
Ceklek
Pintu terbuka dari luar. Perlahan, Dhara membukanya. Ia melongokkan kepalanya untuk mengecek kondisi di dalam kamarnya. Udah kayak mal_ing aja gue. Batinnya.
“ Eh, ini kan kamar punya gue. Ngapain gue mesti kayak gini ? Ck! “ gumamnya, lalu membuka pintu lebar dan ia segera masuk ke ke dalam. Setelah tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam kamar, Andhara mengedarkan pandangannya ke seisi kamar.
“ Kok sepi ? Orangnya kemana ? “ monolognya. “ Nggak mungkin kan doi ngumpet di kolong ranjang, terus habis itu ngeprank gue. Bilang ‘ Bha ‘, terus bikin gue terkejut. “ lanjutnya.
“ Dih, ngapain juga mesti mikirin dia. Kan ceritanya gue mau jauhin dia, elah! “ dumelnya.
Andhara menutup pintu kamarnya. Niat hati sudah pelan ia menutupnya. Tapi tetap saja terdengar ‘ Brak ‘.
“ Nih pintu kayaknya minta di bogem ama palunya si Thor deh, kalau nggak gadanya kakang Werkudara. “ umpatnya.
“ Dari mana kamu ? “ suara barithon terdengar dari belakangnya.
Ups. Kaget gue. Beda tipis sama bayangan gue. Kata – katanya beda. Tapi efek bikin kagetnya sama. Umpat Andhara dalam hati.
“ E hem . “ ia berdehem pelan. “ Ingat Ra, lo mau jauhin dia. So, cuek aja, oke ? “ ucap Dhara tanpa suara. Ia lalu membalikkan badannya dan nyelonong begitu saja dari hadapan Julio, bahkan tanpa menjawab pertanyaan Julio.
“ Abang tanya, dari mana kamu jam segini baru pulang ? “ tanyanya dengan mencekal lengan Andhara kala istrinya itu melewatinya.
Andhara menarik nafas dalam – dalam lalu membuangnya dengan kasar. “ Bisa lepas nggak ? “ tanyanya tanpa menjawab pertanyaan sang suami sambil menatap lengannya yang di cekal Julio.
“ Abang lepas, tapi jawab dulu pertanyaan abang. “ suara Julio yang tegas dan datar, kini kembali terdengar setelah beberapa minggu tidak terdengar.
Andhara mengalah. Ia membiarkan lengannya tetap dalam genggaman tangan kekar sang suami. Biarin aja deh, udah halal ini. “ Pak dokter udah tahu dari emak kan ? “
__ADS_1
“ Iya, abang udah tahu dari emak. Tapi abang ingin tahu dari mulut kamu sendiri. “
“ Hah! “ kembali Andhara membuang nafas kasar. “ Dhara pergi ke lapangan kabupaten. Di telpon sama pelatih, suruh datang karena mau latihan. “
“ Bukannya jadwal latihan kamu tiap hari Senin ? “ Julio sepertinya belum percaya dengan jawaban Andhara.
“ Tim kabupaten mau tanding minggu depan. Jadi pelatih nyuruh kami latihan mulai hari ini sampai satu minggu ke depan. “ jawab Andhara dengan datar yang tidak kalah datar dari Julio.
“ Kenapa nggak minta ijin dulu sama saya ? Saya ini SUAMI kamu, kalau kamu lupa ! “ hardik Julio dengan suara agak tinggi dan menekan kata suami.
“ Kamu sebagai seorang istri mestinya tahu hal kecil kayak gini. Apapun hal yang mau kamu lakukan, harusnya kamu minta ijin dulu sama suami kamu ini. “
Hati Dhara tercubit mendengar nada suara suaminya yang meninggi. Ia melengos ke samping. “ Maaf, Dhara tadi nggak sempat minta ijin. Dhara buru – buru takut terlambat. “
“ Bisa kan kamu mampir ke puskesmas sepulang dari sekolah ? Toh, arah ke rumah kamu juga ngelewati Puskesmas. Kamu masih sempat mampir ke rumah, pamit sama emak. Tapi pamit sama suami kamu nggak sempat ? Apa ponsel kamu juga low bath ? Berkali – kali abang telepon tidak sekalipun kamu angkat . “ sentak Julio.
Hati Andhara makin terasa perih. Belum pernah ia merasa kecil hati seperti ini. Dan belum pernah ia merasa ingin menangis mendengar orang lain mengomelinya dan menghardiknya seperti ini. Bahkan di marahi seperti apapun oleh emak atau guru BP nya, Andhara masih bisa cengar cengir. Apakah efek jatuh cinta memang sekejam ini ?
