Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
PIIIIINNN


__ADS_3

Semenjak kejadian siang itu, Aldi sama sekali tidak pernah berbicara dengan Andhara. Bahkan menegur saja tidak. Ketika bertemupun, Aldo seolah tidak mengenal Andhara.


Meskipun Andhara sempat di buat bingung oleh sikap Aldi yang berubah drastis, tapi setelah beberapa waktu, Andhara memilih masa bodo. Tidak ada hubungannya sama dia juga. Apalagi setelah Sabil bercerita jika siang itu Aldi bertanya kepadanya mengenai sosok Julio.


Saat ada acara wisuda kampus, yang membuat mereka bertemu dalam satu panggungpun Aldi bersikap cuek seakan tidak mengenal Andhara. Karena waktu wisuda, Andhara di minta langsung oleh pihak kampus untuk bernyanyi bersama ALA KADARNYA band sebagai salah satu pengisi acara.


Kini sudah satu tahun Andhara kuliah. Tak terasa, sudah dua semester ia lewati. Si kembar juga sudah berusia satu tahun lebih. Mereka semakin lincah. Membuat sahabat sahabat Dhara semakin di buat gemas oleh tingkah si kembar. Apalagi kini mereka berdua sudah mulai berjalan.


Si kecil Arisa lebih dulu bisa berjalan ketimbang Orion. Mungkin karena si Arisa yang cukup agresif jadi ia lebih lincah. Berbeda dengan Orion yang lebih suka duduk diam sambil sibuk dengan mainannya.


Hampir tiap minggu jika tidak pulang kampung, Putra, Lila, juga Soni berkunjung ke kediaman Julio. Di tambah lagi si Sabil, Angga, juga Via. Mereka senang sekali menghabiskan waktu di rumah Julio bersama dengan si kembar.


Beda dengan Eka. Ia sekarang sibuk dengan masa – masa pendidikan militernya. Ia hanya bisa meninggalkan camp tiap tiga bulan sekali.


“ Eh, kalian. Mumpung kalian pada di sini, gue nitip anak – anak gue bentar ya. “ ucap Andhara yang sudah terlihat rapi. Sudah ada Sabil, Via, Putra juga Soni di sana.


“ Mau kemana bu ? Weekend gini tumben mau bepergian. “ tanya Sabil.


“ Mau kondangan dulu sama abang. Katanya abang, temennya di rumah sakit ada yang merit. “ jawab Andhara sambil mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya, dan mengaca.


“ Gue udah cantik belum sih ? Make up gue udah oke kan ? Baru nyobain make up baru nih. “ Ia berceloteh sendiri.


“ Heh, ganjen loe sekarang mak. “ sahut Soni yang melihat tingkah Am]ndhara yang sekarang lebay.


“ Eh, wajar dong kalau gue ganjen. Cewek tulen gue !! “ sahut Andhara tanpa memalingkan wajahnya dari cermin.


“ Istri abang pasti selalu cantik di seantero jagat raya. “ ucap Julio yang datang tiba – tiba lalu mendaratkan kecupannya di pipi kanan Andhara sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


“ Eh, abang ngagetin aja. “ jawab Andhara malu – malu meong.


“ Area 21+ ini mah. Awas loe Vi, masih di bawah umur. “ ucap Soni sambil menutup mata Via dengan telapak tangannya.


“ Awas woy ! Tangan loe bau ikan asin ! “ sarkas Via sambil menyingkirkan tangan Soni dari mukanya.


“ Enak aja loe ! Habis makan sarden gue. Apa tuh ikan asin ? Nggak level banget. “ sahut Soni.


“ Dih, kebiasaan makan mie instan aja gaya loe ! “ timpal Via kembali.

__ADS_1


“ Eh, malah pada berantem. Jodoh baru tahu rasa kalian. Kayak si ono noh ! “ oceh Andhara sambil menunjuk dagunya ke arah Putra.


“ Apaan ? “ tanya Putra.


“ Tresno jalaran saka kulino. Menurut orang jawa. “ sahut Andhara sambil tertawa.


“ Ngomong apa sih eloe ah. Kagak mudeng gue. “ sahut Soni.


“ Cinta datang karena terbiasa, dodol. Gitu aja nggak ngerti . “ imbuh Via.


“ Ih, sorry dimorry ya. Gue nggak bakalan mau tuh deket sama cewek macem dia. Yang ada gue tekor mulu. Makannya banyak. “ sarkas Soni.


