Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
lele


__ADS_3

Tak terasa Andhara menjalani hari – harinya dengan kesibukan baru selain menjaga dan merawat kedua buah hatinya, Andhara juga kuliah. Satu semester telah ia lalui.


Selama satu semester pula ia seolah di kejar – kejar oleh anak band ALA KADARNYA. Si vokalis Vano, sering mengiriminya chat mengajaknya untuk bergabung. Atau mengajaknya manggung sesekali. Tapi Andhara tidak pernah mengiyakannya. Bagaimanapun juga, ia harus menjaga hati sang suami.


“ Ra, weekend manggung yuk … Please sekali ini doang. Pemilik café ingin kamu ikutan manggung nih. “ tulis Vano dalam chatnya. Andhara hanya me read nya tanpa mau membalas. Ia membiarkan pesan itu.


Tak lama, muncul pesan baru.


“ Ra, apa Vano sudah menghubungimu ? Pemilik café meminta kita buat ajakin kamu manggung malam minggu besok. “ bukan Vano lagi yang mengiriminya pesan. Tapi Aldi.


Semenjak ospek kemarin, Aldi lebih sering berinteraksi dengannya. Karena kebetulan, Aldi menjadi asdos di salah satu mata kulaih Andhara.


“ Sudah kak. Baru saja. “ kali ini, Andhara membalas pesan yang di kirimkan Aldi.


“ Lalu bagaimana ? “ tanya Aldi.


“ Entahlah kak. Dhara belum tahu. Mungkin Dhara nggak bisa. “ jawab Andhara apa adanya.


“ Please Ra, Cuma sekali ini aja. Kamu nggak masuk organisasi seni juga nggak pa – pa. tapi malam minggu besok, usahakan bisa ikut manggung. Pemilik café mengatakan jika kamu nggak ikut, dia mau ganti band. Dan otomatis jika kontraknya dengan ALA KADARNYA di hentikan, maka dana untuk organisasi seni akan terhenti. “ jelas Aldi.


“ Iya, kak. Nanti di pikirkan lagi. Dhara bilang sama orang rumah dulu, boleh apa nggak. “ jawab Andhara dan tentu saja hal itu membuat senyum Aldi tersungging.


Sepertinya Aldi belum mengetahui status Andhara seperti apa. Karena sampai detik ini, ia maupun Vano masih sama – sama gencar pedekate ke Andhara. Cuma mungkin cara mereka yang berbeda. Vano lebih terang – terangan, sedangkan Aldi lebih memilih cara yang elegan.


“ Ngapain, Ra ? Kok kayaknya ada beban gitu ? Sampai mende sah. Kalau mau mende sah entar malem aja. “ goda Julio yang baru keluar dari dalam kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang masih basah.


“ Dih, abang. “ Andhara memutar bola matanya mendengar ucapan me sum suaminya. Semakin hari, tingkat kemesuman seorang Julio bertambah berkali – kali lipat menurut Andhara.

__ADS_1


“ Bang, lihat deh ini. “ ucap Andhara sambil menyerahkan ponselnya dengan chat Aldi yang masih terbuka dan Julio pun menerimanya dengan pandangan mata tetap mengarah ke sang istri.


“ Dhara harus gimana ? Udah berkali – kali Dhara tolak terus. Tapi sekarang, pemilik café mengancam. Dhara jadi nggak enak, bang. Jatuhnya Dhara kayak yang sombong gitu kalau Dhara nggak mau. “ ucap Dhara pelan.


Kini Julio yang mende sah, menghela nafas kasar. “ Kok sekarang malah abang yang mende sah ? Katanya men desahnya entar malem aja. “ seloroh Andhara.


Julio menghenyakkan pan tatnya di sofa kamar, tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu. Tapi Andhara segera berjalan menuju wardrobe dan mengambilkan sang suami baju gantinya.


Julio sedang berpikir. Jika dirinya di tanya, tentu saja ia tidak akan memperbolehkan sang istri manggung kembali dan menjadi viral lagi.


Padahal baru beberapa minggu ini saja berita itu surut. Tapi ia juga tidak boleh egois. Ia juga tidak ingin istrinya di cap sebagai orang yang sok jual mahal.


“ Pakai baju dulu, bang. Nanti masuk angin. Kan nggak asyik kalau mau beraktivitas tapi badan abang bau minyak angin karena habis kerokan. “ Andhara kembali berseloroh. Ia malas mendengar sang suami berkata me sum, tapi dirinya juga tidak kalah me sum.


“ Ck ! Kamu ini selalu bilang abang me sum. Nggak nyadar apa kalau omongan kamu juga nggak kalah me sum. “ protes Julio sambil menerima kaos dan celana dari tangan Andhara.


“ Emang belum pakai ce lana dalam ? “ tanya Andhara.


“ Belum. Nih ! “ jawab Julio sambil membuka handuk yang melilit di pinggangnya.


“ Astagfirullah hal’adzim abaaaanggg !!!! “ pekik Andhara. Julio malah terkekeh mendengar pekikan Andhara karena terkejut.


“ Lelenya bisa kabur kalau nggak cepetan di keranjangin, bang. “ ujar Andhara kembali ke wardrobe untuk mengambilkan boxer milik sang suami.


“ Kan kamu pawangnya. “ jawab Julio santai.


“ Nih, pakai. “ Andhara menyerahkan boxer milik sang suami sambil dengan bibir mengerucut. “ Sumpah, asli ! Abang udah kayak om – om me sum. “ kesalnya.

__ADS_1


Cup. Julio malah mengecup bibir Andhara yang sedang mengerucut. “ Yang penting, me sumnya Cuma sama kamu. “ ucap Julio dan dengan santainya ia melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga handuk itu merosot ke lantai.


“ Dih, abang. Bisa kan, pakai celana da lamnya dulu, baru handuknya di pelorotin gitu. “ Andhara kembali bersungut dengan memelototkan matanya.


“ Cuma ada kamu doang, sayang di kamar ini. Udah biasa juga kan kamu lihatinnya. Hampir tiap malam malah. “ jawab Julio masih dengan santainya.


“ Au’ ah ! “ jawab Andhara lalu mengambil handuk yang di kenakan suaminya tadi dan di bawanya ke balkon untuk di jemur di jemuran baju. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa.


“ Masih galau ? “ tanya Julio setelah ia selesai berpakaian. Ia ikut duduk di samping Andhara.


“ Dhara mesti jawab gimana bang ? “ tanya Andhara dengan wajah sendunya.


Julio menarik nafa dalam – dalam dan mengeluarkannya sambilo membaca basmalah.


“ Kamu iya in aja. “ ucapnya yang sontak membuat Andhara langsung menoleh ke arahnya.


“ Maksud abang ? “ tanya Andhara memastikan.


“ Kamu boleh ikut manggung akhir pekan besok. “ jawab Julio. Ia sadar, ia tidak boleh terlalu mengekang sang istri.


Andhara masih sangat muda. Ia perlu mengeksplore dirinya juga. Meskipun Andhara masih begitu muda, tapi Andhara sudah menyerahkan dirinya ke dirinya.


Jadi, apa salahnya jika dirinya memberikan kesempatan sang istri untuk menunjukkan kebolehannya dan menjadi dirinya sendiri. Julio akan berusaha memberikan kepercayaan untuk sang istri.


“ Beneran, bang ? “ wajah Andhara sudah berubah menjadi berbinar.


Julio tersenyum dan mengangguk sambil mengusap puncak kepala Andhara. “ Makasih, abang. “ ucap Andhara seraya menelusupkan kedua tangannya ke pinggang Julio memeluknya erat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2