Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Belah duren


__ADS_3

“ Loe kenapa Ra ? “ tanya Eka setelah bertemu di depan parkiran sepeda motor. Tentu saja ia merasa aneh. Bahkan pertanyaan yang sama tadi juga di lontarkan oleh Lila saat menjemputnya di rumah.


“ Kenapa sih emangnya ? Perasaan gue biasa – biasa aja deh. “ jawab Dhara menutup – nutupi kebenaran. Nggak mungkin ia menceritakan apa yang sudah terjadi padanya kepada teman – temannya. Yang ada, mereka akan langsung hebohhh bin ruwet.


‘ Emang kelihatan banget ya ? ‘ tanya Dhara dalam hati. Ia harus waspada.


“ Jalan loe kenapa kayak putri Solo gitu ? Biasanya juga pecicilan. Lari sana sini, loncat sana loncat sini . “ sahut Eka yang berjalan di belakangnya sambil memperhatikan langkah kaki Dhara.


“ Loe kira gue kanguru ? Yang suka loncat – loncat ? “ Dhara terus berjalan sambil menoleh ke belakang sebentar. Tiba – tiba ia menghentikan langkahnya dan membuat Eka hampir saja menumbur tubuhnya.


“ Lagian loe kenapa jalannya mesti di belakang gue ? Biasanya juga kita jalan bertiga. Kayak Charly’s Angel. “ ucap Dhara. “ Loe mau nangkep ken_tut gue kalau gue sampai ken_tut entar ? “


“ Dih, ogah !! “ Eka dan Dhara langsung berjalan mensejajari Andhara yang sudah berjalan lebih dulu.


“ Kayaknya kita harus buruan deh. Bentar lagi bel. “ ucap Lila. Mau tidak mau, Dhara juga ikutan mempercepat langkah kakinya. Ia harus benar – benar menahan rasa kebas di campur sedikit perih di daerah bawahnya. Bahkan rasanya, bagian bawahnya masih mengganjal.


Andhara menghela nafas lega kala ia sudah menghenyakkan pan_tatnya di bangku kelas. “ Fiuh ! “ ia meniup rambut atasnya yang menutupi dahinya. Tak berselang lama setelah bel berbunyi, guru Geografi Dhara masuk ke kelas.


“ Selamat pagi semuanya …. “ salam pak guru itu.


“ Pagi pak ….” Jawab seluruh penghuni kelas.


“ Semoga aja pak Arif amnesia hari ini. “ gumam Dhara sambil mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Lila yang duduk di sebelahnya mengernyit.


“ Maksud loe do’ain pak Arif amnesia kenapa ? “ tanyanya.


“ Gue nggak belajar semalem. Nggak sempet. “


“ Sok sibuk loe. Ngapain sampai nggak sempet belajar ? Ngelapin rumah loe karena emak nggak di rumah ? “ tanya Lila kembali sambil membuka bukunya.


“ Kerja rodi. “ jawab Dhara singkat.

__ADS_1


“ Kertas ulangannya di siapkan. Dan bukunya di masukkan kembali ke dalam tas. Kita tidak butuh buku hari ini. “ ujar Pak guru Geografi.


Andhara menepuk jidatnya sendiri. “ Mamposs ! “ dumelnya.


Lila tertawa cekikikan. “ Tenang. Entar gue contekin. “ ucap Lila.


“ Mending gue ngerjain sendiri daripada di contekin ama loe. “


Dua jam pelajaran berlalu dengan sangat lambat bagi Dhara. Ia harus berjuang mengerjakan soal ulangan Geografi sambil memeras otak.


Sedangkan Lila, sedari tadi memperhatikan gerak tubuh sahabatnya yang seperti tidak nyaman dalam duduknya. Dhara terus bergerak – gerak seperti mencari posisi yang nyaman untuknya sambil sesekali mengaduh maupun berdesis kala posisinya salah.


Berkali – kali Lila mengatupkan kedua alisnya berpikir dan mengurai beberapa kejadian yang ia lihat semenjak pagi tadi.