“ Iddih, lagian siapa juga yang mau sama loe. Yang ada tiap hari loe kasih gue makan mie instan mulu. Bisa – bisa usus gue melar. “


“ Tuh kan, berantem lagi. E lah “ sahut Andhara. “ Ah, capek ngurusin loe berdua. Gue berangkat dulu. Ingat, jagain si kembar baik – baik. Awas anak gue ada yang lecet. “ ucapnya sambil menatap sahabatnya bergantian.


“ Bunda lagi nggak ada di rumah. Emak juga lagi pulang kampung. Si kembar tanggung jawab kalian sekarang. “ lanjutnya.


“ Iya, iya e lah. Udah deh loe mendingan berangkat sana. Daripada kuping gue pengang dengerin titah titah loe. “ jawab Putra.


.


.


.


“ Eh, eh …. Oriiiii jangan lari – lari …. Nanti jatuhh … “


“ Awas Arisaaa jangan main ke sana … nanti kecebur kolam. “


Itulah keramaian dan keseruan teman – teman Andhara menjaga si kembar. Si kembar yang sedang aktif – aktifnya, selalu ada aja ulahnya.


“ Kalau gini caranya, capek kita Bil. “ keluh Via.


“ Iya juga sih. “ jawab Sabil sambil mengipasi wajahnya dengan ujung hijabnya. “ Ah, gue punya ide. “


“ Paan ? “

__ADS_1


“ Mereka kan ada dua nih. Kita bagilah sama para laki. Enak banget mereka Cuma mabar doang di sana. “ jawab Sabil sambil menoleh ke arah Putra dan Soni yang masih asyik bermain game di ponsel mereka di ruangan ber- AC lagi.


“ Boleh tuh. Kita jagain si Ori aja yang lebih kalem. Biar Arisa sama mereka. “ usul Via. Dan langsung di setujui oleh Sabil.


“ Risa sayang… “ panggil Sabil. Ia menundukkan tubuhnya sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Arisa. Arisa menoleh dan mengangguk kala Sabil melambaikan tangannya. Lalu dengan lari kecilnya, Arisa menghampiri Sabil.


“ Arisa, mau main sama onta – ontanya Arisa nggak ? Tuh, onta – onta lagi pegang hp semua. Asyik tuh kayaknya. “ Sabil sengaja memanas – manasi Arisa. Ia tahu jika Arisa pasti akan langsung tertarik. Si kecil itu emmang suka bermain ponsel. Tapi tidak diijinkan oleh ayahnya.


Arisa nampak senang dan langsung berlari menghampiri Putra dan Soni. Sabil dan Via juga senang. Si kecil itu gampang banget di ajak kerjasama.


“ Ntaaaaa …. “ panggil si kecil Arisa dengan bahasa cadelnya. Suaranya kecil, namun melengking. Mirip ibunya.


Putra dan Soni menengok ke bawah. Mereka berada di atas sofa, dan si kecil Arisa berada di dekat kaki mereka. Sedang menarik – narik celana Putra.


“ Arisa … Ada apa ? Nggak main sama dedek Ori ? “ tanya Putra.


“ Ndak. Ain ma nta ja … “ jawab Arisa sepotong – sepotong. Putra dan Soni saling menatap, memikirkan arti ucapan Arisa yang belepotan.


Arisa kembali menarik – narik celana Putra. Ia lalu berusaha manjat, naik ke pangkuan Putra. Setelah ia berhasil berada di pangkuan Putra, Arisa langsung duduk pewe.


Putra dan Soni masih bingung dengan maksud Arisa. Lalu tiba – tiba si kecil Arisa meraih ponsel Putra.


“ Pin … Pin … “ ucapnya.


“ Apa Arisa ? Onta nggak mudeng sumpah. “ sahut Putra. “ Bicara apaan sih dia ? “ tanyanya ke Soni.


Soni mengendikkan bahunya. “ Gue apalagi ? Tau nih si Anggoro bisa ajarin anaknya ngomong nggak sih ? “


“ PIIIINNN !!!! “ teriak Arisa kesal karena keinginannya tidak di penuhi oleh Putra maupun Soni.


“ Iya, sayang. Onta nggak ngerti. Cantik maunya apa. “ jawab Putra setelah mengambil nafas panjang karena terkejut.


“ Au pin. “ rengek Arisa. “ Pin da Pin iyah iya… Pin da Pin “ Arisa bernyanyi dengan nada yang lumayanlah.


“ Ohhh … Arisa mau lihat Upin Ipin ? Iya ? “ Soni dan Putra akhirnya mengerti keinginan si kecil setelah Arisa bernyanyi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2