Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Berat


__ADS_3

Sepuluh bulan tak terasa telah berlalu. Andhara sudah harus mulai kuliah hari ini. Masa – masa nifas, di saat si kembar masih berusia 1 hingga tiga bulan, adalah hari – hari terberat buat Andhara.


Si kembar selalu terjaga di saat hari mulai menjelang tengah malam. Entah itu karena lapar, atau karena popok yang sudah penuh, atau hanya sekedar ingin mengajak ayah serta ibunya bermain.


Andhara bukan seorang istri yang egois. Meskipun sejak awal sang suami selalu mengatakan jika ia yang akan bertugas menjaga si kembar saat malam. Andhara tidak langsung serta merta menyerahkan semuanya pada sang suami, dan dirinya enak – enakan tidur nyenyak.


Andhara sadar, sang suami juga butuh istirahat. Julio harus bekerja untuk kehidupan mereka di siang hari. Sedangkan dirinya hanya di rumah saja menemani si kecil bermain, menjaga dan merawat mereka. Itupun di bantu oleh mertua juga emak.


Sebenarnya Andhara tidak hanya capek merawat dan menjaga si kembar. Tapi ia juga kadang merasa capek saat sang suami meminta dirinya untuk melayaninya selepas masa nifasnya.


Tapi meskipun ia merasa capek, ia tetap melakukan kewajibannya yang satu itu. Ia ingin menjadi istri yang selalu di sayang suami. Dan tentu saja, melakukan itu dengan suami akan mengurangi rasa lelah dan penat setelah seharian menjaga si kembar.


Si kembar tumbuh menjadi anak – anak yang menggemaskan. Dan semakin kesini, wajah mereka menjadi kian mirip sang ayah. Yang terkadang membuat Andhara memberengut.


Rambut yang hitam legam dan lebat, manik mata berwarna coklat seperti Andhara. Ya, dia hanya mendapatkan bagian mata saja dalam diri kedua anaknya. Sedangkan hidung si dedek yang dulunya agak mancung ke dalam seperti sang ibu, kini sudah tidak lagi. Sepertinya Orion tidak ingin kalah dari Arisa sang kakak. Hidungnya sekarang lebih mancung.


Berat badan mereka terus bertambah tiap bulannya. Asupan makanan alias ASI yang Dhara berikan memang berlimpah. Allah memberikannya sumber makanan untuk si kecil dengan berlimpah. Apalagi sekarang mereka sudah MAPSI. Dan Andhara juga Julio memberikan makanan terbaik untuk anak – anak mereka.


Lipatan – lipatan yang terlihat di tangan dan kaki si kembar membuat keduanya semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Bahkan keempat semprul rusuh sahabat Andhara, selalu menyambangi rumahnya kala liburan. Apalagi Putra.


Tiap weekend, ia selalu menyempatkan diri mendatangi rumah Julio. Dan Julio sepertinya sudah tidak mempermasalahkan perasaan Putra terhadap istrinya di masa lalu. Karena Putra selalu menunjukkan sikap positif selama berada di dekat keluarga itu.


Bahkan Julio sekarang mempercayakan keamanan sang istri ke Putra kala istrinya itu di terima di universitas yang sama dengan Putra. Bagaimanapun juga, istrinya itu masih sangatlah muda. Tidak menutup kemungkinan akan banyak mahasiswa yang tertarik dengan sang istri.


“ Duh, yang jadi mahasiswa baru. Ibu kamu cantik banget ya sayang. “ puji Julio seolah sedang mengajak Orion berbicara. Bayi laki – laki gembul itu sedang berada dalam gendongan sang ayah.


“ Lagi muji, apa ngeledek bang ? “ ujar Andhara sambil mengoleskan lip tint di bibirnya. Ia sudah siap berangkat ke kampus dengan mengenakan kemeja kekinian yang di padu padankan dengan celana jeans belel. Ia menguncir rambutnya satu di belakang.


“ Muji dong. Ya kan dek ? “ jawab Julio.


“ Muji kok nadanya kayak ngeledek gitu. “ Andhara masih menghela nafas panjang. “ Abang, kita udah bahas ini sebelumnya. Dhara hanya milik abang, selamanya. Mau berapa banyakpun mahasiswa atau laki – laki yang ngantri buat dapetin Dhara, nggak akan merubah hati Dhara. Dhara tetap cintanya sama abang. Ayahnya si kembar. “ rayu Andhara.

__ADS_1


Cup. Ia mengecup pipi sang suami sambil tersenyum.


“ Ayah si kembar selalu yang terbaik. Di manapun, dan di situasi apapun. “ lanjutnya. “ Apalagi kalau di ranjang. “ bisiknya di telinga sang suami. Membuat Julio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“ Jangan bicara me sum sayang. Kalau kamu tidak ingin dandananmu berantakan. “ ancam Julio.


Andhara menanggapinya dengan tawa renyahnya. Ia mengambil tas punggungnya dan ia sampirkan di kedua bahunya. Lalu ia mengambil alih Orion dari gendongan sang ayah. Si kecil nampak girang dan berbinar saat berada di gendongan ibunya.


