
"Maafkan aku Om, Tante, maaf... karena telah menyakiti keluarga kalian. Kembalilah bekerja dengan kami, tapi dengan suasana perusahaan yang berbeda. Aku telah putuskan Om, untuk memulai dari awal, dengan usaha yang bersih. Kita tinggalkan usaha yang lama, walau pasti ada resiko tekanan dari para kolega bisnis, tapi ini sudah tekadku, apapun resikonya akan aku hadapi."
"Iya Bos, Bos tidak salah kok, hanya aku saja yang kurang loyal dalam perusahaan," ucap Beni.
"Panggil aku Royan Om, jika di dalam perusahaan aku Bos tapi di luar, aku adalah keponakan kalian," ucap Royan.
"Oh ya Om, Tante...kalian tinggal dimana?" tanya Royan.
"Sekarang aku tinggal di rumah sahabatku, di perkampungan pemulung, sementara mereka kemaren tinggal di luar kota," ucap Beni sambil memandang anak dan istrinya.
"Mulai sekarang, perusahaan akan menyediakan fasilitas rumah untuk para pekerja yang belum memiliki rumah atau yang berdomisili di luar kota. Jadi jika Om sekeluarga mau, tinggallah di sana, nanti biar Franky yang akan menunjukkan tempatnya."
"Oh ya Om, kita juga sedang ada rencana proyek pembangunan di perkampungan pemulung, tapi belum deal sih dengan warga, Om juga nanti bisa ikut andil di sana."
__ADS_1
"Tapi maaf ya Bos, eh...Nak Roy, warga pasti tidak mau, jika ganti ruginya tidak sesuai. Jika mereka cuma mendapatkan ganti rugi tanah saja, mau dimana mereka tinggal? uang yang ada pasti hanya cukup untuk membeli tanah lagi, nah untuk mendirikan rumah, jelas tidak ada dananya. Jika yang memiliki tanah luas mungkin tidak jadi persoalan, ganti rugi mereka pasti besar nilainya, nah bagi yang hanya ganti rugi pas-pasan itu yang perlu dipikirkan. Jangan sampai mereka, tinggal kembali di kolong jembatan."
Semua sudah aku pikirkan Om, bahkan sudah aku bicarakan dengan Pak Lurah. Aku memindahkan mereka ke perkampungan dengan rumah kopel tapi sedikit jauh sih dari sini, biar nilainya sebanding. Mereka mendapatkan tanah sekaligus rumah yang lebih layak ketimbang rumahnya yang ada di sini. Bagi yang tidak mau tinggal di sana, ya...kita bayar seharga nilai tanah serta ada tambahan senilai bangunan yang ada, aku rasa itu sudah cukup adil. Biar kita bisa ikut merapikan lingkungan Om. Bukankah kita sudah sama melihat, betapa kumuh kehidupan dilingkungan sana, tidak baik 'kan untuk kesehatan. Jadi Apa salahnya, jika kita berusaha ikut memperbaiki lingkungan, sekaligus memajukan daerah. Dan jujur Om, dalam proyek inilah, aku akan mengawali semuanya, dengan proyek yang bersih," ucap Royan.
Zero yang mendengarkan hal itu setuju jika ganti ruginya seperti ini, tapi penyampaian pegawai kelurahan yang salah, itu yang membuat warga menolak.
Untuk meluruskan semua, Zero harus muncul sekarang di hadapan Royan. Tapi dia harus mencari tempat sepi dulu untuk melepaskan rompinya.
Zero keluar ruangan, lalu dia mengamati keadaan sekitar sebelum dia putuskan untuk melepaskan rompinya. Namun Zero tidak menyadari jika di sana muncul gadis yang tadi sempat duduk di pangkuannya.
Zero kaget mendengarnya dan suara jeritan Zeya juga terdengar oleh Royan dan semua yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sebelum semua berdatangan, Zero segera membekap mulut gadis itu karena dia melihat Zeya hendak berteriak kembali. Lalu Zero memakai rompinya lagi dan membawa Zeya pergi dari sana.
__ADS_1
Sementara Royan yang mendengar teriakan adiknya segera berlari keluar, untuk mencari asal suara tersebut. Dia berteriak memanggil Frenky untuk menanyakan keberadaan Zeya.
Franky lari tergopoh-gopoh menghampiri Royan, lalu diapun bertanya, "Ada apa Bos! Apa ada yang penting dan perlu dibantu?"
"Di mana Zeya Frenk? Aku mendengar suara teriakannya di sekitar sini?" tanya Royan yang sedang khawatir.
"Tadi Zeya sudah kembali Bos, katanya mau ambil ponselnya yang ketinggalan, tapi dia belum ada keluar lagi, soalnya dari tadi saya duduk di depan pintu keluar, bersama security. Jadi mana mungkin kami tidak tahu, jika ada yang keluar masuk dari Villa ini. Sedari tadi belum ada tamu atau seorang pun yang keluar dari Villa."
"Oh...berarti dia masih ada di sini, coba kamu pastikan lagi Frank, cari dia, mungkin aku yang salah dengar tadi," ucap Royan sambil berbalik, masuk lagi ke dalam ruangan.
Zero membawa Zeya masuk ke dalam kamar kosong, untuk menghindari orang-orang yang mungkin saja datang mencari siapa yang tadi berteriak.
Di sana, Zero membuka bekapan tangannya dari mulut Zeya, lalu kembali membuka rompinya.
__ADS_1
Kali ini Zeya yang melihat kemunculan Zero hanya terpaku, lalu dia mengucek kedua matanya untuk memastikan, apakah saat ini dia sedang bermimpi atau memang, dia melihat kejadian aneh bin ajaib barusan secara sadar dan nyata.