
"Jadi, Kak Zero memang mendengar suara-suara menyeramkan tadi?" tanya Zeya.
Zero pun mengangguk, lalu berkata, "Sekarang giliran kamu tidur, biar aku yang berjaga-jaga. Bang Togar dan Bang Beni silahkan jika ingin beristirahat," ucap Zero.
"Nggak Bos, kami tadi sudah tidur di kantin 'kan," ucap Beni.
"Oh ya Bos, belum ada ya kabar dari Dokter kapan emak akan di operasi?" tanya Togar.
"Besok pagi keputusannya Bang, aku juga sudah tidak sabar, ingin melihat emak segera pulih," jawab Zero.
"Oh ya Bang, aku ke toilet sebentar ya, mau bersiap untuk menjalankan ibadah subuh, titip Zeya,ya Bang!" pamit Zero.
"Silahkan Bos!" ucap Togar dan Beni bersamaan.
Saat Zero pergi, kembali terdengar langkah kaki, mendekat. Awalnya Togar dan Beni saling pandang tapi akhirnya mereka tersenyum, ternyata seorang suster yang lewat untuk mengecek ruangan pasien sebelum mereka pergantian shift kerja.
"Nah 'kan, kita salah duga lagi," ucap Bang Togar sambil tertawa.
"Padahal Bos Zero sudah menjelaskan agar kita jangan takut, eh... ternyata detak jantung tidak bisa kompromi, dag dig dug semakin kencang," ucap Beni.
Tidak lama Zero pun kembali, lalu dia berkata, "Bang jika ada kabar apa-apa tentang emak, aku ada mushollah ujung lorong itu ya," ucap Zero.
"Baik Bos!" ucap keduanya serempak.
Zero pun melaksanakan ibadah subuh, setelah itu dia membangunkan Zeya agar juga melaksanakan ibadah, tapi Zeya masih libur, maklumlah wanita, dapat jatah libur ibadah saat jadwal menstruasinya datang.
Bang Beni pun pamit untuk ibadah, dia ingin perlahan memperbaiki hidup, menjalaninya ke arah yang lebih baik.
Pukul 9 pagi, Dokter masuk memeriksa kondisi emak, lalu beliau memanggil Zero dan menunjukkan hasil laboratorium serta memutuskan jika sore nanti operasinya akan dilakukan.
"Baiklah Dok! Apakah sekarang saya boleh menjenguk emak Dok?" tanya Zero.
"Boleh, tapi maaf hanya satu orang saja ya, maklum demi menjaga kestabilan kondisi sebelum operasi," ucap Dokter.
__ADS_1
"Oh ya, satu lagi ya Dek, tolong jangan membebani pikiran emak dengan masalah, apalagi masalah yang berat. Buat beliau dalam kondisi setenang dan senyaman mungkin," pinta Dokter.
"Iya Dok, terimakasih sudah mengingatkan saya," ucap Zero.
"Sekarang silahkan adek jika ingin menjenguk beliau, ikut dengan perawat kami," ucap Dokter lagi.
Zero segera mengikuti perawat yang dimaksud oleh Pak Dokter. Mereka pun masuk ke ruangan emak, di tubuh emak terpasang banyak peralatan kedokteran yang Zero sendiri tidak tahu fungsinya untuk apa saja.
Melihat emak seperti itu, hati Zero sakit, dia sedih, kenapa di saat dia hampir bisa memenuhi semua janjinya untuk membahagiakan emak, malah musibah datang.
Zero mendekat, mencium tangan Mak Salmah, dia meneteskan air mata. Tapi ketika dia ingat pesan Dokter tadi, buru-buru Zero menghapusnya.
Emak terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi karena ada alat bantu pernapasan yang menutupi bagian hidung dan mulutnya, Zero pun melarang emak untuk bicara.
Namun emak memaksa dan ingin melepaskan alat tersebut.
Melihat hal itu, Zero memanggil perawat yang mengantarnya tadi, lalu dia bertanya, apa boleh membuka alat bantu pernapasan tersebut untuk sementara karena emak ingin mengatakan sesuatu.
Perawat tersebut memperbolehkan tapi tidak boleh terlalu lama, lalu perawat tersebut membukanya untuk sementara.
Setelah Zero mencium kening emak, diapun mendekatkan telinganya, ke mulut Mak Salmah.
