SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG

SISTEM KEKAYAAN PEMULUNG
EPISODE 139. MEMBERI SEMANGAT


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu Van, apa yang harus kita lakukan untuk menolong Alena?" tanya Zero.


"Mengajaknya bicara dan beri dia semangat bahwa hidup ke depan masih panjang, masih banyak yang harus dia lakukan daripada hanya mengurung diri di kamar saja," jawab Vano.


"Kalau dia tidak mau menemui kita bagaimana?" tanya Zero lagi.


"Tugas mu Ro! Kau yang pernah menjadi orang terdekatnya, pasti tahu bagaimana cara membujuk Alena," jawab Vano.


"Ntahlah...aku nggak yakin bisa."


"Ayo kita coba, tapi kalau sekarang kita kesana tanggung ya Ro, sebentar lagi maghrib, mending kita ke masjid dulu baru kesana."


"Iya, tapi kita hubungi Satria dulu Van, jika dia di rumah, pastinya lebih enak. Dia bisa menjadi perantara kita untuk bisa berbicara dengan Alena," ucap Zero.


"Kamu benar Ro, cepat kamu telepon Satria," ucap Vano.


Zero pun segera menghubungi Satria dan untung aja ponselnya aktif hingga tidak menunggu lama panggilan tersebut pun tersambung.


"Hallo," sapa Vano.


"Sat, kamu di rumah 'kan malam ini?" tanya Zero.


"Iya Ro, memangnya kenapa?" jawab Satria.


"Aku dan Vano lepas maghrib mau ke rumah kamu," jawab Zero.


"Senang sekali jika kalian segera kesini, papa dan mama ku juga berharap kalian datang setelah aku menceritakan bahwa kalian adalah teman-teman dekat Alena," ucap Satria.


"Baiklah Sat, kami ke masjid dulu, soalnya tanggung, sebentar lagi maghrib," ucap Zero.


"Kami tunggu ya kedatangan kalian, semoga Alena bisa kembali ceria," ucap Satria.


Setelah itu Zero pun menutup panggilannya dan bergegas bersama Vano mencari masjid terdekat yang ada di sana.

__ADS_1


Tak lama menunggu, waktu maghrib pun tiba, mereka ikut berjamaah mengerjakan ibadah. Setelah berdoa mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Satria.


Begitu tiba di sana, Satria dan orang tuanya sudah menunggu. Kemudian mereka mempersilakan masuk Zero dan Vano. Sebelumnya mama Satria ingin berbicara sebelum mereka menemui Alena.


"Begini ya Dek, kata Satria kalian itu teman dekat Alena, jadi Tante dan Om mohon bujuklah dia agar kembali bersemangat. Kami sedih melihat dia seperti itu terus. Masa depannya mau bagaimana jika dia tidak mau melanjutkan pendidikan dan hanya mengurung diri saja."


"Kami ingin dia melanjutkan kuliah Dek, sekarang dia adalah putri kami, jadi kami bertanggungjawab demi masa depannya," ucap Mama Satria.


"Iya Tan, Om. Kami berdua akan berusaha untuk itu," ucap Zero.


"Sekarang Alena dimana Tan?" tanya Zero.


"Tadi habis maghrib Tante lihat dia duduk di teras belakang, sedang mengelus-elus kucing kesayangannya."


"Boleh kami langsung kesana Tan?" tanya Zero lagi.


"Silahkan Nak, semoga usaha kalian berhasil ya," ucap Mama Satria.


"Ayo Sat temani kami," ajak Zero.


Lalu Satria memegang pundaknya sambil berkata, "Al...ini ada Zero dan Vano, mereka datang ingin menemuimu.


Alena masih saja diam, kemudian Zero mendekat dan duduk di kursi depan Alena sambil berkata, "Apa kabar Al, maaf kami mengganggumu malam-malam begini. Kami turut berdukacita ya, sekali lagi maaf, kami tidak hadir dalam pemakaman karena kami memang tidak mendengar kabar duka ini," ucap Zero.


"Iya Al, aku juga minta maaf ya," timpal Vano yang juga berdiri di dekat Zero.


Alena hanya tersenyum sekilas, lalu berkata, "Terimakasih. Nggak apa-apa kok."


"Oh ya Al, kamu rencana mau kuliah di mana ya," tanya Zero.


