SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 121. MENYEMPURNAKAN SYARAT MISI ISTIMEWA


__ADS_3

Mak Salmah mengajak Bu Ambar dan Bu Riana, untuk beristirahat bersamanya, tapi sebelum itu beliau menyamperin Zero sambil menepuk bahunya.


Zero menjerit, lukanya kembali mengeluarkan darah. Mak Salmah tidak tahu jika bahu Zero juga terluka, hingga beliau merasa bersalah.


"Maaf Ro, emak nggak tahu jika bahu kamu juga terluka. Kamu sih pergi diam-diam, jadi kami khawatir. Sini Mak periksa lagi lukamu!" ucap Mak Salmah sambil menarik masuk Zero ke dalam rumah.


Mak Salmah membuka perban pada luka Zero yang sudah basah dengan rembesan darah, lalu membersihkannya dan meminta Zeya untuk membelikan perban yang baru di apotik terdekat.


Sambil menunggu Zeya kembali, Mak Salmah menjewer telinga Zero dan menasehatinya agar bertindak jangan terlalu gegabah. Mak tidak mau terjadi hal buruk dengannya seperti sekarang ini.


Zero meringis sambil memohon ampun agar Mak Salmah melepaskan jewerannya dan dia berjanji akan lebih berhati-hati dalam bertindak.


Zeya sudah kembali dari membeli perban, lalu mak Salmah kembali memasang perban pada luka Zero. Setelah itu Mak Salmah meminta keduanya untuk beristirahat sebelum pergi lagi mengurus masalah pembelian rumah.


Sesampainya di kamar, ponsel jadul Zero berdenting bersamaan dengan ponselnya yang lain berdering. Zeri mendahulukan untuk menjawab panggilan yang ternyata dari pemilik toko yang akan di tempati oleh Ahmad dan keluarganya.


"Hallo mas Zero," sapa pemilik toko.


"Iya Pak, ada apa ya?" tanya Zero.


"Dek... pengerjaan di toko hampir rampung hanya tinggal mencat tembok saja, jadi minggu depan sudah bisa untuk di tempati," ucap pemilik toko.


"Wow... cepat selesai pengerjaannya ya Pak, aku kira tiga minggu lagi baru rampung."


"Iya Dek, kami tambah pekerja jadi cepat selesai. Begitu saja ya Dek, selamat berdagang, semoga laris manis nanti usahanya di sana. Mengenai sisa uang kontrakannya, langsung saja transfer ke rekening saya minggu depan ya Dek."


"Baik Pak, terimakasih Pak. Insyaallah Minggu depan akan kami transfer setelah adik saya menempati toko Bapak," ucap Zero.


Setelah mengucapkan salam pemilik toko pun mengakhiri panggilannya. Belum sempat Zero menyimpan ponselnya, ponsel tersebut kembali berdering, ternyata dari Bang Togar.


Bang Togar memberi informasi jika pengerjaan pemugaran rumah-rumah kumuh di sebelah selatan kampung pemulung besok sudah akan di mulai, jadi Zero dan Zeya di minta untuk datang ke lokasi besok bersama Franky.


Zero pun meminta bang Togar konfirmasi ke Franky dulu karena besok dia harus pergi ke sekolah untuk mengambil ijazah. Masalahnya waktu pendaftaran untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri sudah di buka.


Togar pun paham, lalu dia berkata, "Baiklah Bos, besok kami dulu yang akan ke lokasi. Setelah urusan sekolah Bos selesai, kami harap Bos segera datang ya!" ucap Togar.


"Iya Bang, semangat bekerja Bang. Mungkin Kak Royan dalam waktu dekat juga akan meninjau ke sana. Karena dia sudah pulang dari luar negeri," ucap Zero lagi.


"Oke Bos, aku tutup dulu ya dan salam buat Bos Royan," ucap Togar lagi sembari menutup ponselnya.


Zero hampir saja lupa jika ponsel jadulnya tadi berdenting, lalu dia ingin melihat apa ada pesan masuk dari sistem.

__ADS_1


Ketika dia mengeluarkan ponsel itu dari dalam tasnya terdengar kembali suara,


[Ting!]


[[SELAMAT !!! misi istimewa telah berhasil Anda kerjakan. Sistem telah mentransfer dana senilai 1 Triliun ke rekening anda. Silahkan cek saldo Anda!!!]]


[Ting!]


[[Hadiah belum dikirim sistem, sempurnakan syarat. Hadiah akan kadaluwarsa dalam 2 hari kedepan, dan sanksi awal tetap akan diberlakukan!]]


"Aduh...iya, sudah lama aku tidak memulung karena repot dengan banyak masalah. Hampir saja aku lalai jika sistem tidak mengingatkan," monolog Zero sambil menepuk keningnya.


Kemudian dia bermonolog lagi, "Untung saja...karung ini selalu aku simpan di dalam tas dan tidak ikut terbakar. Jika terbakar nggak tahu lah, sistem akan mengirim kemana hadiah misi ini."


"Terimakasih sistem, Aku akan mulai mewujudkan mimpi-mimpiku," monolog Zero lagi.


Zero yang masih termenung membayangkan apa yang akan dia lakukan dengan uangnya itu di kagetkan lagi dengan suara dentingan.


[Ting!]


"Eh... ternyata sistem belum selesai mengirim pesan," ucap Zero kaget.


"Baiklah sistem, hari ini juga aku akan menuntaskan misi istimewa ku kemaren. Biar aku bisa segera menyalurkan hadiah tersebut kepada yang membutuhkan," ucap Zero lagi.


