SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 67. MENGGUNAKAN KEKUATAN SAAT ZEYA TERTIDUR


__ADS_3

"Kamu jangan bercanda terus, sini! ku lihat kaki mu," ucap Zero yang memutuskan untuk berhenti berjalan guna beristirahat.


Zero meminta Zeya untuk duduk di sebuah batang pohon tumbang yang ada di pinggiran jalan, lalu dia mengambil sapu tangan dari dalam sakunya, setelah itu menyeka darah yang keluar dari luka di tumit dan di jari kaki Zeya akibat sepatu yang dia gunakan tadi.


"Aku telephone Bang Togar ya, untuk menjemputmu di sini, biar kamu naik motor saja, nanti luka di kakimu tambah parah," ucap Zero.


"Nggak mau Kak, jika naik motornya sama Kakak, aku mau," tolak Zeya.


"Mana mungkin! Aku tidak bisa mengendarai motor," ucap Zero.


Kemudian Zero berpikir, dan berkata lagi, "Sebentar, aku download dulu aplikasi taksi online, biar kita naik taksi atau ojol."


"Taksi aja Kak, aku nggak mau naik ojol, sama saja 'kan jika naik ojol seperti di jemput oleh Bang Togar."


"Ya...sebentar, mudah-mudahan ada jaringan Tri, di sini!" ucap Zero.


Zero mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, tapi dia kecewa saat melihat baterai ponselnya lobet.


"Ya...percuma, nggak bisa buat download juga, belum ke download sudah bakalan mati nih ponsel. Tadi Aku lupa ngecas saat hendak pergi. Sini pinjam ponselmu!"


"Kalau aku bawa ponsel sudah sejak tadi Kak, pesan taksi onlinenya. Ponselku ketinggalan di balkon, tadi aku belum sempat mengambilnya, eh...kita sudah langsung di minta Kakak ke ruangannya."


"Jadi bagaimana nih! lanjut atau kita balik saja ke tempat Kak Royan. Aku takut kakimu tambah terluka."


"Lanjut saja Kak, ayo...aku masih kuat kok, jangan khawatir, besok aku panggil dokter juga cepat sembuh."


"Tapi meninggalkan bekas, kakimu jadi tidak mulus lagi."


"Biarin deh, ntar lama kelamaan bekasnya, juga bakal hilang. Lagian nggak perlu takut 'kan, nggak ada pria yang mau sama aku, Aku 'kan sudah punya Kakak," ucap Zeya sambil memainkan alis matanya menggoda Zero.


"Pede amat! Siapa juga yang mau sama kamu! Kamu bukan tipe gadis idamanku," ucap Zero dengan ketus.

__ADS_1


"Ntar... Kak Zero nyesel sudah nolak aku."


"Nggak bakalan," ucap Zero yang langsung berdiri, hendak melanjutkan perjalanan mereka.


"Tunggu Kak!" ucap Zeya ikut berdiri lalu meraih lengan Zero dan bergelayut manja di sana.


"Nah ini! yang buat kamu bukan tipe gadis idamanku."


"Iya deh, besok kalau kakiku sudah sembuh aku nggak seperti ini lagi, aku akan ikuti mau Kak Zero biar bisa menjadi gadis yang Kak Zero idam-idamkan."


"Aduh...!" ucap Zeya.


"Kan...keluar lagi darahnya, kamu bandel sih! coba lihat kakimu sepertinya membengkak."


'Next ...oke!'


"Ayo naik! Biar aku gendong saja," pinta Zero sambil membungkukkan tubuhnya.


Saat ini Zero bermaksud menggendong Zeya tapi dengan syarat Zeya harus memejamkan mata karena Zero berencana ingin menggunakan kekuatan dan kecepatannya dalam berlari.


"Ayo cepat! Kenapa diam saja, kamu pikir aku tidak kuat untuk menggendongmu?"


"Serius nih! Kakak kuat menggendongku?" ucap Zeya ragu.


"Mau atau tidak! Jika nggak mau ya sudah, aku jalan lagi.


"Ayolah, aku mau Kak!"


Zero kembali membungkukkan tubuhnya, lalu Zeya pun naik ke punggungnya. Zero merasakan beban berat tapi lama-kelamaan terasa ringan karena kekuatan yang di berikan oleh sistem sudah mulai bekerja.


Sepanjang perjalanan, Zeya terus berceloteh sambil bernyanyi. Namun akhirnya diapun merasa lelah dan mengantuk. Zeya tertidur di punggung Zero hingga kesempatan ini, Zero pergunakan untuk meningkatkan kecepatannya dengan cara berlari.

__ADS_1


Zero berlari sangat kencang seperti angin, hingga akhirnya dia dan Zeya pun sampai di depan rumahnya.


Setelah mengucap salam dan mendapatkan jawaban dari dalam rumah, terdengarlah suara pintu terbuka, ternyata Kiara yang membukakan pintu.


"Lho...siapa gadis ini Dek?" tanya Kiara heran.


"Teman Kak, emak ada 'kan Kak?"


"Ada Dek, baru saja, masuk ke dalam kamar."


"Letakkan saja di kamar kamu Dek! kelihatannya gadis itu sangat lelah, biarkan dia beristirahat dulu," ucap Kiara.


"Iya Kak!" ucap Zero.


Zero pun segera menuju ke kamarnya, lalu perlahan dia menurunkan gadis itu dari gendongannya di bantu oleh Kiara.


Setelah dirasa aman, Zero mengambil kain basah, lalu dia mengepel kaki Zeya yang kotor karena berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kemudian Kiara menyelimuti tubuh gadis itu


Zero dan Kiara duduk di ruang tamu sambil menunggu Zeya terbangun.


"Oh ya kak, kenapa rumah kita begitu sepi? Yang lain pada kemana? Apa Bang Beni tadi sempat pulang kesini?"


"Iya Dek, Bang Beni dan Bang Togar sedang keluar menggunakan motor. Sementara Istri Bang Togar, istri Bang Beni dan putranya tadi pamit ke kedai, mereka ingin membeli sesuatu.


"Oh...biarlah, mereka jalan-jalan, selama beberapa hari ini, sudah cukup mereka terkurung di dalam rumah. Sekarang bebas Kak, jika kakak pingin ikutan, pergilah Kak! Tidak ada yang akan menangkap kakak lagi, karena sekarang Bos Royan sudah menutup usaha ilegalnya dan rencananya, mereka akan mengembangkan bisnis yang legal."


"Oh... syukurlah Dek, jika begitu, sekarang kita bisa hidup lebih tenang."


"Iya benar Kak."


"Gadis itu pacarmu ya Dek? Sepertinya istimewa sampai kamu gendong segala," tanya Kiara.

__ADS_1


"Bukan Kak, cuma teman, kakinya lecet karena memakai sepatu berhak tinggi saat berjalan kaki kesini. Jadi aku kasihan melihatnya, ya... akhirnya ku gendong, Kak, biar cepat sampai."


__ADS_2