
Hosh …. Hosh …. Hosh ….
Andhara harus berlari kencang dan cukup jauh untuk menjangkau aula universitas karena jam sudah tinggal 5 menit lagi, masuk. Sambil berlari ia terus menggerutu kesal ke sang suami yang mungkin sekarang sudah dalam perjalanan ke tempat kerja.
“ Gara – gara abang nih ah !!! “ pekiknya sambil terus berlari. Karena jarak tempat parkir ke aula cukup jauh. “ Ngajakin debat mulu. Cuma pakaian aja bikin ribet. “ lanjutnya.
Pasalnya sang suami tadi merasa keberatan dengan pakaian yang di kenakan olehnya. Mulai dari saat akan berangkat, hingga perjalanan, bahkan ketika sudah berada di parkiran kampus, Julio masih enggan melepaskan istrinya.
Memang dengan style Andhara itu, Andhara terlihat begitu muda dan segar. Bahkan ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang ibu dari dua orang anak.
Setelah si kembar lahir, berat badan Andhara turun sampai ke berat badannya ketika ia belum bersuami dulu. Sudah bisa di pastikan, akan banyak lelaki yang tertarik kepadanya. Di tambah dengan make up tipis yang di kenakan sang istri. Ia terlihat begitu girly dan glowing.
Rasa percaya diri Julio tiba- tiba hancur berkeping – keping. Bukan masalah wajah ataupun body yang ia pikirkan. Karena wajah Julio tetap tampan, juga bodynya yang begitu atletis. Tapi yang menjadikan Julio tidak percaya diri adalah masalah umur. Ia khawatir dan takut jika sang istri akan lebih tertarik dengan pemuda yang masih seumuran dengannya.
“ Yah …. Kan …. Kan … “ pekik Andhara. Ia melihat, pintu aula sudah akan di tutup. “ TUNGGUUUUU ….. “ teriaknya. Dan ia semakin mengencangkan larinya.
“ Hah !! Hosh .. Hosh … “ akhirnya Andhara bisa sampai di depan pintu yang menjulang tinggi itu sebelum pintu itu tertutup rapat. Ia mengerem kakinya yang masih saja berlari.
“ Tungguhhhh … “ ucap Dhara dengan suara ngos – ngosan. “ Janganh di tu tup du .. luh .” lanjutnya. Ia mengusap peluh di keningnya.
Kakak tingkat yang hendak menutup pintu itu mengamati Andhara dari atas sampai ke bawah. Penampilan Andhara tentu saja sudah tidak sekece tadi. Bajunya sudah tidak serapi tadi.
Rambutnya juga sudah ada helaian – helain yang keluar dari karet kuncir dan berjibar di tiup angin mengenai wajahnya. Jangan lupa tentengan yang ia bawa. Membuat kakak tingkat itu mengerutkan dahinya.
“ Maaf, kak. Saya masih boleh masuk, kan ? “ tanya Andhara.
“ Nama kamu ? Jurusan apa ? “ tanya kakak tingkatnya itu.
“ Andhara Nurmalia, jurusan Farmasi Klinik dan Komunitas. “ jawab Andhara.
__ADS_1
“ Acara sudah mau di mulai. “ sahut kakak tingkatnya itu datar.
“ Saya tahu. Makanya saya tanya, saya boleh masuk apa tidak ? “ tanya Andhara geram. Ia masih capek loh ini. Jangan sampai ia harus makan daging manusia.
“ Kamu terlambat. “ jawab kakak tingkat itu masih dengan nada suara datarnya.
“ Kok bisa terlambat ? Saya sampai di depan pintu ini, tepat pukul 8 waktu Indonesia bagian barat. “ jawab Andhara tegas.
“ Kamu lihat, jam berapa sekarang ? “
Andhara mendongakkan kepalanya untuk melihat jam dinding besar yang ada di atas pintu aula.
“ Ck ! Jelas saja kalau sekarang saya terlambat kak. “ jawab Andhara kesal. “ Tapi keterlambatan saya bukan karena kesalahan saya. Kakak yang membuat saya terlambat masuk ke dalam. Karena kakak menghalangi jalan saya. “ Andhara sedikit nyolot ketika menjawab. Kesal, sudah pasti. Ia masih capek habis lari marathon, eh malah ada yang ngajakin ribut.
Lalu seseorang, yang sepertinya juga kakak tingkat Andhara, entah jurusan apa, terlihat nongol dari dalam aula.
