
"Bang, awas!" teriak Zero, saat melihat seseorang ingin menusuk Togar dari belakang menggunakan belati.
Untung saja Togar bisa mengelak dan membekuk orang tersebut hingga belatinya kini beralih ke tangan Togar.
Zero sangat marah melihat mereka, sudah curang main keroyokan eh, malah pada menggunakan senjata tajam.
Dengan satu kali tendangan, Zero berhasil melumpuhkan dua orang sekaligus. Zero terus bergerak, tubuhnya meliuk-liuk di udara, bak di terbangkan oleh angin, dia tidak memberi ampun kepada mereka yang berusaha melukainya dan juga melukai Togar.
Beberapa hari ikut masuk di dunia kekerasan, dunia mafia, telah membuat rasa welas asih Zero terhadap musuh tidak ada lagi.
Yang ada dalam benaknya sekarang adalah menyerang, menyerang dan terus menyerang hingga lawan jatuh tak bekutik.
Dia tidak mau terlihat lemah lagi di hadapan musuh, sebelum musuh terkapar, Zero tidak akan berhenti.
Togar, yang melihat Zero bersemangat pun segera mengerahkan kemampuannya, menghajar, menendang bahkan membekuk hingga terdengar suara gemeretak dari tulang lawannya.
Lima belas melawan dua orang, harusnya mereka menang tapi berkat semangat Zero dan Togar, kelima belas orang tersebut jatuh bergelimpangan di tanah, ada yang pingsan dan ada juga yang meregang nyawa.
Melihat anak buahnya habis bergelimpangan, membuat nyali Beni sedikit menciut, tapi dia tidak bisa mundur, atau dia akan menjadi bahan tertawaan oleh Zero dan Togar yang pernah menjadi bawahannya.
"Bajingan kau Togar, ayo lawan aku jika berani," ucap Beni sambil berkacak pinggang.
"Siapa takut! Sekarang dalam kamusku, rasa takut adalah nomor sekian yang penting berani berjuang demi menegakkan kebenaran," jawab Togar yang menantang omongan Beni.
"Selama bersama dia, kamu jadi songong ya, berani-beraninya kamu melawanku!" ucap Beni yang amarahnya semakin tersulut.
__ADS_1
"Bang, bukan aku songong, apa sih yang kita dapat dengan hidup seperti ini? kekayaan! enggak 'kan? kita hanya hidup lepas makan, kekuasaan? jelas enggak, kita selalu hidup di bawah tekanan, seperti Abang sekarang. Kebahagiaan? sama sekali nggak ada rasa bahagia itu, di hati Bang. Bahagia timbul saat kita bisa berbuat sesuatu untuk orang lain dan orang itu menghargai apa yang kita lakukan, walaupun hanyalah hal kecil. Apa selama ini kita ada dihargai Bang? nggak pernah! Kita dihujat orang sekitar kita, kita ditendang oleh bos jika apa yang kita lakukan tidak berkenan baginya. Dan terakhir, bagaimana nasib hari tua kita Bang! saat kita tidak lagi kuat? yang pasti bakal di tendang, dihujat dan dikucilkan. Hanya itu yang bakal kita dapatkan Bang, sampai hari kematian datang."
Beni terdiam, semua yang dikatakan oleh Togar memang benar. Selama ini yang Beni dapatkan hanya tekanan, kemarahan, yang akhirnya dia juga melampiaskan semua itu dengan menekan anak buahnya.
Kekayaan, juga tidak, Bos lah yang semakin kaya. Kebahagiaan, apalagi ini, Beni tidak pernah merasakan bahagia, bahkan wanita yang dicintainya pun pergi, memilih menjalani hidupnya sendiri bersama putranya. Nah... bagaimana nasibnya di hari tua? dicampakkan, sendiri kesepian, diejek dan dibenci oleh orang-orang sekitar yang selama ini dia zholimi.
Melihat Beni terdiam, Togar lalu melanjutkan ucapannya, "Mumpung masih ada waktu Bang! Ayo kita berbuat kebaikan untuk orang lain, mari kejar kebahagiaan kita bersama keluarga dan malu kita bang pada usia, kepada Tuhan. Kita diberi kesempatan hidup berpuluh tahun, apa yang telah kita lakukan untuk menghargai hidup yang telah Tuhan kita berikan."
Beni berlutut, teduduk dan tertunduk di tanah, dia teringat kata-kata sang istri sebelum pergi meninggalkannya. istrinya bersumpah bahwa di hari tua Beni nanti, dia akan hidup sendiri, kesepian, bahkan tidak akan ada seekor lalat pun yang sudi mendekat.
