SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 100. BERSAMA MEMBERANTAS KEBODOHAN DAN KEMISKINAN


__ADS_3

Setelah tim dokter menyelesaikan tugasnya, mereka lalu meminta Ahmad untuk mencoba menggunakan tangan barunya sesuai arahan dokter.


Ahmad sangat senang, dia mulai menggerak-gerakkan tangannya dan sesuai janji, orang pertama yang akan dia peluk adalah Zero.


Sambil menangis Ahmad memeluk Zero dan berkata, "Terimakasih Kak, rasanya seperti mimpi, aku sekarang bisa memeluk Kak Zero."


Zero membalas pelukan Ahmad, lalu diapun berkata, "Berterimakasih lah sama yang telah menciptakan kita Dek, kakak hanya sebagai perantara. Jangan lupa bersyukur dan pergunakanlah tangan barumu untuk kebaikan."


"Iya Kak."


Kemudian Ahmad memeluk ibunya, mereka berdua sama-sama menangis, lalu ibu Ahmad juga mengucapkan terimakasih kepada Zero dan kepada tim dokter yang telah mewujudkan mimpi keluarganya terutama mimpi Ahmad.


Merekapun pamit, lalu Dokter berpesan agar Ahmad segera kembali jika mempunyai keluhan tentang tangan barunya.


Zeya yang melihat ketiganya keluar dari ruangan Dokter segera menghampiri lalu mengucapkan selamat kepada Ahmad.


Mereka segera meninggalkan tempat itu dan Zeya memberi ide, "Bagaimana jika kita langsung melihat toko yang di dekat pasar Kak! Sekalian jalan, jadi besok tinggal pergi melihat tempat Kak Kiara akan berdagang."


"Boleh juga usulmu Zey," ucap Zero.


"Toko siapa Kak?" tanya Ahmad.


"Buat tempat tinggal kalian Dek, biar bisa sekalian berdagang di sana. Kamu dan adik harus membantu ibu ya!"


"Oh...terimakasih sekali lagi Kak, dengan apalah kami harus membalas jasa Kak Zero."


"Dengan semangat belajar dan juga kerja keras, mewujudkan masa depan yang lebih baik, itu sudah lebih dari cukup buat Kakak."


"Kita sama-sama berantas kebodohan dan kemiskinan Dek!" imbuh Zeya.


"Siap Kak! Aku akan segera mendaftar sekolah setelah pindah, jadi pagi aku sekolah setelah pulang aku bisa bantu ibu di toko," ucap Ahmad.


"Nah...ini baru adek Kak Zero, semangat ya Dek!"


"Pasti Kak!"


"Oh ya Dek, jika nanti usaha kami berhasil, ibu janji akan membantu teman-teman Ahmad yang belum bersekolah, agar bisa turut mengecap pendidikan seperti Ahmad."


"Terimakasih Bu, semoga niat kita mendapatkan ridho dan keberkahan," ucap Zero.

__ADS_1


"Aamiin," jawab mereka dengan serempak.


"Kita hampir sampai pasar Kak, dimana letak tokonya ya Kak?"


"Setelah persimpangan di depan, kamu belok kanan ya Zey dan tidak jauh dari sana ada deretan ruko sebelah kanan, tokonya tidak terlalu besar tapi cukup strategis kok. Mudah-mudahan sesuai janji, pemilik telah meminta orang untuk memugarnya, menambah kamar tidur juga dapur," ucap Zero lagi.


"Baik Kak, aku akan pelan-pelan saja mengemudinya agar tidak terlewatkan."


"Oh...tokonya yang dekat klinik ya Kak?" tanya Ahmad.


"Ya Dek, Nah itu kamu sudah tahu?" ucap Zero.


"Dulu di situ, ada yang dagang bakso Kak, cukup laris. Aku dulu sempat berhayal, andai kami bisa menyewa toko di sekitar sini, pasti hidup kami tidak akan kesusahan dan aku tetap bisa dagang kacang keliling hingga senja tanpa harus takut kemalaman pulang dan memikirkan ibu dan adik di rumah yang belum makan."


"Nah, sekarang kamu nggak perlu keliling lagi, Kakak rasa buka toko sembako dan snack juga cocok di sana. Jika ada yang mau dagang makanan khusus malam hari di emperan masih bisa, misal dagang sate, 'kan bisa membantu melariskan toko kalian juga."


"Iya Kak, nanti aku tanya Pak Wahid mana tahu beliau mau mangkal bisa pakai emperan di malam hari."


"Siapa Pak Wahid Mad?" tanya Zero.


