
"Baiklah, saya akan menjelaskannya, tapi sebenarnya yang patut mengatakan kebenarannya adalah mama kamu, Shena," ucap Bu Riana.
Sejenak Bu Riana terdiam, lalu dengan nafas yang berat, beliau berkata lagi, "Semua ini terjadi gara-gara dia, kalau saja dia tidak menculik putraku saat baru dilahirkan dan tidak menjebak suamiku hingga berbuat mesum dengannya, kalian tidak akan menjadi korbannya," ucap Bu Riana.
"Maksud Ibu apa? Kenapa kami yang jadi korban?" tanya Zeya yang semakin penasaran.
"Sebenarnya," Bu Riana diam kembali, beliau masih ragu untuk meneruskan ceritanya, tapi Zero mendesak beliau dengan berkata, "Ayo Bu! ceritakan semuanya, biar kami tahu dan tidak penasaran," pinta Zero.
"Sebentar Nak, ibu akan ke kamar dulu untuk mengambil sesuatu," ucap Bu Riana yang masuk ke dalam kamarnya.
Hanya beberapa menit, beliau pun kembali dengan membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Zero, sepertinya tidak asing dengan kotak tersebut, lalu dia teringat Mak nya juga memiliki kotak yang sama persis seperti itu.
Kemudian Bu Riana membuka kotak tersebut, lalu menunjukkan kalung dan liontin yang ada di dalamnya kepada Zero, sambil berkata, "Kamu mengenal benda ini?" tanya Bu Riana kepada Zero.
"Itu milikku Bu, yang disimpan sama Emak, darimana Ibu mendapatkan benda itu?" tanya Zero.
"Iya, benar itu memang milikmu dan kamu adalah putraku, putra yang sejak dari lahir tidak pernah aku lihat, gara-gara Shena," ucap Bu Riana dengan suara bergetar dan airmatanya juga sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Jadi, aku anak Ibu! dan Mak tahu itu sejak lama?" tanya Zero.
"Mak Salmah dan saya, kami sama-sama baru tahu. Cuma emak sudah curiga saat sebelum menjalani operasi. Baru kemarenlah emak jujur dan memberikan liontin ini kepada saya, setelah memberitahu bukti lainnya seperti tanda lahir yang ada di punggungmu," ucap Bu Riana.
Lantas, apa hubungannya dengan ku Bu, kenapa Kak Zero tidak boleh menikah denganku?"
"Kamu adalah anak dari suamiku dan Sena, kalian satu Ayah, jadi tidak mungkin bisa menikah," jawab Bu Riana.
__ADS_1
Semua terkejut, mereka nyaris tidak percaya mendapatkan kenyataan bahwa Zeya bukanlah adik Royan melainkan adiknya Zero.
Zeya menangis, lalu dia berkata, "Ibu bohong! Semua ini tidak benar, ibu hanya tidak ingin 'kan aku menikah dengan Kak Zero. Ibu tidak menyukai ku karena mamaku sangat jahat!" ucap Zeya, lalu berlari dan keluar dari rumah Royan.
"Zeya, tunggu!" ucap Zero sambil mengejarnya.
Royan juga mengejar Zeya, begitu juga dengan Nayla. Mereka tidak menyangka ada rahasia besar yang terkuak hari ini.
Zeya terus saja berlari tanpa menggunakan sendal maupun sepatunya, dia tidak peduli jika kakinya terluka. Luka di raga belum seberapa dibandingkan luka hati akibat cerita hidupnya yang baru saja dia dengar dan ketahui.
Zero berhasil menarik tubuh Zeya, lalu dia memeluk erat gadis itu. Dia juga sedih mendengar kenyataan itu. Zeya terus menangis sambil berkata, "Ini tidak benar 'kan Kak? Bu Riana berbohong. Kita tidak sedarah dan bukan adik Kakak," ucap Zeya sembari menyembunyikan wajahnya di dada Zero.
Zero mengelus rambut Zeya sambil berkata, "Kita akan cari bukti Zey, untuk menguatkan perkataan Bu Riana, apa memang kita satu ayah atau tidak. Kita harus mencari mama kamu dan menanyakan kebenarannya."