Masih dengan pandangan ke samping, Andhara menjawab, “ Maaf kalau Dhara tidak bisa menjadi istri yang baik dan sesuai keinginan pak dokter. Dhara memang masih terlalu muda untuk berumah tangga. “ Dhara menjeda dengan menarik nafas dan membuangnya supaya air matanya tidak sampai jatuh.
“ Dhara memang belum mengerti, bagaimana menjadi istri yang baik. Dhara juga nggak akan beralasan baterai ponsel low bath. Munafik dan pecun_dang namanya. Tapi Dhara memang tidak sempat pegang hp. Hp Dhara taruh dalam tas. “ lanjutnya.
“ Mulai besok, Dhara mau menginap di mess atlit sampai setelah pertandingan. Biar nggak terlalu capek pulang pergi. “
Kini Julio yang menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. “ Abang akan antar dan jemput kamu tiap hari. Nggak usah menginap di mess. “ titahnya.
“ Maaf, selain memang Dhara yang nggak mau terlalu capek dan ingin fokus sama pertandingan, semua anggota tim juga menginap di mess. Karena itu salah satu instruksi pelatih. “ jawab Andhara padahal ia juga tidak tahu apakah temannya menginap di mess atau tidak. Yang pasti saat ini, ia bisa jauh dari Julio.
__ADS_1
Andhara melepaskan lengannya dari cekalan Julio dengan paksa, lalu ia berlalu menuju ke ranjang. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur. Ia capek. Bukan hanya tubuhnya yang cape, tapi juga hati dan pikirannya.
“ Kalau pak dokter nyesel nikahin Dhara, Dhara ikhlas buat di tinggalin. Mungkin pak dokter punya masa lalu yang lebih pantas untuk menjadi pendamping pak dokter. Toh Dhara juga nggak pernah minta sama pak dokter buat nikahin Dhara. “ lirihnya saat ia hendak naik ke atas tempat tidur.
“ Bicara apa kamu ? Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah ninggalin kamu. Tidak ada masa lalu saya yang manapun yang bisa membuat saya ninggalin kamu. “ Dhara hanya tersenyum miring menanggapi jawaban Julio. Ia naik ke atas tempat tidur.
“ Jangan pernah mengatakan perpisahan untuk pernikahan ini, apapun alasannya. Saya tidak suka ! “
“ Hem “ hanya itulah jawaban yang terdengar dari mulut Andhara. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Miring membelakangi Julio yang masih berdiri. Julio hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
Baru saja ia hendak menghampiri, Dhara kembali berucap, “ Makan malam udah Dhara siapin di meja buat pak dokter. Maaf, Dhara capek, jadi nggak bisa nemenin pak dokter makan. “
Tanpa sepatah katapun, Julio keluar dari dalam kamar meninggalkan Andhara. Entah apa sebabnya Julio begitu kecewa pada Andhara hanya karena istrinya itu pergi tanpa meminta ijin kepadanya. Merasa tak di anggap ? Lalu kecewa ? Mungkin saja. Julio merasa belum di anggap sebagai suami oleh Dhara. Nyatanya, istrinya itu sempat berpamitan dengan si emak, dan sempat juga ngobrol sama Soni, tapi untuk berpamitan dengannya saja tidak sempat.
Julio menghabiskan makan malamnya dengan cepat, membereskan bekas makannya dengan cepat pula. Ia masih ingin berbicara dengan sang istri. Ia ingin menunjukkan kekecewaannya terhadap sang istri. Setelah selesai membereskan bekas makan malamnya, Julio kembali ke kamar.
Sampai kamar, ia mendapati sang istri yang sepertinya sudah tertidur pulas. Ia ikut naik ke atas tempat tidur. Posisi Dhara yang membelakangi pintu, membuatnya tidur menghadap sisi Julio.
Julio menatap wajah polos sang istri. Tiba – tiba ia melihat setetes air mata yang masih menggenang di pelupuk mata tertutup sang istri. Dan sesekali, suara sesenggukan juga masih terdengar meskipun lirih.
“ Kamu menangis ? “ monolog Julio. “ Apa kata – kataku terlalu kasar dan keras buat kamu ? “ Julio bertanya sambil membelai lembut pipi Andhara.
Penyesalan yang begitu besar mencuat di hati Julio. Ia lalu menelusupkan sebelah tangannya ke bawah kepala Andhara, dan menarik tubuh Andhara ke dalam pelukannya.
Julio sudah tidak memikirkan bagaimana jika tiba – tiba istrinya itu terbangun dan mendapati dirinya sedang memeluk erat tubuh mungil itu. Apalagi mulai besok malam sampai seminggu ke depan ia akan berada jauh dari tubuh mungil itu.
Julio memeluk erat tubuh Dhara, mengecupi puncak kepalanya berkali – kali sambil berucap, “ Maaf. Maafin abang. “
__ADS_1
Bersambung