
“ Dari tadi di ajakin bicara diem aja ? Lagi sariawan kali ya. “ gumam Andhara kesal karena semenjak masuk ke dalam mobil, ia seakan di cuekin oleh Julio. Beberapa pertanyaan ia lontarkan, hanya mendapat jawaban hem dari laki – laki di sebelahnya.
Julio hanya melirik ke arah Andhara tanpa mau menjawab gumaman sang istri meskipun ia mendengarnya.
“ Emang enak di cuekin ? Daripada diem – dieman kayak orang lagi banyak masalah, tahu gitu mendingan tadi pulang bareng yang lain aja naik bis. Paling nggak, ada yang di ajakin ngobrol. Bukannya nge-BT-in kayak gini. “ lanjut Andhara.
“ Bilang aja biar bisa barengan cowok tadi ! “ sindir Julio. Seketika Andhara memiringkan tubuhnya untuk menoleh ke arah Julio yang sedang menatap lurus ke jalanan sambil mengemudikan mobilnya.
“ Eh ! Nggak sariawan ternyata. “ sahut Andhara sambil terkekeh. Julio meliriknya sekilas. “ Jangan suka lirak lirik pak … Nanti jatuh cinta loh. Bisa berabe kan kalau sampai pak dokter jatuh cinta sama Dhara. “ candanya.
“ Nggak ada yang salah juga jatuh cinta sama istri sendiri. Sah – sah aja. “ sahut Julio dengan nada datarnya. Jawaban yang membuat Andhara bungkam seketika. Jantungnya berdetak kencang.
Jangan baper dong Dharrr…. Ingat, dia sudah punya tambatan hati. Loe mah buang ke Samudra Atlantik aja. Biar tenggelam di segitiga bermuda. Batin Andhara.
“ Eh, kok ??? “ tiba – tiba Andhara membuka suara kembali setelah suasana hening beberapa saat. Ia memutar tubuhnya ke belakang.
“ Kan, arah pulang ke sana pak dokter. Kok malah ambil arah sini ? Jangan bercanda deh pak. Nggak lucu kalau kita nyasar. Padahal udah jelas terlihat tulisan ke Ga_rut ke arah kanan tadi. “ lanjutnya. Tapi Julio tidak menjawab. Masih malas untuk menjawab semua omongan istrinya. Hatinya masih kesal oleh dua cowok yang baginya nggak jelas tadi.
“ Kita mau kemana dulu ini ? “ tanya Andhara kembali karena ia masih penasaran. Tapi Julio hanya diam saja.
“ Hah ! Daripada ngomong sama angin yang gue juga nggak tahu dia ngejawab apa, mending dengerin musik aja deh. “ pupus Dhara sambil mengeluarkan headset dan ponselnya dari dalam tas. Ia memasang headset di kedua telinganya, lalu men-searching lagu kesukaanya di aplikasi Y.
Sambil bersenandung, Dhara menoleh ke samping melihat ke pemandangan yang berjajar di sepanjang jalanan yang mereka lewati. Bukan pemandangan hijau yang menyehatkan mata tentu saja. Tapi pemandangan itu berupa bangunan – bangunan tinggi entah itu hotel, kantor pemerintahan, ataupun pertokoan dan mall.
Ada juga penjual berbagai macam makanan ringan sampai berat. Untung saja Dhara masih kenyang. Coba kalau dia belum makan tadi. Bisa – bisa ilernya mengucur deras bak air mancur.
__ADS_1
Entah mengantuk saking bosan dan BT, atau mengantuk karena ia kelelahan, Andhara terlihat memejamkan matanya dan nafasnya terdengar berhembus dengan teratur. Ia sudah berlanjut ke alam mimpinya.
Julio meliriknya sekilas., lalu menghembuskan nafasnya lelah. Sepertinya istrinya memang tidak tahu jika dirinya sedang merajuk karena kesal melihat laki – laki lain yang menginginkan sang istri dan yang satunya lagi memandang istrinya dengan tatapan mendamba.
Kini sang istri malah enak – enakan tidur sedang hatinya sedang di landa kegalauan tingkat dewa. Julio mengangkat tangan kirinya, lalu menyingkirkan beberapa helai rambut Andhara yang menutupi pelipisnya. Setelahnya, ia mengusap lembut rambut panjang Andhara.
.
.
.