"Pedagang sate Padang keliling Kak! tapi khusus siang hari. Barangkali saja istri dan anaknya mau membantu dagang di sini di malam hari. Soalnya Pak Wahid pernah cerita, beliau bingung mau cari tambahan pendapatan karena anaknya tahun depan sudah mau masuk SMA dan seorang lagi kuliah, sementara mau sewa tempat beliau tidak punya uang."


"Bagus Mad! Kak Zero setuju."


"Iya Kak, benar!" jawab Ahmad.


Zeya menepikan mobilnya di bawah pohon rindang tidak jauh dari toko tersebut, kemudian mereka turun.


Ternyata pemilik toko menepati janjinya, di sana terlihat dua orang pekerja sedang melihat dan merencanakan kapan mereka akan mulai mengerjakannya.


"Selamat sore Pak!" sapa Zero.


"Selamat sore Dek! Adek-adek ini siapa ya?" tanya salah seorang pekerja.


"Kami yang akan menyewa toko ini Pak, ini kebetulan lewat jadi singgah untuk melihat-lihat. Bapak berdua yang akan memugar bangunan ini?"


"Bertiga Dek, dengan adik pemilik toko ini. Itu beliau ada di belakang sedang melihat-lihat bagian belakang. Sebentar saya panggilkan ya Dek!"


Saat pekerja itu pergi ke belakang, Zero menelephone pemilik toko bahwa mereka sedang ada di toko untuk melihat-lihat. Zero ingin menanyakan, apa uang DP sewa toko bisa di berikan kepada adik si pemilik biar untuk belanja bahan yang diperlukan.

__ADS_1


Pemilik toko setuju, lalu beliau meminta tolong kepada Zero agar meminjamkan ponselnya kepada adiknya karena beliau ingin ngomong langsung.


Zero pun segera memberikan ponselnya kepada adik pemilik toko yang kebetulan sudah berdiri dihadapannya.


"Paman, ini bapak pemilik toko ingin bicara," ucap Zero.


Setelah abang beradik itu bicara, adik pemilik toko meminta salah satu pekerja untuk membelikan kuitansi serta pena, karena mereka akan serah terima DP sewa saat ini juga.


"Bu, kita berikan separuh dulu sewa tokonya agar uangnya bisa mereka gunakan untuk membeli bahan yang diperlukan serta untuk upah para pekerja," ucap Zero.


"Iya Dek."


Kemudian ibu Ahmad memberikan uang senilai 75jt kepada Zero, lalu Zero meminta adik pemilik toko untuk menghitungnya.


Setelah dihitung pas, paman tersebut segera menulis dan menandatangani sebuah kuitansi sebagai bukti penyerahan uang, lalu memberikannya kepada Zero.


"Terimakasih Dek," ucap beliau kepada Zero.


"Kira-kira berapa lama waktu yang mereka diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan ini paman?" tanya Zero.


"Paling lama kami usahakan satu bulan selesai, tapi mudah-mudahan tidak sampai satu bulan, karena kakak saya tadi bilang untuk menambah pekerja."


"Baiklah Paman, jika sudah selesai telephone saya ya, ini nomor ponsel saya Paman," ucap Zero sambil menuliskan nomornya di secarik kertas yang di sodorkan oleh adik pemilik toko.


"Oke Dek, terimakasih, jika nanti sudah selesai kami akan segera menghubungimu," ucap paman, adik pemilik toko.


Zero dan yang lain segera pamit, lalu pergi melanjutkan perjalanan, mengantar pulang ibu beserta Ahmad.


Selamat malam sobat, maaf baru bisa update, malam ini aku rekomendasikan karya temanku Kak Kisss, ceritanya seru lho....mari, silahkan mampir dan beri dukungannya juga ya dalam karya beliau. πŸ™β™₯️


Ini blurb karyanya ya sobat,


Hanna merupakan istri yang ceria dan manja. Namun, karena suatu ketika dia mendengar kata-kata menyakitkan dari suaminya membuat hati wanita itu sakit dan berniat berubah menjadi wanita tegar.


"Hanna bagaikan noda hitam yang melekat pada pakaian ku. Kalau bukan karena bakti ku pada orang tua. Sudah dari dulu aku meninggalkan nya!" ujar Reza pada temannya.


Degg.


Hanna memeluk kotak bekalnya erat. dia tak menyangka suaminya bisa sejahat itu menyamankan dirinya dengan noda hitam.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Mulai saat ini aku akan berubah, jangan salahkan sikap ku yang nantinya akan membuat mu pusing tujuh keliling!" gumam Hanna dengan mata yang mengajak sungai.



__ADS_2