Kemudian Zero melihat arlojinya, masih ada waktu satu jam lebih lagi sesuai waktu yang dia janjikan untuk pergi menyelesaikan akad pembelian rumahnya.


Zero segera bersiap, dia akan pergi untuk menyempurnakan syarat misi yang telah dia kerjakan.


Saat Zero keluar dengan mengendap-ngendap dan menyelinap keluar dari pintu belakang, Zeya tidak sengaja melihatnya.


Gadis itu ingin memanggil tapi Zero keburu menutup pintu. Zeya yang merasa penasaran, segera mengikuti Zero, dari kejauhan dia melihat Zero mengeluarkan karung dari dalam tasnya.


"Aduh...Kak Zero sebenarnya mau ngapain sih! Bukannya istirahat malah pergi mulung. Aku tahu uang kak Zero sangat banyak di rekening, mungkin tabunganku saja kalah banyak, tapi kenapa sih...dia masih mulung. Apa mungkin kak Zero terlalu cinta dan terobsesi dengan pekerjaan itu hingga tidak mau berhenti," monolog Zero.


Zero terus saja asyik menyusuri jalananan, hingga dia tidak menyadari jika Zeya mengikutinya.


Sambil bersiul dan terkadang bernyanyi-nyanyi kecil Zero asyik mengumpulkan sampah plastik dan botol minuman yang dia temukan di jalan. Sampai akhirnya dia berhenti di halaman sebuah rumah dan di sana ada onggokan sampah yang belum di angkut oleh truk sampah.


Zero mengais-ngais sampah tersebut, memilih apa yang bisa dia ambil dan laku untuk di jual. Saat dia sedang asyik, terdengar seseorang memanggil namanya.


"Zero...Kamu 'kan Zero Ramadhan! Murid terpintar dan lulusan terbaik tahun ini di sekolah Nusantara. Namamu di elu-elukan guru dan siswa, tapi kenapa kamu malah menjadi pemulung? Bukankah masih banyak pekerjaan yang bisa kamu dapatkan dengan kepintaran mu itu kawan! nggak perlu bekerja seperti ini," ucap pemuda tersebut.

__ADS_1


Zero tidak menanggapi omongan pemuda tersebut, dia hanya tersenyum sembari tetap memungut sampah yang menurutnya bernilai.


Kemudian pemuda itu berkata lagi,"Jika kamu mau, aku bisa kasi rekomendasi supaya kamu bisa kerja di perusahaan orang tuaku."


Zero pun menjawab, "Terimakasih atas tawarannya sobat, tapi aku akan mendaftar dulu ke perguruan tinggi, setelah bisa menyesuaikan waktunya barulah mencari pekerjaan," ucap Zero halus agar pemuda tersebut tidak tersinggung.


"Baiklah...jika nanti kamu butuh bantuanku, silahkan hubungi aku, namaku Satria dan itu yang berpagar putih rumah orang tuaku," ucap pemuda itu lagi, sambil menunjuk sebuah rumah besar bertingkat dan sangat mewah.


"Kak Satria! sedang ngapain di sana!" teriak seorang gadis yang suaranya terasa tidak asing di telinga Zero.


"Sebentar, sebentar lagi aku kesana!" teriak Satria.


"Sampai jumpa sobat, aku pergi dulu ya, jangan segan...jika butuh bantuan cari aku ya," ucap pemuda itu lagi sambil tersenyum dan pergi meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan Zero melihat seorang gadis sedang berdiri di lantai atas rumah Satria, tapi sayang, wajahnya tidak jelas terlihat karena terhalang rumpun bunga yang ada di sana.


Dalam hatinya Zero berkata, "Sepertinya gadis itu ....Alena! Ya, dia Alena. Tapi... mana mungkin Alena tinggal di sana. Keluarganya saja semua tinggal di luar kota. Ah sudahlah...kenapa aku jadi mikirin Alena."


Zero menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dia melanjutkan kegiatan mulungnya. Zero berpindah tempat lagi, tapi pandangannya tidak lepas dari lantai atas rumah Satria, dia masih penasaran, apa benar gadis tadi adalah Alena. Namun sayang gadis itu sudah tidak terlihat lagi.


"Sudahlah...mungkin aku salah lihat, aku harus cepat kembali sebelum Zeya mencariku. Aku rasa sambil berjalan pulang, karungku akan penuh dan syarat mendapatkan hadiah dari misi istimewa sudah terpenuhi," monolog Zero.


Saat dia hendak berbalik, ponselnya kembali berdenting.


[Ting!]


[[Syarat sistem dalam menyempurnakan misi selesai, silahkan Cek hadiah Anda!!! Sistem telah memberikan beberapa lembar cek dengan total senilai 10 M di tempat biasa dan poin level anda masing-masing bertambah 5 poin]]


"Syukur deh...tugasku selesai," ucap Zero.


[Ting!]


[[Silahkan bagikan hadiah Anda sesuai perintah sistem, habiskan dalam dua hari kedepan]]


"Baiklah sistem...aku paham. Mungkin nanti malam selambat-lambatnya besok, seluruh hadiah ini sudah di tangan orang-orang yang membutuhkan."


Kemudian Zero memeriksa karungnya dan ternyata benar, di sana terdapat sepuluh lembar cek yang nilainya masing-masing 1M dengan total Nilai 10 M.


Zero mengambil lembar demi lembar cek tersebut dari dalam karung, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan senyum sumringah.


Zeya yang memperhatikan Zero sejak tadi dari tempat tersembunyi semakin bingung, dia penasaran dengan apa yang telah membuat Zero terlihat sangat bahagia saat ini.

__ADS_1


__ADS_2