“ Nih, ada mahasiswa baru yang sok. Udah terlambat datangnya, malah nyolot. “ jawab kakak tingkat yang sedari tadi berbicara dengan Andhara. Ia bergenre perempuan.
Kakak tingkat yang baru keluar tadi, yang bergenre laki – laki, menoleh ke arah Andhara sambil memperhatikan Andhara.
“ Maaf ya kak kalau saya sedikit meninggikan suara saya. “ ucap Andhara sambil memandang kating perempuan itu. “ Saya hanya berusaha mempertahankan hal yang benar saja. Sekali lagi saya katakan, kalau saya sampai di sini.. “ Andhara menunjuk tanah yang ia pijak dengan telunjuk kanannya.
“ Pukul 8 kurang satu menit. Dan setahu saya, sesuai dengan yang di informasikan ketika technical meeting kemarin, jika jam masuk adalah jam 8 WIB. Jadi artinya, saya belum bisa di katakan terlambat. “ lanjutnya.
Andhara menghela nafas sebentar. “ Kakaknya ini saja yang tadi tidak melihat jam. “ tunjuknya ke kating perempuan.
“ Ck ! “ terdengar kating itu berdecak. “ Apa buktinya kalau kamu tidak terlambat ? “ tantangnya.
“ Oke. Gini deh kak. Jika memang saya terlambat sampai sini, yang artinya sudah jam 8 lebih, pastinya pintu yang kakak pegang itu, sudah tertutup. Dan kakak bisa lihat kan, pintunya masih kebuka gini ? “ jawab Andhara santai. Padahal hatinya sudah terbakar.
__ADS_1
Awas saja kalau sampai gue nggak di bolehin masuk. Fix, gue bikin keribo deng tuh rambutnya. Batin Dhara kesal.
“ Ya udah, buruan masuk. “ sahut kakak tingkat laki – laki. Oh, ternyata memang laki – laki itu lebih luwes jika masalah beginian ketimbang perempuan. Kebanyakan soknya. Batin Andhara.
Laki – laki itu sedikit menyingkir supaya Andhara bisa masuk ke dalam. “ Misi, kak. “ sapa Andhara ke kating perempuan tadi sambil tersenyum nyengir.
“ Kok loe biarin dia masuk sih ? “ protes si kating perempuan.
“ Udah, biarin aja. Baru hari pertama ini. Kalau besok – besok dia terlambat lagi, baru deh nggak loe bolehin masuk. Atau loe kasih hukuman deh. “ sahut laki – laki itu dan menutup pintu besar aula.
“ Huft ! Akhirnya gue bisa masuk. “ gumam Andhara. “ Wuahhh …. Gede bingitz gedungnya. “ Andhara menatap kagum ke dalam aula. “ Mahasiswa barunya juga banyak banget. Nih, gue harus duduk dimana coba ? “ tanyanya sambil mata mengelilingi ruangan besar itu.
“ Ah, di sana aja kali ya. “ lanjutnya kala melihat satu bangku kosong yang berada di tengah ruangan. Dengan kepedan dan tingkat cuekisitas yang tinggi, Andhara berjalan di gang yang berada di tengah – tengah ruangan.
“ Maaf, misi kak …. Misi …. Numpang lewat. “ Andhara menyapa orang – orang yang ia lewati hingga akhirnya ia sampai di bangku yang kosong tadi. Andhara tersenyum manis ke penghuni di samping kursi kosong itu sebelum ia menghenyakkan pan_tatnya di bangku kosong itu.
“ Terlambat ya ? “ bisik penghuni di sampingnya.
“ Iya, hampir. Tapi tadi katingnya agak rese. Dia hampir nggak bolehin gue masuk. “ jawab Andhara yang juga berbisik.
“ Oh iya, kenalan dulu lah. Masak iya, kita udah ngobrol tapi kita belum kenalan sih. “ ucap teman baru itu sambil menyodorkan tangan kanannya. “ Gue Salsabila. Panggil aja Sabil. “
“ Oh iya, gue Andhara. Panggil aja Dhara. “ Dhara menerima uluran tangan teman barunya itu setelah menaruh tas khusus tempat ASI di lantai. “ Jurusan apa ? “
“ Gue ambil Farmasi Klinik dan Komunitas. “ jawab Sabil.
“ Wah, sama dong. Gue juga. “ jawab Andhara.
Bersambung
__ADS_1