“ Hoaaammm … “ Andhara terbangun dari tidurnya. Menggeliat sambil menguap lebar merupakan hal paling asyik di kala baru bangun tidur, bukan ? Dan Andharapun merasa demikian.
“ Sampai di mana kita ? “ tanyanya sambil mengucek matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, kini ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling di depan dan di sampingnya. Mobil Julio berjalan sedikit melambat.
Bukannya menjawab, kini Julio membelokkan mobilnya memasuki pekarangan sebuah rumah dua lantai yang nampak indah. Meakipun tidak begitu besar layaknya sebuah mansion, tapi rumah itu tetap terlihat mewah dan elegan.
“ Bunda ? “ sebuah panggilan terucap dari bibir pink milik Andhara. “ Beneran bunda kan itu pak dokter ? “ tanyanya sambil menoleh ke arah Julio sesaat. Julio terlihat mengangguk.
Andhara terlihat begitu senang melihat sang ibu mertua. Sebuah senyuman merekah dari kedua sudut bibirnya. Ia segera melepas sabuk pengamannya, dan dengan tidak sabar ia harus menunggu Julio memarkirkan dan menghentikan mobilnya.
“ Buruan pak dokter. Atau turunkan dulu Dhara di sini. “ pintanya tanpa melihat ke arah pengemudi. Matanya masih menatap bahagia ke arah sang mertua.
Setelah mobil yang di kendarai Julio berhenti, Andhara segera membuka pintu mobil dan berlari ke arah sang ibu mertua tanpa menghiraukan suaminya yang hanya mampu memandangnya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ada rasa senang di hatinya kala melihat sang istri yang ternyata menyayangi bundanya. Bahkan kini dirinya seperti tidak di anggap oleh bundanya sendiri. Udah bagai anak tiri batin Julio.
“ BUNDAAAAAAAA ….. “ teriak Andhara sambil berlari merentangkan kedua tangannya ke arah bunda.
“ Hati – hati nak. Jangan lari. Nanti kesandung. Banyak batunya. “ pekik bu Lestari.
“ Dhara emang udah kesandung bunda. Tapi kesandung sama anak bunda. “ kekehnya yang membuat bu Lestari tersenyum lebar. Iapun merentangkan kedua tangannya kala Andhara sudah mendekat kepadanya.
Berpelukan untuk beberapa waktu. Lalu Dhara mengecup pipi sang bunda kanan dan kiri. “ Kangen sama bunda …. “ rengek Andhara sambil meletakkan kepalanya di bahu sang bunda.
“ Bunda juga kangen sama anak perempuan bunda yang cantik ini. “ sahut bu lestari sambil tangan kirinya mengusap punggung Andhara, dan tangan kanannya mengusap pipi Andhara.
“ Sayang anak perempuan bunda ini masih seorang gadis meskipun udah berstatus istri ya bund. “ balas Andhara pura – pura bersedih.
“ Mau meningkatkan status ? “ tanya bunda.
Andhara menegakkan kepalanya lalu menatap bundanya penuh tanya. “ Naik jadi apa bund ? Kan udah paling tinggi tuh. Jadi istri. Masak iya berubah jadi selir. “
“Meningkatkan status, dari gadis, menjadi wanita. “ jawab Bu Lestari sambil menaik turunkan alisnya dan senyuman smirknya. Membuat Andhara menyipitkan matanya dengan tetap menatap sang bunda.
“ Julio pasti tidak akan keberatan untuk membantu kamu menaikkan status dari gadis menjadi wanita seutuhnya. “ lanjut beliau. “ Bunda juga seneng. Siapa tahu bentar lagi bisa nimang cucu. “
“ IIhh bunda…. Dhara masih di bawah umur kali bund. Nggak paham dengan masalah begituan. “ rajuk Andhara.
“ Tenang aja kamu mah. Tinggal telentang aja. Biar Julio yang bekerja. Kamu tinggal menikmati selayaknya tugas seorang istri. Suami bekerja, istri menikmati hasilnya. “ goda Bu Lestari.
__ADS_1
“ Bunda ihh… !! “ protes Dhara dengan wajah yang bersemu karena ternyata Julio sudah berada di dekatnya dengan memanggul dua tas. Satu tasnya sendiri, dan satu lagi tas Dhara yang di lupakan begitu saja.
Bersambung