
"Kita cari rumah sakit terdekat dulu ya Kak, biar luka Kak Zero segera diobati. Lihatlah Kak, darahnya keluar terus, takutnya Kakak kehabisan banyak darah," ucap Zeya.
"Iya Zey," jawab Zero.
"Nak! terimakasih ya, demi menyelamatkan kami, kamu jadi terluka," ucap Bu Riana.
"Nggak apa-apa kok Bu, hanya luka ringan," jawab Zero.
"Aku akan telepon Kak Royan agar lebih aman, biar Kak Royan bisa melindungi Mama Ambar dan juga Bu Riana. Jadi kita bisa fokus mengobati luka Kakak, tanpa was-was akan pengawal mama yang pastinya mengejar kita untuk menangkap Mama Ambar dan juga Bu Riana," ucap Zeya.
"Iya benar Zey. Salah satu dari mereka, pasti sekarang sudah memberitahu Mama kamu," ucap Zero.
Zeya kemudian menelepon Royan, Royan yang memang belum tidur karena memikirkan bagaimana kondisi mamanya sekarang, langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo...ada apa Dek? Kenapa kamu belum tidur, bukankah ini sudah menjelang pagi," ucap Royan.
"Kak, tolong cepat datang kesini! saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit di perbatasan kota," ucap Zeya.
"Apa! Siapa yang terluka dan kamu ngapain keluar malam-malam tanpa izin Kakak!"
"Kak Zero yang terluka Kak! maaf... kami keluar tadi, tanpa pamit dulu dengan Kakak, karena yang pasti kakak tidak akan memberi izin."
"Kenapa dia bisa terluka dan bagaimana sekarang kondisinya Zey?"
"Kak Zero kena peluru di lengannya dan terserempet peluru di bahu kanannya, saat kami menolong Mama Ambar dan Bu Riana untuk melepaskan diri dari sekapan mereka."
"Kenapa kalian nekad Dek, kakak kan sudah bilang, biar kakak yang selesaikan masalah ini. Jadi... Mama dan Bu Riana sekarang ada bersama kalian?" tanya Royan.
"Iya Kak, makanya kakak harus cepat kesini, sebelum mamaku menemukan dan menangkap mereka lagi," ucap Zeya.
"Baiklah... Kakak akan segera kesana, pokoknya kalian harus hati-hati ya!" ucap Royan.
Kemudian Royan menutup telepon, mengambil jaket dan berlari ke garasi guna mengambil mobilnya.
Royan mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Karena arus lalu lintas di jalan masih sepi, jadi tidak ada hambatan sedikitpun baginya untuk menjangkau tempat yang Zeya beritahukan.
Anak buah Royan juga menyusul, sesuai perintah, untuk membantu melindungi Zero dan Zeya nantinya.
Shena yang masih tidur lelap di kamar hotel bersama Aldo, mantan asisten pribadi almarhum suaminya, terbangun karena dikejutkan oleh deringan telepon yang berulang-ulang.
__ADS_1
Dia marah, kenapa anak buahnya berani mengganggu dirinya saat jam istirahat.
Dengan kesal, Shena pun mengangkat panggilan tersebut, sambil berkata, "Ada apa hah! Berani sekali kamu mengganggu tidurku, apa kamu tidak lihat, jam berapa sekarang!" ucapnya dengan marah.
"Maaf, Nya. Aku terpaksa, karena situasi gawat. Nyonya Ambar dan Bu Riana dibawa kabur!"
"Bodoh! Dasar anak buah bodoh! Kalian begitu banyak, sudah ku persenjatai lengkap, masih juga ke colongan. Pokoknya aku tidak mau tahu, cari mereka sampai dapat! Jika gagal membawa mereka kembali, kepala kalian taruhannya! camkan itu!
Kemudian Shena membanting ponselnya di tempat tidur hingga membuat pria di sampingnya terbangun.
"Mereka terlalu bodoh! Menjaga dua orang saja tidak becus, Ambar dan Riana di bawa lari lagi. Pasti ini kerjaan Zeya bersama temannya itu," ucap Shena.
"Tenang sayang, aku akan minta bantuan anak buahku untuk membantu, membawa Ambar dan Riana kembali," ucap Aldo.
