Si Dekilnya Pak Dokter

Si Dekilnya Pak Dokter
Gantung diri di pohon terong


__ADS_3

Hari terus berganti. Tak terasa, waktu dua minggupun tiba. Segala persiapan yang di lakukan oleh Julio, emak Komsah, kedua orang tua Julio, juga kedua sahabat Andhara, Lila dan Eka sudah mencapai 90 persen.


Surat – surat dari KUA sudah clear. Pak penghulu sudah siap. MUA dadakan juga sudah siap. Beberapa jenis suguhan juga sudah di siapkan oleh emak Komsah dengan di bantu oleh bu RT dan bu Kades. Karena memang hanya tetangga dekat, juga keluarga pak RT dan keluarga pak kades yang mengetahui tentang rencana pernikahan Andhara dan Julio.


Tak ada dekorasi mewah ataupun makanan dari catering ternama dalam pernikahan Julia dan Andhara. Semua di lakukan dengan sangat sederhana.


Bukannya keluarga Julio ataupun emak Komsah yang tidak mampu membuat pesta pernikahan yang meriah, tapi lebih ke hati – hatian supaya tidak banyak orang yang tahu sehingga pihak sekolahan Andhara juga tidak mengetahuinya.


Pagi itu di hari Minggu, semua orang telah bersiap kala sang calon mempelai wanita masih terbuai dalam mimpinya. Eka, Lila dan Soni juga sudah ikut sibuk membantu di sana semenjak habis Subuh.


Sementara Putra, yang memang baru mengetahui rencana pernikahan Andhara kemarin sore, masih terbengong di halaman depan rumah Andhara sambil menatap kosong pada meja kosong yang akan di gunakan saat akad nanti.


Bukan tanpa alasan ketiga sahabatnya itu memberitahunya di paling akhir. Ketiga sahabatnya itu tidak ingin Putra merasakan sakit hati karena patah hati terlalu lama. Mereka semua tahu bagaimana perasaan Putra terhadap Andhara walaupun Andhara sendiri entah mengetahuinya atau tidak.


Bohong jika saat ini hati Putra tidak perih dan nyeri. Tapi sayang, rasa nyeri di hatinya itu bukan sejenis penyakit liver yang bisa di obati oleh dokter spesialis dalam. Rasa nyeri itu tak ada obatnya. Bahkan semenjak semalam, dadanya juga terasa sesak.


Gadis yang ia sukai dalam diam semenjak entah kapan, akan menjadi milik laki – laki lain hari ini. Hari ini Putra merasakan penyesalan yang teramat sangat, kenapa harus ada dokter muda yang tiba – tiba dinas di kampung mereka. Jika ia kuasa untuk membalikkan waktu, maka ia akan mengganti Julio dengan sosok dokter tua dengan perut buncit, dan uban di seluruh kepalanya.


Putra tertunduk dalam sambil menekan dadanya supaya ia tidak mengeluarkan air matanya. Tangannya mengepal kuat.


Kini, di pikirannya hanya ada satu hal. Ia ingin sekali berlari ke kamar Andhara, lalu membungkus gadis itu ke dalam selimut tebal, kemudian memanggulnya seperti karung beras dan membawanya lari jauh hingga pak penghulu habis kesabaran dan meninggalkan rumah si emak. Dan gagallah rencana pernikahan si dokter kota dan gadis pujaannya.


“ Nggak nyangka gue, si Anggoro bakalan nikah secepat ini. “ ujar Soni sambil membantu membawa beberapa piring buah – buahan ke meja – meja yang sudah di siapkan di ruang tamu dan halaman depan.

__ADS_1


“ Iya. Gue juga. Mana nikahnya sama dokter yang beuh… Cakepnya gila !!” timpal Lila.


“ Gue juga mau nikah muda kalau calonnya selevel sama pak dokter. Gue bakalan bilang sama bokap kalau gue nggak jadi masuk militer. Mau jadi istri yang sholehah aja. “ sahut Eka yang langsung mendapat toyoran dari Soni dan juga Lila.


“ Bisa diem nggak sih kalian. Berisik !! “ umpat Putra seperti bergumam. Ia masih merasa kesal dengan situasi yang ia alami. Ketiga sahabat itu sontak menoleh ke arah Putra bersamaan lalu saling menoleh ke di antara ketiganya.


Soni berjalan mendekat ke arah Putra. “ Put, loe yang sabar dan ikhlas. “ ucapnya sembari menepuk pundak Putra.