Lalat di situ adalah sebuah kiasan, jangankan orang baik yang mendekat, orang yang buruk dan suka kotoran seperti lalat pun tidak bakal sudi menjadi temannya di hari tua.
Togar mendekati Beni, dia bersimpuh di tanah sambil meraih tangan sahabatnya, "Ayo Bang, bangkitlah! masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Mari kita belajar untuk menjadi orang baik Bang! sebelum kebaikan itu sendiri menjauh dari kita."
Zero yang mendengar hal itu tersenyum, inilah kesempatan untuknya merangkul Bang Beni, mengajaknya bersatu, membangun kekuatan untuk menjatuhkan Royan.
Dengan mengulurkan kedua tangannya, Zero mengajak Bang Togar dan Bang Beni untuk bangkit, masih banyak tugas ke depan yang harus mereka kerjakan.
"Ayo Bang, masih banyak yang bisa dilakukan untuk memperbaiki semuanya. Kami akan coba bantu menyatukan keluarga Abang lagi," ucap Zero.
"Masyarakat sudah membenciku Dek, aku dan orang-orang ku telah meresahkan mereka, mereka pasti tidak akan memaafkanku," ucap Beni.
"Perlahan mereka pasti bisa menerima Abang, seperti mereka menerimaku," timpal Togar.
"Sekarang, Bang Beni biar diantar pulang oleh Bang Togar, aku naik angkot saja pulang ke rumah."
__ADS_1
"Tapi Dek, Royan pasti tambah murka kepada Bang Beni, bisa-bisa dia mengutus orang untuk menghabisinya, sementara Bang Beni cuma tinggal sendiri. Anak buah yang tersisa, sudah pasti bergabung ke Bos lain yang masih di bawah naungan Royan," ucap Togar.
"Siapa Royan Gar?" tanya Beni.
"Bos Mafia yang selama ini kita patuhi Bang. Padahal kita tidak tahu rupa bahkan namanya, tapi kenapa kita begitu tunduk sama dia."
"Kamu kok bisa tahu namanya Gar?" tanya Beni.
"Nanti kami ceritain detailnya Bang, semua ini ada hubungannya dengan seseorang yang sedang kami coba keluarkan dari tahanan."
"Begini saja Bang, untuk sementara ini, sebaiknya Abang tinggal bersama kami, daripada Abang tinggal sendirian, jadi kita bisa saling melindungi. Kita harus kerjasama untuk mengungkap kejahatan Royan," ajak Zero.
"Bagaimana Bang? Jika setuju biar kita pulang sama-sama, saat nanti ada waktu luang, aku akan temani Abang menemui Kakak dan putramu. Mereka akan paham dan aku yakin, pasti mereka kembali kepada Abang," ucap Togar yang berusaha memberikan semangat kepada Beni.
Abang berdua pulang duluan naik motor, aku mau kerjakan urusan lain, jika sudah selesai, nanti aku nyusul. Oh ya Bang, sekalian pulang, tolong belikan bahan pokok dapur ya, jika kurang paham apa yang mau di beli telephone saja Kakak, nanti Kakak atau Emak pasti akan menjelaskan."
"Oh ya, ini uang 1 juta untuk belanja sembako dan ini yang di dalam amplop untuk kebutuhan pribadi Abang serta Kakak (3 juta), ini untuk Bang Beni (1 juta). Untuk kebutuhan lauk pauk, nanti aku kasi ke Emak Bang, biar Emak yang mengaturnya. Dan tolong sekalian bawa pulang ponsel untuk Kiara ya Bang," pinta Zero.
"Baik Dek, terimakasih ya Dek, kami telah merepotkanmu," ucap Bang Togar lagi.
"Abang juga, terimakasih ya Dek, sudah mau menerimaku," ucap Beni dengan malu.
Yang penting sekarang kita harus sama-sama menegakkan kebenaran dan aku sudah punya rencana untuk pemuda-pemuda kampung pemulung, keahlian bela diri Abang berdua bisa kita manfaatkan. Abang berdua bisa mengajarkan keahlian tersebut kepada mereka, jadi kita punya kekuatan, minimal untuk melindungi kampung kita sendiri dari orang-orang yang berniat jahat. Sebab aku dengar Royan juga akan melebarkan bisnis propertinya di daerah perkampungan kita, jangan sampai lahan perumahan kita diambilnya dengan paksa."
"Ide yang bagus Bos! Kami bersedia membantu, Royan tidak boleh melakukan hal ini, mau kemana keluarga para pemulung itu tinggal, jika rumah mereka di hancurkan dan diambil oleh Royan," ucap Beni. dengan semangat.
__ADS_1