‘ Masak sih ? ‘ tanyanya dalam hati seakan tidak percaya dengan hasil analisanya. Ia bukanlah gadis kampung yang bod_oh. Hal semacam itu, ia juga memahaminya. Kembali ia memperhatikan Dhara lebih dalam.


Matanya membulat dengan mulut melongo kala ia melihat totol – totol keunguan di leher Dhara. Meskipun Dhara hari ini sengaja mengurai rambut yang biasanya selalu ia kuncir untuk menutupi maha karya suaminya, tetap saja terlihat oleh Lila.


“ Astagfirullahaladziiimmm …. “ pekik Lila sambil menutup mulutnya yang sedari tadi melongo.


“ Etdah. Ngagetin aja loe ! “ protes Dhara sambil menoleh ke arah Lila.


Tanpa basa – basi, Lila memajukan tubuhnya dan menyibak rambut Dhara sedikit. “ Wow… Daebak !! “ ucapnya.


“ Apaan sih loe ah . “ sungut Dhara sambil menarik rambut yang di sibak oleh Lila.


“ Ternyata kecurigaan gue dari tadi pagi beneran, my hunny ? Bontot kesayangan gue ? Loe udah belah duren ? “ ucapnya antusias.


Dhara langsung membekap mulut Lila. “ Mulut loe ya Lil ! “ geram Dhara sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


Waspada jika ada temannya yang lain tahu. Tapi terlambat. Eka, Soni, juga Putra sudah menatapnya menunggu jawaban darinya. Untung hanya mereka, bukan anak – anak yang lain. Jika tidak, habislah dia.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Eka langsung berpindah duduk ke bangku Lila. “ Geseran dikit . “ pintanya ke Lila. Sedangkan Soni, ia langsung menarik bangkunya dan ia taruh di samping meja Dhara.


Dan Putra, ia hanya diam di bangkunya tanpa ada minat menunggu jawaban dari Dhara. Karena sejak pagi ketika ia bertemu Dhara, ia sudah menebaknya. Secara tidak sengaja ia melihat tanda keunguan di leher Andhara saat angin bertiup dan menyibak rambut Dhara.


“ Jadi beneran, Tot, loe udah belah duren ? “ tanya Soni antusias.


“ Apaan ? Sotoy ! “ sengak Dhara mencoba mengelak. Tapi wajahnya yang memerah tidak bisa berbohong. Pikirannya saja melanglang buana ke waktu semalam.


“ Coba gue lihat ! “ kekeh Soni sambil hendak meraih rambut Dhara yang tergerai menutupi leher. Tentu saja Dhara tidak akan membiarkan mereka melihat maha karya suaminya semalam. Kalau sampai mereka melihat, sudah bisa di pastikan mereka akan menggodanya habis- habisan.


“ Enak aja. Emang tanda di leher bisa jadi jaminan kalau gue udah begituan ? Bisa jadi kan Cuma pemanasan doang ! “ Dhara langsung menutup mulutnya yang malah mengeluarkan clue buat teman – temannya.


“ Dih, loe natckal juga .. ! “ telunjuk Eka sudah menari – nari di depan wajah Dhara menggodanya.


“ Good morning everybody … “ sapa Bu Guru manis nan cantik baru memasuki kelas. Grusak – grusuk terdengar dari samping kanan dan kiri Dhara.


‘ Selamet guee … ‘ ucap syukur Dhara dalam hati. ‘ Untung miss Inka muncul di waktu yang pas. Fiuhh ‘ Dhara menyeka dahinya seakan – akan ia menyeka keringat.


Diam – diam Dhara mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mengirimkan pesan ke suaminya.


📩 Gara – gara ulah abang semalam, Dhara malu sama teman – teman.


Tak berselang lama, pesan masuk di ponsel Dhara.


📩 Malu kenapa ?


📩 Anak – anak pada curiga kalau abang habis belah durennya Dhara. Gara – gara jalan Dhara kayak entok, terus leher Dhara yang kayak dalmation. Hasil karya abang kan ?


📩 Masih sakit ?


📩 Masih lah. Bengkak, baaang ….

__ADS_1


📩 Ya udah, entar abang obatin sepulang sekolah. Entar suruh Lila anter ke rumah dinas. Abang tungguin di sana.


Bersambung


__ADS_2