“ Mungkin memang Andhara di lahirin bukan buat jadi jodohnya eloe. Allah pasti udah nentuin jodoh lain yang terbaik dan jauh lebih baik dari Andhara buat loe. “ lanjutnya. Kembali ia menepuk pundak Putra sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kembali bergabung dengan dua sahabat gesreknya yang lain.


“ Son, loe kenapa ninggalin si Putra sendirian ? Loe mending nemenin dia aja sana gih. “ ucap Lila sambil mendorong bahu Soni.


“ Emang kenapa si Putra gue tinggalin ? Kagak bakalan nangis ini. Udah gede dia. Berani lah sendirian. “ jawab Soni.


“ Ck ! Loe pikir, si Putra mau gantung diri di pohon terong si emak ? “ timpal Soni sambil terkekeh. “ tenang aja. Dia paling Cuma butuh waktu buat sendiri. Nenangin pikiran. Pikiran dia nggak mungkin sependek itu., mau bunuh diri Cuma gegara cintanya di ambil orang. “ lanjut Soni.


“ Salah nggak sih, kita kemarin kasih tahu dia ? “ kini Eka yang bertanya dengan sejuta rasa bersalah karena dirinya yang kemarin mengajak kedua temannya untuk memberitahu Putra tentang pernikahan Andhara dan Julio.


“ Nggak, komandan Eko. Langkah kita menurut gue udah bener. Kalau Putra tahunya setelah si Anggoro nikah, udah jadi bini orang, malah bisa sampai nangis darah dianya. “ jawab Soni. “ Udah, kalian tenang aja. Putra pasti bakalan baik – baik aja. “ lanjutnya mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang tiba-tiba merasa bersalah itu.


Lila dan Eka sama – sama menghela nafas berat, lalu menengok ke arah Putra yang masih tetap asyik duduk di lantai halaman depan rumah Andhara.


“ Eh, anak – anak, mending kalian pada bangunin si enthongnya emak deh. Eh, si eneng. Yang bentaran lagi udah jadi bini orang. Duh, nggak nyangka emak bakalan cepet punya mantu. “ beo emak sambil menerawang pikirannya. Lalu ia kembali tersadar dan menepuk pundak Lila dan Eka sambil mendorongnya.

__ADS_1


“ Cepetan, kalian siapin si Dhara. Takutnya pak penghulu sama nak Julio keburu datang. “ lanjut si emak.


“ Assiapp maaakkk….. “ jawab Lila dan Eka bersamaan.


“ Tapi inget ya, jangan sampai Dhara tahu sebelum para saksi bilang SAH. Dan jangan biarin Dhara keluar dari dalam sebelum emak nyuruh keluar. “ inagt si emak.


“ Yes mak !!! “ jawab Lila dan Eka bersamaan sambil mengangkat sebelah tangannya dan mengacungkan jempolnya. Lalu mereka berdua berlalu ke dalam menuju kamar Andhara si putri tidur.


“ Kenapa tuh si Putra ? Kayak di tinggal sama inangnya. “ ujar emak.


“ Si emak. Di kata si Putra virus Corona. “ sahut Soni.


“ Ck! Tuh anak kenapa emangnya ? Kok mukanya di lipet – lipet kayak baju habis di jemur. “ ucap emak lagi sambil tetap memperhatikan Putra yang masih duduk menggempor di lantai depan rumah.


“ Biasa mak, anak muda. Lagi patah hati karena si Dhara mau di kawinin sama laki lain. “ jawab Soni.


Pug


Emak Komsah menyabet pundak Soni dengan lap yang di pegangnya. “ Kamu pikir anak emak ayam? Pakai di kawinin? “ sungut si emak. Dan Soni malah cengengesan. Emak Komsah mencibir dan berdecak, lalu berlalu kembali ke dapur.


“ Son, kamu di depan aja ya. “ teriak emak ketika sudah berada di ambang pintu dapur. “ Kalau tamunya udah pada datang, di persilahkan masuk. Terus emak di panggil. “ lanjutnya masih sambil berteriak karena jarak dapur dan ruang tengah lumayan jauh.


“ Assiappp maakkk…. Entar kalau pak dokter sama pak penghulunya datang, Soni langsung kasih tahu emak. Emak mending cepetan dandang yang cantik. Lapnya di tinggal. Entar emak malah bau ikan asin. “ pekik Soni menimpali titah si emak negara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2