Dengan terbata-bata Mak berkata bahwa tidak usah operasi, beliau tidak mau menyusahkan Zero dan lebih baik Zero memikirkan biaya untuk kuliahnya.
Zero memberitahu emak agar jangan khawatir, dana operasi sudah dilunasi dan Zero juga sudah mendaftar kuliah.
Dia juga berjanji, setelah emak sehat mereka akan mendaftar untuk keberangkatan haji plus, jadi tidak perlu menunggu daftar antrian yang bertahun-tahun.
Emak menanyakan kepada Zero, dia mendapatkan uang dari mana, tapi Zero hanya menjawab, jika emak sembuh nanti dia akan mengatakan kebenarannya.
Bahwa mereka sekarang sudah menjadi orang kaya dan Zero akan menceritakan rahasia yang selama ini dia sembunyikan dari semua orang yaitu tentang Sistem Kekayaan yang dia dapatkan dari sebuah ponsel jadul.
Sekarang Zero hanya meminta emak untuk tenang sebelum menjalani operasi.
__ADS_1
Mak Salmah janji akan bersemangat menghadapi pelaksanaan operasi nanti sore karena beliau ingin sembuh dan berangkat haji bersama Zero.
Berangkat haji adalah tujuan akhir hidup yang selama ini Mak Salmah dambakan, yang menurutnya tidak akan mungkin terwujud.
Tapi hari ini perasaannya sangat gembira, setelah mendengar ucapan dari Zero, bayangan tanah suci Makkah pun melintas dalam angan-angan beliau.
Melihat emak yang mulai kepayahan berbicara, Zero pun memanggil perawat.
Namun emak menarik lengan Zero dan berpesan, jika nanti operasinya gagal, emak tidak selamat, beliau meminta Zero untuk mengambil kotak kecil yang beliau simpan di dalam lemari pakaiannya.
Mak Salmah meminta Zero untuk memberikan kotak tersebut kepada Bu Riana dan janjinya untuk memberangkatkan haji, Mak minta dialihkan ke Bu Riana.
Zero heran kenapa emaknya sangat perhatian kepada Bu Riana, tapi dia tidak berani bertanya. Yang Zero takut kan hal itu bisa membebani pikiran Mak Salmah.
Tanpa berpikir lagi Zero langsung menyetujui hal itu, bahkan demi membahagiakan hati emaknya, Zero mengatakan akan membawa Bu Riana berangkat haji juga bersama mereka setelah Mak Salmah benar-benar sehat.
Mak Salmah tersenyum, dia mengelus lembut wajah Zero dengan tangan keriputnya itu. Dalam hatinya beliau bersyukur, telah diberi kesempatan untuk merawat dan membesarkan anak seperti Zero.
Dari kedua sudut matanya mengalir cairan bening hingga membuat Zero juga ikut menangis.
Zero mengelap air mata Mak Salmah dengan kedua ibu jarinya, lalu dia tersenyum dan berkata, "Aku sayang emak, Mak harus sembuh supaya kita bersama-sama bisa ke rumah Allah."
Setelah mengatakan hal itu, Zero mencium kedua pipi dan kening Mak Salmah, lalu mencium tangan beliau. Zero pun pamit keluar, agar Mak bisa beristirahat untuk persiapan operasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Perawat pun segera memasang kembali alat bantu pernapasan ke hidung Mak Salmah, lalu dia meminta Mak Salmah untuk istirahat dan menenangkan pikiran guna kelancaran operasinya nanti.
Zero keluar dari ruangan sambil mengelap air matanya. Zeya, Bang Togar dan Bang Beni yang melihat hal itu langsung mendekat dan Zeya pun bertanya, "Bagaimana keadaan emak Kak, apakah beliau baik-baik saja?"
Zero diam sejenak untuk menormalkan perasaannya kembali, lalu dia menjawab, "Nanti sore, operasinya akan dilakukan."
"Sabar ya Bos, kami bantu doa, mudah-mudahan operasinya berjalan lancar dan emak cepat pulih serta segera kembali pulang, berkumpul bersama kita," ucap Beni.
"Iya Bos, aku juga bantu doa, sesuai ajaran agamaku," ucap Togar.
__ADS_1
"Kak Zero harus kuat, insyaallah emak pasti sembuh," ucap Zeya, memberi dukungan semangat buat Zero.
"Terimakasih, kalian lah keluargaku di saat susah dan senang," ucap Zero.