Royan dan Nayla telah sampai di sana, mereka juga tidak pernah menduga, jika keadaannya semakin rumit. Baru saja dia tahu, jika Zeya bukan adiknya dan hari ini langsung di kejutkan dengan berita, jika Zero dan Zeya adalah saudara satu Ayah.
Kemudian Zero mengajak Zeya kembali ke rumah Royan. Tangis Zeya mulai reda tapi dia bertekad ingin mencari mamanya hari ini juga.
Bu Riana masih duduk di ruangan itu saat Zero dan Zeya kembali. Lalu beliau berkata lagi, "Maafkan aku Nak, kebenaran ini memang pahit tapi harus tetap diungkapkan."
"Pantas Bu, emak belakangan selalu aneh, selalu memikirkan Ibu, bahkan saat emak sedang di rumah sakit, beliau berpesan, jika meninggal saat belum sempat melaksanakan haji, maka Ibu lah yang beliau minta untuk menggantikannya. Dan jika beliau diberi sehat, emak minta agar kami juga mengajak Ibu, ke tanah suci Mekkah," ucap Zero sambil menyalam Bu Riana dan memeluknya.
Rasanya sedikit canggung, mengenal orangtua kandung saat sudah dewasa, apalagi Zero sangat menyayangi Mak Salmah, dia tidak pernah menyangka jika beliau bukan ibu kandungnya.
"Dulu kita bersaudara, sekarang dan selamanya kita juga tetap keluarga Dek, tidak ada apapun yang bisa mengubah hal itu," ucap Royan sambil memeluk Zeya.
__ADS_1
Zero pun mendekat, lalu berkata, "Aku juga menyayangimu Zey, selamanya kita akan saling menyayangi walau dalam hubungan yang berbeda, yaitu hubungan persaudaraan."
Zeya pun memeluk Zero, sambil berkata, "Maafkan aku Kak, semua ini gara-gara mamaku. Kakak jadi baru mengenal Bu Riana sebagai ibu kandung Kakak dan tidak mengenal kasih sayang seorang ayah."
"Bu, maafkan aku yang sudah marah-marah tadi terhadap Ibu," ucap Zeya sambil memeluk Bu Riana.
"Oh ya Bu, sebenarnya kami kesini ingin meminta data diri ibu beserta surat-surat yang di butuhkan untuk pendaftaran haji, Minggu depan semua sudah harus diproses agar segera mendapatkan jatah kursi," ucap Zero.
"Alhamdulillah Nak, terimakasih. Ibu tidak pernah menyangka akan mendapatkan kebahagian ganda seperti ini. Bisa menemukan kamu saja, ibu sudah sangat bersyukur."
"Kak Royan dan Kak Nay, kalian berangkatlah dengan tenang, aku akan menjaga Ibu, Zeya, mama Kak Roy dan juga Abah. Tapi aku akan membawa mereka ke rumahku ya Kak?" ucap Zero.
"Iya Ro, terimakasih Ro," ucap Royan.
Nayla juga mengucapkan terimakasih kepada Zero.
"Kalau begitu, aku ajak mereka ke rumahku sekarang saja ya Kak, mumpung kami bawa mobil," pinta Zero
"Oh boleh Dek, sebentar ya, Kak Nay beritahu Abah dulu untuk bersiap," ucap Nayla.
"Ibu juga akan menemui Bu Ambar, sekaligus bersiap untuk ikut ke rumahmu Nak," ucap Bu Riana.
"Rumah kita Bu, rumah Ibu dan Emak," ucap Zero.
Bu Riana pun pergi ke kamar untuk mengajak Bu Ambar, setelah bersiap, mereka pun kembali ke ruang keluarga untuk pergi bersama Zero.
__ADS_1
Semua pamit kepada Royan dan Nayla, mereka saling peluk dan mengucapkan semoga semua di beri kesehatan dan kebahagiaan.
Bu Ambar dan Abah berpesan agar Royan menjaga Nayla baik-baik dan berharap pulang dari bulan madu akan membawa kabar yang baik pula.