
Ponsel Zeya berdering, terdengar suara seorang pria memberitahu tentang keberadaan mama Shena di sebuah rumah yang menurutnya mencurigakan karena di jaga ketat oleh beberapa orang pengawal.
"Kamu pantau terus, jangan sampai lengah! Kalau ada kabar terbaru, cepat beritahu aku! Satu lagi, jangan sampai mama curiga, hingga penyelidikan kita sia-sia," perintah Zeya kepada pria tersebut.
"Baik Bos! Kami akan pantau terus keberadaan Nyonya dan memberi tahu apa yang beliau lakukan."
Kemudian pria tersebut menyudahi panggilannya. Zero yang merasa penasaran lalu bertanya, "Siapa yang menelepon kamu tadi Zey?"
"Aku telah membayar detektif Kak, untuk mengikuti mama, karena perbuatannya kemaren sangat mencurigakan. Aku tidak mau mama melakukan kecurangan, menusuk dari belakang saat Kak Royan tidak ada."
"Jadi, kabar apa yang mereka dapatkan?"
"Ada sebuah rumah yang di jaga ketat oleh beberapa pengawal dan mereka melihat mama masuk ke rumah itu."
"Berarti ada sesuatu di rumah itu yang mama kamu sembunyikan!"
"Iya Kak, aku juga berpikir seperti itu," ucap Zeya.
"Bu, kami tidak masuk ya, jika ada keluhan dengan tangan Ahmad cepat kabari kami," ucap Zero.
"Iya Dek, terimakasih Dek Zero dan Zeya," ucap ibu Ahmad.
"Terimakasih ya Kak," ucap Ahmad sembari turun dari mobil.
Zeya memutar mobilnya keluar dari halaman rumah Ahmad diiringi dengan lambaian tangan ibu dan anak itu. Setelah mobil Zeya tidak terlihat barulah keduanya masuk ke dalam rumah.
Sementara Zeya melajukan mobilnya ke jalan raya, kemudian dia bertanya kepada Zero, "Kita langsung pulang 'kan Kak?"
"Iya, ke rumah Kak Royan saja dulu, bukankah kamu mau menginap di sana? Nanti pulangnya biar aku naik angkot saja," ucap Zero.
"Kak, jika nanti ada waktu senggang aku ajari Kak Zero nyetir ya, biar Kakak bisa bawa mobil sendiri, 'kan nggak mungkin selamanya Kak Zero aku yang nyetiri atau naik angkot," ucap Zeya.
__ADS_1
"Baiklah Zey, aku mau kamu ajari. Suatu saat aku juga pasti bakalan butuh fasilitas mobil."
"Aku tahu jika Kak Zero mau, sekarang juga Kakak pasti bisa membeli mobil untuk kebutuhan kakak."
"Nanti Zey, tunggu saat yang tepat, aku pasti beli, aku juga ingin menyenangkan hati emak. Minimal untuk mengantarkan emak ke rumah sakit, jadi nggak perlu repot untuk mencari becak jika dalam keadaan mendesak."
Begitu masuk ke halaman rumah Royan, ponsel Zeya kembali berbunyi.
"Hallo... bagaimana penyelidikan kalian? Apa kabar terbaru?" tanya Zeya kepada detektif bayarannya.
"Bos, Nyonya keluar bersama dua orang wanita tua dan satu orang perawat, yang satu sepertinya sedang sakit gangguan jiwa, jika dilihat dari penampilannya. Nyonya juga di dampingi oleh mantan asisten pribadi almarhum Papa Bos," lapor detektif tersebut.
"Kemana mereka perginya?"
"Ini kami sedang mengikuti mobil Nyonya, sepertinya menuju ke arah rumah sakit jiwa, sebab wanita yang terganggu kejiwaannya sempat menjerit-jerit dan tangannya mereka ikat."
"Kalian harus tetap fokus, jangan sampai ketahuan atau kehilangan jejak, jika sampai itu terjadi, aku tidak akan membayar kerja kalian," ucap Zeya.
"Aku akan menuju ke sana, kamu share saja alamat terakhir nanti, jadi biar aku tahu posisi kalian," perintah Zeya.
"Baik Bos!"
"Kak... kita putar balik ya, aku penasaran sebenarnya siapa orang-orang yang sedang bersama mama saat ini!" ajak Zeya.
Zero pun mengangguk, dia menuruti kemauan Zeya, karena dia juga merasa penasaran.
Zeya segera memutar balik arah mobilnya dan mengurungkan niat untuk masuk ke rumah Royan. Kemudian merekapun menuju ke arah yang telah disebutkan oleh detektif barayan Zeya.
"Jadi kita mau kemana ini Zey?" tanya Zero.
"Sementara ini, kita ikuti saja petunjuk dari mereka Kak, kata detektif bayaranku mama sedang menuju ke arah rumah sakit jiwa," ucap Zeya lagi.
__ADS_1
"Oke! Aku nurut saja, kita harus secepatnya kesana Zey, dan mencari info yang lebih jelas lagi tentang siapa sebenarnya orang-orang tersebut."
"Iya Kak."
Zeya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak sabar ingin memergoki apa sebenarnya yang mamanya lakukan.
"Jangan terlalu kencang Zey! Bahaya, kita bisa celaka dan akhirnya tidak akan menemukan bukti apapun," ucap Zero.
"Kakak takut?" tanya Zeya.
"Jujur saja...iya," ucap Zero sambil menatap Zeya yang terlihat santai dalam mengemudikan mobilnya.
"Baiklah Kak! Aku akan memperlambat laju mobil ini, tapi jika kita kehilangan jejak mereka pasti kita akan menyesalinya."
Zeya memperlambat laju mobilnya saat melihat tangan Zero sedikit gemetar, dia berpegangan erat pada tempat duduknya. Zeya tersenyum lalu berkata, "Bagaimana Kak! Seperti ini sudah cukup?"
"Nah... iya, seperti ini saja, aku lebih nyaman begini!" ucap Zero sambil menarik nafas lega.
Maaf ya sobat kemalaman update, soalnya tadi ada urusan keluarga dan baru sampai rumah, jadi cukup isi absensi saja untuk hari ini.π
Rekomendasi karya :
Mampir yuk sobat ke karya sahabatku dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga di sana ya, terimakasih.
Blurb :
Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam keluarga yang kaya raya dan terpandang.
Hidup di dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya berjuang ekstra demi bisa bertahan hidup.
__ADS_1