil mengecup pundak polos Andhara. Tangannya pun masih bermain di atas buah kembar sang istri yang masih terlihat ranum. Dan entah kenapa, Andhara tidak bisa menolak pesona sang suami.


Julio mengambil air di gayung dan menyiramkannya di tubuh Andhara untuk menghilangkan busa sabun dari tubuh Andhara. Lalu ia membalikkan tubuh Dhara sehingga menghadap ke arahnya. Menyergap tubuh polos sang istri, dan menenggelamkan bibirnya di bibir sang istri hingga berbunyi deca_pan.


Lain di mulut, lain di body. Itulah yang terjadi dalam diri Andhara. Bibirnya menolak, tapi tubuhnya memberikan respon yang luar biasa. Mungkin efek rasa rindu hingga tubuhnya tak kuasa menolak. Hingga terjadilah pagi yang panas antar keduanya.


.


.


.


“ Dhara … !! Udah dong marahnya. “ pinta Julio.


“ Jangan ikuti Dhara. Dhara masih kesel sama abang !! “ jawab Dhara tanpa menoleh ke belakang.


Kalau aku nggak boleh ngikutin, terus aku harus kemana ? Aku nggak punya saudara di sini. Gimana sih istriku yang imut dan ngegemesin ini. Ujar Julio dalam hati.


Akhirnya Julio meraih pergelangan tangan Andhara, yang membuat Andhara mau tidak mau, menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap suaminya.


“ Ck ! “ Andhara berdecak kesal. Tapi Julio tetap memegang pergelangan tangannya sambil menatap intens ke arahnya. Dhara hanya sesekali meliriknya.


“ Andhara Nurmalia … aku minta maaf. “ ucap Julio. “ Sungguh, abang bukannya sengaja melakukannya tanpa pengaman. Abang nggak kepikiran buat beli sebelum kesini. “ lanjutnya.


“ Udah tahu nggak bawa pengaman. Masih aja ngajakin. “ gerutu Andhara. “ Harusnya abang tadi di keluarin kalau emang nggak pakai pengaman. Tapi abang malah makin getol. “ hardiknya.

__ADS_1


“ Ya … habis gimana dong. Tadi kan pertama kalinya abang ngelakuin itu tanpa pengaman. Dan rasanya jauh lebih nikmat. “ jawab Julio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Harusnya tadi dirinya tidak nekat. Masih bersyukur, istrinya itu mau memberikan kesuciannya sebelum dirinya lulus dari putih abu – abunya.


“ Abang jadi kebablasan. Maaf. “ lanjutnya.


“ Kamu juga seharusnya tadi ingetin abang. Jadi abang bisa keluarin di luar. “ imbuh Julio. “ Lagian kita juga tidak melakukan hal yang terlarang. Kita sah melakukan hal itu. “ imbuhnya lagi yang membuat Andhara merasa bersalah karena telah marah – marah sejak tadi.


“ Kan tadi juga yang pertama buat Dhara, bang. Dhara juga baru ngerasain tadi secara langsung. “ sahut Andhara dengan nada suara yang sudah tidak sesadis tadi. “ Abang bener sih … Rasanya lebih enak dari biasanya. “ lanjutnya.


Suasana hening sebentar. “ Dhara teh bukannya marah sama abang karena tadi. Dhara Cuma kesel aja bang. “ lirih Andhara.


“ Maaf. “ Ucap Julio sambil meraih tubuh sang istri dan di bawanya ke dalam pelukannya.


“ Dhara Cuma takut, kalau Dhara hamil gimana bang ? “ ucap Dhara dalam pelukan Julio.


Julio menghela nafas pelan. “ Kenapa harus takut ? Seorang perempuan yang sudah menikah, sudah wajar jika hamil. “ ucapnya.


“ Cita – cita Dhara nanti gimana ? “ lirih Andhara.


Julio kembali menghela nafa panjang. Ia mengusap punggung Andhara. “ Jangan di pikirkan sekarang. Toh, belum juga kejadian kamu hamil kan ? Kita melakukannya tanpa pengaman juga baru sekali. Belum tentu membuatmu hamil. “ ucapnya menenangkan sang istri.


Ia lalu melepas pelukannya, dan mendongakkan kepala istrinya supaya menghadapnya.


“ Jangan khawatir, oke ? “ ucapnya lembut sambil tersenyum.


“ Mbak Dhara …. “ panggil seorang anak laki – laki yang memecah keuwuan mereka.


Dhara menjauh dari Julio. “ Dang ? Ucup mana ? “


“ Boten ngertos mbak. Menawi sampun ting daleme pakdhe. “ jawab Dadang. ( Nggak tahu mbak. Mungkin sudah ke rumah pakdhe )


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2