“ Kau selalu membuat ayahmu merasa iri. Kenapa wajahmu selalu berbinar saat dalam dekapan ibumu ? Hem ? Apa di gendong ayah tidak enak, rasanya ? “ goda Julio ke Orion sambil menggosok – gosokkan dagunya yang di tumbuhi rambut – rambut halus ke tangan Orion yang berada di pundak sang ibu. Membuat Orion terkekeh geli.


“ Ayah iri, apa cemburu nih ceritanya ? “ mereka berjalan keluar dari dalam kamar dengan posisi Andhara berjalan di depan dan Julio di belakangnya sambil menggoda Orion.


“ Sepertinya dua – duanya. “ sahut Julio, lalu ia mengecup lembut pipi kiri Andhara.


“ Abang, ih !! Entar di lihat orang. “


“ Satu sama sayang. Aku hanya membalas kecupanmu tadi. Biar kita seri. “ ucap Julio.


“ Sudah, bunda. “ jawab Andhara tersenyum manis.


“ Anak ayah… “ sapa Julio ke Arisa. “ Mau gendong ayah ? “ ia mengulurkan tangannya di depan balita yang sedang berada dalam pangkuan emak Komsah.


Si kecil Arisa langsung meloncat – loncat menggerak – gerakkan kaki juga tangannya dengan wajah berbinar. Itulah bedanya Orion dan Arisa. Orion lebih senang di gendong oleh ibunya, sedangkan Arisa lebih senang dalam gendongan sang ayah.


“ Tuh kan, si kakak lebih seneng sama ayah. Udah satu sama kan ? Dhara jadi mengerti kenapa Allah kasih anak kembar ke kita. Kalau anaknya Cuma satu, kita bisa berantem terus tiap hari ngerebutin si anak kayak piala bergilir. “ seloroh Andhara.


“ Iya. Kamu benar sekali, sayang. “ sahut Julio yang kini sudah duduk di kursi dengan Arisa di pangkuan.


“ Si kakak udah beres sarapan tadi sama emak. “ ucap Emak Komsah. Beliau sangat bersyukur putri satu – satunya berada di keluarga yang sangat menyayanginya.


Selama berada di bandung, emak Komsah sebenarnya tinggal di rumah yang Julio bangun dengan hasil jerih payahnya sendiri. Tapi karena rumah itu terletak tepat di belakang rumah Pak Siswo, jadi kelihatan kalau mereka masih tinggal di rumah yang sama.

__ADS_1


Bunda Lestari dan Pak Siswo mengijinkan Julio membawa istri dan anak – anaknya tinggal di rumahnya sendiri, tapi dengan syarat, ketika waktu makan, mereka harus tetap makan di rumah utama. Pak Siswo tidak mengijinkan emak ataupun Andhara masak di rumahnya sendiri.


“ Dhara titip si kembar sama emak sama bunda ya. “ ucap Andhara setelah selesai sarapan dan juga selesai menyuapi Orion bubur bayi.


“ Iya, kamu tenang aja. Sekolah yang pinter. Biar cepet jadi sarjana. “ ucap Bunda Lestari.


“ ASI buat si kembar udah cukup kan ? “ kini Julio yang bertanya.


“ Sip, bang. “ jawab Andhara mengacungkan jempolnya. “ Stok melimpah pokoknya. “


“ Pumpingnya, sama kantung ASI udah di bawa ? Awas, nanti baju kamu basah kalau telat pumping. “ ujar Julio.


“ Sudah, komandan. “ Andhara mengangguk.


Kini Julio sudah tidak lagi berbicara. Ia hanya sibuk memperhatikan istrinya yang sedang memasukkan alat pumping sama plastik kedap udara ke dalam tas khusus.


“ Abang kenapa lihatin Dhara kek gitu ? Masih nggak rela Dhara kuliah ? “ tanyanya tanpa melihat ke arah suaminya.


“ Siapa bilang abang nggak rela. Abang ikhlas kok. “ jawab Julio dengan berat hati. Jika di tanya tentu saja Julio berat melepas istrinya. Pengennya ia kekepin aja di rumah. “ Kamu nggak ada baju lain ? “


“ Emang kenapa baju Dhara ? Sopan kok. Ke tutup juga kok. Dada Dhara juga nggak meluber kemana – mana. “ Andhara mengamati penampilannya saat ini.


Ia merasa pakaiannya baik – baik saja. Ia mengenakan kemeja juga lengan panjang. Meskipun ia tekuk hingga siku sih. Lalu, celananya juga panjang.


Salahnya di mana coba ? Punya suami udah tua gini deh. Ribet. Nggak tahu model. Gerutu Dhara dalam hati.


“ Sopan – sopan. “ gumam Julio. “ Ingat, kamu udah punya anak. Dua lagi. “


“ Ya ingetlah bang. Kalau nggak inget, ngapain Dhara bawa kek beginian ? “ tunjuk Dhara ke tas peralatan pumping. “ Masak iya, Dhara ke kampus harus pakai gamis. Emang mau pengajian ? Dengerin siraman rohani ? Atau abang malah nyuruh pakai daster ? Entar di kira Dhara nih satu frekuensi sama ibu – ibu kantin yang pasti suka ghibahin pas belanja. “ sungut Dhara.


“ Udah deh bang, udah siang nih. Bisa – bisa Dhara kena hukuman kalau telat ospek. “ Andhara berjalan keluar dari rumah tanpa menghiraukan suaminya yang hendak kembali memprotes penampilannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2