Alena hanya menaikkan kedua bahunya saja tanpa menjawab apapun. Melihat hal itu Zero ikut sedih, gadis yang dia kenal penuh semangat dalam belajar kini seperti orang asing yang tidak dia kenal.


"Al...kuliah bareng kami yuk, aku dan Zero mendaftar di kampus Satria lho, jadi jika kita lulus semua di sana bakalan seru, bisa kumpul lagi dan saling tukar ilmu," ucap Vano.

__ADS_1


Alena hanya menjawabnya dengan tersenyum, kemudian mematung kembali.


"Al...aku sedih lihat kamu seperti ini, mana Alena yang aku kenal?" tanya Zero sambil menggenggam kedua tangan Alena.


Tatapan mata Alena kosong, dia tidak menjawab pertanyaan dari Zero. Lalu Zero berkata lagi, "Apa kamu tidak sayang dengan kedua almarhum orangtuamu Al?" tanya Zero lagi.


Mendengar kedua orangtuanya di sebut, Alena menatap Zero dengan air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya.


"Dengar aku Al, mereka di sana pasti sedih melihatmu seperti ini, putri harapan mereka satu-satunya tidak bisa mewujudkan keinginan mereka. Kamu ingat mereka pernah berkata apa? Waktu itu aku ada di sana Al, saat mereka mengatakan ingin melihatmu menjadi seorang sarjana."


Tangis Alena pecah, lalu dengan suara gemetar diapun berkata, "Untuk apa aku menjadi seorang sarjana Kak, kalau aku tidak bisa membahagiakan mereka lagi," ucap Alena sambil menutupkan kedua tangannya ke wajah."


"Lihat aku!" seru Zero sambil menarik kedua telapak tangan Alena dari wajahnya.


"Siapa bilang kamu tidak bisa membahagiakan mereka lagi! Justru mereka lebih bahagia jika kamu bisa membahagiakan dirimu sendiri dan juga membahagiakan banyak orang, terutama keluarga ini yang telah menganggapmu sebagai putri mereka sendiri."


"Mereka juga orangtuamu Al dan Satria itu kakakmu, lihatlah! Mereka sedih melihatmu seperti ini terus. Apa kamu tega, orang yang sangat mencintaimu bersedih? Lihat aku Al, aku juga sedih. Walau kita sudah tidak ada hubungan lagi, tapi aku tidak pernah menganggapmu orang lain. Aku selamanya menyayangimu Al!"


Kemudian Zero melanjutkan ucapannya lagi, "Bangkitlah Al, ayo semangat, demi kami, demi orang-orang yang menyayangimu."


"Kamu juga lihat Vano, walau dia pernah menjahati hubungan kita, tapi dia sayang sama kamu, bagaimana perjuangannya dulu, agar kamu tetap sekolah dan orang tua kamu memiliki usaha lagi. Dia sedih Al, dia merasa perjuangannya sia-sia."


"Satri, sini coba kamu pandang satria," ucap Zero sambil menarik tangan Satri untuk duduk di hadapan Alena.


"Satria teman kecilmu sekaligus kakak bagimu. Dia yang tahu bagaimana sifat dan keceriaanmu sejak kecil, apa kamu pikir dia tidak sedih dan akan tinggal diam melihat adiknya menyia-nyiakan hidup?"


"Aku sedih Al. Jika saja saat ini kamu meminta kedua orangtuaku agar lebih menyayangimu daripadaku, aku ikhlas Al, asal itu bisa membuatmu kembali bahagia seperti dulu."


Alena memeluk Satria sambil menangis terisak-isak, dia tidak menyangka jika sahabat kecilnya itu sanggup berkorban begitu besar demi membahagiakan dirinya.


"Kamu sayang aku 'kan Al, sayang mama dan papa kita?" tanya Satria.


"Maafkan aku Kak, aku sudah menyia-nyiakan kasih sayang kalian. Aku sayang Kakak, sayang mama dan papa dan juga sayang kalian," ucap Alena sambil memandang Zero dan Vano.

__ADS_1


"Terimakasih Kak, terimakasih, kalian telah membuatku sadar. Kematian orangtuaku bukan akhir dari segalanya, tapi awal yang harus membuatku lebih kuat untuk menjalani hidup dan memperjuangkan harapan dan mereka terhadapku," ucap Alena lagi.


Mama Satria yang mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu pun menangis dan Papa Satria sangat bersyukur, putrinya memiliki teman-teman yang baik seperti Zero dan Vano.


__ADS_2