Aldo pun segera menghubungi anak buahnya untuk membantu anak buah Shena mencari Ambar dan Riana. Mereka meminta waktu selambat-lambatnya tengah hari untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Setelah itu Aldo menarik kembali Shena ke dalam pelukannya sambil berkata, "Sudahlah, jangan khawatir, mereka pasti segera ditemukan. Ayo kita bersenang-senang lagi, bukankah kamu biasanya belum puas jika season kedua belum kuberikan?" ucap Aldo sambil tersenyum dan menciumi ceruk leher Shena hingga wanita itu menggeliat dan mendesah.
__ADS_1
Lalu Aldo melanjutkan aksinya membungkam mulut Shena dengan ciuman-ciumannya. Merekapun kembali terbuai, dalam kegiatan panas yang berakhir keduanya kelelahan dan tertidur lagi.
Anak buah Shena dan anak buah Aldo sudah bergabung, mereka mencari jejak Zeya yang membawa kabur Ambar berikut mobil dengan petunjuk mencari rumah sakit terdekat, karena dari darah yang berceceran hingga ke luar rumah dan terputus ditempat mobil tadinya terparkir, menandakan salah satu ada yang terluka.
Setelah memarkirkan mobil, Zeya berlari memanggil security dan perawat agar membantu membawa Zero ke ruang UGD.
Setelah bantuan tiba, Zeya pun meminta Bu Riana untuk membawa mama Ambar bersembunyi di kantin rumah sakit sambil menunggu Royan tiba.
Zeya tidak mau ambil resiko, anak buah mamanya akan dengan mudah menemukan mama Ambar jika menunggu di mobil.
Setelah melihat Bu Riana pergi, Zeya langsung menyusul Zero ke ruangan UGD. Zeya cemas, pikirannya terbagi antara menunggui Zero dengan melindungi Mama Ambar.
Zeya kembali menelepon Royan dan ternyata Royan beserta anak buahnya sudah tiba di parkiran. Kedatangan mereka berbarengan dengan beberapa mobil yang masuk dengan orang-orang yang mencurigakan di dalamnya.
Tanpa menunggu lama, Royan segera meminta kelima anak buahnya untuk melindungi Zeya beserta Zero di ruang UGD, sedangkan dirinya langsung menuju kantin untuk melindungi mamanya.
Saat mereka sudah berpencar, terlihat beberapa orang yang mencurigakan tadi juga menuju ruang UGD.
Royan memberitahu Zeya agar waspada, walaupun anak buahnya sudah melindungi mereka.
Saat tiba di kantin, Royan celingukan kesana kemari, tapi dia tidak melihat mama dan juga Bu Riana. Royan terus masuk ke dalam lalu menemui pemilik kantin dan menanyakan tentang dua orang ibu yang di carinya.
Awalnya pemilik kantin ragu, tapi karena Royan berhasil meyakinkan dan situasi sedang mendesak, akhirnya pemilik kantin membawa Royan ke tempat Bu Riana dan mama Ambar bersembunyi.
Royan senang, akhirnya setelah berpuluh tahun terpisah dengan mamanya, hari ini dia bisa bertemu kembali. Royan memeluk Mama Ambar sambil menangis.
Mama Ambar meronta dan berusaha melepaskan pelukan Royan, tapi Royan tidak mau melepaskannya.
Sambil menangis, Royan menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang biasa mama Ambar dulu nyanyikan sebelum dirinya tidur. Dia ingin membangkitkan memori kenangan sang mama dan akhirnya cara itu berhasil.
Mama Ambar menangis, dia memeluk Royan dengan erat sambil berkata lirih, "Jangan ambil anakku, tolong...kembalikan Royan ku, Royan kesini Nak, jangan pergi, Mama rindu..."
Mendengar perkataan sang mama, Royan tak tahan lagi, air matanya terus mengalir hingga membuat pemilik kantin dan Bu Riana pun tidak tahan, mereka terharu dan ikut menangis.
"Ma...ini aku. Aku Royan Ma. Royan tidak akan pernah meninggalkan Mama, Royan juga rindu, Royan sayang Mama," ucap Royan di sela tangisnya tanpa melepaskan pelukannya terhadap sang Mama.
__ADS_1